
Kemunculan Pusaka Megantara di Hutan Kematian membuat semua orang termasuk Ken Panca menjadi lebih waspada dan memilih mengamati situasi terlebih dahulu.
Tak ada yang cukup gila berani berurusan dengan pusaka yang konon jauh lebih kuat dari Naga Api dalam situasi seperti ini, terlebih dengan kondisi Sabrang yang kesadarannya mulai hilang.
"Megantara seharunya tidak akan muncul sebelum diawali dengan berdirinya peradaban Maja, apa sesuatu telah terjadi?" ucap Ken Panca dalam hati.
Tuan, pusaka itu..." tanya Ratih sambil menatap pedang yang terus berputar di atas kepala Sabrang.
"Batalkan segel Bayangan Hitam sementara waktu, dia tidak akan membiarkanmu mendekatinya," jawab Jaya Setra pelan.
"Dia?" tanya Ratih makin bingung.
"Eyang Wesi, pusaka itu tidak akan membiarkan orang yang telah dipilihnya diserang begitu saja," jawab Jaya Setra cepat.
"Dia sudah memilih tuannya? Tapi bukankah kitab Sabdo Alam jelas mengatakan jika kebangkitan pusaka Megantara tidak akan terjadi sebelum munculnya peradaban Maja?"
"Sesuatu sepertinya telah memicu kebangkitan pusaka itu," jawab Jaya Setra.
"Jika pusaka itu bangkit lebih cepat bukankah itu artinya..." Ratih tidak melanjutkan ucapannya, dia masih belum bisa percaya dengan apa yang sedang mereka hadapi.
"Ada kemungkinan alur waktu telah berubah dan itu memicu pusaka itu bangkit lebih cepat, sepertinya ada seseorang yang telah menggunakan jurus terlarang yang tersembunyi didalam kitab Sabdo Loji," ucap Jaya Setra khawatir.
"Lalu apa yang akan kita lakukan tuan? Tubuh pendekar itu telah dikuasai sisi gelapnya, jika kita tidak cepat menyegel kekuatannya..."
"Eyang Wesi tidak akan membiarkan itu terjadi, sebaiknya kita lihat dulu situasinya," potong Setra cepat sambil menatap Pedang pusaka Megantara yang berputar makin cepat di udara dan membentuk perisai energi yang mengurung tubuh Sabrang.
Sabrang yang kesadarannya sudah di kuasai oleh sisi gelapnya tampak bingung saat tidak bisa menembus energi pelindung itu. Dia mengayunkan pedangnya untuk merobek dinding pelindung itu namun tak berhasil.
"Orang tua, bagaimana kau bisa ada ditempat ini? bukankah kekuatanmu masih tersegel?" tanya Naga Api lega saat merasakan energi pusaka itu masuk kedalam tubuh Sabrang perlahan.
"Tak ada waktu menjelaskannya, kita harus cepat membuatnya sadar kembali," balas Eyang Wesi cepat.
"Apa kau tau apa yang sebenarnya sedang terjadi? hampir separuh kekuatanku seolah hilang tiba tiba, aku bahkan tidak bisa menekan kekuatan sisi gelapnya yang berusaha menguasai tubuh anak ini," tanya Naga Api.
"Jurus mengendalikan waktu, seseorang baru saja menggunakan jurus terlarang itu untuk memutar waktu," jawab Eyang Wesi sambil mengalirkan tenaga dalamnya perlahan untuk mengambil alih kesadaran Sabrang.
"Jurus mengendalikan waktu?" tanya Naga Api bingung.
"Efek dari jurus terlarang ini sangat mengerikan, bukan hanya bagi penggunanya tapi juga semua orang yang terkena jurus ini. Selain dapat merusak dimensi waktu, memundurkan waktu membuat kekuatan menjadi tidak stabil dan itulah yang terjadi padamu."
"Pantas saja aku merasa kekuatanku menghilang tiba tiba," jawab Naga Api.
__ADS_1
Eyang Wesi memejamkan matanya saat energinya berhasil masuk ke alam bawah sadar Sabrang.
Bayangan kematian Sabrang mulai terlihat dalam pikiran Eyang Wesi, Sabrang menjerit kesakitan bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar hebat saat energinya terhisap dengan sangat cepat. Perlahan namun pasti kesadarannya mulai menghilang.
"Saatnya mengambil semua kekuatanmu sebagai langkah awal merebut tubuhmu," Ken Panca mulai menghisap energi Naga Api dan Anom kedalam tubuhnya.
Wajah Eyang Wesi berubah seketika, dia membuka matanya dengan nafas menderu.
"Anak ini seharusnya sudah mati. Gawat! akan banyak efek yang muncul dari jurus terlarang ini," Eyang Wesi kemudian merapal sebuah segel untuk menekan sisi gelap Sabrang dan menyegelnya kembali.
"Sialan! Kau selau ikut campur tua bangka!" teriak Iblis dari sisi gelap Sabrang.
"Apa kau pikir aku akan membiarkanmu mengambil tubuh anak ini? Jangan pernah bermimpi dan membusuk lah di ruang gelapmu!" balas Eyang Wesi.
Tubuh Sabrang kembali bergetar, benturan dua kekuatan di dalam tubuhnya membuat dia merasakan sakit yang luar biasa.
Tak lama aura yang meluap dari tubuhnya mulai menghilang saat sisi gelapnya berhasil tersegel.
"Naga Api! Apa kau bisa..." belum selesai Eyang Wesi bicara, Ken Panca berhasil menembus energi pelindung Megantara yang melemah akibat pertarungan kekuatan dengan sisi gelap Sabrang.
"Gawat, energi pelindungku melemah, Naga Api, bantu aku!" Pedang Megantara berusaha menangkis serangan Ken Panca namun terlambat, lengannya dengan cepat mencengkram leher Sabrang dan bersiap menggunakan ajian Ulat Sutra abadi untuk mengambil alih tubuhnya.
"Ratih, gunakan segel Bayangan Hitam sekarang!" teriak Jaya Setra cepat sambil bergerak kearah Ken Panca.
Jaya Setra mencabut pedangnya dan langsung menyerang namun energi Tongkat Cahaya Putih dengan cepat melindungi tubuh Ken Panca.
"Sepertinya aku harus cepat mengambil tubuhmu, kau benar benar mengerikan nak," Energi kehidupan Ken Panca mulai mengalir kedalam tubuh Sabrang.
"Winara, gunakan segel tanah!" ucap Wulan yang ikut bergerak menyerang.
Saat situasi semakin genting, sebuah lubang dimensi tiba tiba terbentuk dan menghisap tubuh Sabrang.
"Jurus dimensi ruang dan waktu?"
Ken Panca tidak tinggal diam, dia mencoba menggunakan jurus menghentikan waktu agar tidak kehilangan tubuh Sabrang namun tebasan pedang dari dalam lubang dimensi memaksanya melepaskan cengkraman tangannya.
"Untunglah aku datang tepat waktu, anda berhutang satu nyawa padaku Yang mulia," Minak Jinggo muncul di udara sambil menggendong tubuh Sabrang.
"Anak itu? bagaimana dia bisa menggunakan jurus dimensi ruang dan waktu," ucap Wulan terkejut.
"Nenek... Aku menyelamatkan Yang mulia, apa anda akan mengajariku jurus..." belum selesai Minak Jinggo bicara, Ken Panca sudah bergerak menyerangnya.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa memberiku waktu untuk membanggakan diri sebentar saja?" Minak Jinggo memutar tubuhnya, dia memanfaatkan efek serangan Ken Panca untuk melompat di udara.
"Si Bodoh, bagaimana dia bisa berfikir melompat di udara, kau tak akan memiliki pijakan untuk menghindar serangan berikutnya," umpat Wulan kesal.
"Dasar bodoh," Ken Panca kembali bergerak, dan sesuai dengan perkiraan Wulan, dia mengincar tubuh Minak Jinggo yang masih melayang di udara tanpa kuda kuda.
"Maaf Yang mulia, aku harus meminjam tubuhmu sebentar," Minak Jinggo melempar tubuh Sabrang kearah Ken Panca sebelum bergerak turun.
"Dia menggunakan tubuh Yang mulia sebagai tameng? apa orang itu sudah gila?" ucap Tantri terkejut.
"Jadi kau sudah putus asa? apa kau pikir dengan menyerahkan tubuh anak ini aku akan mengampunimu?" Ken Panca berusaha menangkap tubuh Sabrang sambil mempersiapkan serangan berikutnya.
Namun betapa terkejutnya dia saat tubuh Sabrang kembali terhisap kedalam dimensi ruang waktu dan disaat bersamaan gerakan Minak Jinggo menjadi sangat cepat seolah mendapatkan pijakan untuk mendorong tubuhnya di udara.
"Tidak mungkin... bagaimana kau menguasai jurus itu.." sebuah tebasan hampir saja menghantam Ken Panca andai dia terlambat melompat mundur.
"Kau pikir aku bodoh? selama aku hidup tak akan kubiarkan siapapun menyakiti Yang mulia," ucap Minak Jinggo yang muncul tepat disebelah Wulan.
"Tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Yang mulia katamu? apa yang tadi kau lalukan hampir membunuhnya bodoh," pukulan keras Wulan tiba tiba menghantam peru Minak Jinggo.
"Nenek... Kenapa kau selalu menyakitiku? aku sudah berusaha menyelamatkan dia," ucap Minak Jinggo kesal.
"Kau pantas mendapatkannya," balas Wulan tak kalah kesal.
"Bagaimana kau menguasai jurus yang hanya ada didalam kitab Sabdo Loji?" tanya Ken Panca tiba tiba.
"Jurus Kitab Sabdo Loji?" Wulan menoleh kearah Minak Jinggo.
"Nenek.. Aku tidak tau bisa menahannya sampai berapa lama, sebaiknya bawa tubuh Yang mulia menjauh karena pusaka itu sedang berusaha menyadarkannya," ucap Minak Jinggo mengalihkan pembicaraan.
Wulan menatap tajam pemuda itu sebelum mengangguk pelan.
"Kau berhutang penjelasan padaku. Tantri, Elang, Gendis bantu dia," ucap Wulan sebelum bergerak mundur bersama Winara.
"Baiklah.. mari kita lihat sejauh mana mata ini bisa berkembang," Minak Jinggo kembali bergerak menyerang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam ini sedikit lebih pendek dari biasanya karena saya sedang sibuk mengurus perpanjangan kontrak di perusahaan tempat saya bekerja.. Semoga kalian mengerti...
Besok nama nama yang akan saya kirim Naskah Geger di Tanah Nusantara akan saya share...silahkan follow IG saya untuk mengirimkan Email karena naskah akan saya kirim.via email... terima kasih....
__ADS_1