
Tungga dewi tampak menatap bangunan sekitarnya dari atas atap sambil menggenggam erat pedangnya. Sinar bulan malam itu cukup membuat tempat itu sedikit terang.
"Aku harus terus bertambah kuat" gumamnya dalam hati.
Sejak mengetahui perjodohannya dengan Sabrang dan dipilihnya dia menjadi ketua Hibata, Tungga dewi bertekad untuk membantu Sabrang sekuat tenaganya.
Kematian dalam sebuah pertarungan sudah biasa terjadi didunia persilatan namun membunuh tanpa belas kasihan seperti yang dia lakukan tadi jelas baru pertama kali dilakukan Tungga dewi.
"Aku tidak ingin kehilangan orang yang kusayang lagi seperti ibu dan kakek".
Tunga dewi mengambil sebuah kitab yang berada dibalik bajunya. Kitab yang dia dapatkan dari pendekar pedang kembar itu adalah jurus ruang dan waktu milik langit merah.
Dia membaca kitab itu perlahan dan mulai mengingatnya. Beberapa gerakan bahkan langsung diperagakannya diatas atap. "Menciptakan ruang hampa dengan memanfaatkan tenaga dalam? kitab ini benar benar mengerikan" gumamnya.
Tungga dewi terus berlatih kitab itu sampai tanpa terasa pagi datang. Dia tersentak kaget saat tubuhnya dihisap sesuatu dan muncul kembali ditempat yang agak jauh.
"Jadi seperti ini cara kerja jurus ruang dan waktu" ucapnya pelan.
Jurus ruang dan waktu memerlukan tenaga dalam yang cukup besar untuk menggunakannya. Energi murni dalam tubuh membantunya mempelajari jurus ruang dan waktu lebih cepat.
Tungga dewi menghentikan latihannya saat salah satu pendekar Hibata melesat kearahnya.
"Ketua, sudah saatnya kita pergi" ucap pendekar itu.
Tungga dewi mengangguk pelan "Kita akan menyusul Yang mulia ke kadipaten Rogo geni".
***
"Hamba menjadi Adipati menggantikan tuan Wardhana?" Lembu sora tersentak kaget setelah mendengar ucapan Sabrang.
"Banyak hal yang harus diurus paman Wardhana bersamaku dan sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama jadi aku memutuskan menggantinya sementara waktu sampai urusanku selesai".
"Tapi yang mulia..." Lembu sora menundukkan kepalanya, dia merasa belum mampu menggantikan Wardhana.
"Aku tak mungkin selamanya menjabat posisi Adipati, kau harus mulai belajar menggantikanku sora. Masalah kali ini jauh lebih rumit dari yang kuperkirakan maka aku memintamu menggantikanku. Aku harus berkonsentrasi penuh pada masalah ini.
Kau akan memegang kendali semua urusan Rogo geni mulai saat ini, namun aku ingin kau selalu siap kapanpun Yang mulia membutuhkan bantuanmu. Dengan ditahannya pangeran Pancaka sedikit banyak akan meringankan sedikit tugasmu".
"Tapi apa aku mampu tuan?" ucap Lembu sora ragu.
__ADS_1
"Akupun awalnya berfikir demikian namun aku sadar suatu saat kita harus siap berperan jadi apapun untuk membantu Yang mulia. Lakukan yang terbaik menurut hati nuranimu, jika pikiranmu buntu coba melihat dari berbagai sisi. Aku hanya berpesan satu padamu, mulai hari ini apapun keputusanmu adalah keputusan Yang mulia".
Lembu sora terdiam setelah mendengar ucapan Wardhana.
"Kirim utusan ke sekte Angin biru dan serahkan gulungan ini, aku ingin seluruh resimen Angin selatan memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Kita membutuhkan pasukan yang kuat untuk menghadapi musuh kali ini".
"Aku percaya padamu seperti aku percaya pada paman Wardhana".
"Hamba menerima perintah Yang mulia" Lembu sora berlutut dihadapan Sabrang.
Sabrang tersenyum lega setelah Lembu sora bersedia menggantikan Wardhana.
"Perintahkan untuk segera mengadakan upacara penobatan paman Sora, kita tak punya banyak waktu" perintah Sabrang pada Wardhana.
"Baik Yang mulia".
***
Kabar hancurnya sekte pedang kembar menyebar cepat didunia persilatan. Hibata, organisasi misterius yang belum pernah terdengar namanya kini mulai menjadi buah bibir didunia persilatan.
Sekte pedang kembar memang bukan sekte besar di dunia persilatan namun bukan hal yang mudah menghadapi ilmu kanuragan Baskara yang akhir akhir ini namanya mulai ditakuti.
Tungga dewi dan beberapa pendekar Hibata hanya diam saat mendengar percakapan beberapa pendekar yang kebetulan duduk didekatnya.
Penampilan Tungga dewi yang menutup wajahnya cukup menarik perhatian pengunjung penginapan yang kebetulan sedang makan.
"Hibata? aku bahkan belum pernah mendengar namanya". ucap pendekar itu.
"Lupakan Hibata, itu tidak ada hubungannya dengan kita. Ada misi penting yang harus kita lakukan bodoh" balas temannya.
"Apa kau yakin kita akan menyusup ke kadipaten Rogo geni?".
"Kecilkan suaramu" umpat temannya kesal.
Tungga dewi tampak menggenggam pedangnya saat mendengar ucapan mereka, dia merasa para pendekar itu hendak berbuat sesuatu pada Rogo geni.
"Kau sudah menerima uang bayarannya bukan, kenapa sekarang kau ragu?. Adipati Wardhana kabarnya sedang bepergian, selama kita hati hati aku yakin semua akan baik baik saja".
Mereka segera bergegas pergi karena merasa Tungga dewi mencuri dengar pembicaraan mereka. Sesekali dia menoleh kearah Tungga dewi saat melangkah pergi.
__ADS_1
Empat pendekar itu terlihat berjalan kearah kadipaten Rogo geni, salah satu temannya masih sesekali menoleh kebelakang.
"Apa yang sebenarnya kau lihat?" tanya temannya heran.
"Apa kalian tidak merasa pendekar yang tadi duduk didekat kita ciri cirinya hampir sama dengan pendekar Hibata?".
"Kau sepertinya terlalu ketakutan, mana mungkin mereka menampakkan diri dirogo geni".
"Sudah tak usah dipikirkan, yang harus kita pikirkan saat ini adalah bagaimana menyusup ke Kadipaten rogo geni sesuai perintah Majasari". ucap teman lainnya.
Namun langkah mereka tiba tiba terhenti saat para pendekar yang mereka bicarakan sudah berdiri menghadang jalan.
"Bukankah kalian adalah pendekar yang tadi berada di penginapan? apa yang kalian inginkan?".
Tungga dewi mencabut pedangnya sambil melangkah mendekat. "Berani sekali kalian ingin menyusup di Rogo geni".
"Perempuan?" gumam mereka.
"Siapa kalian sebenarnya?" bentak pendekar itu.
"Aku sudah sering mendengar sepak terjang empat pendekar pilar langit yang terkenal kejam namun siapapun yang berani menyentuh Rogo geni akan berhadapan dengan Hibata". Tungga dewi mulai merapal jurusnya.
"Hibata?" wajah mereka pucat seketika.
Empat pendekar pilar langit adalah pembunuh bayaran yang terkenal sangat kejam. Mereka tidak terikat dengan sekte manapun, dan tega membunuh siapapun selama ada yang bersedia membayar lebih.
Sekte Rajawali emas pernah beberapa kali berurusan dengan mereka namun tak pernah berhasil menangkapnya.
Tungga dewi melepaskan aura dari tubuhnya sambil bergerak kearah mereka. Tubuhnya menghilang tiba tiba sebelum sebuah tebasan jurus pedang pemusnah raga muncul ditengah para pendekar itu dan membunuh mereka semua.
Dua pendekar bahkan hilang entah kemana seperti ditelan bumi saat sebuah energi menghisapnya.
Kejadian yang sangat cepat itu membuat empat pendekar Hibata tidak bisa melihat kapan pedang Tungga dewi keluar dari sarungnya karena ketika tubuh para pendekar itu roboh ketanah pedang itu sudah berada disarungnya kembali.
"Ketua benar benar mengerikan" gumam salah satu pendekar Hibata.
"Ketua" ucap mereka bersamaan saat Tungga dewi berjalan mendekat.
"Tugas Hibata bukan hanya sebagai lawan Masalembo namun juga melindungi Malwageni, ingat pesanku itu baik baik".
__ADS_1
"Baik ketua, akan kami ingat pesan anda".