
Air kehidupan sudah lama menjadi mitos di dunia persilatan, Air yang memiliki rahasia tubuh abadi membuat banyak pendekar yang terobsesi mencari Dieng sampai mengorbankan segalanya namun tak sedikit yang menganggap Air kehidupan hanya cerita karangan.
Letaknya yang berada di tempat paling misterius di muka bumi ini membuat semua usaha para pendekar itu seolah menemui dinding kokoh. Belum ada yang benar benar melihat air itu kecuali yang pernah masuk Dieng seperti sekte bintang langit dan beberapa pendekar beruntung lainnya.
Kali ini Lingga dan yang lainnya benar benar melihat dengan mata kepala sendiri sebuah danau yang dikelilingi tebing tinggi berisi air keabadian, namun entah kenapa tak satupun yang terlihat antusias ketika keabadian sudah ada didepan mata mereka. Entah karena terbius keindahan danau yang diam diam menyimpan rahasia besar itu atau memang mereka sadar jika berusaha melawan takdir akan mendapat petaka dari sang pemilik hidup.
"Apa kau tidak tertarik dengan hidup abadi?". Sabrang mendekati Lingga yang masih mengamati susunan batu di dasar danau.
"Aku tidak tertarik sama sekali untuk hidup seperti itu, setelah aku menghabisi pembunuh keluargaku saat berada di Sekte bintang langit tak ada lagi tujuan besar dalam hidupku".
"Semoga saja". Sabrang berjalan menuju sudut danau meninggalkan Lingga.
Sabrang duduk disebuah batu besar sambil menatap Ciha yang sudah mulai bisa berjalan walau sesekali dia berhenti untuk menekan rasa sakitnya.
Ciha membawa sebuah mangkuk yang disimpannya dekat batu besar.
"Setiap tahun kami selalu mengambil air ini. walaupun mereka menyebutnya air kehidupan namun bagiku air ini bagai candu yang harus kau konsumsi terus menerus agar tubuhmu awet muda". Ciha menjelaskan seolah tau pertanyaan dihati Sabrang.
"Kenapa orang mau bersusah payah seperti ini hanya demi hidup abadi? aku benar benar tidak mengerti jalan pikiran mereka". Sabrang menggeleng pelan.
"Bagi kami sang penjaga Dieng air kehidupan kunci untuk terus menyembunyikan tempat ini. Kau lihat sendiri betapa mengerikannya tempat ini". Ucap Ciha sambil menyiduk beberapa mangkuk dan dimasukkan ke mangkuk yang lebih besar.
"Cukup 1 mangkuk kecil ini tubuhmu akan memiliki kemampuan meregenerasi sel dengan cepat, selain itu segala racun yang ada ditubuhmu akan hilang". Ciha terlihat menciduk dengan hati hati karena air itu mengandung racun dan merkuri yang tinggi jika tidak dinetralkan dengan segel kehidupan.
"Air sehebat itu sangat melimpah di tempat ini?". Sabrang menggeleng pelan. Dia benar benar tidak habis pikir kenapa alam begitu murah hati menyediakan air sebanyak ini. Jika seluruh pendekar dunia persilatan meminum air ini maka kekacauan tak akan terelakan.
"Air sebanyak ini tak akan berguna jika kau tidak menguasai segel kehidupan. Kau akan menjadi seperti mereka yang menyerang tadi jika nekad meminumnya".
Sabrang mengangguk sambil memperhatikan ritual Ciha menyegel air itu.
"Apa kau tau mereka berasal dari mana?". Tanya Sabrang heran.
"Aku tidak tau, selama ini kami masuk Dieng belum permah bertemu mereka. Sepertinya sesuatu akan terjadi". Ucap Ciha penuh khawatir.
"Nona kemarilah". Ciha memanggil Mentari setelah dia menyelesaikan ritualnya.
Mentari terlihat enggan mendekati mereka namun panggilan Sabrang berkali kali memaksanya melangkahkan kakinya.
"Minumlah air ini, racun ditubuhmu akan hilang dalam beberapa hari. Kau akan merasakan tubuhmu seperti terbakar namun tak perlu khawatir itu reaksi tubuhmu ketika menerima air ini". Ciha memberikan mangkuk kecil berisi air pada Mentari.
"Aku tidak mau". Mentari menggeleng cepat.
"Hei minumlah". Sabrang terus membujuknya namun Mentari terus menolak. Ciha yang mengerti perasaan Mentari hanya tersenyum memandangnya.
"Ikut aku sebentar". Sabrang menarik lengan Mentari menjauhi Ciha.
"Apa yang kau pikirkan? kau mau seumur hidupmu dikelilingi racun". Ucap Sabrang.
"Tuan muda, aku sudah pikirkan beberapa hari ini mengenai masalah ini. Aku memutuskan tidak meminumnya". Mentari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Hei, jangan membuatku khawatir. Ciha sudah menyegel air itu, kau akan baik baik saja. Jika kau takut maka aku akan meminumnya lebih dulu". Sabrang berjalan mendekati Ciha.
"Jika anda khawatir padaku harusnya anda mencegahku meminum air itu". Ucap Mentari tiba tiba.
Sabrang menghentikan langkahnya sambil menatap Mentari bingung.
"Apa maksudmu? aku benar banar tak mengerti". Tanya Sabrang.
"Air mata Mentari mulai membasahi pipinya, dia terlihat begitu marah pada Sabrang. Wulan sari yang melihat keduanya hanya tersenyum manis.
"Biarkan aku membantu anda tuan muda, biarkan aku melindungi anda. Aku mohon Yang mulia". Mentari tiba tiba berlutut dihadapan Sabrang.
Melihat sikap Mentari seperti itu membuat Sabrang makin bingung.
"Bangunlah, aku tau kau ingin membantuku namun jangan korbankan dirimu hanya untuk itu".
Mentari menggeleng pelan "Aku tidak akan berdiri jika Yang mulia masih memaksaku meminum air itu".
Belum sempat Sabrang menjawab tiba tiba terjadi getaran disekitar danau diikuti bau belerang yang semakin pekat.
"Ciha apa yang terjadi?". Lingga mendekati Ciha cepat, dia merasa gempa yang terjadi beberapa saat itu sangat besar.
"Aku tidak tau, sama seperti yang menyerang kita tadi , baru kali tempat terjadi gempa". Ciha semakin heran dengan keadaan Dieng akhir akhir ini. Setelah kemunculan mahluk misterius kini disusul gempa.
"Kau sebaiknya melihat ini". Wulan sari yang berada di dinding dekat sisi kanan danau memanggil Ciha.
"Apa dinding ini retak karena getaran tadi?". Ciha meraba dinding itu dan merasakan panas. Dia mengetuk dinding gua berkali kali.
"Jangan jangan....."Ciha mengambil gulungannya dan terlihat menggambar sesuatu dan sesekali membaca tulisan dibatu tulis yang sudah dua salin digulungan. Raut wajahnya berubah seperti menemukan sesuatu yang menarik.
"Apa kalian merasakan sesuatu yang aneh saat menyelam melewati gerbang kedua?".
Lingga mengeryitkan dahinya mendengar pertanyaan Ciha.
"Dadaku semakin sesak saat menyelam dan entah kenapa air sungai itu seperti terasa hangat beberapa saat sebelum kembali dingin". Sabrang menggaruk kepalanya sambil mengingat ingat. Dia memang sempat ingin menanyakan pada Ciha mengenai masalah itu namun serangan mahluk misterius itu membuatnya lupa menanyakannya.
"Ah sial, ternyata seperti itu". Ciha tertawa keras membuat Sabrang dan yang lainnya bingung.
"Apa kau menemukan sesuatu?". Ucap Lingga penasaran.
"Lihat ini". Ciha menunjuk sebuah gambar digulungannya. "Dieng ternyata dihapit gunung berapi bawah laut. Aku menyadarinya saat menyelam di gerbang kedua. Perasaan yang sama seperti yang dikatakan Sabrang adalah kuncinya. Jika sungai itu sejajar dengan sungai di seberang tebing harusnya kita tidak merasakan sesak. Tebing ini menipu mata kita seolah dua gerbang saling bersebelahan dan di pisahkan tebing ini. Kita semua salah, saat menyelam itu kita dibimbing untuk semakin masuk kedalam laut. Getaran tadi menandakan gunung itu mulai aktif, mungkin pesan yang disampaikan leluhur teratai merah mengenai segel selamanya adalah gunung api bawah laut. Jika gunung itu aktif dan meletus mungkin tempat ini akan tenggelam selamanya".
"Jadi leluhurku menyadarinya saat menyelam digerbang kedua?". Tanya Wulan sari.
"Kemungkinan seperti itu, tempat ini benar benar mengerikan. Semua yang ada disini seolah menipu mata kita dan tanpa sadar kita terus masuk semakin dalam".
"Kau ingat kata kata tuan Panca di gerbang pertama?. (Air akan membuka tabir gelap). Sekilas kita akan memahami jika ini petunjuk untuk menguras kolam kecil di gerbang pertama namun bagaimana jika pesan sesungguhnya air laut akan membuka gunung berapi paling berbahaya didunia?. Ken panca mungkin menjelaskan kemungkinan tempat ini tersegel secara alami. Dia menciptakan segel 4 pusaka Dieng untuk mengulur waktu sampai gunung berapi ini meletus. Jika tebakan ku benar seharusnya disekitar sini ada tempat rahasia untuk mengeringkan danau kehidupan". Ciha berjalan cepat mengelilingi
"Apa maksudmu dengan mengeringkan danau ini?". Sabrang semakin tidak mengerti, bagaimana mereka bisa mengeringkan danau seluas ini.
__ADS_1
"Sistem management air, dari semua tempat di sini hanya danau ini yang tidak alami. Danau ini dibuat oleh seseorang menggunakan sistem managemen air yang rumit sehingga danau ini tak pernah kering ataupun banjir. Sepertinya air kehidupan meredam kamar kamar magma gunung ini untuk mengulur waktu letusan. Aku semakin penasaran siapa dan untuk apa dia mengulur gunung api inu meledak". Ciha terus berlarian kesana sini mencari sesuatu yang mirip tombol, atau batu menonjol.
"Sial! Saat kita memiliki harapan mengubur tempat ini selamanya justru semakin banyak misteri dihadapan kita". Umpat Ciha kesal.
"Sabarlah, dinginkan kepalamu". Sabrang menepuk punggung Ciha. "Kau yang terbaik untuk masalah ini, pikirkan dengan kepala dingin".
"Tuas?". Lingga tiba tiba teringat sesuatu. Dia mendekati danau itu lagi.
"Itu yang kau cari". Lingga menunjuk dasar Danau.
"Apa maksudmu?". Ciha terlihat bingung Lingga menunjuk dasar danau.
"Sejak pertama melihat danau ini aku merasa pernah melihat susunan batu didasar danau ini. Kini aku ingat, susunan batu itu pernah kulihat di sendang pemandian raja Malwageni saat aku menghancurkan Malwageni". Lingga menghentikan ucapannya saat menyadari Sabrang menatapnya tajam.
"Maksudku 4 susun batu itu sama dengan yang ada dipemandian Malwageni namun satu batu terakhir sepertinya salah posisi. Batu itu harusnya menghadap ke kanan". Ucap Lingga mengingat ingat.
Ciha menatap batu didasar danau sambil tersenyum kecut.
"Lalu siapa yang sudah gila masuk kedalam air beracun ini". Dia menggelengkan pelan.
***
"Tuan Mahendra? bagaimana anda bisa ada disini?". Maruta melangkah mundur saat melihat Mahendra melayang didepan gerbang pertama Dieng.
"Jadi dia yang bernama Mahendra?". Kertasura menatap orang dihadapannya dengan penuh kewaspadaan.
"Bagaimana kau bisa mengkhianatiku Maruta? semua kuberikan padamu termasuk air kehidupan namun kau memilih bergabung dengan mereka". Mahendra menujuk Kertasura dan Suliwa.
"Bukan seperti itu tuan, apa yang ada di gerbang kegelapan bukan pusaka kelima. Pusaka itu itu tidak pernah ada, yang ada disana adalah.....". Belum selesai Maruta bicara, tubuhnya sudah menghantam dinding gua.
"Hentikan omong kosongmu! apa kau berniat menguasai suling raja setan juga?. Aku akan memberikan padamu setelah aku merubah tatanan dunia yang sudah kacau ini".
"Tapi tuan". Maruta masih berusaha menjelaskan jika didalam gerbang kegelapan tidak ada pusaka kelima. Yang ada disana hanya suku Iblis petarung.
"Cukup Maruta, aku akan mengambil pusaka itu walau harus membunuh kalian". Setelah menyelesaikan ucapannya Mahendra menghilang dari pandangan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author :
Sistem managemen air itu semacam pengontrol air di sebuah bendungan agar bisa mengatur debit air.
Apa jaman dulu udh ada sistem secanggih itu Thor? Jawabnya ada!. Majapahit terbukti bisa membangun sistem managemen air yang sangat canggih.
Oh iya ngomong ngomong tentang Majapahit Author jadi inget kalo lagi mempersiapkan Novel Cersil kedua dengan latar belakang Majapahit. Bulan depan kemungkinan akan saya coba terbitkan dan Pasti saya umumkan disini jika sudah terbit.
"Api di Bumi Majapahit ". Bisa saja janjikan tak kalah seru dan rumit dari Pedang Naga api.
Terakhir Selamat hari senin dan tunjukkan Vote kalian!
__ADS_1