
Daratan Celebes adalah salah satu daratan dari puluhan daratan lainnya yang berada diwilayah Nuswantoro. Sedikit berbeda dari Jawata yang lebih datar, Celebes terbentang pegunungan indah yang masih belum terjamah.
Beberapa tempat bahkan cenderung misterius dan pantang dimasuki karena diselimuti kekuatan aneh yang cukup besar. Salah satunya adalah gunung lompobattang, tempat Sekte Naga langit berdiri yang merupakan sekte Arung berada.
Gunung Lompobattang yang sangat jarang terkena sinar matahari membuat tempat ini terkesan angker dan menakutkan. Jalan terjal yang sangat berbahaya membuat tempat ini sangat dihidari oleh hampir semua pendekar kelas tinggi sekalipun.
Jauh didalam hutan Lompobattang yang merupakan hutan paling misterius didaratan Celebes itu, tepatnya disebuah lembah dekat dengan air terjun berdiri kokoh beberapa bangunan yang dibangun dengan Desain canggih dan rumit.
Kemegahan bangunan itu sangat mencolok dengan terpencilnya hutan Lompobattang. Dengan jurus Pedang kabutnya, Sekte Naga langit menjadi sekte aliran putih terbesar kedua dibawah Manca api, sedangkan aliran hitam dipimpin oleh Sekte Lereng merah darah dengan pusaka pedang Iblisnya.
Selama beberapa ratus tahun Dunia persilatan Celebes cenderung datar dan tak ada konflik yang mencolok namun sejak kemunculan kabar kitab paraton muncul di.tanah Jawata, mereka mulai saling sikut untuk berlomba mendapatkan kitab pengetahuan itu.
Hanya Sekte Naga langit yang tidak berambisi mendapatkannya.
"Apa udah ada kabar dari Arung?". Tanya seorang pria setengah baya pada salah satu orang kepercayaannya.
"Belum ketua, mungkin sedikit sulit mencari pengguna pusaka Naga api. Apa aku harus mengirim utusan untuk mencarinya?". Ucap Mangge, salah satu dari 7 pendekar terkuat Sekte Naga langit yang juga wakil ketua Sekte.
Malewa menggeleng pelan " Terlalu besar biayanya untuk mengirim utusan kembali, belum lagi kita disibukkan dengan agresifitas pergerakan Lereng merah darah. Kita tunggu beberapa hari lagi". Malewa menarik nafas panjang, beberapa waktu belakangan ini daratan Celebes kembali bergejolak karena munculnya kitab Paraton.
"Bagaimana persiapan pertemuan kita dengan Manca api?".
"Semua sesuai dengan yang kita rencanakan ketua, setelah munculnya purnama merah mereka akan langsung mengunjungi kita untuk membahas tentang Paraton dan Lereng merah darah".
"Pastikan semua berjalan lancar, hanya mereka satu satunya aliansi yang bisa menekan Lereng merah darah".
" Baik ketua". Jawab Mangge pelan.
"Bagaimana dengan kabar mengenai hutan kabut awan? apa kau sudah mendapat kabar mengapa Lereng merah darah mengirim pendekar tangguhnya kesana? Apa yang sebenarnya mereka cari?". Tanya Malewa pelan, dia baru ingat beberapa hari lalu menugaskan Mangge untuk menyelidiki kabar itu.
" Sampai hari ini aku belum berhasil mendapatkan informasinya Ketua, namun yang pasti mereka sampai mengirim sepasang pendekar darah untuk memimpin pasukan masuk hutan kabut awan pasti bukan hal yanh kecil".
"Sepasang pendekar darah ya?". Malewa memejamkan matanya. Dia tau betul sepak terjang pendekar darah. Mereka termasuk pendekar yang paling ditakuti di daratan Celebes bahkan Malewa ragu bisa mengalahkan mereka berdua.
Mungkin hanya Tetua dari Manca api yang saat ini bisa mengimbangi mereka.
"Apakah ini berhubungan dengan kota dongeng Wentira ketua? karena konon kota misterius itu berada di hutan kabut awan".
__ADS_1
"Aku tidak tau namun mungkin saja itu yang mereka cari. Yang tepenting saat ini adalah terjalin aliansi dengan Manca api karena hanya dengan merekalah kita memiliki kesempatan menang melawan Lereng merah darah".
***
Sudah beberapa hari bahtera Celebes mengarungi lautan luas dan beberapa hari itu pula Sabrang terkapar dikamarnya. Mabuk laut membuatnya tak bisa bergerak sedikitpun karena perutnya langsung mual jika bergerak.
Apa yang dialami Sabrang dapat dipahami karena ombak besar selalu menghantam kapal mereka. Jika Bahtera Celebes tidak dibuat dengan ilmu pengetahuan tinggi sudah sejak lama kapal itu hancur.
Wardana begitu takjub pada kapal yang ditumpanginya itu. Dia tak berhenti berkeliling sambil mencatat digulungannya. Dia berencana membuat kapal seperti itu untuk Malwageni kelak.
"Apa anda sedang sibuk tuan Adipati?". Ciha tiba tiba muncul dibelakangnya.
"Tidak juga, aku hanya mengagumi kapal ini, desain dan kontruksinya benar benar detail. Sepertinya kapal ini sengaja dibuat untuk mengarungi lautan luas".
"Begitu banyak misteri tentang paraton, bukankah ini sangat menarik?". Ciha mendekati Wardhana dan duduk dihadapannya.
"Aku lebih senang menyebutnya menakutkan dari pada menarik. Jika kapal ini dibangun dengan ilmu pengetahuan dari khayangan api bukankah sangat mengerikan jika jatuh ketangan yang salah?".
"Lalu untuk apa tuan masih mencari tempat itu jika menurut anda mengerikan?". Ciha mengernyitkan dahinya. Dia memang belum mengerti duduk permasalahannya karena tidak ikut masuk ke ruang rahasia tapak es utara.
" Ada yang harus kuceritakan padamu terlebih dahulu sebelum kita sampai didaratan Celebes". Wardhana membuka gulungannya dan mulai menceritakan apa yang dia temukan dan dia perkirakan.
Ciha memang sudah kagum pada semua rencana Wardhana di Dieng namun kali ini dia merasa Wardhana begitu menguasai keadaan hanya dengan petunjuk yang sangat sedikit. Kecepatannya membaca situasi membuat Ciha berfikir jika Wardhana akan menjadi musuh yang sangat menakutkan jika menjadi lawan.
"Jadi kemunculan paraton adalah rencana Pendekar langit merah untuk memancing para pendekar menemukan Telaga khayangan api?".
"Itu perkiraanku sementara ini, untuk itulah aku membutuhkan bantuanmu untuk mengungkap misteri Telaga khayangan api. Satu yang pasti lawan yang kita hadapi bukan hanya memiliki ilmu kanuragan tinggi namun juga kepintaran yang luar biasa". Jawab Wardhana.
"Apakah tuan merasa aneh dengan semua ini?". Tanya Ciha penasaran.
"Aneh?". Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Catatan yang ditinggalkan Ken Panca sepertinya memang ditulisnya di kota tersembunyi Wentira. Aku berfikir jika menjadi penduduk Wentira, apakah aku akan begitu mudah menerima orang luar untuk masuk kedalam kota emas itu? bagaimana jika ken Panca membocorkan letak Wentira pada dunia persilatan?".
"Maksudmu Panca sengaja diundang masuk Wentira?".
"Aku tidak yakin namun pasti ada sesuatu yang mereka bicarakan. Aku mulai berfikir ada suatu hubungan antara Telaga khayangan api dengan Trah Dwipa".
__ADS_1
"Kau benar, aku tidak berfikir sejauh itu. Memang sangat aneh jika mereka menerima seorang pendekar dari daratan Jawata yang sama sekali tidak dikenal. Mereka seolah sudah saling kenal sejak lama, apa ada yang terlewat olehku?". Wardhana kembali membaca gulungan itu.
"Apapun itu sepertinya jawabannya dapat kita temukan jika berhasil masuk Wentira, apa anda sudah memiliki petunjuk dimana letak Wentira?". Tanya Ciha.
Wardhana menggeleng pelan " Hanya gambar hutan ini yang ditulis Panca pada catatannya dan berapa gambar aneh ini". Tunjuk Wardhana pada catatan Ken Panca.
Ciha mengernyitkan dahinya saat menatap gambar itu. Dia seperti pernah melihat gambar itu.
"Air, sungai besar dan Jembatan? aku seperti pernah melihat gambar ini tapi dimana?". Gumamnya dalam hati.
"Apa ada yang kau temukan?". Wardhana menatap Ciha.
"Aku tidak yakin tuan namun aku merasa pernah melihat gambar ini entah dimana". Ciha masih terus berusaha mengingat ingat sampai suara Arung mengagetkan mereka.
"Kita sudah hampir sampai". Teriak Arung pada mereka berdua.
Ciha dan Wardhana saling menatap sebelum pandangan mereka terarah pada Daratan yang ada dihadapan mereka.
Sebuah daratan yang sangat indah namun seperti menyimpan sesuatu yang menakutkan.
" Jadi Celebes benar benar ada?". Wardhana menatap takjub pemandangan dihadapannya. Dia memejamkan matanya kala suara indah burung Taong khas Celebes mengisi telinganya. Suara burung yang saling bersautan seolah memperingatkan Wardhana dan yang lainnya untuk tidak menginjakan kakinya di daratan Celebes.
"Sebaiknya kita bersiap, firasatku mengatakan ada sesuatu yang sangat menakutkan menanti kita didalam hutan itu". Wardhana menelan ludahnya. Walaupun dia tidak memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi namun dia bisa merasakan ada kekuatan yang menekan tubuhnya.
Dilain pihak Lingga membuka matanya saat tubuhnya merasakan kekuatan besar menekannya. Butuh waktu lama bagi Lingga untuk dapat menggerakan tubuhnya karena tekanan itu.
"Sepertinya sudah sampai". Gumam Lingga sambil bangkit dari tempat duduknya dan menuju dek kapal.
" Sepertinya kalian juga merasakannya bukan?". Sapa Lingga saat melihat Sabrang dan yang lainnya sudah lebih dulu sampai di Dek kapal.
"Berhati hatilah nak, aku merasakan aura jahat dari dalam hutan itu". Ucap Anom dalam pikiran Sabrang.
"Aku tau, mata ini seperti bereaksi terhadap sesuatu didalam sana". Sabrang mengusap tetesan darah yang keluar dari matanya.
"Inilah daratan Celebes, tempat asalku dan beberapa pendekar yang menyerang kita tempo hari. Masih butuh waktu satu hari perjalanan untuk sampai di gunung lompobattang, tempat sekteku berada". Arung membuka pintu dek kapal dan melompat turun. " Ayo kita pergi". Arung menarik nafas panjang, sudah cukup lama dia meninggalkan tanah kelahirannya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sabrang dan segenap pendekar dunia persilatan mengucapkan Minalaidin wa faidzin mohon maaf lahir batin๐๐
Terima kasih atas segala dukungannya selama ini.