Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rencana berbahaya Wardhana


__ADS_3

Mahapatih Jaladara tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mendengar penjelasan dan rencana Wijaya padanya.


Beberapa kali raut wajahnya berubah ketika Wijaya berbicara.


"Aku tidak bisa mengikuti rencanamu, resikonya terlalu besar. Jika rencanamu tak berjalan lancar kepalaku taruhannya". Untuk kesekian kalinya Jaladara menggelengkan kepalanya.


Jaladara sudah puluhan tahun menjadi mahapatih di kerajaan Saung galah dan sudah puluhan kali dia mengambil resiko demi memenangkan perang namun rencana kali ini yang dibuat Wardhana membuatnya menggelengkan kepala.


"Tolong pikirkan sekali lagi tuan, suka tidak suka Saung galah adalah target penaklukan selanjutnya Majasari. Saat ini mereka mencoba mengukur kemampuan dan keberanian Saung galah dengan membuka lebar rumahnya. Alasan mereka sampai saat ini belum menyerang karena mereka beluk tau seberapa besar kekuatan kalian. Jika kali ini tuan tidak bertindak tak lama lagi mereka akan menyerang Saung galah". Wijaya masih mencoba meyakinkan Jaladara untuk membicarakan masalah ini dengan Raja Saung Galah.


"Kalian benar benar sudah gila, bagaimana jika Iblis hitam ikut andil saat mereka menyerang? bagaimana jika mundurnya Iblis hitam siasat mereka untuk menjebak kita?". Jaladara menatap tajam Wijaya.


"Ada sesuatu di dunia persilatan yang membuat Iblis hitam mundur dari dunia persilatan, aku cukup yakin ini bukan bagian siasat mereka. Jika rencana ini berhasil Saung galah yang akan mendapatkan keuntungan paling besar.


Majasari akan berfikir ribuan kali untuk menyerang dan kalian bisa fokus pada pergantian kepemimpinan di kerajaan Saung galah. Bukankah Putri mahkota akan menggantikan Yang mulia raja yang mulai menua?".


"Kau! Dari mana kau mengetahui jika tuan putri akan naik tahta?". Wajah Jaladara tiba tiba mengeras.


"Teliksandi Malwageni adalah yang terbaik dimasanya, berita ini tak terlalu sulit aku dapatkan". Wijaya tersenyum kecil memandang Jaladara.


"Saat mereka bisa mengukur kekuatan pasukan kalian maka aku pastikan mereka akan mengambil momen penobatan tuan putri menjadi ratu Saung galah untuk menyerang kalian. Ku rasa situasinya tak terlalu berbeda dengan Malwageni, sebagai ratu yang baru tuan putri akan disibukan untuk mengendalikan beberapa pejabat yang memiliki kepentingan pribadi.


Kalian akan hancur seperti Malwageni jika kali ini tidak bertindak".


Jaladara terdiam mendengar penjelasan Wijaya, dalam hatinya dia sependapat dengan analisa Wijaya namun dengan sengaja masuk perangkap musuh benar benar sangat berbahaya.


"Berikan aku waktu untuk menjelaskan situasinya pada Yang mulia". Jaladara memejamkan matanya sesaat.


"Aku akan menunggu tuan namun waktu terus berjalan, tak lama lagi perayaan hari lahir tuan putri akan digelar aku tidak yakin persiapan yang dibuat tergesa gesa akan berhasil. Kurasa anda yang lebih mengerti dengan itu".


"Aku tau, sekarang pergilah". Jaladara mendengus kesal.

__ADS_1


Wijaya tersenyum kecut melihat reaksi Jaladara, dia menundukan kepalanya memberi hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan Jaladara.


"Anda tau harus mencariku kemana jika sudah ada keputusan".


Sepeninggal Wijaya, Jaladara masih duduk ditempatnya sambil berfikir. Apa yang disampaikan Wijaya benar benar membuat kepalanya mau pecah. Tak lama dia memanggil salah satu prajuritnya yang berjaga di luar.


"Sampaikan pada pengawal pribadi Yang mulia bahwa aku mohon menghadap" Ucap Jaladara pelan.


"Baik tuan patih".


***


"Ketua mengenai keris itu...". Lingga terdiam tidak melanjutkan perkataannya.


"Tidak apa, untuk saat ini siapapun yang memegang keris itu biarkan saja, yang terpenting keris itu tidak jatuh ketangan Lembah siluman. Awasi saja anak itu setiap saat jika Lembah siluman muncul dan merebut keris itu baru kita bertindak. Aku ingin tau kenapa Suliwa begitu percaya padanya".


"Baik ketua. Lalu mengenai kerajaan Majasari apa yang harus kita lakukan". Lingga bertanya mengenai utusan Majasari yang beberapa hari lalu datang membawa pesan dari Raja Majasari untuk membatalkan rencana menarik diri.


"Untuk saat ini lebih baik bagi kita menahan diri terlebih dahulu, Lembah siluman akan memanfaatkan permusuhan kita dengan Aliran putih untuk menguasai dunia persilatan.


Saat ini aku ingin kau pun meningkatkan ilmu kanuraganmu untuk bersiap menghadapi Lembah siluman. Pendekar yang kau hadapi kemarin itu hanya pion pion mereka sambil menunggu sesuatu. Aku tidak tau apa yang mereka tunggu selama ini namun jika pendekar tinggi Lembah siluman mulai bergerak akan berbahaya jika kemampuan kita tidak berkembang".


Kertasura menyerahkan sebuah kitab yang ada ditangannya pada Linga "Ilmu pedang tunggal terbang ke langit merupakan ilmu kanuragan tingkat tinggi yang diwariskan guruku dulu. Pelajarilah dengan benar, setelah kau menguasainya aku ingin kau pergi ke bukit Cetho menemui petapa aneh bernama Rakiti. Sampaikan pesan padanya jika aku dan Suliwa ingin bertemu dengannya.


Dia memiliki kunci segel menuju Dieng, aku dan Suliwa ingin memastikan sesuatu tentang Lembah siluman di sana".


Lingga terlihat mengernyitkan dahinya, dia sebenarnya ingin bertanya apa yang Kertasura dan Suliwa cari di Dieng namun dia memutuskan tidak bertanya. Dia ingin segera menguasai Ilmu pedang tunggal terbang kelangit sesua perintah Kertasura.


"Baik ketua, terima kasih atas kebaikan anda". Lingga menundukan kepalanya kemudian melanglah pergi.


***

__ADS_1


"Gawat aku terdesak". Restu terpental mundur menerima serangan beberapa pendekar yang mengeroyoknya.


"Serahkan gulungan yang kau bawa itu". Pendekar itu menatap tajam Restu.


Restu menggenggam erat gulungan daun lontar yang ada di tangannya. Tak ada sedikitpun niat Restu menyerahkan dokumen penting milik Angin selatan itu. Ingatannya kembali beberapa hari lalu saat Kertapati menyerahkan gulungan itu.


"Serahkan surat ini pada tuan Rajasa, kudengar beberapa pasukan angin selatan yang selamat dari penyerangan Majasari dulu bersembunyi di penginapan milik tuan Rajasa dan menyamar sebagai pelayan di sana. Akan ada pertempuran besar tidak lama lagi, tugasmu kali ini mengumpulkan semua mantan prajurit Angin selatan untuk ikut berjuang merebut Malwageni bersama Pangeran. Lindungi gulungan itu dengan nyawamu".


"Baik tuan". Rajasa menundukan kepalanya.


"Serang dia!" Seorang pendekar yang terlihat paling tangguh berteriak pada yang lainnya.


Beberapa pendekar langsung bergerak menyerang Restu setelah menerima perintah. Restu yang mulai putus asa memutuskan untuk merobek gulungan itu namun sesosok tubuh bergerak cepat menghalau serangan para pendekar itu.


Pendekar wanita dengan aura hijau yang meluap di tubuhnya itu bergerak dengan kecepatan tinggi menghajar para pendekar itu. Beberapa pendekar tumbang di tanah dengan wajah membiru setelah menerima pukulan pendekar wanita itu.


Restu menatap pertarungan di hadapannya itu tak berkedip, kecepatan pendekar wanita itu benar benar menakutkan bahkan beberapa pendekar yang menyerangnya tak sempat bereaksi karena kecepatan jurus wanita itu.


"Tenaga dalamnya mengandung racun, tidak salah lagi ini ajian lebur sukma". Raut wajah Pendekar yang memberi perintah tadi berubah pucat. Dia mencoba mundur setelah melihat semua anak buahnya meregang nyawa.


Namun pendekar itu terlambat menyadari jika wanita itu telah berdiri dibelakangnya.


"Bagaimana dia bisa secepat ini?". Tak lama pendekar itu merasakan nafasnya sesak dan wajahnya panas bagaikan terbakar. Saat dia menyadari racun mawar hitam wanita itu telah masuk ketubuhnya semua sudah terlambat. Tubunya ambruk ke tanah dengan mata melotot menahan sakit yang sangat.


Restu mematung sesaat sebelum melangkah mundur perlahan, dia ingin menjauhi pendekar wanita tersebut.


"Ada urusan apa sampai sekte golok setan ingin membunuhmu? siapa kau sebenarnya?". Suara Mentari menghentikan langkah Restu, instingnya mengatakan jika dia memaksa melarikan diri nyawanya bisa melayang seperti pendekar yang menyerangnya tadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Berikan Like, Vote dan tips jika teman teman menyukai Novel Pedang Naga Api ini. Akan ada bonus chapter jika rank Naga api semakin naik.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya pada Pedang Naga Api dan tetap jaga kesehatan di tengah virus yang melanda negeri kita tercinta.


#Dirumahaja baca Pedang Naga Api 😁


__ADS_2