
Di bawah sinar bulan yang menerangi keraton Malwageni, Emmy terlihat sedang berlatih ilmu pedangnya. Tubuh mungilnya tampak lincah bergerak mengiringi tarian pedangnya.
Sesekali tubuhnya diselimuti kobaran api saat dia melepaskan jurus api abadi. Ledakan ledakan kecil akibat efek jurus ciptaan Ken Panca itu terdengar bersamaan dengan gerakan tubuhnya yang semakin cepat.
Sabrang yang melihat dari jauh tampak takjub dengan perkembangan ilmu kanuragan salah satu selirnya itu.
"Dia berkembang dengan sangat pesat," gumam Sabrang dalam hati.
Sabrang menutup matanya sesaat untuk mengaktifkan mata bulannya, tubuhnya tiba tiba menghilang dan muncul tepat dihadapan Emmy dengan pedang Naga Api tergenggam ditangannya.
"Yang Mulia," Emmy tampak terkejut saat Sabrang muncul dan langsung menyerangnya.
"Perhatikan langkahmu! jurus Api Abadi tidak hanya mengandalkan kecepatan, kau harus bisa merubah gerakan tubuhmu tiba tiba. Kelenturan dan penempatan posisi dengan menyesuaikan pergerakan lawan adalah inti dari Api Abadi," Sabrang menarik pedangnya sebelum melepaskan cakar es menggunakan tangan kirinya.
Emmy melompat mundur sambil menangkis cakar es dengan tangannya, dia melepaskan energi Naga Api untuk melelehkan es yang terus bergerak menyerangnya.
"Tarian Api abadi," Emmy meningkatkan kecepatannya, dia memutar sedikit tubuhnya sebelum mengayunkan pedangnya.
"Cukup cepat, tapi masih kurang. Gerakanmu masih kaku dan membuka banyak celah pertahanan," Sabrang menangkis serangan Emmy dengan mudah sebelum memutar pedangnya. Dia menggunakan punggung pedang untuk menyerang titik buta Emmy.
Benturan pedang mereka membuat tubuh Emmy terpental dan hampir membentur dinding keraton.
Sabrang tampak terkejut sesaat sebelum menggunakan mata bulannya untuk menarik Emmy dan memunculkannya kembali dalam pelukannya.
"Apa kau sudah gila? menarik tenaga dalam sesaat sebelum terkena serangan bisa membuatmu terluka," umpat Sabrang.
Melihat Sabrang marah, Emmy hanya tersenyum sambil terus memeluk tubuh Sabrang erat.
"Hamba hanya ingin anda memeluk tubuh ini Yang mulia," jawab Emmy manja.
Emmy sengaja menarik seluruh tenaga dalamnya saat Sabrang menyerang agar pemuda itu menyelamatkannya.
"Kau benar benar bodoh, apa kau tau jika tindakanmu ini bisa membuatmu terluka," Sabrang membalas pelukan Emmy.
"Hamba yakin anda tidak akan membiarkan wanitanya terluka," kecupan Emmy mendarat di leher Sabrang.
Sabrang hanya bisa menggeleng pelan, dia benar benar lega tidak membuat Emmy terluka.
"Apakah kau mau seperti ini terus? lenganku mulai terasa sakit," ucap Sabrang.
"Jika tuan pusaka Naga Api tak mampu menggendong tubuhku, apa pantas disebut tuan dari pusaka terkuat?" goda Emmy, dia masih belum mau lepas dari pelukan Sabrang.
Ada rasa nyaman yang dirasakan Emmy saat berada dalam dekapan Sabrang yang membuatnya enggan melepaskan pelukannya.
"Kau ini," Sabrang menyentil hidung Emmy sebelum menurunkan tubuh gadis itu.
"Turunlah sebentar ada yang ingin ku bicarakan denganmu," ucap Sabrang lembut.
Emmy tampak bersingut manja sambil duduk disebuah batu yang berada didekatnya.
"Wajah masam itu mengingatkan aku saat kau hampir membunuhku di Celebes," goda Sabrang yang dibalas senyuman oleh Emmy.
"Aku ingin meminta bantuan mu," ucap Sabrang setelah melihat Emmy tersenyum.
"Hamba akan membantu anda dengan satu syarat," jawab Emmy cepat.
Sabrang mengernyitkan dahinya mendengar Emmy meminta syarat padanya.
Diantara wanitanya, Emmy memang yang paling polos dan kekanak-kanakan. Tak ada yang berani meminta syarat atas perintah Sabrang kecuali dirinya.
Namun sifat itulah yang membuat Sabrang menyukainya, dia tidak pernah marah sama sekali.
"Kau meminta syarat pada seorang raja atas titahnya?" goda Sabrang.
"Anda mungkin seorang raja bagi Malwageni namun hamba adalah selir raja yang memiliki keistimewaan," jawab Emmy.
__ADS_1
Sabrang terkekeh mendengar jawaban gadis itu, dia benar benar tak habis pikir dengan sikapnya.
"Katakan, apa yang harus kulakukan untukmu agar kau membantuku?"
"Hamba ingin malam ini anda menginap di paviliun hamba," jawab Emmy.
"Menginap di tempatmu? jika aku tidak mau?" tanya Sabrang.
"Yang Mulia," rengek Emmy kemudian.
"Aku minta maaf jarang mengunjungimu, kejadian beberapa hari ini membuatku terpaksa meninggalkan keraton. Baik, sebagai permintaan maaf malam ini aku akan menemanimu," jawab Sabrang lembut.
Wajah Emmy tampak memerah, dia tidak menyangka keinginannya benar benar dikabulkan oleh Sabrang.
"Apa aku sudah bisa meminta bantuanmu?" Sabrang tersenyum kecil.
Emmy mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Masalembo telah bergerak, dan mungkin satu satunya cara mengalahkannya dengan membangkitkan dewa api," ucap Sabrang.
"Dewa Api?" Emmy mengernyitkan dahinya.
Sabrang kemudian menceritakan tentang sosok Naga Api yang ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar dan tersegel di sisi gelap alam semesta.
"Namun membangkitkan dewa api bukan tanpa resiko, ketika Naga Api berhasil mengalahkan sisi gelapnya dia akan tertidur cukup lama akibat efek kekuatannya.
Aku pernah memberimu energi Naga api dan sepertinya tubuhmu tidak menolak energinya. Aku ingin membuat sedikit persiapan sebelum Naga Api bangkit.
Energi Naga Api akan menjadi sangat penting untuk mempersiapkan semua sebelum kebangkitannya kembali. Aku ingin kau menyimpan sedikit energi Naga Api, aku takut suatu saat kita membutuhkannya," ucap Sabrang pelan.
Emmy terlihat berfikir sejenak, dia masih belum melupakan seberapa sakitnya saat Sabrang mengalirkan energi Naga Apinya sebelum menuju Hujung tanah.
Tak semua tubuh bisa menerima energi Naga api yang terkenal liar dan sulit dikendalikan. Sabrang pun cukup terkejut ketika tubuh Emmy mampu menerima energi itu.
"Baik Yang mulia, akan hamba lakukan," jawab Emmy pelan.
"Maafkan aku, mungkin akan terasa sakit saat energi itu masuk ke tubuhmu," ucap Sabrang pelan sambil bersila dan memejamkan matanya.
Emmy mengangguk pelan dan mengikuti Sabrang memejamkan matanya.
Kobaran api perlahan keluar dari pedang yang tertancap di tanah dan membentuk lingkaran mengelilingi mereka.
"Naga Api, apa kau sudah siap?"
"Harusnya gadis itu yang kau tanyakan, berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku akan memberinya sedikit lebih besar," balas Naga api.
Perlahan namun pasti, kobaran api yang mengelilingi mereka berdua mulai masuk ke tubuh Emmy.
Namun kali ini ada yang sedikit berbeda, Emmy terlihat tidak merasakan sakit sedikitpun walau sebagian besar energi Naga Api telah masuk ke tubuhnya.
"Gadis ini benar benar mengejutkan, tubuhnya mampu beradaptasi dengan cepat pada energi ku," ucap Naga Api takjub.
Emmy membuka matanya ketika energi Naga Api sudah masuk kedalam tubuhnya.
"Yang mulia?" tanya Emmy bingung, dia sama sekali tidak merasakan sakit.
"Maafkan jika aku selalu merepotkan mu," Sabrang kembali menggendong tubuh Emmy dan melangkah menuju paviliun selir.
"Jika Energi Naga Api bisa membuat anda selalu berada disisi hamba, walaupun tubuh ini harus hancur hamba akan melakukannya, Yang mulia," ucap Emmy pelan.
"Aku berjanji akan sering mengunjungimu, jika semua masalah telah selesai," jawab Sabrang kemudian.
Semua prajurit penjaga menundukkan kepalanya saat melihat Sabrang masuk paviliun selir sambil menggendong tubuh Emmy.
"Hormat pada Yang mulia," ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
"Malam ini aku tidak ingin diganggu siapapun," ucap Sabrang sambil melangkah masuk.
***
Lima orang pendekar tampak memasuki sebuah penginapan yang berada di kadipaten Kedaton. Suasana penginapan malam itu tampak ramai oleh pengunjung. Hal ini dapat dimaklumi karena Kadipaten Kedaton berbatasan langsung dengan kota raja Malwageni.
Para pedagang maupun orang orang yang sekedar hanya ingin mengunjungi kota Malwageni biasanya menginap terlebih dahulu di Kedaton jika hari mulai malam.
Setelah melewati Kedaton, mereka harus menembus hutan lebat sebelum sampai di gerbang kota. Mereka lebih memilih menginap di Kedaton dari pada harus tidur di dalam hutan.
"Selamat datang tuan, apa anda akan menginap?" tanya seorang pelayan perempuan ramah.
"Apa keraton Malwageni masih jauh?" tanya salah satu pendekar itu.
"Masih setengah hari perjalanan menembus hutan tuan, aku menyarankan anda menginap terlebih dahulu atau anda akan bermalam di hutan," jawab Pelayan itu.
"Begitu ya? baiklah, siapkan dua kamar untuk kami, namun bisakah kau sediakan makanan untuk kami terlebih dahulu?" ucap Pendekar itu.
"Baik tuan, akan segera aku bawakan makanan yang enak, silahkan duduk terlebih dahulu," tunjuk gadis itu pada salah satu meja kosong.
"Terima kasih nona," jawab Pendekar itu sambil melangkah menuju meja kosong.
"Kakang Patra, apa tidak sebaiknya kita langsung menuju Malwageni? setengah hari perjalanan tidak akan lama jika kita menggunakan ilmu pengetahuan," bisik salah satu pendekar pada temannya.
Patra menggeleng pelan sambil memberi tanda untuk mengecilkan suaranya.
"Kau ingat yang dikatakan komandan Bima? Rubah Putih sudah bangkit kembali saat ini, akan sangat merepotkan jika menghadapinya saat malam hari.
Selain itu bergerak malam hari ditempat yang tidak kita kenali akan sangat berbahaya. Perintah Yang mulia sudah jelas untuk membunuh keturunan Naraya itu, kita menginap di sini terlebih dahulu sambil mengatur rencana," jawab Patra pelan.
"Bagaimana jika Rubah Putih ada di keraton? tanya temannya kembali.
"Menghadapi Rubah Putih tak pernah mudah, saat formasi kita lengkap pun dia dapat mengalahkan kita. Aku tidak ingin serangan terbuka, karena itu akan menyulitkan kita. Besok malam kita menyusup ke keraton dan cari anak itu. Jika terpaksa harus berhadapan dengan Rubah Putih maka kita akan menggunakan jurus itu," balas Patra.
"Silahkan makanannya tuan, jika ada yang dibutuhkan lagi, aku ada dibelakang," ucap pelayan perempuan itu ramah.
"Terima kasih nona," balas Patra sambil tersenyum.
"Jurus itu? jangan jangan kakang akan menggunakan jurus terlarang Masalembo?" pendekar itu tampak khawatir.
"Rubah putih tak akan bisa dihadapi dengan cara biasa, kekuatannya jauh di atas kita, hanya itu satu satunya cara jika bertemu dengannya."
Pendekar muda itu terdiam, jika perkiraannya benar, Patra akan menggunakan jurus Iblis melepas sukma.
Jurus Iblis melepas sukma awalanya diciptakan Arjuna, namun karena efeknya yang sangat mematikan bagi penggunanya , Arjuna melarang siapapun menggunakannya.
Jurus Iblis melepas sukma memang bisa meningkatkan tenaga dalam dengan sangat cepat namun efeknya pun tak kalah berbahaya. Peningkatan tenaga dalam secara tidak wajar itu akan memutuskan beberapa urat nadi dalam tubuh karena tidak siap menerima efek tenaga dalam yang besar.
Jurus Iblis pelepas sukma jika digunakan terlalu lama akan membunuh penggunanya sendiri.
"Sudah jangan dibahas ditempat ini, sebaiknya kita bicarakan di kamar," ucap Patra sesaat sebelum memanggil pelayan tadi dan membayar semua makanannya.
"Ayo bicara di kamar," ajak Petra cepat.
Candrakurama yang sejak tadi duduk di sudut ruangan dan menggunakan topeng tampak menatap lima pendekar itu dengan tatapan curiga.
"Nona, bisa ambilkan aku makanan lagi," ucap Candrakurama.
"Ah baik tuan," pelayan itu terlihat berjalan cepat kebelakang dan kembali membawa beberapa makanan kembali.
"Apakah mereka orang sini?" tanya Candrakurama itu pada pelayan wanita.
"Maksud anda lima pendekar tadi? bukan tuan, aku juga baru melihatnya hari ini, mungkin mereka ingin melihat megahnya keraton Malwageni," jawab Pelayan itu.
"Mereka menuju Malwageni?" Candrakurama mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Benar tuan, itu yang aku dengar," pelayan itu menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
"Siapa mereka dan ada urusan apa di Malwageni?" gumam Candrakurama dalam hati.