Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kesalahpahaman Sekte Rajawali Emas II


__ADS_3

"Bibi tolong percaya padaku, apa yang ada didalam tubuh kakek itu bukan dirinya, aku sendiri yang melawannya di Dieng". Sabrang berusaha menjelaskan situasinya pada Lasmini.


"Apa kau pikir aku percaya dengan pembelaanmu? kau hanya berusaha mencari pembelaan". Tungga dewi tiba tiba mencabut pedangnya dan langsung menyerang.


Sabrang menggeleng pelan, dia melompat menghindar sambil terus berusaha menjelaskan duduk masalahnya namun Tungga dewi sudah dikuasai amarah. Dia terus menyerang menggunakan jurus tarian rajawali.


"Dia bertambah kuat". Sabrang terus menghindar tanpa berniat menyerang balik.


"Cabut pedangmu!". Teriak Tungga dewi kesal.


"Bagaimana aku bisa mencabut pedang, apa kau liat aku memegang pedang?". Ucap Sabrang sambil sesekali menciptakan perisai es untuk menahan serangan pedang Tungga dewi yang semakin cepat dan bervariasi.


Beberapa pendekar rajawali emas berusaha membantu Tungga dewi namun Lasmini memberi tanda untuk tidak ikut campur. Lasmini merasa jika Sabrang serius bertarung maka dengan satu gerakan saja dia sudah bisa melumpuhkan Tungga dewi.


"Kau akan menyesal memutuskan tidak menggunakan pedangmu". Tungga dewi meningkatkan kecepatannya.


"Kekuatannya memang jauh diatas gadis itu namun jika dia terus bertahan seperti itu maka dia bisa terluka". Arung terlihat khawatir.


Mentari terlihat kesal melihat pertarungan yang ada dihadapannya. Bukan karena Sabrang tidak berniat menyerang balik namun tatapan mata Tungga dewi pada Sabrang yang membuatnya risih.


Walau Tungga dewi terlihat penuh amarah namun matanya tidak dapat menutupi perasaannya pada pemuda yang diserangnya.


"Apa kita akan diam saja nona?". Arung menoleh kearah Mentari yang ternyata sudah tidak ada ditempatnya. Mentari melesat cepat kearah Tungga dewi dengan wajah buruk.


"Kau telah bermain api tuan Sabrang". Arung menggeleng pelan, kali ini dia tidak bisa membantu apapun dihadapan wanita yang diselimuti api cemburu.


Tungga dewi melompat mundur saat serangan pedang Mentari tiba tiba menyerangnya. Dia menarik pedangnya untuk menangkis serangan pedang Mentari.


"Nona". Sabrang berusaha mencegah pertarungan dua pendekar wanita itu.


"Mundur!". Ucap Mentari dingin, dia melepaskan aura hitam untuk menekan Tungga dewi.


Sabrang terlihat terkejut dengan reaksi tidak biasa Mentari padanya.


"Siapa kau?". Tungga dewi menatap tajam Mentari, dia sedikit terganggu dengan kehadiran Mentari. Ditambah Sabrang seperti mengikuti perintahnya membuat Tungga dewi makin geram.

__ADS_1


"Bukan urusanmu, tak akan kubiarkan kau melukainya". Jawab Mentari pelan.


"Oh jadi kau kekasihnya? Kalau begitu aku akan membunuhmu juga". Tungga dewi menyerang Mentari dengan membabi buta.


"Kau terlalu besar mulut dengan kemampuanmu yang rendah itu". Mentari menyambut serangan Tungga dewi.


"Situasinya makin rumit". Sabrang menggeleng pelan. Dia bergerak kearah Lasmini untuk menjelaskan situasinya agar semakin tidak memanas.


Pendekar lainnya yang mengira Sabrang akan menyerang Lasmini bergerak menghadang namun Arung telah muncul dihadapan mereka.


"Kau pikir aku akan diam saja?". Arung menghunuskan pedangnya.


"Bibi tolonglah percaya padaku, banyak saksi yang melihat ku bertarung saat itu termasuk Kertasura dan kakek Suliwa. Mereka akan terluka jika tidak dihentikan".


"Apakah jurus memindahkan sukma benar benar ada?". Tanya Lasmini.


"Ulurkan lengan bibi". Pinta Sabrang.


"Ukurkan tanganku? Kau pikir aku bodoh?". Bentak Lasmini.


Sabrang memejamkan matanya sesaat. "Maaf bi aku harus melakukan ini". Sabrang berusaha meraih lengan Lasmini namun Lasmini bereaksi lebih cepat, dia menghindar sambil mencabut pedangnya.


Sabrang yang sudah merasa tidak bisa memberi penjelasan, tak menghiraukan ucapan Lasmini. Dia terus berusaha meraih lengan Lasmini yang mulai menggunakan pedangnya.


"Dia memang berniat menyerangku". Lasmini memutat pedangnya dan merapal jurus andalannya namun tiba tiba punggungnya terasa dingin sebelum tubuhnya membeku dengan cepat.


"Kau bagaimana bisa membaca gerakan yang belum kakukan?". Lasmini berusaha memecahkan es yang menyelimuti tubuhnya dengan tenaga dalamnya namun tidak berhasil.


"Maaf bi, aku harus melakukan ini". Lengan Sabrang mengeluarkan kobaran api dan menyentuh es yang menyelimuti lengan Lasmini.


"Naga api". Ucap Sabrang setelah menyentuh lengan Lasmini. Beberapa detik berikutnya Lasmini merasakan sesuatu masuk kedalam tubuhnya dengan cepat dan berusaha merasukinya.


"Cukup Naga api". Ucap Sabrang setelah melihat bola mata Lasmini mulai berubah.


"Apa yang kau lalukan tadi?". Raut wajah Lasmini pucat pasih.

__ADS_1


"Itu yang ingin kujelaskan pada bibi dari tadi. Ajisaka menguasai ajian rogo sukmo dan dia menggunakan jurus itu untuk mengambil raga kakek Sudarta seperti yang kulakukan pada bibi".


Lasmini terdiam mendengar penjelasan Sabrang, dia merasakan sendiri bagaimana sesuatu berusaha mengambil alih tubuhnya.


"Bibi yang lebih tau mengenai kakek Sudarta dan apakah dia pernah menghilang selama beberapa hari".


"Bagaimana kau tau ketua pernah menghilang selama beberapa hari?". Lasmini terkejut mendengar ucapan Sabrang.


"Kakek saat itu berhasil menemukan gerbang Dieng dan masuk kesana namun dia bertemu dengan Ajisaka. Saat itulah Ajisaka berhasil merebut raganya dan kembali dengan wajah tidak berdosa".


"Jadi apa yang kau katakan itu benar?".


"Bukankah bibi sudah merasakan sendiri jurus itu? sekarang sebaiknya kita hentikan pertarungan mereka atau akan ada yang terluka.


Lasmini menggeleng pelan "Mereka tak akan bisa dihentikan sebelum saling mengalahkan. Apa kau tidak sadar saat ini mereka bertarung bukan lagi karena masalah ketua namun ini mengenai perasaan mereka masing masing".


"Perasaan mereka?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Bekukan mereka berdua jika ingin mengentikannya seperti yang kau lakukan padaku".


"Apa yang mereka pikirkan sebenarnya". Kedua tangan Sabrang mulai diselimuti bongkahan es, dia bergerak ketengah pertarungan dua pendekar wanita itu.


"Hei sudah hentikan, semua masalah sudah selesai jika kau tidak percaya tanyakan pada bibi Lasmini". Ucap Sabrang saat berusaha memisahkan mereka dengan dinding es yang dibuatnya.


"Minggir, kau tidak usah ikut campur!". Tungga dewi terus menyerang Mentari dan tidak menghiraukan kehadiran Sabrang. Saat ini yang ada dikepalanya hanya mengalahkan Mentari. Begitupun sebaliknya, Mentari ingin membuktikan dia jauh lebih baik dari Tungga dewi.


"Maaf aku terpaksa melakukan ini". Sabrang tiba tiba masuk dalam pertarungan, dia berusaha meraih kedua pedang mereka.


Ketika kedua tangannya telah berhasil memegang dua pedang itu di menarik keduanya mendekat sebelum melepaskan Hembusan dewa es abadi.


Tubuh dua pendekar wanita itu membeku dalam seketika.


"Tuan muda apa yang anda lakukan?". Teriak Mentari geram.


"Lepaskan aku! apa kau sudah gila". Tungga dewi ikut berteriak.

__ADS_1


"Bibi tolong jelaskan pada mereka berdua". Pinta Sabrang pada Lasmini.


Lasmini menggelengkan kepalanya sambik tersenyum kecil. "Apalagi yang harus kujelaskan, Dewi sejak awal sudah mempercayaimu namun wanita yang bersamamu memicu amarahnya. Mungkin kau adalah yang terbaik dalam ilmu kanuragan saat ini namun kau begitu bodoh saat menghadapi dua wanita yang sama sama mencintaimu itu". Gumam Lasmini dalam hati.


__ADS_2