Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Utusan Kekaisaran Shang


__ADS_3

Setelah kekalahan memalukan yang dialami Majasari dan lepasnya kadipaten Rogo geni, mereka terus memperkuat pasukannya.


Puluhan sekte dari berbagai aliran telah berhasil dibujuk untuk bergabung dengan mereka dengan iming iming wilayah kekuasaan dan kekayaan.


Patih Tunggul umbara jelas yang paling terpukul dengan kekalahan itu, nyawanya bahkan hampir melayang andai Sabrang tak mengampuninya.


Setelah kekalahan itu, Tunggul umbara terus meningkatkan ilmu kanuragannya dibawah bimbingan para tetua sekte yang bergabung dengan Majasari. Umbara juga berusaha menjalin kerjasama militer dengan kerajaan lain diluar Nuswantoro.


Semua usahanya akhirnya terbayar saat hari ini, Majasari kedatangan utusan kekaisaran Shang dari daratan sungai kuning. Sebuah daratan indah yang juga tempat suku Iblis petarung berasal.


Kekaisaran Shang adalah sebuah kekaisaran terbesar di daratan sungai kuning yang menguasai hampir seluruh daratan.


Mereka terus berusaha memperluas daerah kekuasaannya dengan siasat menawarkan bantuan militer. Kekaisaran Shang memang yang terkuat saat ini dalam bidang militer maupun strategi perang.


Banyak kerajaan yang memilih tunduk pada mereka karena takut dihancurkan. Kerajaan kerajaan yang tunduk biasanya selalu memberi upeti pada kaisar baik berupa uang atau wanita cantik.


Tunggul umbara bersama beberapa prajurit elit Tangan besi tampak berdiri didekat dermaga saat sebuah kapal besar bersandar.


Tampak seorang pria setengah baya menatap Umbara ramah, dia terlihat didampingi puluhan prajurit dengan pakaian berwarna merah darah.


Tunggul Umbara mengernyitkan dahinya, tubuhnya sedikit bergetar saat merasakan aura yang menekan tiba tiba, bukan pria setengah baya atau para prajurit disekitarnya yang menarik perhatian Tunggul umbara namun empat sosok pendekar yang berada di ujung dek kapal.


"Aura aneh apa ini? tubuhku terasa berat dan tak bisa digerakkan," gumam Tunggul umbara dalam hati.


Salah satu pendekar tampak tersenyum dingin sesaat sebelum muncul.dihadapan Tunggul umbara.


"Cepat sekali," ucap Tunggul umbara sambil mengernyitkan dahinya, dia sangat yakin pendekar itu tadi masih berdiri di atas kapal.


Pendekar itu tampak menunjuk mulutnya beberapa kali seperti memberi tanda untuk bicara.


Salah satu prajurit yang mengerti tanda yang diberikan terlihat mengangkat tangannya.


"Aku adalah penterjemah tuan, anda bisa bicara denganku namun bisakah anda menarik aura ini karena tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak," ucap Gandi yang berbicara menggunakan bahasa asing.


Pendekar itu tampak mengangguk sambil menarik auranya.


"Aku hanya ingin memastikan semuanya aman sebelum tuanku turun dari kapal," jawab pendekar itu.


Umbara menoleh kearah Gandi meminta penjelasan.


"Dia ingin memastikan terlebih dahulu sebelum tuannya turun dari kapal," jawab Gandi pelan.


"Katakan saat ini mereka berada di wilayah Majasari, aku menjamin keamanan mereka."


Gandi lalu menjelaskan situasinya sambil memperkenalkan diri, pendekar itu terlihan mengangguk beberapa kali sebelum memberi tanda pada yang lainnya untuk turun.


"Namaku Feng ying dari sekte Pedang emas, senang mendapat undangan dari Majasari," ucapnya memperkenalkan diri.


Gandi menundukkan kepalanya, "Terima kasih tuan atas kedatangannya, semoga dapat terjalin kerjasama baik antara Majasari dan kekaisaran Shang," jawab Gandi sopan.


Dia kemudian memperkenalkan Tunggul umbara dan beberapa prajurit lainnya.


"Selamat datang di bumi Majasari tuan," Tunggul Umbara menundukkan kepalanya saat pria setengah baya yang tadi berdiri di atas kapal menghampirinya.


Pria itu membalas sapaan Tunggul umbara ramah.


"Namaku adalah Liu Xingsheng, Kaisar sangat senang dengan undangan anda, beliau menitipkan beberapa hadiah kecil untuk raja Majasari" balas Liu Xingsheng sambil menunjukkan beberapa peti berisi ginseng berumur ratusan tahun.


Gandi langsung menterjemahkan ucapan Liu agar Tunggul umbara mudah berkomunikasi.


"Terima kasih tuan Liu telah memenuhi undangan kami, Yang mulia sudah lama ingin menjalin kerjasama dengan kekaisaran Shang," ucap Tunggul umbara pelan sambil menunjuk sebuah tandu kebesaran Majasari dan mempersilahkan Liu Xingsheng menaikinya.


Liu Xingsheng mengangguk pelan sambil berjalan kearah tandu, Tunggu umbara tampak mengikuti dibelakangnya.


Feng ying dan tiga kakak seperguruannya mengikuti dibelakang.


"Aku tak sabar mencoba ilmu kanuragan para pendekar Nuswantoro," ucap Feng ying bersemangat.


"Kau harus ingat tugas kita Ying'er, ketua meminta untuk menyelidiki keberadaan ramuan abadi yang konon ada di Nuswantoro. Ketua membutuhkan ramuan itu untuk mendapatkan kepercayaan kaisar", ucap Wenhua, salah satu pendekar muda berbakat sekte pedang emas yang juga kakak seperguruan Feng ying.


"Aku tau kak, aku hanya ingin mencoba jurus baru yang diberikan guru, aku berjanji tidak akan membuat masalah serius," rengek Feng Ying.


"Tidak ada alasan, setelah sampai di kerajaan Majasari menyusup lah keluar. Cari informasi sebanyak banyaknya mengenai ramuan abadi dan Masalembo. Ingat tugasmu adalah mencari informasi, jangan membuat gerakan yang bisa memancing amarah para pendekar Nuswantoro. Aku tau kau memiliki ilmu kanuragan tinggi namun misi utama kita bukan bertarung tapi mencari ramuan itu," ucap Wenhua tegas.


Feng ying mengangguk pelan, walau dia tidak puas dengan jawaban kakak seperguruannya itu namun tidak berani membantah.

__ADS_1


Feng ying sangat mengerti mengerti sifat kakak seperguruannya itu, walau Wenhua termasuk sosok yang pendiam namun dia bisa berubah menjadi iblis haus darah saat marah.


"Baiklah aku akan menuruti apa yang kakak minta, lagipula sepertinya dunia persilatan di daratan ini tak sekuat di kekaisaran Shang," jawab Feng ying tidak tertarik.


Mehhua hanya tersenyum melihat tingkah adik seperguruannya itu yang terlalu tergila gila dengan pertarungan.


***


"Hamba menghadap Yang mulia," suara Wardhana terdengar dari luar.


"Masuklah paman," balas Sabrang pelan.


Wardhana melangkah masuk, dia menundukkan kepalanya sebelum duduk dihadapan Sabrang.


"Apa Dewi sudah pergi?" tanya Sabrang pelan.


Wardhana mengangguk pelan sambil menatap Sabrang bingung.


"Yang mulia, maaf jika hamba lancang namun apakah tidak terlalu beresiko mengizinkan gusti ratu ikut berperang? terlebih tim yang dipimpinnya adalah tim pengecoh yang akan membuat kekacauan dipusat kota," tanya Wardhana pelan.


"Dia merengek sepanjang malam dengan berbagai alasan, apa aku bisa mencegahnya?" balas Sabrang pelan.


"Tapi Yang mulia tugas tim pengecoh sangat berbahaya, mereka bisa saja terkepung dipusat kota."


"Tak perlu khawatir paman, bagaimanapun dewi adalah mantan ketua Hibata, tak mudah melumpuhkannya. Selain itu aku sudah meminta Candrakurama untuk menyusup bersama Hibata dan menjaga mereka."


"Lalu apa ada yang ingin paman laporkan?"


Wardhana mengangguk pelan, wajahnya terlihat letih karena beberapa hari ini dia kurang tidur untuk memastikan tak ada celah sama sekali dalam rencananya.


"Tim untuk memutus logistik Majasari yang dipimpin Lingga telah berangkat pagi tadi, mereka akan bergabung dengan pasukan yang dipimpin Jaladara jika perang telah dimulai.


Anda akan memimpin pasukan angin selatan dan beberapa pendekar dari arah barat Yang mulia, sedangkan hamba akan bergerak dari arah berlawanan. Kita akan bertemu dipusat kota saat tim pengecoh memberi tanda," jawab Wardhana pelan.


Sabrang mengangguk pelan, dia terlihat memejamkan matanya sesaat.


"Ayah, bantulah aku untuk merebut kembali apa yang menjadi milik kita," gumam Sabrang dalam hati.


"Apa paman membawa apa yang kuminta?" tanya Sabrang kemudian.


Wardhana mengangguk pelan, dia mengambil sebuah bungkusan pakaian dan memberikannya pada Sabrang.


"Terima kasih paman, aku hanya ingin ayah hadir dalam tubuhku saat berperang nanti," Sabrang membuka bajunya dan mencoba memakai jubah perangnya.


Wajah Wardhana berubah seketika saat melihat Sabrang dengan jubah perangnya. Dia seperti melihat sosok Arya dwipa dalam tubuh Sabrang.


"Yang mulia," ucap Wardhana dalam hati.


"Paman, aku akan pergi duluan untuk memastikan sesuatu, tolong beritahu paman Sora dan Wijaya untuk bergerak lebih dulu, aku akan menemui mereka dititik pertemuan pagi hari sebelum perang," ucap Sabrang pelan.


"Memastikan sesuatu?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Tak perlu dipikirkan, ini tak ada hubungannya dengan perang kali ini," balas Sabrang menenangkan.


"Baik Yang mulia, hamba akan sampaikan pada tuan Wijaya dan sora," balas Wardhana sambil menundukkan kepalanya saat Sabrang melangkah keluar ruangan sebelum menghilang dengan jurus ruang dan waktunya.


Sabrang muncul kembali di hutan yang menjadi batas wilayah tapak es utara.


Kertapati yang sudah menunggunya langsung berlutut ketika melihat kehadiran Sabrang.


"Hormat pada Yang mulia," ucap Kertapati.


"Maaf paman menunggu terlalu lama."


"Mohon jangan bicara seperti itu Yang mulia," jawab Kertapati pelan.


"Jadi apa sudah dipastikan dia berkhianat?" tanya Sabrang dingin.


"Sesuai perintah tuan Paksi, hamba memata matai seluruh teliksandi yang disebar dan apa yang dikhawatirkannya benar, Restu telah berkhianat Yang mulia. Setelah hamba menemuinya, dia terlihat menemui seorang prajurit Majasari disebuah rumah."


"Apa paman sudah menangkap mereka?"


Kertapati mengangguk pelan, "Setelah mereka pergi meninggalkan rumah itu hamba dan beberapa pasukan berhasil meringkusnya, hamba menahannya disebuah gubuk didekat hutan."


Wajah Sabrang tampak kecewa, lengannya terlihat mengepal menandakan dia sedang menahan amarah.

__ADS_1


"Antarkan aku menemui Restu, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri," ucap Sabrang geram.


"Maaf Yang mulia, kenapa anda tidak memberitahukan masalah ini pada tuan Wardhana?" tanya Kertapati penasaran.


Kertapati memang sempat melaporkan pada Sabrang mengenai pengkhianatan Restu namun Sabrang memintanya merahasiakan masalah ini dan menunggunya di hutan.


"Perang kali ini sangat penting bagi Malwageni dan paman Wardhana. Dia bahkan tidak tidur selama beberapa hari untuk mematangkan strateginya.


Paman Wardhana dan Paksi akan menjadi kunci kemenangan kita, aku tidak ingin paman goyah mengetahui teliksandi kepercayaannya berkhianat. Aku sendiri yang akan membereskan masalah ini," Sabrang memegang bahu Kertapati dan memintanya untuk bersiap.


"Ini akan sedikit terasa sakit, tahanlah sebentar, paman" selesai dia bicara tiba tiba mereka berdua menghilang.


***


Tubuh Kertapati jatuh ketanah saat tiba tiba muncul ditengah hutan, rasa sakit ditubuhnya membuat dia tak mampu berdiri.


"Jurus apa yang digunakan Yang mulia," gumam Kertapati dalam hati.


"Paman baik baik saja?" tanya Sabrang pelan.


Kertapati mengangguk pelan, dia terus mengalirkan tenaga dalam keseluruh tubuhnya untuk mengembalikan staminanya.


Setelah tubuhnya dapat digerakkan, Kertapati bangkit dan mengajak Sabrang menuju sebuah gubuk tak jauh darinya.


Dua orang prajurit menyambut mereka sambil menundukkan kepalanya.


"Hormat pada Yang mulia," ucap mereka bersamaan.


"Bawa mereka keluar," perintah Kertapati.


Dua prajurit itu mengangguk pelan, mereka masuk kedalam gubuk beberapa saat sebelum keluar membawa dua orang tahanan.


Wajah Restu berubah seketika saat melihat Sabrang menatapnya tajam.


"Apa kau yang bernama Restu?" tanya Sabrang.


"Yang mulia, mohon ampuni hamba," Restu langsung berlutut dihadapan Sabrang.


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" Sabrang menggelengkan kepalanya.


"Hamba mengaku salah Yang mulia, mohon ampuni hamba. Hamba tergiur oleh iming iming hadiah yang sangat besar, mohon beri hamba satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan," ucap Restu memohon.


"Apa kau tau paman Wardhana begitu percaya padamu?"


"Hamba tak pernah melakukan kesalahan selama ini Yang mulia, beberapa kali hamba bahkan menolong nona Mentari, mohon dipertimbangkan."


"Jaga ucapanmu, orang yang kau sebut nona itu kini sudah menjadi selir Malwageni," bentak Kertapati.


"Maaf tuan hamba tidak tau, hamba hanya ingin Yang mulia mempertimbangkan jasa yang telah hamba lakukan selama ini," Restu terus bicara seperti kesetanan tanpa memperdulikan ucapan Kertapati. Rasa takut mati membuatnya panik.


"Kau!" Kertapati tak melanjutkan ucapannya saat Sabrang memintanya diam.


"Kau bahkan berani membawa nama Mentari demi menyelamatkan nyawamu, apakah kau benar benar takut mati?" Sabrang mengeluarkan energi keris dari tangannya.


"Hamba ingin mengabdi pada anda dan Malwageni Yang mulia, mohon ampuni hamba," ucap Restu lirih.


"Mengabdi padaku?" ucap Sabrang sinis.


Keris penguasa kegelapan mulai berputar di udara dan perlahan mendekati tubuh Restu.


"Apa kau tau berapa banyak nyawa akan melayang jika rencana paman Wardhana bocor?" Sabrang terlihat menarik nafasnya panjang sebelum menggerakkan lengannya.


"Jika kau merasa berjasa pada selir ku maka aku akan membalasnya dengan memberikan kematian cepat padamu tanpa rasa sakit," Energi keris tiba tiba melesat cepat dan menembus tubuh Restu sebelum bergerak memutar dan membunuh prajurit Majasari yang ada disebelahnya.


"Kau benar benar membuat ku kecewa," gumam Sabrang dalam hati.


"Paman, kuburkan mereka dengan layak, setelah itu kembalilah kepasukanmu," ucap Sabrang sebelum kembali menghilang dengan jurus ruang dan waktunya.


"Hamba menerima perintah Yang mulia," balas Kertapati.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua hari sebelum perang dimulai...


Chapter kali ini agak sedikit sulit karena Author harus mencari nama yang berbau Tiongkok...

__ADS_1


Author harap kehadiran mereka mampu memberi warna baru di Pedang Naga api...


Terima kasih atas dukungannya.....


__ADS_2