Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertarungan Lingga Maheswara


__ADS_3

"Kau ingin aku percaya semua ceritamu? aku membiarkanmu berkeliaran di kuil suci karena kau mengatakan ingin membersihkan nama baik adikku. Tuan Agung mungkin memiliki rencana tersembunyi tapi bukankah semua orang memiliki rencana masing masing?


Adikku satu satunya yang paling kusayang pergi membawa kitab Sabdo Loji dan dianggap pengkhianat tapi kau berhasil mengungkap semuanya dan ternyata Ekawira lah yang mengincar kitab itu. Bagaimana jika tuan Agung juga melakukan hal yang sama dengan adikku?" ucap Hanggareksa saat mendengar semua penjelasan Wardhana di ruangannya.


"Anda yakin Ekawira berkhianat? anda seharusnya yang paling mengerti sifat anggota suku Kalang, bagaimana jika kukatakan leluhurku bekerja sama dengannya untuk menyelamatkan kitab itu dari Ajidarma?" balas Wardhana pelan.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika tidak ada yang bisa menjamin anggota pendekar Kalang tidak berkhianat?" ucap Hanggareksa sedikit kesal, dia merasa ucapan Wardhana selalu berubah ubah.


"Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan karena tidak ada yang bisa menjamin siapapun tidak berubah setelah melihat isi kitab Sabdo Loji termasuk Ajidarma. Aku menyelidiki rahasia yang tersembunyi di Kuil Khayangan dengan mencurigai siapapun termasuk anda tapi semua petunjuk mengarah ke orang yang kalian anggap dewa itu!" balas Wardhana tak kalah keras.


"Aku lebih mempercayai orang yang telah menolong kami dengan semua rahasianya daripada kau yang baru kukenal," ucap Hanggareksa sinis.


Wardhana terkekeh setelah mendengar jawaban menusuk Hanggareksa.


"Jika kau sudah bicara seperti itu aku bisa apa? kesetiaan jika tidak di barengi dengan pikiran jernih memang akan memunculkan orang bodoh sepertimu," Wardhana bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


Kekesalan tampak jelas di wajahnya, dia merasa Hanggareksa terlalu kaku tanpa mau mendengar penjelasannya.


"Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah menghinaku?" Hanggareksa mencabut pedangnya dan dengan cepat mengalungkan pusaka nya di leher Wardhana.


"Kau ingin membunuhku?" tanya Wardhana tenang.


"Apa kau pikir aku tidak akan melakukannya karena kau adalah keturunan adikku?" balas Hanggareksa.


"Kau benar, orang bodoh sepertimu jelas akan bertindak tanpa berfikir. Tarik pedangmu dan selesaikan semuanya, karena jika tidak kau lakukan maka aku yang akan menghancurkan tuan agungmu!"


Hanggareksa terdiam sesaat, dia menarik nafasnya panjang sebelum menarik pedangnya perlahan.


"Apa yang sebenarnya kalian pikirkan sampai rela mengorbankan diri demi orang lain? hancurnya dunia persilatan bukan tanggung jawab kita, tanpa kitab itu sekalipun dunia ini akan hancur oleh keserakahan manusia. Sabdo Loji menjadi sangat berbahaya karena orang yang memegangnya," ucap Hanggareksa lirih.

__ADS_1


"Dunia persilatan memang bukan tanggung jawabku, bahkan tidak sedikit dari para pendekar itu yang berusaha membunuhku tapi aku tidak akan tinggal diam hanya karena dendam saat melihat orang gila berusaha menghancurkan tanah leluhurku. Ini bukan hanya tentang Wardhana dan Yang mulia Sabrang Damar namun kemanusiaan. Tak ada orang yang akan diam saja melihat banyak orang akan terbunuh walau aliran hitam sekalipun," jawab Wardhana pelan sebelum melangkah pergi.


"Walau harus saling bunuh dengan kami pendekar kalang?" ucap Hanggareksa tiba tiba.


"Jika Yang mulia berniat membunuh kalian, mungkin saat ini Ekawira sudah tewas. Kau tau, terkadang ada sisi lain dalam tubuhku yang terkadang sangat menikmati peperangan dan melihat orang lain hancur karena masuk kedalam dalam perangkap yang aku buat.


Namun Yang mulia selalu mengatakan padaku jika perang adalah jalan terakhir yang kami pilih dan aku mulai terbiasa dengan dengan sifatnya yang terkadang terlalu lemah. Kalian adalah keluargaku dan aku telah memilih jalan damai dengan bicara baik baik padamu, kuharap kau juga melakukan hal yang sama," balas Wardhana.


"Apakah ini sebuah ancaman?" sindir Hanggareksa.


"Kau boleh menganggapnya begitu, aku hanya memperingatkan kalian untuk tidak membangunkan sisi gelap dalam tubuhku yang sangat menyukai pertumpahan darah. Jika itu terjadi, aku takut tidak dapat mengendalikan diri dan membunuh kalian semua. Kuharap kau mengerti karena aku tidak sebaik leluhurku Arda Sukma," balas Wardhana dengan nada mengancam.


"Tak ada keraguan dalam ucapannya, dia benar benar berniat menghabisi sukunya sendiri andai berseberangan, dengan pilihannya," ucap Hanggareksa dalam hati sambil menatap kepergian Wardhana.


***


"Apa benar benar tidak ada cara lain untuk mengetahui dimana gerbang itu berada?" tanya Lingga pelan.


"Jadi tidak ada yang bisa kita lalukan?" tanya Lingga kembali.


"Aku sedang berfikir, bisakah kau tenang sebentar?" ucap Emmy ketus sambil memperhatikan gulungannya.


"Kau terlalu banyak tanya seperti seorang wanita," sebuah suara tiba tiba terdengar dalam pikiran Lingga.


"Kemamang? jadi kau mau bicara padaku hanya saat aku banyak bertanya?" balas Lingga sinis.


"Kau terlalu lemah dan banyak bicara bodoh, aku sangat membenci orang sepertimu," balas Kemamang.


"Jika aku lemah lalu kau apa? ruh pedang yang takut untuk bertarung dengan alasan tidak menemukan tuan yang cocok? jangan bercanda, bahkan Naga api di tangan Suliwa pun sangat menakutkan," balas Lingga.

__ADS_1


"Jangan samakan aku dengan Iblis itu, aku mungkin tidak sekuat dia tapi saat aku bersama tuanku sebelumnya, dunia persilatan hampir tunduk padanya," jawab Kamamang kesal.


"Tuan mu sebelumnya? kau selalu membanggakan masa lalu, bahkan saat itu Naga Api belum memiliki tuan. Dengar bodoh, saat ini suka tidak suka akulah tuan mu yang baru, jadi tutup mulutmu dan ikuti perintahku!" bentak Lingga dalam pikirannya.


"Ikuti perintahmu? jangan pernah bermimpi!" balas Kemamang.


"Di sini kalian rupanya, sejak awal aku sudah merasakan ada seseorang yang datang, tak kusangka hanya dua pendekar lemah," ucap Naradipta sambil tersenyum.


Emmy langsung menggulung kembali catatannya dan bersiap menarik pedangnya saat melihat Naradipta muncul di dalam gua.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Lingga pelan.


"Aku hampir menemukannya, tapi aku masih membutuhkan waktu untuk menghitung arah mata angin secara tepat," jawab Emmy pelan.


"Baik, aku akan memberimu waktu, cepat temukan yang kau cari," balas Lingga sambil menarik pedangnya.


"Kau ingin bertarung denganku?" ejek Naradipta.


"Apa kau takut pada pendekar lemah ini?" balas Lingga sambil tersenyum.


"Kau!" tubuh Naradipta tiba tiba melepaskan aura yang menekan sekitarnya dengan cepat.


"Kuakui energi milikmu cukup besar tapi aku pernah merasakan tekanan aura yang jauh lebih besar dari seorang pemuda yang dulu juga ku anggap lemah, jadi jangan pernah kau berfikir aku takut," Lingga bersiap menyerang.


"Kau bukan tandingannya bodoh, cepat cari cara untuk pergi bersama wanita itu," ucap Kemamang tiba tiba.


"Seperti dugaanku, kau memang Iblis pengecut. Lihat aku baik baik bodoh, akan aku tunjukkan padamu bagaimana menjadi seorang ksatria Malwageni," balas sambil bergerak menyerang.


"Dia berusaha memanfaatkan gua kecil ini untuk menekan pergerakanku?" ucap Naradipta terkejut saat Lingga mulai menekannya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Chapter bonus yang sebenarnya tidak disengaja karena di salah satu folder Pedang Naga Api ada satu chapter tersisa.. Jadi selamat menikmati dan jangan lupa Vote...


__ADS_2