Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kondisi Kesehatan Wardhana


__ADS_3

Setelah mendapatkan sedikit petunjuk mengenai pasukan kuil suci dan juga tentang keberadaan Gua Cahaya surga dari gurunya, Rubah Putih mendatangi air terjun Lembah pelangi untuk membicarakan masalah ini dengan Wulan.


Rubah putih ingin bertanya pada Wulan mengenai sosok Dewa Pedang timur yang sepertinya menjadi kunci masalah ini sebelum kembali ke keraton.


Rubah Putih sedikit terkejut karena Wulan sedang bersama Wardhana di Air terjun Lembah Pelangi ketika dia datang.


"Ah tuan patih, anda ada di sini juga?" ucap Rubah Putih bingung saat melihat wajah Wardhana sedikit pucat. "Anda baik baik saja?"


Wardhana mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Aku baik baik saja tuan, aku datang untuk membicarakan masalah kitab Sabdo Loji dan pasukan kuil suci bersama Wulan, kebetulan aku baru kembali dari Saung Galah," jawab Wardhana pelan, nafasnya sedikit memburu seolah sedang terluka.


"Begitu..." Rubah Putih menatap curiga Wardhana yang seperti menutupi sesuatu darinya.


"Apa ada yang kau ingin bicarakan denganku?" Wulan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ini mengenai Dewa Pedang Timur, aku ingin kau menceritakan semua yang kau tau tentang dia selama aku terkurung di Dimensi Ruang dan Waktu," jawab Rubah Putih cepat.


"Dewa Pedang Timur?" tanya Wulan bingung.


Rubah Putih mengangguk pelan, "Aku sudah menemui guruku dan orang pertama yang menyadari kemunculan pasukan Kuil suci adalah Wahyu Tama yang dijuluki Dewa pedang timur. Sepertinya dia mengetahui tentang masalah ini namun sayang keberadaannya saat ini tidak diketahui."


Wulan kemudian berusaha mengingat ingat tentang sosok Dewa Pedang Timur, seingatnya sangat sedikit orang yang benar benar mengenalnya.


"Aku tidak terlalu mengenal dia, karena saat kau terkurung di dimensi ruang dan waktu, aku bersembunyi di tempat ini untuk menghindari kejaran Masalembo tapi seingatku tak banyak yang mengenal dia secara dekat.


Sosoknya sangat misterius, dia seolah muncul begitu saja dan menjelma menjadi pendekar terkuat saat itu sebelum memutuskan mundur dari dunia persilatan beberapa tahun kemudian karena terluka parah. Tidak ada yang tau apakah dia benar benar terluka atau hanya alasan untuk menghilang dan sampai saat ini tidak ada yang tau apakah dia masih hidup," jawab Wulan pelan.


"Dia benar benar terluka saat itu karena guruku lah yang merawatnya, butuh waktu beberapa purnama sampai dia benar benar pulih karena lukanya sangat dalam," balas Rubah Putih.


"Terluka? tidak mungkin, saat itu dia adalah pendekar terkuat dunia persilatan, aku pun ragu bisa mengalahkannya," ucap Wulan tak percaya.


"Pasukan kuil suci, mereka yang menyerang Wahyu Tama. Itulah pengakuan dia pada guru sebelum menghilang."


"Pendekar kuil suci? itu terjadi puluhan tahun lalu, bahkan saat itu kerajaan Arkantara belum terdengar," jawab Wulan terkejut.


"Masalah kali ini akan jauh lebih rumit, bukan hanya kita harus berhadapan dengan pendekar kuat yang mampu mengalahkan Dewa pedang timur tapi sepertinya mereka sudah merencanakan semuanya sejak lama.


Para pendekar kuil suci sudah bergerak sejak dulu, bahkan jauh sebelum munculnya Masalembo namun saat itu mereka bergerak senyap dan baru menampakkan diri di ujung Swarna Dwipa bersama kerajaan Arkantara," balas Rubah Putih, dia menjelaskan semua yang dikatakan gurunya pada Wulan.


"Tunggu dulu, jadi kitab Sabdo Loji yang sempat di pegang ayahku adalah bagian dari rencana mereka?" Wulan tiba tiba menyadari sesuatu. "Benar, ciri dan polanya sama dengan kejadian pembantaian Mandala yang diceritakan gurumu," ucap Wulan melanjutkan.


"Cirinya sama?" tanya Rubah Putih bingung.


"Sebelum pembunuhan Mandala, situasinya juga kacau akibat kabar kemunculan kitab Sabdo Loji. Dunia yang saat itu damai berubah menjadi menakutkan karena pembunuhan terjadi dimana mana akibat memperebutkan kitab terkutuk itu.

__ADS_1


Apa yang terjadi saat ini hampir sama, kemunculan Masalembo sebagai awal pemicu munculnya Suku Iblis petarung, Pendekar Langit merah dan Guntur Api. Kau tau apa benang merah dari semua ini? Ilmu kanuragan tingkat tinggi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki Masalembo," jawab Wulan.


"Jadi menurutmu?" Rubah Putih mulai mengerti arah pembicaraan Wulan.


"Sepertinya ilmu pengetahuan yang didapatkan Lakeswara dari Gropak Waton adalah bagian rencana Pasukan kuil Suci, bukankah begitu?" timpal Wardhana tiba tiba.


"Tidak...tidak mungkin, bagaimana mungkin Lakeswara juga dimanfaatkan oleh mereka dan bagaimana kau menjelaskan pertemuan tidak sengaja trah Masalembo dengan Gropak Waton dan Ayahku," ucap Rubah Putih bingung.


"Aku masih belum mengerti bagaimana mereka mengatur itu tapi sejak awal aku sudah curiga bagaimana bisa tiga pemimpin trah Masalembo terluka tepat didekat gunung Damalung yang tersembunyi itu, apa tidak terlalu kebetulan menurut anda?" jawab Wardhana pelan.


Rubah Putih terdiam, dia merasa yang dikatakan Wardhana ada benarnya, sedikit aneh dan sangat kebetulan dengan daratan Jawata yang sangat luas mereka bisa terluka di kaki gunung Damalung dan bertemu dengan Rakyan Aryasatya dan suku Gropak Waton.


Wardhana tampak berfikir sambil menyatukan kembali kepingan kepingan misteri yang selama ini dia temukan.


"Apa ayahmu tidak pernah bercerita dari mana dia mendapatkan kitab Sabdo Loji saat itu?" tanya Wardhana pada Wulan.


"Ayah mengatakan jika Kitab itu adalah pemberian seorang pendekar yang menyelamatkan dia dari kejaran Masalembo."


"Seorang pendekar?" Tanya Wardhana curiga.


"Aku tidak terlalu mengingatnya karena saat itu aku masih kecil tapi seingatku pendekar itu kemudian menjadi guru ayah," jawab Wulan.


"Apa kesalahan ayahmu saat itu hingga Masalembo ingin membunuh kalian?" tanya Wardhana kembali.


"Begitu ya..." Wardhana memejamkan matanya sesaat, rasa sakit di dadanya kembali terasa.


Rasa sakit yang sebenarnya sudah cukup lama dirasakannya itu akhir akhir ini semakin sering dirasakannya.


"Bukankah ayahmu di buru saat itu karena melihat kitab rahasia Lakeswara? dia pernah mengatakan itu padaku," ucap Rubah Putih.


"Kitab rahasia? ayah tidak pernah cerita apapun tentang kitab rahasia, tapi jika kitab yang kau maksud itu adalah Sabdo Loji maka kau salah karena aku sangat yakin kitab itu diberikan oleh guru ayah," jawab Wulan cepat.


"Sepertinya dua kitab yang saat ini ada pada kita dulu dipegang oleh Lakeswara dan ayahmu, dan aku yakin orang yang menyelamatkan kalian adalah salah satu pendekar kuil suci. Kini aku mengerti mengapa kitab yang harusnya hanya ada satu bisa menjadi dua," ucap Wardhana tiba tiba.


"Maksudmu salah satu kitab itu palsu?" sahut Rubah Putih.


"Bukan salah satu tapi dua kitab itu adalah palsu. Ini mungkin hanya perkiraan ku tapi cerita kalian menguatkan semua dugaanku. Benar yang dikatakan Wulan, mereka berusaha membuat situasi saat ini sama dengan dulu sebelum terbunuhnya Mandala untuk mengingatkan kita semua jika dendam masa lalu belum usai.


Siapapun orang di balik pergerakan pendekar Kuil Suci, dia memanfaatkan keserakahan Lakeswara untuk menyulut kekacauan dunia persilatan dan itu terbukti dengan munculnya Suku Iblis petarung, Pendekar Langit merah sampai Guntur Api.


Mereka sadar jika hanya Kitab Sabdo Loji yang bisa memicu kekacauan besar di dunia persilatan, itulah sebabnya kitab palsu itu berada ditangan Lakeswara dan ayah Wulan. Mereka tidak mungkin mengambil resiko dengan memberikan kitab Sabdo Loji yang asli pada Lakeswara yang memiliki bakat besar, itulah sebabnya mereka mungkin menyalin ulang dengan menghilangkan beberapa bagian penting isi kitab itu.


Masalembo hanya dijadikan alat untuk menyulut kekacauan sebelum Mandala benar benar bangkit, tapi ini hanya perkiraanku. Satu satunya cara adalah memeriksa ulang Masalembo dan Gunung Padang, " jawab Wardhana.


"Gunung padang?" Rubah Putih menoleh kearah Wulan.

__ADS_1


"Pusaka bilah gelombang terkubur di salah satu ruangan di tempat itu, dan aku yakin semua berhubungan,“ jawab Wardhana.


"Jadi semua ini adalah rencana besar mereka untuk membalaskan dendam kematian Mandala?" Wulan menggeleng pelan, dia benar benar merasa manusia akan berubah sangat menakutkan jika di kuasai dendam.


"Aku akan kembali ke keraton dan menceritakan masalah ini dengan Yang mulia. Jika rencana ini telah di susun sangat lama itu artinya kemunculan Pasukan Kuil suci secara terbuka akhir akhir ini menandakan mereka sudah mendekati akhir. Kita harus cepat dan memeriksa kembali semua catatan Masalembo yang mungkin terlewat sebelum Mandala benar benar bangkit," ucap Wardhana pelan.


"Yang mulia? maksudmu Sabrang?" Rubah Putih dan Wulan saling berpandangan.


"Beliau sudah kembali namun untuk suatu hal, Yang mulia meminta semua dirahasiakan terlebih dahulu," balas Wardhana.


"Jadi anak itu sudah kembali ya, sejak awal aku yakin dia selamat," ucap Rubah Putih lega.


"Ceritanya panjang tuan, suatu saat aku pasti akan menceritakan setelah masalah ini selesai. Aku mohon undur diri," Wardhana menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.


"Minumlah setiap malam dan jangan sampai lupa," ucap Wulan tiba tiba yang dibalas anggukan oleh Wardhana.


Wulan menatap kepergian Wardhana sambil menarik nafas panjang, ada rasa khawatir yang tampak di wajahnya.


"Sebaiknya kau pergi menemui Sabrang, jika benar Mandala akan bangkit, dia harus menjadi kuat secepatnya," Wulan melangkah pergi meninggalkan Rubah Putih.


"Apa yang terjadi dengan Wardhana? dia sedang terluka bukan? kalian sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku," tanya Rubah Putih tiba tiba.


"Itu bukan urusanmu," balas Wulan singkat.


"Melihat wajahnya yang sedikit pucat dan gerakan tubuhnya yang tidak biasa aku yakin dia sedang terluka parah. Aku mungkin bisa membantumu menyelamatkan orang yang kau cintai itu," jawab Rubah Putih.


Wulan menghentikan langkahnya, air mata yang sejak awal dia tahan akhirnya membasahi pipinya.


"Tak ada yang akan bisa membantunya, bahkan dewa sekalipun. Dia berbeda dengan kita yang memiliki tenaga dalam tinggi. Luka akibat pertempuran pertempuran yang dia lalui selama ini menggerogoti tubuhnya perlahan dan puncaknya adalah pertarungan di Gunung padang.


Aku sudah memintanya mundur dari patih Malwageni karena jika sekali lagi dia terluka maka dia akan tewas tapi si bodoh itu menjawab jika mati membela Mawlageni adalah suatu kehormatan tertinggi, aku benar benar tidak mengerti jalan pikiran kalian yang suka bertarung."


"Berapa lama waktu yang dimilikinya?"


"Mungkin hanya beberapa tahun dengan catatan dia tidak mengalami luka lagi," jawab Wulan singkat.


"Apa Sabrang tau tentang hal ini?" tanya Rubah Putih.


"Dia melarang menceritakan masalah ini pada siapapun, sebagai pemimpin tertinggi prajurit Malwageni dia tidak ingin terlihat terluka yang bisa membuat semangat tempur mereka menurun terutama dalam situasi seperti ini. Apa kau bisa membantu dia? tidak! andai sejak awal kitab Sabdo Loji tidak ditemukan mungkin tak perlu banyak orang bodoh seperti kalian!" Wulan melangkah pergi dengan kesal, dia terus mengumpat dan sesekali menyebut nama Wardhana.


"Aku turut bersedih dan khawatir dengan kondisi Wardhana tapi kadang bagi seorang pria, mati dalam pertarungan adalah sebuah kebanggaan," ucap Rubah Putih dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seperti janji saya, chapter bonus paling lambat malam ini meluncur ya... di Vote aja dulu...

__ADS_1


__ADS_2