Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Misi Menyelamatkan Wardhana III


__ADS_3

Singgih berjalan cepat menuju Aula utama untuk menyambut Mahapatih Saung Galah. Beberapa hari kedepan adalah saat paling genting baginya maupun Kadipaten Ligung.


Jika rencana yang dibuat oleh Majasari gagal dan Saung galah mengetahui dirinya membelot maka semua hidupnya akan berakhir.


"Aku ingin penjagaan di Penjara diperketat, jangan ada yang boleh masuk tanpa ijinku". Singgih berkata pelan pada prajuritnya sesaat sebelum dia pergi menuju Aula utama.


Saat tiba di aula utama dia menghampiri seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari pintu utama.


"Tuan Jinggo apakah semua baik baik saja?" Singgih bertanya dengan wajah sedikit cemas. Kedatangan Mahapatih Saung galah yang terkenal cerdik dan memiliki ilmu kanuragan yang tinggi membuatnya sedikit tertekan.


"Kau tak usah khawatir, aku sudah mempersiapkan rencana cadangan jika rencana kita gagal. Puluhan prajurit dan pendekar telah siap di beberapa titik perbatasan wilayah Ligung. Saat ini yang harus kau lakukan adalah tidak membuat Patih itu curiga, sisanya aku yang akan mengurusnya".


"Baik tuan" Singgih sedikit lega mendengar perkataan Jinggo. Pikirannya sedang kacau, di tambah pembicaraan terakhirnya dengan Wardhana membuatnya tidak tenang.


Tak lama Panji panji kebesaran Saung galah mulai terlihat berkibar bersamaan dengan kedatangan rombongan besar memasuki Aula Kadipaten Ligung.


Singgih bersama dengan Jinggo dan beberapa prajuritnya berjalan menyambut rombongan.


"Selamat datang di Kadipaten Ligung Tuan Patih" Singgih dan lainnya memberi hormat pada Jaladara Mahapatih dari Saung galah.


"Tak perlu sungkan Adipati, yang mulia menitipkan salam padamu". Suara berat Jaladara menusuk jantung Singgih.


Dia sangat memahami jika salam yang disampaikan padanya adalah sebuah peringatan padanya agar tidak berbuat macam macam dengan Saung galah.


"Yang mulia sangat murah hati masih mengingat hamba tuan" Singgih sedikit berbasa basi.


"Kau dapat membalas kebaikan beliau dengan kesetiaanmu".


Singgih mengangguk tanpa menjawab, dia tak berani menatap mata Jaladara.


Jinggo mematung memandang karisma yang memancar dari tubuh Jaladara. Sebuah aura yang didapat dari mempelajari ilmu kanuragan tinggi.


"Bahkan kehadirannya sudah menekan siapapun yang ada didekatnya" Jinggo bergumam dalam hati.


"Ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu" Jaladara menoleh kearah Singgih.


"Baik tuan" Singgih mempersilahkan Jaladara memasuki ruangan dan memberi tanda pada Jinggo untuk meninggalkan mereka berdua.


"Apa terjadi sesuatu pada Kadipatenmu" Tatapan Tajam Jaladara terarah pada Singgih.


"Ah semuanya baik baik saja tuan, apakah ada yang meresahkan Yang mulia?" Singgih berkata dengan hati hati.


"Beberapa bulan ini kau tidak pernah datang ke keraton dan menyerahkan upeti. beberapa utusan yang ku kirim kemari tak pernah berhasil bertemu denganmu".


Raut Wajah Singgih berubah, dia memang selalu menghindar jika ada utusan Saung galah menemuinya. Sejak Majasari menawarkan imbalan kekayaan yang besar dia mulai menjaga jarak dengan Saung galah.


"Ah sepertinya tuan salah sangka, kami hanya sedang terpuruk akibat gagal panen di wilayah kami tuan".


"Ku harap kau tidak berbohong padaku, kau tau pasti akibatnya jika menghianati Saung galah".


"Hamba tudak berani tuan" Singgih menundukan kepalanya.

__ADS_1


***


Guntur menunjukan plat besi bertuliskan Kadipaten Wanajaya pada prajurit penjaga perbatasan.


"Aku Guntur Komandan Pasukan Wanajaya".


"Ah tuan Guntur silahkan masuk" Seorang prajurit mengenali Guntur dan mempersilahkan lewat tanpa pemeriksaan.


Dia berjalan masuk diikuti Sabrang dan rombongannya. Terlihat Mentari menunduk tak berani menatap prajurit pos perbatasan.


"Pangeran apa yang akan kita lalukan?" Kurawa berbisik pada Sabrang yang ada disebelahnya.


"Seletah ini kita akan mencari penginapan sebelum menyusun rencana selanjutnya paman".


"Baik Pangeran".


"Apakah sudah ada kabar dari Paman Wijaya?".


Kurawa menggeleng pelan "Beberapa orang telah hamba tempatkan di wilayah perbatasan Ligung. Jika tuan Patih datang kemari mereka akan menjelaskan situasinya".


Sabrang mengangguk pelan, pandangannya terarah pada sebuah penginapan tak jauh dari tempatnya berjalan.


Sabrang berjalan cepat mengejar Guntur yang berjalan didepannya.


"Paman sepertinya kita harus berpisah disini, terima kasih sudah membantu kami".


Guntur menoleh kemudian tersenyum memandang Sabrang.


"Baik Pangeran, harap berhati hati dan maaf kami hanya dapat membantu sebatas ini".


***


Sabrang menatap langit malam Ligung dari kamarnya. sesekali dia menarik nafas panjang seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ayahanda apa yang harus kulakukan kali ini? Jika ayah berada diposisiku apa yang akan ayah putuskan?".


Ini pertama kalinya Sabrang harus memutuskan sesuatu tanpa didampingi Wijaya dan Wardhana. Ilmu kanuragannya memang tinggi namun mengambil keputusan disituasi genting saat ini sangat berbeda dengan pertarungan. Akan banyak nyawa yang bergantung pada keputusan yang diambilnya.


Lamunan Sabrang terhenti saat melihat sesosok bayangan bergerak cepat di kegelapan malam. Dia berusaha menajamkan matanya.


Dia memutuskan bergerak mengikuti sesosok yang dilihatnya.


"Jika dilihat dari gerakannya ilmu meringankan tubuhnya lumayan tinggi, siapa dia sebenarnya" Sabrang tetap mengambil jarak dari orang itu agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Saat memasuki sebuah jalan setapak tiba tiba orang yang diikuti Sabrang menghilang.


Sabrang menghentikan gerakannya, tangannya siaga memegang pedangnya.


Tiba tiba seseorang menyerangnya dengan kecepatan penuh namun Sabrang berhasil menghindar dan memukul mundur orang itu dengan pedangnya.


"Orang ini Cepat sekali" Orang tersebut terpental mundur menerima serangan balasan Sabrang.

__ADS_1


"Siapa kau dan apa yang kau lakukan disini" Sabrang berjalan pelan mendekati orang tersebut. Dari beberapa kali bertukar jurus Sabrang sudah mengetahui kemampuan orang itu jauh dibawahnya.


"Sepertinya anda bukan orang sini, jurus yang anda gunakan sangat asing buatku" orang itu mengernyitkan dahinya.


Sabrang memang memggunakan jurus milik Teratai merah untuk menghindari kecurigaan.


"Tuan belum menjawabku, apa yang anda lakukan disini?".


Pria itu tersenyum kecut, dia sedang berusaha mencari letak Penjara Ligung namun malah terkena masalah besar.


"Maaf tuan aku hanya mencari udara segar".


"Udara segar dengan pakaian itu dan penutup wajah?" Sabrang tersenyum sinis.


"Sepertinya tidak ada cara selain melawannya dan mencoba kabur" Pria tersebut melesat cepat menyerang Sabrang namun beberapa saat sebelum pedangnya berhasil mengenai Sabrang tiba tiba Sabrang menghilang dan muncul tepat dibelakang pria itu.


"Cakar Es Utara" Sabrang mencengkram tangan pria tersebut membuatnya terpukul mundur membentur pohon besar dibelakangnya.


"Ah pendekar ini dari Sekte Tapak Es Utara" Belum sempat pria tersebut bergerak tiba tiba Sabrang sudah muncul dihadapannya.


Tangannya mencengkram tangan kanan pria itu dan menempelkannya di pohon yang ada dibelakangnya. Sabrang membentuk sebuah pasung dari es dan mengunci lengan pria itu.


"Kini kau tidak dapat bergerak, katakan siapa dirimu".


Pria tersebut menatap Sabrang dengan wajah takut. dia menyadari ilmu kanuragan pendekar dihadapannya jauh di atasnya.


"Ah akhirnya aku bisa menyusul anda Pangeran, Mohon kembali ke penginapan, akan sangat berbahaya berkeliaran dimalam hari jika ditemukan pasukan Ligung". Kurawa terlihat mengatur nafasnya.


"Kurawa" Pria tersebut menatap Kurawa terkejut.


Kurawa menajamkan matanya melihat pria yang mengenakan penutup wajah.


"Anda mengenalku?" Kurawa baru menyadari Sabrang tidak sendirian. Seorang pria tak bisa bergerak terkunci di pohon dengan es tebal menutupi tangannya.


Tangan kiri pria tersebut membuka penutup wajahnya.


"Tuan Lembu Sora" Kurawa hampir berteriak melihat Lembu sora ada dihadapannya.


Sabrang mengernyitkan dahinya kemudian melepaskan es yang menyelimuti tangan Lembu sora.


"Kau tadi memanggilnya pangeran?" Lembu sora menyadari sepertinya dirinya berbuat salah yang sangat besar.


Kurawa mengangguk pelan "Beliau Pangeran Sabrang, keturuan Yang mulia Raja".


Seketika Lembu sora berlutut dihadapan Sabrang


"Hamba Pantas Mati Pangeran".


***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏


Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul

__ADS_1


"Tentang kita (Komedi Romantis)"


Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***


__ADS_2