Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertemuan Ibu dan Anak


__ADS_3

"Ketua, aku menemukan sesuatu," teriak Rakirawa dan beberapa murid Angin Biru.


Wardhana dan Ken Panca saling menatap sebelum berjalan mendekati lubang yang sudah digali oleh para murid sekte Api dan Angin itu.


Wardhana langsung melompat turun dan melihat dasar lubang yang terbuat dari batu yang tersusun rapih.


"Naiklah dan tinggalkan aku sendiri," ucap Wardhana sambil meraba dasar lubang.


"Baik ketua," jawab mereka bersamaan.


"Danau ini dibangun dengan perhitungan yang rumit, alat apa yang mereka gunakan untuk menghitung pergerakan arah sinar bulan," ucap Wardhana dalam hati.


Pandangan Wardhana terhenti di salah satu sudut lantai yang bentuk batunya berbeda dengan lainnya.


"Mengapa hanya sudut ini yang berbeda?" Wardhana mendekati batu itu dan mengamatinya.


Wardhana menekan batu itu dengan tangannya perlahan.


"Bergerak?" Wardhana berdiri sebelum menginjak batu itu sekuat tenaga. Dia menahan nafas sebentar sambil melihat sekelilingnya.


"Tidak terjadi apa apa? apa mungkin sistemnya sudah rusak karena terkubur ribuan tahun?" gumamnya dalam hati.


Wajah Wardhana berubah seketika saat merasakan angin meniup wajahnya, dia melihat ke arah angin berhembus dan menemukan sebuah lubang kecil yang menganga.


"Benar dugaanku, sistem batu berundak tempat ini sudah rusak," Wardhana mencabut pedangnya dan menggunakan gagang pedang untuk memukul lubang itu.


Wardhana memasukkan tangannya kedalam lubang itu dan menemukan sebuah tuas kecil dan dua buah lempengan batu berbentuk kepala naga. Dia mengamati kedua batu itu dan membaca tulisan kecil yang ada di atasnya.


"Batu kehidupan penanda gerbang suci terbuka, singkirkan semua ambisi untuk melihat apa yang yang tersembunyi didalamnya, atau tanah akan menelanmu.


Wardhana kembali menyentuh tuas itu dan memperhatikan sekitarnya sebelum tersenyum dingin.


"Jadi begitu, kalian membuat sekali banyak jebakan," ucapnya dalam hati.


Setelah memastikan tidak ada yang terlewat, Wardhana melompat naik.


"Ketua?" Jatmiko menatap bingung Wardhana.


"Ada sebuah tuas di dalam lubang kecil di dasar lubang, aku tidak tau apa fungsi tuas itu. Kita akan memeriksanya saat pagi tiba, terlalu berbahaya masuk ke dalam lubang yang tidak kita kenali saat gelap seperti ini.


Dan sepertinya lubang itu berhubungan dengan sinar bulan, aku tak sempat memeriksanya lebih jauh karena langit tiba tiba gelap, kita harus menunggu besok malam lagi untuk mencoba memecahkannya," jawab Wardhana pelan.


"Pastikan tempat ini dijaga dan jangan sampai ada orang luar mendekat, aku akan kembali saat pagi hari," perintah Wardhana pada Jatmiko sebelum melangkah pergi bersama Ken Panca.


"Baik ketua," jawab Jatmiko bingung, dia seolah tidak mengenali sosok Wardhana yang biasanya. Wardhana yang tak pernah mundur satu langkah pun sebelum menyibak semua misteri serumit apapun.


Rakirawa tersenyum licik sebelum berjalan menjauh dan menghilang di kegelapan malam.


"Apa terjadi sesuatu pada ketua?" tanya salah satu murid Angin Biru bingung.


"Aku tidak tau, ada yang aneh dengan sikapnya kali ini tapi aku yakin ada yang direncanakannya, jangan lupakan jika ketua adalah naga yang tertidur dari Malwageni," balas Jatmiko pelan.


Jatmiko terlihat menatap sekelilingnya, suasana gelap akibat tertutupnya sinar bulan oleh awan mendung mulai menghilang seiring menghilangnya awan gelap itu.


"Malam yang aneh, awan gelap bisa tiba tiba muncul dan menghilang tanpa ada tanda tanda hujan akan turun," gumam Jatmiko dalam hati.

__ADS_1


"Perketat penjagaan, aku tidak tau apa yang sedang dicari oleh ketua tapi melihat sikapnya itu adalah sesuatu yang berbahaya," ucap Jatmiko pelan.


"Baik guru," para murid mulai menyebar di beberapa lokasi.


Namun wajah mereka semua berubah seketika saat tubuh mereka tak dapat digerakkan.


"Gawat, apa yang terjadi dengan tubuhku," ucap Jatmiko panik.


"Sebaiknya kalian diam dan jangan coba melawan, aku datang hanya untuk mengambil apa yang ada di danau itu dan bukan membunuh kalian," ucap Rakirawa yang muncul dari balik pohon bersama seorang pendekar sambil menarik pedangnya.


"Rakirawa?" Jatmiko tampak terkejut melihat murid barunya tersenyum dingin.


"Guru, mohon untuk tidak berteriak atau akan ada yang mati dari setiap teriakan guru. Sekte Angin Biru menerimaku dengan baik namun ada hal besar yang harus kulakukan demi dunia persilatan," Rakirawa menundukkan kepalanya dihadapan Jatmiko sebelum melompat turun.


"Apa yang harus aku lakukan? jika aku berteriak maka dia akan membunuh mereka semua, berfikir lah Jatmiko," ucap Jatmiko dalam hati sambil menatap pendekar dihadapannya.


Suasana kembali gelap saat awan gelap kembali menutup sinar bulan.


"Gawat! segel bayangannya," Rakirawa melompat naik sambil mencabut pedangnya, tanpa cahaya, segel bayangan tak akan berfungsi.


Namun betapa terkejutnya Rakirawa saat tubuhnya tak bisa digerakkan.


"Segel bayangan? bagaimana mungkin tanpa sinar bulan?" ucapnya bingung.


"Apa kau terkejut? sejak awal sinar bulan tak pernah menghilang, aku menggunakan segel kabut untuk mengelabui matamu seolah langit menjadi gelap. Sekarang mari kita dengar dari mana kau berasal?" ucap Wardhana sambil melangkah santai.


"Kau menipuku?" Rakirawa terlihat geram, dia menoleh kearah temannya yang juga mematung tak bisa bergerak.


"Bukan aku yang menipumu tapi dirimu sendiri, apa kau pikir sejak awal aku tidak tau kau mengincar danau itu? biar kutebak, ilmu kanuragan yang kau miliki cukup tinggi tapi sifatmu terlalu terburu buru, jika perkiraanku tidak salah kau adalah pendekar yang sudah cukup lama terkurung di suatu tempat tanpa pernah bertarung sekalipun," jawab Wardhana santai.


"Siapa kau sebenarnya? cukup sulit aku menerima jika ketua sekte besar memiliki ilmu kanuragan yang rendah sepertimu," ucap Rakirawa.


"Kau terlalu mendewakan ilmu kanuragan, dalam sebuah pertempuran kepintaran dan strategi tak kalah penting dari sebuah pusaka. Jika ilmu kanuragan begitu menentukan harusnya saat ini kau sudah membunuhku," balas Wardhana.


"Apa kau pikir dengan menangkap ku semua selesai? kami tak akan tinggal diam," ucap Rakirawa mengancam.


"Kau salah paham, aku tidak akan berhenti sampai sini, akan kupastikan kalian hancur," ucap Wardhana sambil memukul leher Rakirawa keras yang membuat dia roboh dan tak sadarkan diri.


Disaat bersamaan Ken Panca muncul dan memukul pendekar yang datang bersama Rakirawa.


"Tutup kembali lubang ini dan jangan ada yang pernah menggalinya kembali," ucap Wardhana.


"Ketua? bagaimana dengan misterinya?" tanya Jatmiko pelan.


"Misteri? aku sudah memecahkan semuanya, sekarang tinggal menunggu apa yang ditemukan Ciha di Trowulan," jawab Wardhana sambil menunjukkan lempengan batu dari sakunya.


"Lalu tuas itu?" tanya Jatmiko bingung.


"Itu tuas jebakan. (Batu kehidupan penanda gerbang suci terbuka), menandakan jika lempengan batu ini adalah kunci membuka gerbang suci. (Singkirkan semua ambisi untuk melihat apa yang yang tersembunyi didalamnya, atau tanah akan menelanmu), Buang semua ambisi saat kau sudah mendapatkan apa yang kau cari (Batu kehidupan) atau tanah akan menelanmu.


Kita diminta hanya mengambil batu ini tidak lebih. Jika kau terus berusaha masuk maka kau akan tewas, aku yakin tuas itu jebakan untuk mengubur kita hidup hidup," jawab Wardhana.


"Dia bisa memecahkan misteri itu hanya dalam waktu singkat?" ucap Jatmiko dalam hati.


***

__ADS_1


Sabrang yang sedang bicara bersama Arung dan Lembu sora tersentak kaget saat pintu ruangannya dibuka oleh seorang wanita setengah baya.


Wanita itu tampak menatap wajah Sabrang lembut, air matanya mulai menetes dari mata indahnya.


"Kau sudah dewasa," ucap Sekar Pitaloka dengan suara bergetar.


Sabrang tampak bingung, dia berdiri dan melangkah mendekati Sekar Pitaloka.


"Yang mulia," ucap Arung pelan.


"Tidak apa apa," balas Sabrang cepat, dia merasa sangat mengenali wanita dihadapannya itu.


Lembu sora tampak mengucek matanya berkali kali, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Anda mencariku?" tanya Sabrang sopan.


"Anda?" Wajah Sekar pitaloka berubah seketika.


"Panggil aku ibu!" Sekar pitaloka melepaskan sebuah pukulan yang membuat Sabrang terlempar beberapa langkah.


"Yang mulia," Arung bersiap menyerang namun teriakan Lembu sora menghentikannya.


"Arung hentikan! dia gusti ratu," teriak Lembu sora panik.


"Gusti ratu?" arung tampak bingung.


"Ibu? ibu masih hidup?" Sabrang tampak mulai memahami situasi.


Sekar Pitaloka berlari dan langsung memeluk Sabrang, sebuah pelukan erat yang sudah ditahannya selama puluhan tahun.


"Maafkan ibu nak," ucap Sekar Pitaloka terbata bata.


Sabrang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya namun hatinya mengatakan jika wanita yang memeluknya adalah ibunya.


Sabrang membalas pelukan Sekar pitaloka erat, dia merasakan kehangatan dari pelukan Sekar.


"Jika ibu masih hidup mengapa tidak menemuiku," ucap Sabrang pelan.


Mentari dan Wardhana yang baru datang ikut menatap haru pertemuan keluarga itu, mereka tersadar jika pengorbanan keluarga Ary Dwipa begitu besar demi menghentikan kejahatan leluhurnya.


"Ada alasan kenapa ibu baru menemuimu nak, yang terpenting saat ini ibu sudah bisa memelukmu, kau terlihat gagah dengan pakaian, kau sangat mirip ayahmu," balas Sekar Pitaloka.


Sekar pitaloka melepaskan pelukannya saat teringat sesuatu, dia menatap tajam Sabrang.


"Berani beraninya kau mengikuti jejak ayahmu," suara Sekar berubah seketika.


"Jejak ayah?" Sabrang tampak bingung.


"Aura membunuh itu kembali lagi setiap dia mengatakan Sabrang mengikuti jejak Arya Dwipa," ucap Wulan dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selamat malam minggu untuk para pemilik hati yang terbiasa tersakiti oleh kata kata Kita temenan aja ya, kamu terlalu baik buat aku, kamu sudah aku anggep kakak sendiri.... Preeet


bonus chapter sudah Author tepati... Ada satu usul yang cukup menarik untuk memunculkan Sekte Tuna Asmara... Astagaaa terus pendekarnya Jomblo semua??? bisa aja lu Sendok Semen!

__ADS_1


__ADS_2