Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ksatria Pisau Tumbuk Lada II


__ADS_3

"Yang mulia, itu orang yang kemarin bicara padaku," tunjuk Emmy pada seorang kakek tua yang sedang makan sendirian di sudut ruangan.


"Jadi dia yang tenaga dalamnya kemarin kurasakan," gumam Sabrang sambil menatap Lamhot.


"Jadi apa yang akan anda lakukan?" tanya Emmy penasaran.


"Aku sudah mengetahui di mana letak gunung Sinabung, kita akan pergi setelah mengetahui tujuan kakek itu," Sabrang melangkah mendekati Lamhot.


"Ah, selamat datang tuan muda, aku sudah memesan makanan untuk kalian berdua," sapa Lamhot sopan saat Sabrang dan Emmy sudah berdiri dihadapannya.


"Kakek benar benar hebat, bagaimana anda tau aku akan menerima tawaran ini?" balas Sabrang sopan, dia memberi hormat sebelum duduk dihadapan Lamhot.


"Kau terlalu berlebihan tuan muda, aku hanya menebak karena kupikir tujuan kita sama jadi akan lebih baik jika kita bekerja sama," ucap Lamhot sambil tersenyum.


"Tujuan kita sama?" pancing Sabrang.


Lamhot menghentikan makannya, dia menatap Sabrang cukup lama sebelum bicara.


"Aku tidak tau apa tujuan kalian mengincar Pendekar Kuil suci dan sebaiknya kita memang tidak saling tau tujuan masing masing. Saat ini musuh kita sama, bukankah itu sudah cukup untuk bekerja sama?"


"Maaf kek, aku datang hanya ingin menyelidiki mereka terlebih dahulu dan saat ini aku tidak menganggap siapapun sebagai musuhku," jawab Sabrang pelan.


"Saat ini mungkin kau bisa bicara seperti itu, tapi Arkantara di bawah pimpinan Saragi akan mencoba menguasai Nuswantoro dan cepat atau lambat mereka akan menyerang Malwageni, apa kau masih tidak menganggap mereka musuh?" Lamhot tersenyum penuh arti.


Wajah Sabrang berubah seketika setelah Lamhot menyebut nama Malwageni.


"Jadi kakek sudah tau? siapa sebenarnya kakek?" Sabrang masih berusaha tenang.


"Namaku adalah Lamhot, seperti yang kukatakan tadi sebaiknya kita tidak tau tujuan masing masing," jawab Lamhot pelan.


"Maaf kek, aku tidak terbiasa bekerja sama dengan orang yang menyembunyikan sesuatu dariku. Emmy, sebaiknya kita pergi, aku akan menyelidiki sendiri masalah ini," Sabrang bangkit dari duduknya.


"Dahulu, jauh sebelum ilmu kanuragan muncul di dunia persilatan, tanah ini dijuluki sebagai tanah suci Dewa," ucap Lamhot tiba tiba.


"Tanah Suci Dewa? apa mungkin peradaban Gropak Waton...?" Sabrang kembali duduk.


"Gropak Waton adalah satu dari beberapa suku yang pernah mendiami tanah suci dewa, itu menurut cerita yang diceritakan kakekku," jawab Lamhot.


"Jadi dari sini mereka berasal," ucap Emmy dalam hati.


"Bukan tanpa alasan jika tempat ini dijuluki tanah suci Dewa, ada sebuah kitab kuno yang tersembunyi di bawah Danau larangan atau lebih dikenal dengan nama Sidihoni. Kitab yang menurut kepercayaan leluhur kami adalah kitab kutukan itu bernama Sabdo Loji.


"Leluhur kami melarang keras untuk menyentuh kitab itu karena jika sampai Sabdo Loji muncul di dunia persilatan maka dipercaya akan terjadi kekacauan dan angkara murka. Kami akhirnya membentuk sepuluh ksatria penjaga untuk mencegah siapapun masuk danau larangan itu dan aku adalah keturunan ke dua puluh dari salah satu Ksatria penjaga Sidihoni.


"Namun suatu hari ada seorang pedagang yang berasal dari daratan Jawata datang ke tempat ini. Setelah mendengar cerita tentang keberadaan kitab kuno itu dia diam diam masuk ke dalam danau larangan dan mencuri Sabdo Loji, pemuda itu bernama Mandala Rakyan," ucap Lamhot melanjutkan.


"Kitab Sabdo Loji berasal dari sini?" tanya Emmy tak percaya.


"Benar nona, kitab yang konon menjadi pusat semua ilmu kanuragan, ilmu perang dan ilmu pengetahuan itu akhirnya muncul di dunia persilatan karena keserakahan Mandala Rakyan," jawab Lamhot cepat.


"Jadi memang ada hubungannya antara Kuil suci dengan kitab itu?" ucap Emmy pelan sambil berfikir.


"Saat Mandala Rakyan datang ketempat ini untuk berdagang dia tidak sendirian. Dia datang bersama seorang anak kecil bernama Agam Argani dan nama ketua pasukan kuil suci Arkantara juga Agam Argani. Apa menurutmu ini sebuah kebetulan?" tanya Lamhot.


"Apa kakek berfikir mereka adalah orang yang sama? tapi bagaimana mungkin, bukankah kejadian itu sudah sangat lama sekali?" sahut Sabrang.


"Sabdo Loji disebut kitab kutukan karena menurut cerita leluhur kami yang pernah membaca kitab itu terdapat banyak jurus terlarang yang melawan alam termasuk keabadian. Aku yakin Mandala dan Agam sudah mempelajari kitab itu sebelum terbunuh di Bukit Menoreh.


Semua memang masih perkiraan tapi aku mulai yakin saat mendengar mereka mengumpulkan Mustika Merah Delima. Menurut cerita, Energi Mustika itu bisa membuat tubuh seseorang abadi jika digunakan dengan salah satu ajian di kitab Sabdo Loji dan aku takut mereka mencoba membangkitkan kembali Mandala," jawab Lamhot.


Emmy menarik nafas panjang, dia mulai mengerti masalah yang akhir akhir ini terjadi termasuk hancurnya Suku Hutan Dalam.


"Jadi semua masalah yang terjadi di dunia persilatan termasuk munculnya Lakeswara dan Masalembo adalah efek dari kitab Sabdo Loji," ucap Emmy pelan.


"Seperti yang dikatakan leluhurku, kitab itu hanya akan membawa bencana jika muncul dan itu sudah terlihat sejak ilmu kanuragan mulai dipelajari. Saling bunuh, curiga dan ambisi besar akan menghancurkan dunia ini perlahan."

__ADS_1


"Selain musuh yang sama, sepertinya kita juga memiliki tujuan yang sama," Emmy mulai menceritakan tujuannya datang ketempat itu setelah mendapat izin dari Sabrang termasuk ditemukannya kitab Sabdo Loji.


"Gawat, mereka mulai menjalankan rencananya, kitab itu sengaja di taruh oleh mereka untuk ditemukan agar kekacauan di dunia persilatan kembali terjadi sehingga memudahkan pasukan Kuil suci untuk diam diam mengumpulkan semua mustika merah delima. Lalu apa yang akan kalian lakukan untuk menyelidiki mereka?" tanya Lamhot penasaran.


"Tugasku adalah menyelidiki kaitan Kuil suci dengan kitab Sabdo Loji dan alasan mereka membantai Suku Hutan Dalam terlebih dahulu sebelum menyusun rencana berikutnya. Kami tida bisa bertindak gegabah karena ini menyangkut dua kerajaan besar yang akan menyulut perang besar," jawab Emmy pelan.


Lamhot tampak mengangguk mengerti, dia sadar jika sampai terjadi perang besar antara Malwageni dengan Arkantara maka akan banyak korban jiwa yang tidak bersalah tewas.


"Jadi kalian akan kembali ke Malwageni terlebih dahulu? Ku harap kita bisa terus bekerja sama untuk menghentikan mereka dan aku akan menunggu di sini sambil mengamati pergerakan mereka. Tolong hubungi aku jika kembali lagi ke Arkantara," ucap Lamhot.


"Tidak kek, masih ada satu tempat yang ingin kami datangi sebelum kembali," jawab Sabrang.


"Satu tempat?" tanya Lamhot penasaran.


"Gunung Sinabung, aku harus menemui seseorang yang menurut kabar dia tinggal di puncak gunung," balas Sabrang.


"Sinabung? kau yakin akan pergi ke tempat yang bahkan dihindari oleh pasukan Kuil Suci?"


"Aku harus ke sana kek, ada yang harus aku tanyakan mengenai salah satu jurus yang sedang kupelajari," jawab Sabrang cepat.


"Aku benar benar tidak menganjurkan kau untuk datang ketempat itu tuan muda. Selain dijaga oleh para ksatria pisau Tumbuk Lada, konon perangai pertapa itu sangat buruk. Beberapa kali aku mencoba menemuinya untuk meminta bantuan menghentikan pasukan kuil suci tapi tidak berhasil. Ilmu kanuragan ksatria penjaga gunung sinabung sangat tinggi," ucap Lamhot memperingatkan.


***


"Yang mulia, anda yakin akan naik ke gunung itu?" tanya Emmy setelah membereskan semua barang dikamar.


"Ini adalah pesan guruku dan aku harus melaksanakannya," jawab Sabrang pelan.


"Tapi bagaimana dengan ksatria penjaga gunung yang diceritakan tuan Lamhot?"


"Tugas mereka adalah menjaga gunung itu, jika kita datang baik baik aku yakin mereka akan menyambut kita," balas Sabrang lembut.


Emmy hanya mengangguk pelan, masih terlihat kekhawatiran di wajahnya walau Sabrang berusaha menenangkannya.


"Sebaiknya kita pergi sekarang, aku tidak ingin sampai di gunung itu saat malam hari karena akan sangat berbahaya," ucap Sabrang sambil melangkah keluar kamar.


***


Setelah berjalan hampir seharian tibalah mereka di kaki gunung Sinabung dan langsung di sambut oleh sebuah danau indah namun menakutkan. Wajah Emmy berubah seketika saat aura aneh mulai dirasakannya.


Selain aura itu, kesan menakutkan semakin terasa karena kondisi hutan dengan pepohonan tinggi itu sangat lembab seolah sinar matahari tak mampu menembus kaki gunung Sinabung.


Sabrang bukan tidak merasakan aura menakutkan itu, Instingnya langsung memperingatkan jika mendatangi tempat itu bukan pilihan bijak namun dia berusaha menyembunyikannya dari Emmy dan bersikap biasa.


"Yang mulia, aura ini?" ucap Emmy tiba tiba.


"Tenanglah, bukankah setiap gunung yang pernah kita singgahi memiliki misteri tersendiri? " jawab Sabrang pelan, matanya terus menyisir sekitarnya sambil berjalan hati hati.


Setelah mendaki cukup lama, bau menyengat belerang mulai tercium. Sabrang kemudian memutuskan untuk beristirahat dan membuat perapian karena hari mulai malam.


"Sebaiknya kita bermalam di sini, akan sangat berbahaya melanjutkan perjalanan dalam gelap," Sabrang mulai membersihkan area sekitarnya dan membuat perapian.


Lolongan serigala yang saling bersautan membuat bulu kuduk Emmy berdiri, para serigala itu seolah memperingatkan mereka untuk tidak naik lebih jauh.


Emmy bukan sekali ini saja mendaki gunung, puluhan gunung di Celebes pernah dia daki namun entah mengapa kali ini perasaannya berbeda. Ada sesuatu yang entah apa terus mengusik perasaannya sejak berada di kaki gunung. Hujan rintik yang mulai turun menambah mencekam suasana malam itu.


Sabrang yang memilih bermeditasi di dekat perapian terlihat berbeda kali ini, tangan kanannya tampak menggenggam sebuah pisau es seolah siap untuk menyerang sesuatu.


"Ada yang sedang mengawasi kita," ucap Naga Api tiba tiba.


"Aku tau Naga Api, tapi aku tidak bisa merasakan dimana mereka bersembunyi. Hawa kehadiran mereka sangat lemah seolah tidak memiliki ilmu kanuragan," jawab Sabrang pelan.


Sabrang terus menajamkan panca inderanya, dia bahkan sesekali menggunakan mata bulan untuk mencari keberadaan yang sejak di kaki gunung mengawasinya.


"Anom, jika sesuatu menyerang tiba tiba, tugasmu adalah melindungi Emmy, cukup sulit bertarung dalam gelap sambil melindunginya."

__ADS_1


"Baik nak," jawab Anom cepat.


"Apa yang sebenarnya ada di gunung ini, auranya jauh lebih menakutkan dari gunung yang selama ini aku datangi," Sabrang tiba tiba membuka matanya saat merasakan ada yang bergerak mendekat, dia menggunakan mata bulan untuk mendeteksi aura yang kembali menghilang itu.


"Aku yakin ada energi bergerak cepat mendekatiku, bagaimana mungkin tiba tiba menghilang?"


"Belakangmu nak!" teriak anom saat sebuah pisau melesat dari arah belakang.


Sabrang langsung membentuk dinding es untuk menangkis pisau itu tapi yang terjadi selanjutnya membuat Sabrang terkejut. Pisau itu dengan mudah menembus dinding es seolah mengenai dedaunan.


"Sial, pisau apa yang bisa menembus dinding es dengan mudah," umpat Sabrang.


Pisau kecil itu pasti menembus tubuh Sabrang andai dia tidak menggunakan jurus menghentikan waktu di saat terakhir yang memberinya waktu menghindar.


"Yang Mulia!" teriak Emmy khawatir.


"Menjauh!! mereka bukan pendekar sembarangan," teriak Sabrang.


Sepuluh orang dengan pakaian serba hitam muncul tiba tiba dengan pisau di kedua tangannya. Sabrang menatap mereka penuh waspada, dia bisa merasakan aura besar yang meluap dari tubuh para pendekar misterius itu.


"Apakah mereka adalah sepuluh ksatria pisau tumbuk lada?" ucap Sabrang kagum.


"Siapapun dirimu dan tujuan berada di gunung ini sebaiknya kau cepat pergi! aku tidak ingin menambah jumlah tulang manusia di gunung suci ini," teriak salah satu dari mereka.


"Maaf jika aku mengganggu tapi aku datang tidak dengan permusuhan, aku hanya ingin meminta petunjuk dari tetua pertapa sakti di puncak gunung," jawab Sabrang sopan tapi tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaannya.


"Apa kau tuli? apapun tujuanmu pergilah dari gunung ini, tetua tidak ingin bertemu dengan siapapun," jawab pendekar itu cepat.


Sabrang menarik nafas panjang, sepertinya dia memang tidak bisa naik dengan baik baik.


"Maaf tuan, aku benar benar harus menemui dia."


"Aku sudah memperingatkanmu, jangan salahkan jika kami bertindak kasar," pendekar itu memberi tanda yang lainnya untuk bersiap menyerang.


"Anom, lindungi Emmy, sepertinya kali ini akan sedikit lebih sulit," ucap Sabrang dalam pikirannya sambil memunculkan pedang Naga Api di tangannya.


"Iblis api?" pendekar itu tampak terkejut saat melihat kobaran api mulai menyelimuti tubuh Sabrang.


"Jadi iblis api yang melegenda itu telah memilih tuannya? menarik," pendekar itu bergerak menyerang diikuti sembilan pendekar lainnya.


"Pisau itu lagi," Sabrang menyambut serangan dengan jurus pedang pencakar langit milik Wahtu Tama.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


(Jangan lupa Vote karena rank PNA semakin turun)


Danau Sidihoni juga terkenal sebagai danau di atas danau karena terletak di atas Pulau Samosir yang dibawahnya terdapat Danau Toba. Dimata masyarakat Batak, khususnya yang tinggal di Samosir, danau ini begitu istimewa namun juga dianggap sangat keramat dan menyimpan banyak misteri.


Konon air di danau ini warnanya bisa berubah-ubah jika ada peristiwa penting yang terjadi di Indonesia. Warna air di Danau Sidihoni konon akan berubah menjadi warna merah jika ada tragedi atau peristiwa penting yang terjadi di Indonesia. Tak ada yang tahu pasti kapan danau ini terbentuk. Ada yang mengatakan sudah ada sejak tahun 1800-an, ada juga yang bilang kemunculan danau ini berbarengan dengan terbentuknya Pulau Samosir sekitar 73 sampai 75 ribu tahun lalu.


Bukan sekedar danau biasa, ada salah satu misteri dari danau ini yang belum terungkap.


Ada salah satu misteri dan keajaiban di Danau Sidihoni, dimusim kemarau, secara logika airnya surut, tapi di Danau Sidihoni justru permukaan airnya naik bahkan jumlah airnya melimpah. Sebaliknya, justru di musim hujan airnya malah surut.


Ada misteri lainnya berupa lubang di sebelah timur Danau Sidihoni. Danau ini diyakini memiliki sebuah lubang lain di sebelah timur. Konon dibawah danau ini terdapat sungai yang airnya mengalir hingga ke Danau Toba di kawasan Ambarita. 


Sumber : Mbah gugel


Dalam cerita PNA, lubang misterius di timur Danau Sidihoni inilah dulu terkubur kitab Sabdo Loji sebelum di curi oleh Mandala Rakyan.


(Gambar Pisau Tumbuk Lada)



(Danau Sidihoni)

__ADS_1




__ADS_2