Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Peradaban Kumari Kandam


__ADS_3

Mahawira terlihat mengikuti Candrakurama pergi dari sekte Tapak es utara dengan wajah bungung. Dia sama sekali tidak mengerti dengan sikap kakak seperguruannya yang begitu saja pergi setelah bersusah payah menyusup kesana.


"Kakang, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan? Kita pergi begitu saja setelah bersussh payah menyusup". Mahawira terlihat tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.


Candrakurama menghentikan langkahnya. "Dengar Wira, kemunculan sekte Kuntau timur diluar rencana guru. Akibat penyerangan itu saat ini mereka semua berada dalam sikap waspada, apa kau pikir mudah mencari kitab itu saat mereka semua mengamati kita. Aku bisa saja menghancurkan mereka malam itu namun guru akan memarahiku jika aku kembali membuat keributan lagi".


Mahawira mengangguk mengerti dengan penjelasan Candrakurama. "Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?".


"Kita akan mengamati gerakan mereka dan memanfaatkannya untuk menuntun kita pada Telaga khayangan api".


Mahawira sedikit terkejut dengan ucapan Candrakurama.


"Kakang? bukankah guru hanya meminta kita menyelamatkan kitab itu?".


"Dengar Wira, sejak kematian orang tua kita beberapa tahun lalu hanya guru yang sudi mengurus dan membesarkan kita. Apa kau tidak ingin membalas kebaikannya?. Aku yakin guru akan senang jika kita bisa menemukan Telaga khayangan api. Kita bisa membuat sekte kebanggaan guru menjadi sekte terhebat dunia mengalahkan kuntau timur sekalipun".


Mahawira terlihat berfikir sejenak, dia sedikit ragu dengan rencana kakak seperguruannya itu.


"Apa kau tidak ingin membuat guru bangga padamu?". Tanya Candrakurama pelan.


"Baiklah kakang, aku ikut denganmu". Jawab Mahawira kemudian.


"Bagus, dengarkan aku. Pengguna Naga api itu bisa memecahkan misteri Dieng, sesuatu yang tidak bisa kita lakukan walaupun sudah beberapa kali masuk kesana. Aku yakin kali ini anak itu akan bisa memecahkan Telaga khayangan api, rahasia besar yang selama jutaan tahun tidak ada yang berhasil menemukannya. Kita hanya perlu mengamati mereka dari jauh dan menyergapnya saat telaga itu terbuka".


"Baik kakang". Jawab Mahawira singkat.


***


Mantili menghentikan langkahnya didepan dinding batu yang sangat tinggi. Mantili terlihat menggeser beberapa blok batu didinding itu untuk membuka pintu masuknya.


"Tempat ini dibangun dengan ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa". Gumam Wardhana dalam hati sambil mengamati Mantili membuka pintu rahasianya.


"Tempat ini sebenarnya adalah tempat yang paling disucikan disekteku, tempat yang hanya boleh dimasuki oleh ketua sekte terpilih untuk bermenditasu atau berlatih ilmu kanuragan namun kali ini aku mengizinkan kalian masuk untuk membuka tabir misteri hubungan Tapak es utara dengan paraton dan khayangan api". Mantili mengajak mereka semua masuk saat sebuah lempengan batu bergeser.


"Apaksh tetua pernah mendengar siapa yang membangun tempat ini?". Tanya Wardhana pelan.


Mantili menggeleng pelan. "Aku tidak pernah berfikir untuk menanyakannya karena kupikir tempat ini dibangun oleh leluhurku. Apa ada yang salah tuan Adipati?".


"Tidak tetua hanya saja tempat ini dibangun dengan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Dinding gua ini tidak alami namun dibuat oleh manusia, tekstur batu berundaknya begitu rapih dan sempurna saling mengunci antar sudut batu. Aku yakin beberapa ratus tahun kedepanpun kita belum mampu membuat tempat seperti ini. Apakah ilmu pengetahuan jaman dulu pernah semaju ini? lalu kenapa tak ada catatan sama sekali mengenai ilmu pengetahuan itu..Apakah ada yang menyembunyikannya? untuk apa?". Ucap Wardhana.


"Mungkin jawabannya berada ditelaga khayangan api". Bisik Suliwa.


"Telaga khayangan api ya". Gumam Wardhana.

__ADS_1


"Ini catatan batu tulis yang kami temukan". Tunjuk Arung.


"Sepertinya ini tidak mengandung informasi apapun. Tulisan ini aku sengaja dibuat oleh leluhurku untuk memberitahukan sejarah terbentuknya tapak es utara. Aku sudah membacanya berulang ulang namun semua tulisan ini seluruhnya catatan perjalanan Sekte Tapak es utara". Jawab Mantili.


"Jadi kemarin aku hanya menulis catatan perjalanan leluhur tapak es utara?". Arung tersenyum kecut saat membayangkan bagaimana dia menulis catatan ini bersama Mentari karena mengira batu tulis itu adalah petunjuk.


Wardhana terlihat berjalan kesudut lorong, dia seperti memperhatikan sesuatu. Mata Wardhana menyipit saat melihat ada yang aneh dengan batu tulis itu, dia berjalan mendekat dan memeriksanya.


"Apa ada yang paman temukan?". Tanya Sabrang pelan.


"Hamba kurang yakin Yang mulia namun biasanya catatan dibuat dibatu ketika dinding gua lembab dan tidak rata. Tempat ini sangat sempurna, dindingnya berjajar rapih dan yang membuatku terkejut mereka membuat sistem sirkulasi udara sehingga tempat ini tidak lembab namun yang aneh mereka lebih memilih menulis disebuah batu".


Wardhana memperhatikan setiap jengkal batu itu sambil sesekali memyentuh batu itu. Wardhana mengernyirkan dahinya saat merasakan hebusan angin ditangannya.


"Batu ini pernah bergeser". Ucap Wardhana pelan.


"Bergeser? anda bercanda?". Mantili mengernyitkan dahinya. Ukuran batu tulis itu sangat besar, tak akan bisa dipindahkan dengan tenaga dalam sebesar apapun kecuali dengan cara menghancurkan batu itu.


"Jika tempat ini dibangun dengan sistem batu berundak, semaju apapun ilmu pengetahuannya tetap tidak akan meninggalkan ciri khas batu berundak yaitu tuas pemicu. dan jika perkiraanku tidak salah batu yang letaknya janggal ini adalah tuasnya". Wardhana menggeser batu yang berada tepat ditengah lorong sekuat tenaga.


Tepat seperti perkiraan Wardhana tak lama setelah dia menggeser tuas itu, batu tulis yang ada dihadapan mereka bergeser perlahan. Sebuah jalan menuju ruang bawah tanah terlihat ketika batu itu berhenti bergeser.


"Rumah para dewa yang ditulis kitab itu terletak dibawah sana". Wardhana berjalan pelan menuruni tangga yang terbuat dari bongkahan batu yang lagi lagi tersusun rapih. Wardhana hanya bisa menatap takjub pada tempat itu.


Wardhana meraba dinding ruangan bawah tanah itu dan menciumnya. "Minyak". Gumamnya sebelum memungut beberapa buah batu dan menggeseknya didinding sampai terlihat percikan api.


Semua mata terbelalak saat melihat isi rungan itu.


Puluhan pedang pusaka berserakan diruangan itu. Beberapa kitab terlihat berada di sudut ruangan dan yang sedikit mencolok adalah tiga kerangka tengkorak manusia terlihat duduk dikursi masing masing.


Gambar gambar aneh dan tulisan menghiasi dinding dan langit ruangan.


"Apakah mereka leluhurku tuan adipati?". Tanya Mantili penasaran.


"Aku belum tau". Wardhana melangkah ketengah ruangan sambil tersenyum kecut. "Aku harus mulai membaca dari mana?". Gumam Wardhana dalam hati.


Pandangan matanya berhenti saat melihat sebuah gambar aneh disudut ruangan. Sebuah gambar lempengan batu berbentuk lingkaran sempurna.


"(Kunci peradaban Kumari kandam adalah batu langit berbentuk lingkaran sempurna. Seorang kesatria masa lalu memecah menjadi lima bagian agar kesalahan itu tidak terulang)".


"Ini sepertinya kunci menuju Telaga khayangan api atau mereka memyebutnya Peradaban Kumari kandam". Wardhana menyentuh gambar itu.


"Aapaka itu sejenis segel seperti yang menutupi Dieng dulu?". Tanya Suliwa.

__ADS_1


Wardhana menggeleng pelan. "Beberapa bangunan yang berhubungan dengan Paraton mempunyai ciri khas batu berundak yang sangat rumit. Perkiraanku peradaban Kumari kandam sudah sangat maju, mereka tidak lagi mengenal jurus segel untuk mengurung sesuatu. Batu langit berbentuk lingkaran sempurna inilah kunci menemukan Khayangan api namun aku masih belum mengerti apa maksud batu langit ini". Wsrdhana terus membaca tulisan tulisan lainnya.


Sabrang memilih duduk disudut ruangan sambil sesekali memperhatikan ekspresi Wardhana.


"(Ilmu pengetahuan membuat semua berubah, ambisi dan tamak menciptakan mahluk abadi. Ksatria Dwipantara menghancurkan Kumari kandam untuk mencegah kehancuran namun semua terlambat, abadi tetap abadi yang hanya bisa tunda kebangkitannya. Daratan hilang akan kembali saat mahluk abadi muncul. Akan selalu muncul Ksatria Dwipantara saat aku moksa)".


"Ksatria Dwipantara?". Wardhana terus mencerna tulisan tulisan dan gambar didinding ruangan itu.


"(Lima pusat dewa kutinggalkan untuk membuka jalan bagi Ksatria Dwipantara dan kemunculan Megantara. Alam akan memberi tandanya untuk mulai bergerak. Jangan melawan atau alam akan menggunakan kekuatannya untuk membersihkan kesalahan masa lalu)".


Wardhana mulai merangkum dan menghubungkan petunjuk petunjuk yang ada didinding gua.


"Ada yang paman dapatkan?". Sabrang menanti penjelasan Wardhana begitu juga yang lainnya. Mereka seperti menahan nafas menati penjelasan Wardhana.


"Sepertinya semua berasal dari Peradaban kuno Kumari kandam. Kemajuan ilmu pengetahuan membuat mereka tanpa sadar menciptakan mahluk abadi dan ilmu kanuragan terkuat. Ksatria Dwipantara berusaha menghancurkan mereka namun mereka telah menjadi abadi. Akhirnya Ksatria itu mengurungnya disuatu tempat dan menenggelamkan Peradaban Kumari kandam untuk mempersiapkan bangkitnya Ksatria lainnya.


Aku yakin kstaria lainnya yang dimaksud tulisan ini adalah anak dalam ramalan. Kita akan melakukan kesalahan besar jika membuka tempat itu sebelum waktunya". Suara Wardhana sedikit bergetar.


"Jadi telaga khayangan api benar benar ada?".


Wardhana mengangguk "Mereka menyebutnya Daratan yang hilang. Pusat ilmu pengetahuan dan kitab kitab ilmu kanuragan terhebat milik suku kumari kandam terletak di Daratan yang hilang itu. Jika sampai tempat itu ditemukan oleh orang dengan ambisi yang besar, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan dunia persilatan ini. Ilmu kanuragan, keabadian disatukan dengan Ilmu pengetahuan hasilnya akan sangat mengerikan". Ucap Wardhana pelan.


Wardhana pun tidak menyangka jika masalah ini akan benar benar rumit.


"Dunia persilatan dalam bahaya jika Pendekar langit merah bisa menemukan telaga itu". Gumam Suliwa lirih.


"Batu itu?". Wardhana menatap pecahan batu yang berada disudut ruangan. "Aku seperti pernah melihat corak ini?". Gumam Wardhana.


Setelah beberapa saat dia mengingat ingat, Wardhana berjalan kearah gambar lempengan batu berbentuk lingkaran sempurna dan mengarahkan pecahan itu mendekati gambar itu.


"Kunci Telaga khayangan api dipecah menjadi beberapa bagian". Arung spontan bicara saat melihat Wardhana menempelkan pecahan batu itu.


Wardhana mengangguk pelan "Benar, kunci Telaga khayangan api adalah batu langit ini. Ksatria Dwipantara memecahkan kunci ini menjadi lima bagian dan menaruh disetiap rumah para dewa. Sepertinya kita harus pergi kesetiap daratan jika ingin membuka misteri Telaga khayangan api".


"Bukankah kita tidak boleh membukanya?". Tanya Suliwa.


"Minimal kita bisa menghancurkan kunci ini sebelum ada yang mencoba membukanya". Jawab Wardhana.


Semua terdiam mendengar jawaban Wardhana, mereka seolah tau jika musuh yang mereka hadapi kali ini jauh lebih sulit dari Iblis petarung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Peradaban Kumari Kandam atau lebih dikenal sebagai Peradaban Lemuria atau semacam Atlantis adalah peradaban maju yang konon ingat ya Konon berada disekitar laut jawa. Peradaban yang sudah sangat maju ini tiba tiba hilang.bagai hilang ditelan bumi.

__ADS_1


Author terinspirasi pada Lemuria dan memasukannya dalam cerita PNA. ingat ini hanya Fiksi, jangan jadikan letak Lemuria sebagai perdebatan karena ini hanya imajinasi Author.


Terima kasih....


__ADS_2