
Setelah beristirahat sejenak dan mengisi perut di sebuah penginapan, Tantri dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan. Mereka tidak ingin membuang waktu agar cepat sampai di gua Surupan.
Wajah Elang terlihat lebih tenang kali ini karena sejak di penginapan, dia tidak lagi merasakan ada yang mengawasi mereka.
"Apa hanya perasaanku saja? tapi jika benar mengapa dia menghilang begitu saja," ucap Elang dalam hati bingung.
"Tak perlu terlalu dipikiran, semenjak kita keluar dari hutan tak terjadi apa apa bukan?" bisik Tantri tiba tiba.
Elang hanya mengangguk pelan, walau dia masih yakin tadi merasa ada yang mengawasi namun ucapan Tantri benar, yang terpenting adalah tidak terjadi apapun selama dalam perjalanan.
Tantri menghentikan langkahnya saat mendengar suara air terjun di kejauhan, dia kemudian mengambil gulungan kecil dari dalam pakaian dan membukanya.
"Sepertinya kita sudah dekat, guru mengatakan jika letak gua itu berada diantara bukit hijau dan air terjun kematian," ucap Tantri pelan.
Setelah mendengar ucapan Tantri, Winara langsung bergerak kearah salah satu pohon yang paling tinggi dan dengan cepat memanjatnya. Dia terlihat menatap sekitarnya sebelum menunjuk ke satu arah.
"Di sana! aku melihat air terjun itu!" teriak Winara cepat.
"Apa kau melihat ada gua atau celah apapun disekitar air terjun?" balas Tantri.
"Aku tidak yakin tapi bukit yang kau maksud ada di sebelah air terjun itu."
"Aku akan membantunya, biasanya mata seorang wanita jauh lebih tajam dari pada mereka." Tanpa menunggu jawaban Tantri, Gendis melesat keatas pohon dan mendekati Winara.
Dia menatap air terjun dan Bukit hijau bergantian sebelum menunjuk sebuah gua yang tertutupi pepohonan.
"Aku melihat gua itu," teriak Gendis cepat.
"Sudah kuduga gua itu berada di hutan ini, turunlah ada yang harus kita bicarakan sebentar," balas Tantri.
"Aku tau semua yang kalian rencanakan, sepertinya gulungan ini terjatuh saat kita berada di penginapan," Gendis menyerahkan gulungan kecil pada Winara sebelum bergerak turun.
"Kau?" Winara memeriksa pakaiannya dan menemukan gulungannya sudah tidak ada di tempat.
"Gawat, dia tau rencana kita" suara Kirana terdengar di pikiran Winara.
Winara terdiam sesaat sebelum memasukkan gulungan itu kembali dalam pakaiannya, dia berusaha mengingat kembali kapan Gendis mengambil gulungan itu darinya.
"Apa yang harus kita lakukan? jika rencana itu diketahui banyak orang sebelum waktunya, kita..."
"Tenanglah, aku memang ceroboh sampai dia bisa mengambil gulungan ini tapi sepertinya Gendis belum mengatakan pada siapapun, kita lihat saja apa yang akan dia lalukan dan jika gerak geriknya mencurigakan, aku sendiri yang akan membunuhnya," balas Winara sambil melompat turun.
Setelah Gendis dan Winara bergabung kembali, Tantri mulai menjelaskan rencananya.
"Dengar, Nyai Sumbi adalah pendekar yang tidak menyukai dunia persilatan, itulah sebabnya dia menyendiri di hutan ini dan aku yakin kedatangan kita tidak akan disambut baik. Hindari pertarungan sebisa mungkin jika tidak terpaksa karena tugas kita adalah membujuknya ikut ke hutan kematian. Kalian semua harus menahan diri saat berhadapan dengannya terutama kau, Minak Jinggo," ucap Gendis pelan.
"Kenapa harus aku? jika dia menyerang apa kau ingin aku diam saja?" balas Minak Jinggo sinis.
__ADS_1
"Kau dengar bodoh! tujuan kita adalah menyelamatkan nyawa Yang mulia dan mungkin hanya Nyai sumbi yang bisa melakukannya. Sebagai orang yang ingin meminta bantuan, kita harus bersikap sopan. Jika kau tidak bisa melakukan hal kecil seperti ini, sebaiknya tunggu di sini. Mengerti?" ucap Tantri menahan amarah.
"Baik baik aku mengerti..." balas Minak Jinggo kesal.
"Baik jika kalian sudah mengerti, ayo pergi," ucap Tantri pelan.
Namun baru saja mereka akan melangkah, aura yang cukup besar tiba tiba memenuhi area hutan dan menekan tubuh mereka semua bersamaan dengan munculnya seorang wanita di kejauhan.
Minak Jinggo langsung mencabut pedangnya dan bersiap menyerang tapi Tantri tiba tiba memintanya menyarungkan kembali pusaka nya.
"Tunggu, sepertinya dia orang yang kita cari," ucap Tantri pelan sambil terus menatap pendekar wanita itu.
"Sudah cukup lama tak ada yang berani masuk hutan ini, tak kusangka hari ini beberapa pendekar muda datang mengunjungi si tua ini," ucap wanita itu dingin.
"Maaf tetua, apakah anda nyonya Sumbi?" tanya Tantri sopan.
"Aku tidak tau apa tujuan kalian datang ketempat ini tapi sebaiknya kalian pergi sebelum aku mengusir paksa," jawab Sumbi cepat.
"Nyonya Mentari memerintahkan aku untuk menemui anda, ada pesan penting yang harus aku sampaikan," balas Tantri.
"Mentari?" Wajah Sumbi terlihat mulai melunak.
Tantri kemudian memperkenalkan diri sebagai murid dari kelompok Teratai merah.
"Aku ditugaskan untuk..." belum selesai Tantri bicara, Sumbi sudah memotong kembali ucapannya.
Tantri dan yang lainnya saling berpandangan bingung, mereka tidak menyangka Sumbi begitu mudah menerima kehadiran mereka tanpa bertanya apapun. Sikapnya jauh berbeda dari yang dia dengar selama ini.
"Apa kalian mau berdiri terus ditempat itu? cepatlah sebelum aku berubah pikiran!" bentak Sumbi.
"Ba...baik nyai," jawab Tantri dan yang lainnya bersamaan.
***
Suasana gerbang perbatasan menuju ibukota dalam beberapa hari ini lebih diperketat semenjak kabar hilangnya Wardhana menyebar di dunia persilatan. Para pedagang yang biasanya diberi sedikit keleluasaan memasuki Ibukota bahkan ikut diperiksa di gerbang perbatasan.
Lembu Sora yang sementara ditunjuk menggantikan posisi Wardhana memang memerintahkan untuk memperketat penjagaan di pintu pintu masuk Ibukota demi menjaga hal yang tidak diinginkan.
Malwageni sebenarnya sudah berusaha keras meredam kabar hilangnya Wardhana namun entah kenapa justru menyebar dengan cepat di dunia persilatan.
"Selain warga asli Ibukota dan para telik sandi, periksa semua yang akan masuk dengan ketat. Aku tak ingin ada penyusup yang memanfaatkan kabar hilangnya tuan Patih dan membuat kekacauan di keraton," ucap Lembu Sora pada beberapa prajurit penjaga sebelum meninggalkan gerbang utama ibukota.
"Baik tuan," jawab mereka bersamaan.
"Jadi kabar hilangnya salah satu petinggi Malwageni benar, apa mungkin ini berhubungan dengan bangkitnya Iblis api?" ucap Ardhani dalam hati yang memperhatikan dari jauh.
Setelah mengamati pola penjagaan di gerbang utama dan menemukan celah untuk menyusup, Ardhani memutuskan kembali ke penginapan yang berada tak jauh dari tempat itu untuk menyusun rencana menyusup pada malam hari.
__ADS_1
Ardhani bergegas masuk ke penginapan untuk mengumpulkan pendekar lainnya namun betapa terkejutnya dia saat membuka pintu kamar dan melihat seorang pendekar yang mengenakan topeng sudah duduk di dalam kamarnya.
Ardhani hampir saja mencabut pedangnya dan menyerang andai pendekar bertopeng itu tidak menyebut nama Jaya Setra.
"Jaya Setra... Apa kau mengenal nama itu?" ucap pendekar itu pelan.
Ardhani langsung menghentikan langkahnya, dia tampak terkejut karena Jaya Setra bukan nama sembarangan, selain sukunya tak akan ada yang mengenali nama itu.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Ardhani sopan.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu tapi bisakah kau sarungkan kembali pedang itu? aku datang hanya ingin bicara," jawab pendekar itu pelan.
"Baik... kau sudah membuatku tertarik, siapa kau sebenarnya?" Ardhani langsung duduk dihadapan pendekar itu.
"Aku ingin menawarkan sebuah kesepakatan pada kalian," jawab pendekar itu tenang.
"Kesepakatan? apa kau pikir aku akan percaya begitu saja pada pendekar yang bahkan menyembunyikan wajahnya?"
"Apakah wajahku lebih penting dari informasi yang sedang kalian cari?" balas pendekar itu pelan sambil membuka topeng yang menutupi wajahnya.
Ardhani menatap wajah pendekar itu cukup lama dan dia merasa tidak mengenalinya.
"Aku merasa benar benar tidak mengenalmu tuan dan sepertinya kau juga bukan dari kelompokku tapi bagaimana kau bisa menyebut nama Jaya Setra?" tanya Ardhani bingung.
Pendekar itu tidak menjawab pertanyaan Ardhani dan lebih memilih memberikan sebuah gulungan kecil padanya.
"Untuk saat ini tidak penting siapa diriku, ada sesuatu yang harus kita hentikan sebelum terlambat. Orang yang menulis pesan itu ingin bertemu denganmu, jika kau tertarik aku akan menunggumu di hutan yang terletak di sisi barat keraton," ucap pendekar itu pelan sambil memasang kembali topengnya.
Wajah Ardhani berubah seketika setelah membaca gulungan itu, kedua tangannya bergetar seolah baru menyadari sesuatu.
"Ini..." ucapnya sambil mengepalkan tangan dan meremas gulungan itu sampai hancur.
"Apa kau pikir aku akan percaya dengan hal tidak masuk akal seperti ini?"
"Raut wajahmu berubah saat membaca tulisan itu menandakan kau mengenal siapa yang menulis pesan itu. Jika kau ragu atau tidak percaya mengapa tidak tanyakan langsung padanya?" balas pendekar itu pelan.
Ardhani tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk pelan, dia ingin memastikan semuanya sebelum melaporkan pada ketuanya.
"Apa saat ini dia ada di keraton? tapi bagaimana mungkin kalian..." Ardhani menghentikan ucapannya saat pendekar itu memberi tanda untuk diam.
"Aku tidak bisa menceritakan semuanya di tempat ini karena banyak yang sedang mengawasi kita. Datanglah ke keraton diam diam nanti malam, dia yang akan menjelaskan semua padamu." Pendekar itu bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah jendela.
"Melihatmu begitu mengenal keadaan di dalam keraton, aku bisa menebak kau adalah bagian dari mereka. Ingatlah pesanku, jika ini sebuah jebakan kami akan menghancurkan kalian tanpa sisa," ancam Ardhani.
"Aku akan mengingat pesan itu," pendekar itu tersenyum sebelum melesat keluar.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi, jika dia memang tidak berkhianat kenapa tidak mencari kami di Kontilola dan menjelaskan semuanya," ucap Ardhani dalam hati.
__ADS_1