
Wajah Basudewa berubah seketika saat melihat ilmu pedang Sekar Pitaloka yang begitu cepat dan mematikan.
Dia yang awalnya ingin mempermainkan Sekar Pitaloka dan membuatnya putus asa dibuat terkejut dengan serangan pedang Serbuk Bunga penghancur Iblis kebanggaan trah Tumerah.
"Wanita ini jauh lebih kuat dari perkiraanku," Basudewa berusaha mengambil jarak untuk mengatur ulang kuda kudanya namun Sekar Pitaloka tidak memberinya kesempatan, gerakannya di atas air begitu lincah dan terus mendesak lawannya.
"Sepertinya kau terlalu meremehkan trah Tumerah, kami bisa jauh lebih kuat dari Dwipa andai mampu memaksimalkan energi murni dalam tubuh," luapan energi murni tiba tiba keluar dari tubuh Sekar Pitaloka dan menekan sekitarnya termasuk Basudewa.
Tubuhnya tampak terhuyung akibat tekanan aura Sekar Pitaloka, ketika Basudewa berusaha menyeimbangkan kembali tubuhnya, Sekar merubah gerakannya dan menyerang dengan sekuat tenaga.
"Gerakan pedangnya sangat sulit ditebak, aku benar benar dipermainkan olehnya" Basudewa mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya untuk menangkis serangan lawan.
Benturan dua kekuatan besar membuat danau itu berguncang, percikan air berhamburan di udara membentuk pelanhi yang sangat indah di area pertarungan.
Candrakurama yang sedang bertarung pun langsung menoleh kearah suara ledakan, dia benar benar takjub dengan tenaga dalam Sekar Pitaloka.
Tubuh Basudewa terdorong beberapa langkah sebelum serangan besar lainnya datang dan terus membuatnya tersudut. Saat dia berusaha menghindar, kedua kakinya yang menapak di atas air tiba tiba merasakan hawa dingin sebelum membeku dan membuat tubuhnya tak bisa bergerak.
"Kakiku? dia melepaskan dua serangan secara bersamaan? apa itu mungkin," Basudewa berusaha menghancurkan es yang mengekang kedua kakinya namun sebuah serangan cepat menghantam tubuhnya.
"Jurus serbuk bunga penghancur Iblis," Sabetan pedang Sekar Pitaloka memotong lengan kiri pendekar itu dan melempar tubuhnya cukup jauh.
Suara jeritan kesakitan Basudewa menggema di udara, tubuhnya jatuh kedalam air.
Sekar Pitaloka menyentuh air dengan telapak tangan dan dalam seketika hampir separuh danau membeku. Basudewa yang berusaha keluar dari dalam air tak mampu bergerak ketika air disekitarnya membeku dan menahan tubuhnya.
"Dia juga pengguna jurus es," umpat Basudewa sambil melepaskan aura dari tubuhnya untuk menghancurkan es disekitarnya tapi tak berhasil.
Sekar Pitaloka tersenyum sambil menoleh kearah pertarungan Candrakurama yang hampir dimenangkan olehnya sebelum melangkah mendekati Basudewa.
"Percuma kau berusaha menghancurkan bongkahan es ini, jurus dewa es abadi tak mudah dihancurkan oleh tenaga dalam rendah sepertimu," Sekar memunculkan pisau es di tangan kirinya dan mengalirkan tenaga dalam kedalam pisau itu.
"Katakan dimana anakku," ucap Sekar Pitaloka dingin.
"Jika yang kau maksud adalah pemuda berambut putih itu maka saat ini dia mungkin hampir mati," balas Basudewa sambil tertawa mengejek.
"Kalian tidak tau siapa dia, dengan ilmu kanuragan rendah seperti ini, apa kau pikir aku akan percaya bualanmu?" Sekar Pitaloka yang bersiap mengakhiri pertarungan dibuat terkejut karena bongkahan es miliknya tiba tiba hancur bersamaan dengan pisau es yang melesat kearahnya dari tengah danau.
"Jurus es Dewa abadi? tidak mungkin," Sekar Pitaloka melompat mundur sambil menangkis serangan pisau es yang terus terarah padanya.
Sekar kemudian menggunakan jurus yang sama, dia membentuk dinding es pelindung untuk memberi waktunya menghindar.
"Ibu ratu," teriak Candrakurama, dia melepaskan sebuah tebasan pedang kearah lawannya sebelum bergerak kearah Sekar Pitaloka untuk membantunya menangkis puluhan pisau es yang semakin cepat.
"Berani sekali kalian mencari masalah di wilayahku," kabut tebal tiba tiba muncul di sekitar danau.
"Segel kabut?" Sekar Pitaloka menatap kabut itu penuh kewaspadaan sambil mengatur kembali nafasnya.
Tak lama kabut itu perlahan menghilang, dan terlihat sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di atas air danau purba.
Sekar Pitaloka berusaha mencari pemilik suara yang menyerangnya tadi, pandangannya terhenti di puncak Kuil saat melihat seorang pria berdiri menatapnya tajam.
"Jadi dia yang tadi menyerang? bagaimana dia bisa menguasai jurus es milik sekte tapak es utara?" ucapnya dalam hati.
Tubuh Pria itu melayang di udara sebelum mendarat di atas air.
"Tinggalkan tempat ini sekarang atau aku akan membunuh kalian," ucap Ajidarma dingin.
"Dua pendekar tadi juga mengancam akan membunuhku, apa kalian selalu mengancam siapapun yang datang ke tempat ini?" ejek Sekar Pitaloka.
"Kau meremehkan aku, apa kau pikir aku tidak bisa membunuh kalian semua?" emosi Ajidarma mulai tersulut, dia melepaskan aura dingin yang membuat air disekitarnya kembali membeku.
"Siapa kau sebenarnya, bagaimana bisa menguasai jurus es milik sekte tapak es utara?" Sekar Pitaloka tampak terkejut.
"Milik Sekte Tapak Es utara? apa kau bercanda? semua ilmu kanuragan di dunia persilatan sumbernya dari kitab Sabdo Loji dan peradaban terlarang, kalian hanya mengaku sebagai pemilikinya," balas Ajidarma cepat.
__ADS_1
"Peradaban terlarang? jadi itu yang sedang dicari oleh Sabrang dan Wardhana," ucap Sekar dalam hati.
***
Pertarungan Rubah Putih dengan lima pendekar misterius di dekat hulu sungai berlangsung sengit, walau Rubah Putih terus ditekan oleh formasi serangan mereka namun dia masih mampu mengimbangi gerakan mereka.
Para pendekar misterius itu mulai berhati hati setelah formasi kebanggan mereka bisa dihadapi dengan sempurna oleh Rubah Putih. Mereka tidak menyangka pendekar berambut putih itu mampu bertahan cukup lama menghadapi formasi serangan kebanggaan mereka.
Rubah Putih terkadang memang terdesak namun dia mampu menutup celah itu dengan cepat dan melakukan serangan balik yang berbahaya.
"Kuat sekali, siapa dia sebenarnya?" ucap salah satu pendekar geram. "Gunakan formasi menyerang tingkat dua, jangan beri waktu dia berfikir." Gerakan pendekar itu tiba tiba berubah yang diikuti empat orang lainnya.
"Kalian pikir bisa menekan aku dengan mudah? jangan bermimpi," Rubah Putih meningkatkan kecepatannya, aura di tubuhnya seolah meledak saat dia menggunakan jurus ledakan tenaga dalam tingkat lima.
Gerakan para pendekar itu sedikit melambat, mereka merasakan tekanan yang jauh lebih besar kali ini.
"Kakang Hansa, formasi ini akan hancur jika kita terus melambat," teriak salah satu pendekar panik.
"Maka terus serang dan jangan biarkan dja menghancurkan formasi kita!" balas Hansa kesal.
Hansa bukan tidak mengetahui jika formasinya hampir hancur, serangan Rubah Putih yang semakin cepat ditambah tekanan aura dari tubuhnya perlahan mulai mendesak mereka.
Rubah Putih bukan tanpa masalah, dia memang mulai unggul dan menguasai pertarungan tapi pendekar yang ada dihadapannya jelas bukan sembarangan karena mampu sedikit mengimbangi serangan ledakan tenaga dalam iblis.
Yang membuat Rubah Putih sedikit khawatir adalah tenaga dalamnya yang terbatas, menggunakan jurus ledakan tenaga dalam iblis membutuhkan energi dalam jumlah besar dan dia bukan Sabrang yang memiliki tenaga dalam tak terbatas.
Rubah Putih harus secepatnya melumpuhkan mereka semua sebelum tenaga dalamnya habis tapi menghadapi lima pendekar kuat jelas bukan hal mudah.
Rubah Putih harus pandai mengatur tenaga dalamnya dan menyerang disaat yang tepat.
"Jurus Golok membelah gunung," Rubah Putih menyerang salah satu lawannya sambil menghindari serangan dengan sempurna, dia terlihat mulai bisa membaca formasi cepat pendekar misterius itu.
Tubuh Pendekar itu terlempar kearah celah batu sistem air danau purba itu setelah berusaha menangkis serangan Rubah Putih.
"Kakek?" ucap Sabrang yang muncul dari dalam lorong dan melihat pertarungan Rubah Putih.
"Yang mulia," teriak Wardhana dari dalam lorong saat melihat pendekar yang tadi terjatuh di dekat Sabrang tiba tiba menyerang.
Tubuh Sabrang menghilang dari pandangan dan muncul tepat dibelakang pendekar itu, dia mencengkram lengan lawannya dan mengalirkan tenaga dalam untuk mengacaukan aliran darah pendekar itu.
"Cepat sekali," pendekar itu berusaha menarik lengannya namun terlambat, bongkahan es yang berasal dari tangan Sabrang lebih dulu membekukan tubuhnya.
"Bagaimana mungkin seorang pendekar memilih cara licik untuk bertarung," umpat Sabrang kesal.
Konsentrasi empat pendekar itu terpecah setelah melihat kekuatan Sabrang, terlebih Hanggareksa dan yang lainnya juga muncul dari lorong itu.
Rubah Putih yang melihat celah itu tak menyia-nyiakannya, dia bergerak cepat dan langsung menyerang yang membuat dua pendekar terkena serangannya dan dua lainnya langsung melompat mundur.
"Sepertinya kini situasi berbalik, kalian dalam masalah besar," ejek Rubah Putih sambil tersenyum.
"Apa mereka para pendekar Kalang?" tanya Wardhana pelan.
Hanggareksa menggeleng pelan, dia terus menatap lawan Rubah Putih itu.
"Bukan, jurus pedangnya bukan milik kami," jawab Hanggareksa cepat.
"Pasukan Kuil suci, sepertinya mereka sudah mencium keberadaan kita," Sabrang mengeluarkan pedang Naga Api bersamaan dengan munculnya kobaran api di seluruh tubuhnya.
Para pendekar Kuil Suci tampak terkejut saat melihat kobaran api menutup seluruh tubuh Sabrang.
"Iblis api? kami dalam masalah besar," umpatnya dalam hati.
"Aku benar benar penasaran dengan kehebatan pasukan Kuil suci yang melegenda itu," Sabrang tiba tiba bergerak menyerang. Luapan energi dari tubuhnya semakin membesar seiring dengan kecepatannya yang terus meningkat.
Dua pendekar Kuil suci bergerak menyambut serangan Sabrang dan dua lainnya terpaksa menghadapi Rubah Putih yang ikut menyerang.
__ADS_1
"Kekuatan anak itu seperti tidak ada batasnya," ucap Hanggareksa takjub.
"Anda benar, dia akan terus berkembang dan bertambah kuat. Aku melihat sendiri perkembangan Yang mulia sejak awal muncul di dunia persilatan hingga kini menjadi salah satu pendekar terkuat, beliau sepertinya dilahirkan memang untuk bertarung," balas Wardhana pelan.
Wardhana tiba tiba mengernyitkan dahinya saat melihat pecahan batu yang tadi menutupi ujung lorong,
"Pusat bumi Suroloyo penjaga empat penjuru arah angin menyegel kesalahan terbesar Lemuria. Negeri khayangan diantara puncak tertinggi bukit menoreh yang selalu diselimuti kabut tebal itu akan mengekang ambisi gila Suku Atlantis yang suatu saat akan bangkit."
"Pusat Bumi Suroloyo?" ucap Wardhana pelan.
"Apa mungkin letak peradaban Lemuria berada di Pusat Bumi Suroloyo itu?" tanya Hanggareksa pelan.
"Tidak, jika melihat goresan tulisan dan warna batu, pesan ini belum terlalu lama dibuat, selain itu aku sudah tau dimana peradaban mereka dikubur. Mungkin mereka menulis pesan ini sebelum meninggalkan peradabannya dan Pusat Bumi Suroloyo kemungkinan tempat persembunyian mereka. Tapi aku belum pernah mendengar nama Suroloyo," balas Wardhana bingung.
Sebuah ledakan besar tiba tiba mengejutkan Wardhana dan yang lainnya, mereka menoleh serentak kearah pertarungan dan menemukan seorang pendekar dengan sisik ular di seluruh tubuhnya dan empat pendekar lainnya masuk dalam pertarungan.
Sabrang yang tidak menduga akan ada pendekar lain ikut menyerang tampak sedikit kewalahan, dia terpaksa menggunakan Ajian inti lebur saketi untuk mengimbangi pendekar dengan aura hijau itu.
"Berani melawan pasukan kuil suci hukumannya adalah mati," tubuh pendekar itu tiba tiba menghilang sebelum muncul dengan serangan dari sisi berlawanan.
"Kuakui gerakanmu sangat cepat tapi itu tidak cukup untuk menipu mataku," Sabrang memutar tubuhnya sambil melepaskan aura Naga Api untuk menahan serangan cepat pendekar lainnya, dia menangkis serangan pendekar dengan aura hijau itu sebelum menggunakan jurus menghentikan waktu.
"Badai api neraka," kobaran api di tubuh Sabrang semakin membesar sebelum meledak dan membakar semua yang ada disekitarnya.
"Tuan Naradipta!" para pendekar itu melompat mundur saat waktu kembali bergerak namun dua pendekar terlambat bergerak dan hangus menjadi abu.
"Jurus menghentikan waktu?" Naradipta tampak terkejut saat tubuhnya terlempar setelah menahan dengan perisai tenaga dalam.
Rubah Putih yang bertarung didekat Sabrang ikut terdorong akibat efek ledakan badai api neraka.
"Bagaimana mungkin api itu tidak membakar tubuhnya?" ucap Hanggareksa bingung.
"Naga Api tidak mungkin membakar tuannya sendiri," jawab Wardhana pelan.
"Jadi Iblis api benar benar telah menemukan tuannya?" balas Hanggareksa takjub.
"Sepertinya aku terlalu meremehkan dia, aku harus berhati hati," Naradipta kembali menyerang diikuti pendekar lainnya.
"Majulah bersamaan agar aku lebih mudah menghabisi kalian semua," Sabrang memutar pedangnya.
"Aku yang akan menjadi lawanmu," Lingga tiba tiba muncul bersama Emmy dan langsung menyerang Naradipta.
"Emmy?" ucap Sabrang terkejut.
"Yang mulia, anda baik baik saja?" Emmy menundukkan kepalanya memberi hormat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Puncak Suroloyo atau ada yang menyebut Negeri di atas Awan adalah puncak tertinggi di bukit menoreh yang selalu ditutupi kabut.
Puncak Suroloyo banyak yang meyakini bahwa puncak Suroloyo adalah sebagai kiblat pancering bumi atau pusat dari empat penjuru yang ada di tanah Jawa. Masyarakat setempat percaya bahwa puncak ini adalah pertemuan dua garis yang ditarik dari utara ke selatan dan dari arah barat ke timur Pulau Jawa.
Puncak ini menjadi tempati Batara Guru yaitu pimpinan para dewa. Dani di tempati ini pulai Ki Semar, atau Ki Ismoyo, atau Bodronoyo beradai mengasuh Petruk, Bagong, Gareng dan memomong parai ksatria Pandawa. Itulah sebabnya sebagian orang menyebut Puncak Suroloyo sebagai “rumah Ki Semar”.
Dan tak heran juga jika hampir seluruh masyarakat yang tinggal di kawasan Puncak Suroloyo ini menjadikan Ki Semar sebagai simbol dani sekaligus pedoman hidup.
Keindahan Puncak Suroloyo
Terakhir, Bonus chapter malam kelabu belum bisa saya berikan karena kesibukan yang sedikit lebih padat dan kebetulan juga h-4 sebelum pilkada serentak... jadi mohon dimengerti... bonus akan diberikan dalam beberapa hari ke depan....
__ADS_1