
Mentari menutup telinganya saat pusaka Naga Api dan Tongkat cahaya berbenturan di udara. Suara ledakan akibat benturan dua energi besar membuat telinganya terasa sakit.
Tubuh Mentari bahkan terdorong beberapa langkah ketika efek ledakan mengenai tubuhnya.
Kobaran api dan energi berwarna merah tampak meluap dari tubuh Mentari dan membakar semua yang ada disekitarnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Tari?" ucap Guntoro khawatir.
"Sepertinya Iblis api sedang bertarung dengan ruh tongkat cahaya putih," jawab Rubah Putih.
"Apa hanya ini kekuatan Iblis api? tak kusangka kau begitu lemah," ejek Siren sambil terus menekan Naga api.
Naga Api tak menjawab ejekan Siren, dia terus berusaha menghindar dari serangan cepat lawannya.
"Apa kau pikir bisa terus menghindari serangan ku? aku sedikit kecewa padamu, gelar sebagai iblis terkuat ternyata hanya omong kosong" tongkat yang berada digenggaman Siren memancarkan sinar putih sesaat sebelum berbenturan dengan Pedang Naga Api.
Naga Api tampak terdorong beberapa langkah sebelum Siren merubah gerakan tongkatnya, dia membentuk energi pedang dikedua ujung tongkat dan menghantamkannya kearah Naga Api.
Tongkat Cahaya Putih menembus tubuh Naga Api dan mulai menyerap energinya.
"Kelebihan tongkat cahaya putih dari pusaka lainnya adalah dia akan menyerap seluruh energi lawannya sampai habis. Aku sudah memintamu pergi tapi kau memaksaku," ucap Siren sambil tersenyum dingin.
Tubuh Naga Api perlahan mulai terserap oleh tongkat yang tertancap ditubuhnya.
"Maaf membuatmu lama menunggu Naga api, cukup sulit menggunakan Ajian inti lebur saketi ditempat ini, sebagai permintaan maaf dariku terimalah gabungan energi murni milikku dan energimu," ucap Sabrang dalam pikiran Naga api.
Perlahan tubuh Naga Api kembali berkobar, energinya yang sempat terserap oleh tongkat milik Siren kembali masuk kedalam tubuhnya.
Siren tampak terkejut saat merasakan Naga api menyerap kembali energinya.
"Bagaimana bisa? tak pernah ada yang lolos dari tingkat cahaya putih," ucap Siren bingung.
"Apa tubuh gadis ini akan baik baik saja jika aku menggunakan kekuatanku?" tanya Naga Api.
"Aku sudah melindunginya dengan energi murni milikku, jika kau tidak membuat ledakan yang besar aku rasa Tari akan baik baik saja," balas Sabrang.
"Tak perlu sampai membuat ledakan besar untuk menghadapi mahluk lemah ini," balas Naga Api.
Siren yang menyadari ada yang tidak beres, langsung mencabut tongkatnya dan melompat mundur.
Namun betapa terkejutnya dia saat Naga Api tiba tiba sudah berada di hadapannya dan mencengkram lehernya.
"Bagaimana bisa?" ucapnya terbata bata, dia terus berusaha melepaskan diri dengan menekan Naga Api dengan kekuatannya namun tak berhasil.
Siren kembali menancapkan tongkatnya dan berusaha menyerap energi Naga Api.
"Apa yang kau katakan benar, gelar iblis terkuat tak cocok untukku. Kekuatanku bukan lagi setingkat Iblis seperti kalian, kini aku adalah Dewa api," lengan kiri Naga Api menghantam tubuh Siren sampai tembus ke punggungnya.
"Bagaimana kau bisa sekuat ini?" tanya Siren sambil meringis kesakitan.
"Kau sepertinya sudah terlalu lama terkubur, ku beritahu satu hal padamu. Kekuatan sebuah pusaka akan terus berkembang seiring dengan semakin kuat tuannya," Naga Api menarik lengannya dari tubuh Siren, dia memegang kepala lawannya itu sebelum merapal sebuah segel.
"Apa yang kau lakukan padaku! lepaskan!" teriak Siren kesakitan.
"Segel kegelapan abadi, kau tak akan suka tinggal dalam kegelapan abadi. Jika kau beruntung, gadis ini akan membebaskan mu," balas Naga api sambil tersenyum.
__ADS_1
Perlahan tubuh Siren menghilang perlahan bersamaan dengan jeritan kesakitan yang keluar dari mulutnya.
Rubah Putih mengernyitkan dahinya saat Tongkat Cahaya Putih berhenti berputar, tak lama tongkat itu berubah menjadi cahaya putih dan masuk kedalam tubuh Mentari.
Pedang Naga Api yang dari tadi ikut berputar di udara tiba tiba melesat cepat dan menancap di tanah tepat disisi kiri Sabrang duduk.
Ledakan aura Naga Api meluap keluar dan menghancurkan seluruh pohon disekitarnya.
"Pusaka apa itu sebenarnya?" ucap Guntoro Takjub.
"Iblis api Banaspati, sepertinya iblis itu semakin kuat. Kau beruntung tidak bertarung dengannya di dunia luar, jika tadi Sabrang bisa mengeluarkan Naga Api saat bertarung, kau sudah habis terbakar," Rubah Putih menggeleng pelan.
Naga Api menoleh kearah Mentari dan berjalan mendekatinya.
"Kau masih ingat padaku?" tanya Naga Api.
"Naga Api? bagaimana kau bisa ada disini?" jawab Mentari bingung.
"Anak bodoh itu mengirim aku untuk menjemputmu. Ulurkan tanganmu, aku akan membawamu kembali atau dia akan membunuh semua orang di dunia persilatan," Naga Api mengulurkan tangannya.
"Yang mulia?" Mentari menyambut uluran tangan Naga Api.
"Aku telah menyegel iblis betina itu dalam tubuhmu, kau bisa menggunakan kekuatannya jika kau mampu menaklukkannya," tubuh Mentari perlahan diselimuti kobaran api sesaat sebelum menghilang bersama Naga Api.
Sabrang menarik tangannya saat Mentari membuka matanya.
"Yang Mulia," ucap Mentari dengan mata berkaca kaca.
"Jangan pernah bertindak bodoh lagi atau aku akan menghukummu! apa kau tidak pernah memikirkan aku? bagaimana jika tadi kau tidak bisa kembali?" Sabrang kembali memeluk tubuh Mentari.
***
Kadipaten Rogo Geni adalah salah satu wilayah kekuasaan Malwageni yang sangat strategis. Ratusan pedagang maupun pasokan bahan Makanan yang akan menuju Saung Galah maupun sebaliknya lebih memilih melewati jalur ini karena jauh lebih cepat dan relatif aman.
Jalur Rogo Geni ini juga yang dulu digunakan para pedagang untuk masuk ke Majasari.
Para pedagang semakin menyukai melewati jalur ini karena sejak Malwageni berhasil menghancurkan Majasari, para pedagang yang akan menuju Saung Galah diberi keistimewaan. Selain dikawal oleh beberapa prajurit Angin selatan, mereka juga tak harus membayar pajak untuk melewati kadipaten ini.
Semua keistimewaan itu adalah perjanjian antara Saung Galah dan Malwageni setelah mereka membantu menghancurkan Majasari.
Namun pagi ini ada yang berbeda, para pedagang yang biasanya dengan leluasa keluar masuk Saung Galah kini tampak menumpuk di gerbang perbatasan Rogo Geni.
Puluhan prajurit angin selatan menutup akses menuju Saung Galah tiba tiba. Para pedagang semakin dipersulit karena perintah penutupan gerbang perbatasan berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali.
Salah satu pedagang yang terkenal kaya raya tampak mendekati prajurit penjaga untuk meminta izin melintas.
"Tuan, kami hanya ingin mencari makan mohon berkenan memberi kami izin lewat," ucap pedagang itu sambil menyerahkan satu kantung uang.
"Maaf tuan, kali ini kami tidak bisa membantumu. Perintah penutupan perbatasan turun langsung dari gusti ratu, kami tak mungkin mengorbankan nyawa demi uang itu. Sebaiknya anda menunggu karena aku tak bisa berbuat apa apa," jawab prajurit itu sambil menjauh.
Wajah pedagang itu berubah kecut, kali ini dia benar benar tidak bisa melewati perbatasan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya kesal.
Keputusan menutup perbatasan jelas membuat Saung Galah kelimpungan. Ajakan bertemu yang dilayangkan Jaladara sama sekali tak ditanggapi Wardhana.
__ADS_1
Wardhana bergeming, dia justru semakin memperketat penjagaan di setiap perbatasan yang menghubungkan kedua kerajaan itu.
"Apa anda sedang berusaha memulai perang tuan?" tanya Sora hati hati.
"Apa kau takut? aku sudah bicara dengan gusti ratu mengenai masalah ini. Apa yang dilakukan Saung Galah telah menginjak injak nama Malwageni. Aku hanya ingin memberi teguran keras pada mereka namun jika mereka ingin perang maka akan kuberikan!" jawab Wardhana tegas.
Hasil penyelidikan Wardhana pada Aswarangga memang menyeret nama Jaladara. Hal yang membuat Wardhana makin geram adalah Saung Galah sudah lama merencanakan pengusiran Mentari.
Mereka tau jika titik lemah Sabrang ada pada selir kesayangannya. Mereka berharap dengan terguncangnya Sabrang akan membuat keraton kacau dan memudahkan penyerangan.
"Akan aku pastikan kalian membayar semuanya," Wardhana mengepalkan tangannya menahan emosi.
***
Seorang pria setengah baya tampak takjub menatap tanaman kecil berwarna kuning emas dihadapannya.
"Akhirnya aku berhasil," gumamnya dalam hati.
"Selamat Yang mulia, anda berhasil" ucap seorang pemuda berbadan tegap yang berdiri dibelakangnya.
Pria setengah baya itu menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Kecilkan suaramu Bima, atau aku akan membunuhmu," ucap pria itu dingin.
Pemuda itu terdiam, wajahnya tiba tiba pucat saat merasakan aura besar yang meluap dari tubuh pria yang dipanggilnya Yang mulia itu.
"Dengan jamur emas ini, aku bisa membangkitkan mereka," ujar Pria itu pelan.
"Bima, persiapkan semua keperluanku termasuk pusaka raja Iblis. Aku akan mengurung diri selama beberapa hari untuk membuat ramuan Amrita dan Soma. Sudah saatnya kita keluar dari sini dan melanjutkan perjuangan membentuk dunia baru yang telah lama tertunda akibat pengkhianatan anakku, Naraya," perintah pria itu.
"Baik Yang mulia," Bima menundukkan kepalanya.
Lakeswara Dwipa menarik nafasnya panjang, entah sudah berapa lama dia berada di dimensi ruang dan waktu setelah pengkhianatan Naraya.
Di tempat inilah dia terus mencoba menanam tanaman legenda yang tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Entah berapa ratus kali dia gagal sampai akhirnya jamur itu tumbuh.
"Jika aku tak memiliki tubuh tujuh bintang, mungkin saat ini tubuhku masih membeku bersama mereka," ucap Lakeswara geram.
Lakeswara kembali mengingat kejadian sebelum mereka meminum ramuan Amrita dan Soma.
Ramuan Amrita dan Soma memang bisa membuat tubuh abadi namun meminum ramuan itu bukan tanpa resiko.
Untuk meminum ramuan keabadian milik suku Gropak Waton itu, mereka harus membersihan tubuh mereka dari semua racun yang ada didalam tubuh.
Jika didalam tubuh mereka terdapat racun sedikit saja, Amrita dan soma justru akan membunuh mereka dalam sekejap.
Itulah sebabnya sebelum proses meminum ramuan keabadian, tubuh harus dibekukan dulu selama beberapa purnama untuk mencegah racun apapun masuk termasuk dari makanan.
Saat proses awal itulah Naraya berkhianat, dia menyegel tubuh para pemimpin dunia menggunakan segel Matahari untuk mencegah mereka bangkit kembali.
Naraya juga membakar semua catatan mengenai penelitian Jamur emas yang menjadi bahan utama membuat Amrita dan Soma.
"Akan ayah buktikan padamu nak jika dunia baru yang ayah cita citakan akan menjadi tempat yang damai, tanpa emosi, tanpa ambisi. Semua akan hidup damai di bawah perintahku," ucap Lasekwara sambil mencabut jamur emas dihadapannya dan melangkah pergi.
Mata biru khas trah Dwipa itu tampak bersinar terang seolah tau tak lama lagi akan digunakan pemiliknya setelah lama tertidur. mata terlarang itulah yang dulu pernah mengurung Rubah Putih dalam ruang dimensi tanpa cahaya.
__ADS_1