
Suasana malam di keraton Malwageni malam itu sedikit mencekam, penjagaan terlihat jauh lebih ketat dari hari biasanya. Kabar ditahannya Airin sudah menyebar di dalam keraton, ditambah aksi penyusupan sudah dua kali terjadi dalam waktu yang berdekatan membuat Wardhana memutuskan memperketat penjagaan.
Saat malam semakin larut, Setya terlihat memasuki sebuah rumah yang cukup besar bersama tiga orang pengawalnya. Dia meminta para pengawalnya berjaga diluar sebelum melangkah masuk.
"Tuan, aku mohon menghadap," ucap Setya pelan dari balik pintu.
"Masuklah," jawab seseorang dari dalam.
Setya melangkah masuk perlahan, dia menundukkan kepalanya sebelum duduk dihadapan seorang pria setengah baya.
"Apa semua sudah siap?" tanya Aswarangga pelan.
Setya mengangguk pelan sambil memberi sebuah gulungan pada Aswarangga.
"Ini adalah laporan yang diberikan Daritri padaku tuan, sepertinya Wardhana tidak berhasil mendapatkan bukti keterlibatan Daritri, kita hanya perlu membereskan keduanya tuan," ucap Setya.
"Syukurlah jika demikian namun kita harus tetap berhati hati pada Wardhana, jika aku boleh memilih, Wardhana adalah orang yang tak ingin ku jadikan lawan," jawab Aswarangga sedikit gelisah.
"Apa terjadi sesuatu tuan?" tanya Setya bingung saat melihat tuannya itu gelisah.
Aswarangga menggeleng pelan, dia hanya merasa perasaannya tidak tenang karena kali ini harus berhadapan dengan orang yang paling ditakuti setelah Sabrang.
"Pastikan semuanya beres malam ini, tuan Jaladara meminta kita membereskan semuanya malam ini termasuk nyonya selir. Apa sudah ada kabar mengenai keberadaannya?"
"Maaf tuan, sampai hari ini teliksandi yang kusebar belum berhasil menemukannya," jawab Setya.
Aswarangga memejamkan matanya sesaat sambil memegang keningnya.
"Dia adalah kunci semua ini, jangan biarkan dia sampai kembali ke keraton atau kita semua dalam masalah."
"Baik tuan, aku telah menempatkan beberapa prajurit di setiap pintu masuk kota untuk mencegahnya masuk," jawab Setya.
Aswarangga tampak menarik nafas panjang, jawaban Setya seolah tak mampu menenangkan perasaannya.
"Aku akan pergi menemui Daritri untuk melenyapkannya, kembalilah ke keraton dan gunakan posisimu sebagai komandan Petir Malwageni untuk masuk kedalam ruang tahanan dan membunuh Airin," perintah Aswarangga.
"Baik tuan," jawab Setya.
Aswarangga melangkah keluar dengan hati yang masih gelisah, entah kenapa dia merasa malam ini akan terasa sangat panjang.
Aswarangga sempat berfikir untuk membatalkan pertemuan dengan Daritri karena sejak awal perasaannya sedikit tidak enak namun tak banyak kesempatan lain untuk membunuh Daritri karena tak ada yang tau apa pergerakan orang yang dijuluki sang naga yang tertidur dari Malwageni itu esok.
"Semoga semua baik baik saja, aku mempertaruhkan semuanya untuk malam ini," gumamnya dalam hati.
Aswarangga berjalan menyusuri pinggiran hutan dikawal oleh lima orang pendekar kepercayaannya.
Mereka membelah kesunyian malam itu dalam diam, semua larut dalam pikirannya masing masing. Aswarangga jelas yang paling gelisah. Semua tampak dalam kendalinya saat Sabrang mengeluarkan titah melarang siapapun menyelidiki Mentari.
Namun kemunculan Tungga Dewi yang membawa batu kebesaran Malwageni merubah situasi dengan cepat.
Sebuah batu lempeng hitam bertuliskan Malwageni adalah simbol dari raja, siapapun yang memegang batu itu maka semua tindakannya mewakili raja.
Tungga Dewi mengambil alih situasi, dia menarik Wardhana masuk untuk menyelidiki semuanya dari awal.
Keterlibatan Tungga Dewi memang diluar prediksi Aswarangga, dia sempat berfikir jika ratu Malwageni itu akan diam saat selir kesayangan Sabrang yang suatu saat mungkin bisa menggoyang posisinya hilang dari keraton.
"Sebaiknya aku cepat membereskan semuanya," gumam Aswarangga dalam hati.
Aswarangga memperlambat langkahnya saat melihat sebuah rumah kecil dipinggiran hutan, dia memberi tanda pada penjaganya untuk bersiap.
"Kalian berdua berjaga didepan, sisanya ikut aku masuk. Saat aku selesai bicara, bunuh dia," ucap Aswarangga pelan yang dibalas anggukan pengawalnya.
Aswarangga menghentikan langkahnya didepan pintu sambil menyelipkan sebuah pisau di dalam pakaiannya.
"Nona Daritri?" ketuk Aswarangga.
"Masuklah tuan," jawab Daritri dari dalam.
Ketika Aswarangga membuka pintu, betapa terkejutnya dia melihat Daritri tidak sendirian. Wardhana tampak duduk disebelah kepala dayang itu sambil tersenyum.
"Tuan patih?" wajah Aswarangga pucat pasih, begitupun dengan para pengawalnya.
"Aswarangga, komandan pasukan api merah. Sejak kapan pasukan tempur Malwageni berurusan dengan dayang kerajaan?" tanya Wardhana sinis.
Aswarangga terdiam sesaat sebelum tersenyum sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.
__ADS_1
"Maaf tuan patih, hamba mencurigai kepala dayang itu terlibat dalam perginya nyonya selir. Saat dia mengirim pesan dan meminta bertemu, hamba menyanggupinya untuk menyelidiki keterlibatannya," jawab Aswarangga pelan.
"Menyelidiki katamu? apa kau lupa semua urusan keraton berada di bawah kendaliku sesuai titah gusti ratu?" tanya Wardhana geram.
"Maaf tuan, hamba berencana melapor pada anda setelah menemuinya," jawab Aswarangga gugup.
"Melapor padaku? apa kau akan melaporkan padaku jika Airin malam ini tiba tiba tewas?" tanya Wardhana tajam.
"Hamba tidak mengerti apa yang anda katakan tuan," balas Aswarangga sedikit gugup.
"Cukup Aswarangga, Daritri sudah mengungkap semua keterlibatan mu. Aku sudah membaca semua langkahmu, apa kau lupa siapa yang mengajarimu taktik berperang?
Sebaiknya kau tidak mempersulit dirimu sendiri dengan menyangkal semua tuduhan karena saat ini aku hanya perlu menunggu laporan penangkapan Satya atas tuduhan percobaan membunuh Airin.
Sekarang perintahkan pengawalmu untuk meletakkan pedang mereka dan berlutut dihadapanku, dan kau, duduklah di kursi itu," perintah Wardhana sambil menunjuk kursi didepannya.
Aswarangga terdiam, wajahnya semakin pucat dan gelisah. Saat ini pilihannya hanya satu, melarikan diri sejauh mungkin karena tak ada ampun bagi pengkhianat Malwageni.
Aswarangga menarik lengannya kebelakang dan memberi tanda pada pengawalnya untuk memberi jalan melarikan diri.
"Jangan pernah berfikir melarikan diri, itu hanya akan mempersulit dirimu sendiri," Wardhana memperingkatkan Aswarangga saat melihat gerak geriknya mencurigakan.
Dan besar saja, lima pengawal yang berdiri dibelakang Aswarangga tiba tiba berlari keluar sambil menarik tubuhnya, namun baru beberapa langkah mereka berlari, lima orang pengawalnya roboh ketanah tanpa tau sebabnya.
Wajah Aswarangga semakin buruk saat melihat Lingga melayan di udara dengan pedang yang masih meneteskan darah segar.
"Kau beruntung aku diperintah untuk tidak membunuhmu," ucap Lingga dingin.
Tubuh Aswarangga lemas seketika, dia terduduk dengan wajah ketakutan.
"Bukankah sudah ku peringatkan untuk tidak mencoba melarikan diri, kau tidak berfikir aku datang sendiri tanpa persiapan bukan?" ujar Wardhana.
"Maaf tuan, mohon ampuni aku," suara Aswarangga bergetar menandakan rasa takut yang luar biasa.
***
"Jadi kau adalah anak pertama tuan agung?" tanya Guntoro terkejut, dia tidak menyangka Rubah Putih masih hidup karena menurut cerita yang disampaikan padanya, Samudra Aryasatya tewas saat berumur sepuluh tahun.
"Setidaknya itu yang kudengar saat kami masuk ke Gropak Waton," balas Rubah Putih sambil menatap perapian dihadapannya.
"Jangan panggil aku leluhur, itu sedikit menggangguku, kau boleh memanggilku Rubah Putih karena aku belum terbiasa dengan nama Samudra Aryasatya," ucap Rubah Putih.
Guntoro tersenyum kecil, dia menoleh kearah Sabrang yang sedang mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Mentari untuk mengobati luka akibat menerima energi tongkat cahaya putih.
Pedang Naga Api tertancap tak jauh dari Sabrang duduk, seolah menjadi tanda untuk tidak mendekat.
"Boleh aku bertanya padamu?" ucap Guntoro tiba tiba.
"Katakanlah."
"Aku yakin kau sudah tau jika tuan Agung dibunuh oleh leluhur anak itu, tapi kau mengangkatnya murid? aku tidak tau apa yang anda pikirkan," tanya Guntoro pelan.
"Yang membunuh ayah adalah Lakeswara Dwipa bukan Sabrang Damar, kita tidak bisa melimpahkan kesalahan padanya hanya karena ulah leluhurnya," Rubah Putih menarik nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Apa kau tau awal semua masalah ini bersumber dari mana?"
"Bukankah sudah jelas jika semua ini akibat ambisi trah Dwipa itu?" jawab Guntoro.
"Lakeswara hanya salah satu pemicu kekacauan ini namun sumber semua masalah adalah ramalan yang ayah dapat dari tongkat cahaya putih itu.
Ketakutan ayah dengan ramalannya sendiri membuat dia seolah melawan kehendak alam, dia terus mencari tiga pendekar dalam ramalan yang konon akan menyelamatkan dunia dari kehancuran.
Ayah tidak lagi berfikir untuk menyelidiki masa lalu tiga orang pendekar berbakat yang ditemuinya di puncak kenteng songo. Dia lah yang secara tidak sadar menjadi pemicu terbesar semua permasalahan ini, dia yang menciptakan tiga trah Malasembo itu. Apa kau ingin menyalahkan dirimu sendiri?" jawab Rubah Putih.
Guntoro terdiam setelah mendengar jawaban Rubah Putih, dia seolah menyadari kesalahannya selama ini.
"Kesalahan ayah adalah melawan kehendak alam, kemunculan tiga pendekar dalam ramalannya mungkin benar namun biarkan alam yang mengaturnya kapan mereka harus muncul.
Sama seperti pertemuan anakmu dengan Sabrang, aku yakin alam memiliki suatu rencana terhadap mereka, apa kau ingin mengulangi kesalahan kita di masa lalu?"
"Begitu ya, aku tidak pernah berfikir sejauh itu. Aku memang bodoh, hanya karena dendam masa lalu anakku ikut menanggung akibatnya," balas Guntoro lirih.
"Semua belum terlambat dan mungkin kemunculan mu juga kehendak alam untuk membangkitkan tongkat cahaya putih yang lama terkubur, namun yang tidak kupahami adalah bagaimana anakmu bisa membangkitkan tongkat itu," ucap Rubah Putih bingung.
"Apa mungkin amarahnya yang membangkitkan tongkat itu?"
__ADS_1
"Aku masih belum mengerti, semua terasa sangat aneh. Ku dengar tongkat cahaya putih adalah pusaka yang memilih sendiri tuannya, jika benar demikian maka tongkat itu kembali memilih tuannya setelah kematian ayah."
Guntoro tiba tiba mengernyitkan dahinya saat dia kembali menoleh kearah Sabrang, dia melihat kobaran api perlahan menyelimuti tubuh Sabrang dan Mentari.
"Sesuatu terjadi pada muridmu," ucap Guntoro sambil berdiri dan berlari mendekat.
"Jangan mendekat," teriak Rubah Putih sambil menatap tongkat cahaya putih yang berputar di udara.
"Kita harus menghentikan mereka, dengan api sebesar itu, tubuh anakku bisa terbakar," balas Guntoro kesal.
"Kau salah, energi Iblis api bukan hendak membakar anakmu, dia justru melindunginya," jawab Rubah Putih.
"Melindunginya?" tanya Guntoro bingung.
"Saat aku bertarung dengan anakmu, aku menyadari jika tubuh anakmu belum mampu menerima energi tongkat cahaya putih, itulah yang membuat dia kemarin kerasukan dan menyerangmu.
Tongkat itu sepertinya terus memaksa masuk kedalam tubuh anakmu, dan api itu yang terus melindunginya," jawab Rubah Putih sesaat sebelum menyambar tubuh Guntoro.
Sebuah pohon besar yang berada dibelakang mereka tiba tiba menghilang seketika.
"Jurus itu?"
"Jurus ruang dan waktu! berhati hatilah, sepertinya Sabrang lepas kendali karena terlalu memaksakan tubuhnya menarik energi Naga api untuk melindungi anakmu," jawab Rubah Putih.
"Anom! bantu aku melindungi Mentari," ucap Sabrang dalam pikirannya.
"Kau sudah mencapai batasnya nak, tekanan udara disini bisa membuat tubuhmu terluka," balas Anom memperingatkan.
"Jika aku tidak melakukannya maka Mentari akan kembali dirasuki, lakukan saja apa yang kuminta!" balas Sabrang kesal.
Anom terdiam sesaat sebelum mengalirkan energinya perlahan, terlihat darah mulai keluar dari hidung Sabrang setelah energi anom menyatu dengan Naga api.
Pedang Naga Api tiba tiba tercabut dan melayang di udara, kobaran api yang menyelimuti pedang itu membuat suasana malam sisi gelap alam semesta menjadi terang.
"Iblis api sedang berusaha menekan energi tongkat itu, tapi mau sampai kapan? tubuh Sabrang belum terbiasa ditempat ini, aku harus mencari cara membantunya," gumam Rubah Putih dalam hati.
"Kau tidak bisa terus seperti ini nak," Naga api ikut memperingatkan Sabrang.
"Sabarlah, aku sedang mencari solusinya," balas Sabrang terbata bata.
***
"Apa kau yang memanggilku, cah ayu?" seorang wanita muda berpakaian serba putih dengan selendang merah melingkar di pinggangnya muncul dihadapan Mentari.
"Aku memanggil anda? Siapa anda sebenarnya?" tanya Mentari bingung.
"Namaku Siren, aku adalah roh tongkat cahaya putih. Amarahmu sepertinya membangkitkanku cah ayu.
Menjadi manusia lemah memang sangat mengesalkan, ulurkan tanganmu, aku akan memberimu kekuatan besar yang bisa kau gunakan untuk melindungi orang yang kau sayang," jawab Siren sambil berusaha meraih tangan Mentari.
Mentari menarik tangannya, dia terus menatap Siren curiga.
"Apa kau takut padaku? jika kau mampu memanggilku, maka kau adalah keturunan Rakin," Siren terus berusaha menggenggam tangan Mentari.
"Tongkat cahaya putih adalah tongkat pusaka yang bisa digunakan untuk meramal masa depan, kau bisa membantu rajamu untuk mencapai tujuannya. Kemarilah cah ayu, aku akan membantumu mencapai semua keinginanmu," rayu Siren.
Saat tangan Siren hampir memegang tangan Mentari, tiba tiba sebuah kobaran api muncul dan berusaha menyambar tubuhnya.
Siren terpaksa melompat mundur dan melindungi tubuhnya dengan aura putih.
"Iblis api sialan! jangan ikut campur urusanku!" ucap Siren kesal.
"Siren? tak kusangka bisa bertemu denganmu," jawab Naga api.
"Pergilah Naga api atau aku akan memusnahkanmu selamanya," ancam Siren.
"Kau mengancamku? coba saja jika kau mampu," kobaran api yang menyelimuti tubuh Mentari perlahan membentuk tubuh seorang manusia yang memegang pedang ditangannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pedang Naga Api kembali mengadopsi sebuah mahluk mitologi yang ada di masyarakat bernama Siren.
Siren digambarkan sebagai wanita yang sangat-sangat cantik. Mereka memiliki tubuh yang sangat indah, berambut panjang, serta punya tatapan mata yang amat menggoda.
Meskipun cantik, Siren adalah makhluk kejam. Ia suka sekali membunuh namun caranya sangat halus. Siren dikatakan selalu bernyanyi ketika ada seorang nelayan lewat. Nyanyiannya begitu merdu dan saking merdunya para pelaut itu sampai terbuai dan akhirnya menabrakkan kapalnya ke karang lalu mati.
__ADS_1