
"Apa sebaiknya aku mendekat". Sabrang menoleh kearah Arung yang berdiri disebelahnya. Mereka berdua menatap dari jauh dua pendekar wanita sedang bicara pada Lasmini.
"Jangan tanyakan itu padaku, hanya kau yang bisa menyelesaikan masalah ini".
Sabrang yang makin bingung hanya menggaruk kepalanya, dia tidak mengerti kenapa dia sama sekali tidak boleh mendekat selama Tungga Dewi dan Mentari bicara pada Lasmini.
Tak lama Mentari mendekat dengan wajah masam, begitu juga dengan Tungga dewi yang lebih memilih langsung melanjutkan perjalanannya.
"Sepertinya kami harus pergi dulu, kau sebaiknya berhati hati". Ucap Lasmini sambil tersenyum penuh makna.
"Bibi mau pergi kesekte Tapak es utara bukan? Bagaimana jika kita pergi bersama".
"Tidak! Aku harus istirahat sebentar". Mentari memotong ucapan Sabrang.
Lasmini menahan tawanya melihat tingkah Mentari. "Beristirahatlah sebentar, aku akan menunggumu di sana".
Sabrang mengangguk pelan sambil menatap kepergian rombongan Rajawali emas.
"Apa kau baik baik saja?". Tanya Sabrang pada Mentari.
Mentari tidak menjawab pertanyaan Sabrang, dia lebih memilih berjalan kearah pepohonan dan duduk disana sambil bermeditasi. Sabrang semakin bingung dengan situasi yang dihadapainya.
"Apa aku berbuat salah pada mereka?".
"Sebaiknya kau segera menyelesaikan urusanmu pada mereka berdua dan tolong jangan libatkan aku dalam masalahmu ini". Arung terkekeh sambil berjalan pergi, dia ingin memeriksa keadaan disekitarnya.
***
Suasana Sekte tapak es utara mulai ramai, beberapa tamu undangan mulai berdatangan. Sekte Pedang Naga api dan kencana ungu terlihat datang lebih awal dari yang lainnya.
"Apakah Sabrang sudah datang?". Tanya ki Ageng saat Mantili menyambutnya.
"Aku sudah mengiriminya undangan, namun sampai hari ini anak itu belum terlihat, mungkin masih dalam perjalanan". Ucap Mantili ramah sambil mempersilahkan rombongan masuk.
Tak lama Suliwa muncul bersama Wulan sari, mereka memberi hormat pada Mantili.
__ADS_1
"Selamat datang tetua, maaf jika penyambutanku kurang berkenan". Ucap Mantili sopan.
"Tetua jangan terlalu sungkan". Jawab Suliwa pelan.
Saat mereka sedang berbicara beberapa pendekar lain berdatangan dan memberi salam.
"Sepertinya aku belum pernah melihat mereka". Ucap Suliwa pelan sambil menunjuk pada dua pendekar yang tak lain adalah sepasang pendekar langit yang ikut membaur bersama pendekar lainnya.
"Mungkin mereka murid salah satu sekte yang kuundang tetua". Jawab Mantili yang terlihat masih sibuk menyambut tamu lainnya.
"Aku yakin tidak pernah melihat mereka". Gumam Suliwa dalam hati. Suliwa masih terus menatap dua pendekar yang mulai menghilang dikejauhan.
"Tetua, bisa kita bicara?". Ucap Mantili ketika para tamu undangan mulai habis.
"Denganku?". Suliwa mengernyitkan dahinya.
"Ini mengenai Sabrang, Mohon ikut denganku". Mantili mengajak Suliwa dan Wulan sari keruangannya.
***
"Aku memberikan kitab itu pada Sabrang karena aku berencana menjadikannya sebagai ketua sekte menggantikanku namun aku telah menyalin beberapa tulisan yang sepertinya tidak berhubungan dengan Ilmu kanuragan".
Suliwa tampak mencoba membaca tulisan tulisan itu.
"(Kesalahan masa lalu akan membangkitkan mahluk terkuat dimuka bumi ini. Saat dunia terasa tenang maka itulah awal kebangkitannya. Ketenangan awal huru hara yang akan menghancurkan dunia. Hanya Pedang dari segala pedang yang dapat menghancurkannya. Anak dalam ramalan akan menyambut pedang dari segala pedang dan menghancurkan angkara murka saat Sekumpulan orang membangun peradaban Maja. Kesalahan masa lalu harus diluruskan)".
"Apa yang anda tulis ini terdapat dikitab Dewa es?". Suliwa mengernyitkan dahinya.
Mantili mengangguk pelan "Apakah anak dalam ramalan itu Sabrang?".
Suliwa menggeleng pelan "Sepertinya bukan, disini disebutkan jika anak dalam ramalan itu akan menyambut pedang dari segala pedang sekelompok orang membangun peradaban maja. Sabrang tidak dilahirkan saat peradaban Maja, apakah ada kerajaan atau peradaban Maja saat ini? sepertinya tidak ada". Suliwa terlihat berfikir.
"Peradaban Maja? apakah ini hanya kiasan atau teka teki ataukah memang kitab ini menjelaskan jika peradaban Maja akan benar benar ada". Suliwa memejamkan matanya.
"Apakah anda mengetahui asal usul kitab ini sebelum dimiliki leluhur Tapak es utara?". Tanya Suliwa.
__ADS_1
"Mereka tidak memberitahukannya namun yang pasti kitab ini tidak ditulis oleh leluhurku. Untuk apa mereka menulis petunjuk petunjuk seperti ini jika kitab ini diturunkan secara turun menurun, bukankah akan lebih mudah jika dikatakan langsung?". Jawab Mantili.
"Itu yang aku takutkan". Ucap Suliwa.
"Maksud anda?". Wulan sari ikut bicara.
"Jika kitab ini dibuat oleh pendiri Sekte tapak es utara aku sedikit tenang karena semenjak berdirinya Tapak es utara berarti kitab dewa es tidak pernah keluar dari tempat ini. Namun jika bukan mereka yang membuatnya berarti ada rentang waktu sebelum tetua tapak es memilikinya kitab ini sudah dibaca oleh orang lain. Jika mereka menyadari petunjuk ini maka yang kutakutkan mereka mulai terobsesi dengan pedang dari segala pedang. Kejadian Iblis petarung akan terulang lagi bahkan lebih mengerikan".
"Lalu apa yang harus kita lakukan?". Tanya Mantili.
"Masalah ini tak bisa kupecahkan sendiri, jika aku boleh meminta pada anda setelah pertemuan aliran putih aku ingin anda mengundang salah satu anggota sekte Bintang langit dan tuan Adipati Rogo geni".
"Maksud anda tuan Wardhana?". Wulan sari mengernyirkan dahinya.
Suliwa mengangguk pelan "Pertama masalah Dieng yang dibangun dengan ilmu pengetahuan yang tinggi kemudian kemunculan kitab Paraton yang dimiliki Iblis petarung, semua berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Aku takut yang akan kita hadapi adalah pendekar yang selain memiliki ilmu kanuragan tinggi juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Kita membutuhkan Tuan Adipati dan Ciha untuk bersiap menghadapi apapun itu".
"Maksud anda menghadapi Mahluk terkuat masa lalu?". Tanya Mantili.
"Sepertinya bukan karena mahluk masa lalu akan bangkit saat peradaban Maja muncul. Yang aku takutkan adalah orang seperti Iblis petarung yang terobsesi dengan semua ini dan tanpa sadar memicu bangkitnya mahluk itu lebih cepat. Alam selalu berusaha menyeimbangkan dunia ini. Ramalan tentang bangkitnya mahluk terkuat dimuka bumi diiringi dengan lahirnya anak dalam ramalan. Artinya alam telah mempersiapkan "Obat" untuk mahluk terkuat itu. Kalian bisa bayangkan jika obat itu belum saatnya muncul namun kita memicu mahluk itu bangkit lebih cepat maka kita semua akan hancur".
"Apa mungkin kemunculan pendekar misterius yang menghancurkan sekte kelelawar hijau berhubungan dengan tulisan ini?". Tanya Mantili penasaran.
"Aku belum tau, semua masih harus dipecahkan karena kata kata seperti Peradaban Maja apakah hanya khiasan, simbol atau benar benar menunjukan sebuah peradaban. Kirim orang secepatnya ke Kadipaten rogo geni dan Sekte Bintang langit secara rahasia. Untuk tuan Adipati akan sedikit lebih mudah jika Sabrang yang memintanya, masalah kita adalah meyakinkan Ciha untuk keluar dari Sektenya dan ikut pertemuan ini".
Mantili mengangguk pelan "Baik aku akan mengirim orang kepercayaan ku untuk menjemput orang itu di Sekte bintang langit".
"Anak dalam ramalan? Sabrang tidak dilahirkan saat peradaban Maja ataupun saat dunia terasa tenang karena anak itu lahir beberapa saat sebelum Malwageni ditaklukan Majasari, lalu siapa sebenarnya anak dalam ramalan itu". Gumam Suliwa dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maaf sebelumnya jika PNA update sedikit terlambat karena Author dari siang sedang dalam perjalanan dan baru sampai rumah malam ini.
Selamat berbuka puasa dan ayuk mulai menebak nebak jalan cerita PNA, Mahluk terkuat ataupun Peradaban Maja 😁
1 Lagi Votenya jangan Lupa BAMBANG
__ADS_1