Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kemarahan Wulan


__ADS_3

"Benar dugaan hamba, anda berada di tempat ini," ucap Mentari sopan sambil berjalan mendekati Sabrang yang duduk di atas batu dekat pintu masuk Telaga khayangan api.


"Sepertinya memang tidak ada tempat buatku untuk bersembunyi darimu," jawab Sabrang sambil tersenyum lembut.


"Jika di alam bawah sadar saja hamba bisa menemukan anda, lalu apa sulitnya bagi Mentari mencari di hutan larangan," balas Mentari sambil menepuk dadanya bangga.


"Sejak kapan kau menjadi selir yang sombong?" goda Sabrang pelan, wajahnya perlahan berubah dan mulai bisa tersenyum lepas.


"Hamba adalah selir kesayangan, apa anda lupa?"


Sabrang kembali terkekeh sambil menggeleng pelan.


"Kau selalu berhasil membuatku tersenyum tapi jika kau datang untuk membicarakan masalahku dengan paman Wardhana sebaiknya lupakan, untuk beberapa hal ada yang tidak bisa aku terima dari ucapan paman," ucap Sabrang lembut.


"Hamba datang bukan untuk membela paman Wardhana tapi untuk mendukung sepenuhnya keputusan anda, bukanlah itu yang selalu hamba lakukan, Yang mulia," jawab Mentari cepat.


"Mendukungku?" tanya Sabrang mulai tertarik.


"Apa yang dituduhkan paman Wardhana benar benar keterlaluan, hamba juga melihat sendiri bagaimana tuan Panca hampir berkorban nyawa saat berhadapan dengan pemimpin Masalembo itu dan anda harus membersihkan namanya," jawab Mentari cepat.


"Membersihkan namanya? aku adalah seorang raja walau saat ini posisiku digantikan oleh Dewi, jadi aku berhak memutuskan apapun termasuk tentang kakek Panca tanpa harus membersihkan namanya karena ucapan seorang raja adalah sebuah titah," balas Sabrang cepat.


Mentari tampak terkejut dengan sikap Sabrang, baru kali ini dia melihat pemuda itu bersikeras dengan semua pendapatnya dan tidak mendengarkan masukan orang disekitarnya.


"Lalu apakah hamba tidak boleh membela diri jika suatu saat berada di posisi paman Wardhana?" tanya Mentari pelan.


"Kau tak akan pernah berada di posisinya karena aku akan melindungi dirimu sampai kapanpun," jawab Sabrang cepat.


"Termasuk jika suatu saat hamba berkhianat pada Malwageni?"


"Kau!... apa sebenarnya yang ingin kau katakan, aku yakin kau tak akan pernah mengkhianati aku sampai kapanpun," balas Sabrang.


"Maaf Yang mulia, jika anda begitu percaya padaku mengapa tidak bisa melakukannya pada paman Wardhana? sedikitpun hamba tidak sedang membela paman patih tapi bisakah anda memberinya kesempatan untuk membuktikan ucapannya? jika setelah itu semua tidak terbukti, anda boleh menghukumnya atau bahkan mengusir dari keraton," jawab Mentari pelan.


Sabrang terdiam sambil menatap Mentari tajam namun kali ini dia berhasil menahan emosinya.


"Hamba sangat berterima kasih atas semua kepercayaan dan perlindungan Yang mulia selama ini bahkan saat orang lain mulai curiga pada hamba, tapi sebagai seorang raja yang memiliki kewenangan penuh seharusnya anda bisa memutuskan sesuatu dengan bijak tanpa terbawa perasaan.


"Seingat hamba paman Wardhana tak pernah sedikitpun mengecewakan Malwageni walau mungkin beberapa kali dia pernah pernah melakukan kesalahan tapi apakah dengan kesalahan kecil itu kita menghapus semua pengorbanannya selama ini? Paman tak pernah menuduh secara langsung tuan Panca, dia hanya ingin anda membuktikan semua kecurigaannya.


"Hamba memang belum pernah bertemu Yang mulia Arya Dwipa tapi mendengar cerita beliau yang justru memerintahkan paman melarikan diri saat keraton sudah dikepung menandakan kepercayaan yang begitu besar pada paman Wardhana. Apakah karena hal kecil yang belum tentu kebenarannya ini anda akan menghukumnya?" Mentari menyandarkan kepalanya di pundak Sabrang, untuk pertama kalinya dia ingin menggunakan rasa sayang Sabrang yang begitu besar padanya untuk mempengaruhi keputusan pemuda itu.


Sabrang menarik nafasnya cukup panjang, ada perasaan bersalah yang tiba tiba muncul dalam pikirannya.


"Apa menurutmu tindakanku ini salah?" tanya Sabrang pelan.


"Apa yang anda lakukan tidak salah Yang mulia, hanya kurang tepat dan hamba sangat mengerti karena tekanan selama beberapa hari ini termasuk pertarungan dengan Iblis api pasti mempengaruhi pikiran. Kita masih bisa memperbaikinya, aku akan menemani anda menemui paman Wardhana dan membahas masalah tuan Panca dari awal," jawab Mentari.


"Kau benar, aku harus menemui paman dan meminta maaf," Sabrang bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan pada Mentari.


"Terima kasih selalu menjadi penasihat pribadiku, sepertinya aku harus memberimu jabatan tinggi di keraton," goda Sabrang.


"Tak ada jabatan yang pantas untuk selir kesayangan raja, hamba hanya ingin..." belum selesai Mentari bicara, Sabrang tiba tiba menarik tubuhnya saat sebuah serangan pedang hampir menghantam Mentari.


Sabrang memutar tubuh Mentari sambil memunculkan pedangnya, sempat terjadi pertukaran beberapa jurus di udara sebelum Sabrang berhasil memukul mundur pendekar yang menyerang Mentari.

__ADS_1


"Guru, mengapa anda berusaha menyerang Tari?" tanya Sabrang bingung.


"Tutup mulutmu dan jangan pernah panggil aku guru! Seharusnya aku tidak pernah mempercayai keturunan Naraya!" Wulan kembali menyerang, kali ini dia menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya.


"Tetua Wulan..." Mentari tampak terkejut saat melihat Wulan menyerang Sabrang dengan seluruh kekuatannya.


"Mundur! sepertinya terjadi sesuatu pada guru, aku akan coba bicara padanya," ucap Sabrang sebelum menyambut serangan Wulan.


"Ajian inti lebur saketi tingkat empat? guru benar benar marah padaku, apa yang sebenarnya terjadi, lalu dimana paman berada?" ucap Sabrang sebelum menggunakan jurus yang sama.


"Naga api, untuk kali ini kau tak akan aku izinkan bertarung," Sabrang mulai mengaktifkan mata bulannya untuk membaca serangan Wulan.


"Seumur hidup, aku hanya mencintai dua orang pria dan kau ingin mengambilnya dariku?" Wulan tiba tiba merubah gerakannya, dia memutar pedangnya ke depan dan melepaskan jurus pedangnya.


"Jurus pedang kegelapan tingkat dua : Pelebur raga."


"Bahkan dia menggunakan jurus terkuatnya," umpat Sabrang sebelum menarik energi Anom dan menangkis serangan itu.


Sebuah Ledakan besar terdengar di udara saat kedua pusaka beradu, tampak tubuh mereka berdua terlempar bersamaan akibat efek ledakan.


Namun saat tubuhnya terlempar, Wulan masih sempat melempar beberapa jarum beracun ke arah Sabrang.


Melihat Sabrang dalam bahaya, Mentari langsung menggunakan ajian pelebur sukma dan menggunakan racun Mawar hitam untuk menangkis serangan itu.


"Racun mawar hitam? jadi kau memutuskan ikut campur?" umpat Wulan kesal.


"Mohon bersabar tetua, Yang mulia sudah setuju meminta maaf pada paman Wardhana dan mendengarkan semua penjelasan paman," jawab Mentari pelan.


"Mendengarkan penjelasannya? semua sudah terlambat, dia sudah pergi karena kecewa pada anak bodoh itu!" Wulan kembali bergerak sambil melempar puluhan jarum beracun.


"Yang mulia!" teriak Mentari panik, dia langsung bergerak menyerang Wulan dengan membabi buta.


"Guru? racun ini... apa yang sebenarnya terjadi..." wajah Sabrang tampak membiru sebelum tubuhnya roboh di tanah.


"Racun Kalajengking neraka? gawat, Anom bantu aku menahan racun ini agar tidak menyebar. Seingatku racun ini belum ada penawarnya," teriak Naga Api panik.


"Racun Kalajengking Neraka? bagaimana racun yang sudah punah itu bisa muncul kembali?"


"Aku tidak terlalu terkejut karena julukannya adalah dewi kematian," Naga Api terus mengalirkan energinya untuk menekan racun itu.


Tongkat Cahaya putih muncul dan berputar di atas kepalanya bersamaan dengan kecepatannya yang terus meningkat.


"Jurus tapak es utara," Mentari berusaha mengacaukan gerakan Wulan dengan jurus es miliknya namun Dewi Kematian masih terlalu kuat untuknya.


Wulan bisa menghindari semua serangan Mentari dan disaat bersamaan merancang serangan balik.


"Jurus pedang kegelapan tingkat dua : Pelebur raga."


"Gawat" Mentari mencoba menghindar namun serangan Wulan yang begitu cepat membuat tubuhnya terlambat bereaksi.


Wulan benar benar telah dikuasai amarah, dia tidak lagi berniat menahan kekuatannya. Saat pedangnya hampir mengenai tubuh Mentari, Rubah Putih muncul dan menangkis serangannya.


"Hentikan Wulan! kau bisa membunuh gadis ini," umpat Rubah Putih kesal.


"Jadi kau juga membelanya?" tanya Wulan dingin.

__ADS_1


"Aku tidak membela siapapun, semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin," jawab Rubah putih pelan.


Wulan menatap Rubah Putih dan Mentari bergantian sebelum menyarungkan kembali pedangnya.


"Mulai saat ini, jangan pernah menginjakkan kaki kalian lagi di Air terjun Lembah pelangi. Bawa pergi para pendekar muda itu dari tempatku," ucap Wulan sambil melempar sebuah gulungan kecil dan melangkah pergi.


"Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa dia begitu marah pada kalian?" tanya Rubah Putih bingung.


Mentari tidak langsung menjawab, dia berlari kearah Sabrang yang sudah tidak sadarkan diri akibat efek racun Kalajengking neraka yang mematikan.


"Yang mulia sadarlah!" ucapnya panik.


Rubah putih kemudian mengambil gulungan kecil itu dan membacanya dalam hati.


"Yang mulia, hamba sadar sudah sering melakukan kesalahan dan kali ini mungkin yang paling besar, untuk itu hamba memohon ampun yang sebesar besarnya. Yang mulia Arya Dwipa pernah berpesan jika setiap manusia memiliki batas kemampuan dan sepertinya inilah batas dari semua yang bisa hamba lakukan untuk Malwageni.


"Untuk menebus semua kesalahan ini, hamba memutuskan menghilang sementara waktu, Terima kasih atas semua kepercayaannya yang telah anda berikan, Malwageni akan selalu ada di hati hamba."


Rubah Putih memperhatikan gulungan itu cukup lama sebelum memasukkannya kedalam pakaian.


"Kau terlalu terburu buru seperti biasanya Wulan," ucapnya dalam hati.


***


Suasana di dermaga Karang Sari tampak lengang, hanya ada beberapa nelayan dan pemilik kapal yang sedang beraktifitas di pinggir dermaga sebelum sebuah kapal megah mendekat bertuliskan Arkantara.


Puluhan prajurit yang terlihat berjaga di atas Dek kapal menandakan jika penumpang yang berada didalamnya bukan orang biasa.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Emmy pelan sambil melangkah ke arah dek kapal.


"Gusti ratu," para prajurit Arkantara langsung berlutut dihadapan Emmy.


"Tempat ini tak banyak berubah, sepertinya Malwageni masih berusaha membangun kembali setelah hancur dalam pertempuran besar beberapa bulan lalu," balas Lingga pelan sebelum memberi hormat pada Emmy.


"Kau terlalu berlebihan membawa pasukan tuan, harusnya cukup hanya beberapa prajurit elit saja," ucap Emmy pelan sambil memperhatikan kapal kecil yang juga merapat di dermaga.


"Apa mereka para pendekar? aku sepertinya belum pernah melihat pakaian yang mereka gunakan," tunjuk Emmy pada beberapa pendekar yang berdiri di atas kapal.


Lingga yang bisa merasakan tenaga dalam mereka tampak memperhatikan para pendekar itu dengan wajah serius dan untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu.


"Sepertinya ada yang tidak beres, aku akan mengikuti mereka diam diam, kalian bawa gusti ratu ke keraton. Arung akan menunggu dan menjemput kalian di gerbang utama," ucap Lingga sambil pelan sambil melangkah ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Berhati hatilah tuan dan segera laporkan padaku siapa mereka," sahut Emmy cepat.


***


"Kakang, apa anda melihat pendekar yang berada di atas kapal besar itu? untuk sesaat aku merasakan energi yang tercipta dari batu satam," bisik salah satu pendekar yang berdiri di atas kapal.


"Aku tau, sepertinya dunia persilatan sudah jauh berkembang sejak kita mengurung diri di Kontilola. Jangan membuat pergerakan yang bisa memancing keributan karana tugas kita hanya menyelidiki tentang kebangkitan Iblis Api, " jawab Ardhani pelan.


"Baik tuan," jawab pendekar itu cepat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam minggu mblo... Bonus belum bisa ya.. kerjaan masih menumpuk, mohon dimaklumi... Jangan Lupa Vote dan jangan terlalu meratapi nasib karena Sesungguhnya malam minggu adalah Sabtu malam yang di lebai lebaikan sama kang pecel lele biar dagangannya laku.

__ADS_1


Tapi kalo tiap malem minggu gak punya pasangan juga keterlaluan... Lu mau membelah diri?


__ADS_2