Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kemarahan Wijaya


__ADS_3

Wajah Agam mulai berubah saat serangan gabungan bersama Setra dan Wahyu Tama yang ditopang oleh Wulan mampu dihindari oleh Ken Panca dengan sempurna.


Walau Agam sudah memperkirakan Ken Panca adalah lawan yang sulit dihadapi namun dia tidak menyangka salah satu tetua Suku Sungai Kuning itu begitu kuat. Perbedaan kemampuan mereka begitu jauh terlebih setelah Ken Panca menggabungkan kekuatannya dengan energi Tongkat Cahaya Putih.


Walau sesekali cukup merepotkan tapi Ken Panca masih terlihat tenang menghadapi serangan dari berbagai arah itu.


"Dia jauh lebih kuat dari ayah," umpat Agam kesal.


"Sudah lama sekali aku tidak merasakan kesenangan seperti ini sejak pertarungan dengan Purwati, kalian benar benar berhasil menghiburku," Ken Panca tiba tiba tiba merubah gerakannya, dia langsung bergerak kearah Setra saat berhasil memaksa Agam mundur.


Ayunan pedangnya begitu cepat, menebas Wahyu Tama yang berada didekatnya sebelum menyerang Setra.


Gerakan Ken Panca yang sangat cepat dan hanya dalam hitungan detik itu tak mampu dihindari Wahyu Tama.


"Dia mematahkan jurus Sabdo Palon milikku dengan mudah?" tubuh Wahyu Tama terhempas ke tanah dengan luka sabetan di bagian perutnya.


"Tarian pedang kegelapan, tingkat dua : Tusukan seratus pedang," tubuh Ken Panca sudah berada didekat Jaya Setra, ayunan pedangnya terus berusaha menjangkau leher Setra.


Setra tidak tinggal diam, dia menggunakan jurus yang sama untuk menangkis serangan itu. Melihat ada sedikit celah, Agam dan Wulan bergerak mendekat dari dua arah.


"Jurus Pedang Kegelapan."


"Jurus Pedang Cahaya Bulan."


"Kalian melakukan hal yang sia sia," Ken Panca memejamkan matanya tiba tiba sebelum waktu disekitar mereka berhenti. Lingga yang juga sedang bertarung dengan para pendekar Lembayung Merah merasakan efek jurus itu, tubuhnya berhenti seketika bersama bebatuan yang melayang disekitarnya.


"Jurus ini? tidak mungkin..." Jaya Setra memaksa tubuhnya bergerak namun tebasan pedang yang begitu cepat lebih dulu menghantam tubuhnya.


Tubuh ketiga pendekar itu terlempar cukup jauh dan membentur bangunan bangunan yang sudah roboh akibat pertarungan sebelumnya.


Serangan yang sangat cepat, bahkan Wulan dan Agam tidak menyadari kapan Ken Panca berpindah tempat setelah menyerang Jaya Setra.


"Bagaimana kau bisa menggunakan jurus itu? ayah bukan keturunan Atlantis," ucap Jaya Setra sambil mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan.


"Kau lupa aku pernah merasuki tubuh ibumu, dan tubuh ini sejak awal memang memiliki mata bulan," jawab Ken Panca sambil mengaktifkan mata bulannya.


"Mata bulan ya..." ucap Wahyu Tama pelan, dia berusaha mengingat kembali pesan gurunya sebelum kematiannya.


"Dia terlalu kuat... kami tak akan bisa menahannya terlalu lama," ucap Wulan dalam hati, wajahnya mulai memperlihatkan guratan khawatir.


Wulan memperkirakan Ken Panca bahkan jauh lebih kuat dari gabungan Sabrang dan Lakeswara sekalipun. Dengan mata bulan dan energi Tongkat Cahaya Putih, kekuatannya seolah tak terbatas.


"Sial! aku harus cepat mengalahkan orang ini dan membantu mereka," Lingga tiba tiba meningkatkan kecepatan serangannya, dia ingin menghabisi Gara secepatnya dan membantu yang lainnya menghadapi Ken Panca.


"Apa kau berniat membantu mereka? sepertinya di matamu aku begitu lemah... Baik, akan aku tunjukkan padamu kekuatan pendekar Lembayung Merah yang sebenarnya padamu!" ucap Gara pelan.


"Kau terlalu banyak bicara, jika memang memiliki kemampuan, tunjukkan padaku!" umpat Lingga kesal.


Gara terlihat mulai serius, dia bergerak lebih cepat dan serangan serangannya kini mengandung tenaga dalam yang cukup besar.


Keduanya kembali bertukar jurus di udara, Lingga yang sudah menggunakan separuh energi Kemamang secara mengejutkan masih kesulitan menekan lawannya.


Lingga dipaksa mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mengalahkan komandan Lembayung Merah itu.


"Dia jauh lebih kuat dari semua lawan yang pernah kau hadapi sebelumnya, tanpa menggabungkan kekuatan kita, kau tak mungkin bisa mengalahkannya," ucap Kemamang tiba tiba.


"Menggabungkan kekuatan kita?"


"Kecuali Iblis Api yang bisa leluasa menggunakan energinya, semua ruh batu Satam memerlukan perjanjian darah dengan tuannya untuk memaksimalkan kekuatan kami. Aku menawarkan kekuatan padamu tapi sekali perjanjian darah dibuat selamanya kita akan terikat sampai kau mati," jawab Kemamang.


"Kau menawarkan kekuatanku padaku? apa itu artinya kau sudah mengakui aku?"

__ADS_1


"Jangan terlalu besar kepala, kau jauh lebih lemah dari "dia", aku hanya tidak ingin orang yang membunuh tuan Sanjaya seenaknya menghancurkan dunia ini."


"Terikat selamanya denganmu? tidak terlalu buruk, lakukan.." belum selesai Lingga bicara, tubuh Gara menghilang dari pandangan.


"Dia masih bisa lebih cepat?" Gara muncul di sisi kiri Lingga dan langsung menyerang.


Lingga yang tidak siap dengan serangan cepat itu berusaha menghindar sekuat tenaga namun pedang Gara lebih dulu menebas lehernya sebelum bisa bergerak sedikitpun.


"Apa aku benar benar mati hari ini? Guru...maafkan aku..." Lingga meraba lehernya sebelum menghilang dari pandangan.


Senyum kemenangan di wajah Gara menghilang seketika saat melihat tubuh Lingga hilang dari pandangan.


"Dia...bagaimana mungkin...aku yakin sudah memenggal kepalanya," umpat Gara sambil menatap sekitarnya.


Lingga masih memegang lehernya saat muncul disebuah ruangan berukuran besar yang didominasi warna merah.


"Apa aku sudah mati?" Lingga menurunkan tangan dari lehernya, dia tampak sudah tidak perduli lagi dengan lehernya itu.


"Setelah Arjuna...aku tak pernah terpikir akan menarik orang lain masuk ruang dimensi milikku dan menjadikannya tuan, namun sepertinya situasi memaksaku merubah keputusan. Selamat datang di ruang dimensi Kemamang," ucap seorang pria setengah baya yang mengenakan pakaian serba hitam.


"Ruang dimensi?" tanya Rubah Putih bingung.


"Kau benar benar tuan yang bodoh," umpat Kemamang sambil menggeleng pelan.


"Setiap ruh batu Satam memiliki ruang dimensi masing masing dan saat ini kau berada di ruang dimensi milikku. Kita tidak punya banyak waktu, apa kau sudah siap?" ucap Kemamang sambil membentuk pisau kecil dari energinya.


"Jadi Arjuna adalah tuanmu sebelumnya?" tanya Lingga sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Dia bukan hanya tuan bagiku, Arjuna adalah satu satunya orang yang melihatku bukan sebagai sebuah senjata...bersiaplah, kau akan menerima seluruh kekuatanku," Kemamang memegang lengan kanan Lingga dan menggores jari telunjuknya dengan pisau.


"Saatnya menyatu denganku," Kemamang menempelkan jari telunjuk Lingga di keningnya sambil memejamkan mata.


Lingga tersentak kaget saat merasakan aura besar masuk kedalam tubuhnya dengan cepat, dia menjerit kesakitan dan merasakan tubuhnya seperti terkoyak.


"Rasa sakit itu belum seberapa, bersiaplah untuk penyatuan tahap akhir," puluhan bola api yang melayang di udara tiba tiba berputar cepat sebelum masuk kedalam tubuh Lingga.


Jeritan kesakitan Lingga kembali terdengar namun kali ini jauh lebih mengerikan, tubuhnya bergetar hebat sebelum terjatuh dalam posisi terduduk dan muncul tepat dihadapan Gara.


"Dia? dari mana munculnya orang ini...?" Gara langsung mengayunkan kembali pedangnya, dia tidak ingin membuang waktu untuk membunuh Lingga yang auranya kali ini tampak berbeda.


"Lambat!" Lingga menangkis serangan itu dengan pedangnya sebelum menghilang dari pandangan.


Gara yang terkejut terlihat berusaha mundur dan mengatur kembali serangannya namun belasan sayatan pedang tiba tiba mnghiasi tubuhnya.


"Tarian Iblis pedang," Lingga muncul kembali di sisi kanan dan berusaha menebas leher Gara.


"Kecepatannya terus meningkat... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Gara yang kali ini lebih siap melompat beberapa langkah dan menangkis serangan itu.


Suara ledakan akiba benturan tenaga dalam mengejutkan semuanya termasuk Ken Panca, dia cukup yakin Lingga bukan tandingan Gara.


"Kemamang?" ucap Ken Panca terkejut.


Lingga dan Gara terlihat terlempar bersamaan akibat efek benturan, sebuah lubang besar tampak terbentuk di tanah bekas kedua pusaka itu beradu.


"Apa kau sudah mengerti sekarang jika aku tak kalah kuat dari Iblis Api itu?," ucap Kemamang congkak.


Lingga tidak menjawab ucapan Kemamang, dia masih menikmati sensasi energi besar yang meledak ledak didalam tubuhnya.


"Tubuhku ringan sekali," ucapnya takjub.


Jika Lingga mulai bisa tersenyum, hal berbeda justru diperlihatkan Gara. Wajahnya memburuk seolah mengerti seberapa besar kekuatan pusaka pedang langit itu.

__ADS_1


Gara menggunakan hampir semua kekuatannya untuk serangan tadi dan Lingga bisa menangkisnya.


"Tidak mungkin... bagaimana ruh itu memilih dia sebagai tuannya?" ucap Gara tak percaya.


"Ah... sepertinya pertarungan kali ini akan jauh lebih menarik," ucap Lingga sambil menunjuk lehernya yang hampir terpenggal tadi.


"Kau berhutang satu tebasan padaku," ucap Lingga sebelum bergerak menyerang.


***


"Maaf tuan, nona Mentari tidak bisa diselamatkan," ucap salah satu pendekar medis Lembayung Hitam sambil menggeleng pelan.


"Tidak mungkin...berani sekali kau bicara seperti itu! Cepat selamatkan dia," teriak Wijaya kesal, dia mencabut pedangnya dan mengalungkan goloknya ke leher pendekar Lembayung Hitam itu.


"Tuan tolong kendalikan diri anda dan letakkan golok itu, kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya," ucap pendekar satunya.


"Berusaha katamu? bagaimana mungkin tetua Wulan Sari yang terluka lebih parah bisa kalian selamatkan tapi tidak dengan nyonya selir?" bentak Wijaya.


"Mereka berdua berbeda tuan, luka nona Mentari memang tidak terlalu berbahaya tapi Li Yau Fei mengambil paksa ruh Tongkat Cahaya Putih yang selama ini bersemayam di tubuh nona ini dan itu merusak organ dalamnya," jawab pendekar itu cepat.


"Turunkan golok itu tuan, percuma membunuhnya karena nona Mentari tidak akan bisa hidup lagi," timpal pendekar satunya pelan.


"Li Yau Fei...aku bersumpah akan membunuhmu!" Wijaya menarik pedangnya dan keluar dari ruangan, namun baru beberapa langkah dia berjalan puluhan pendekar Lembayung Merah yang sejak tadi mencari mereka menghadang langkahnya.


"Apa kau mau melarikan diri?" ejek salah satu pendekar Lembayung merah.


"Melarikan diri katamu? sejengkal pun aku tak akan pergi sebelum membunuh kalian semua," jawab Wijaya yang sudah bersiap menyerang.


"Membunuh kami?" para pendekar itu tertawa mengejek.


"Kalian akan menerima semua akibatnya," aura yang cukup besar tiba tiba meluap dari tubuh Wijaya sebelum bergerak menyerang.


Wajah para pendekar itu berubah seketika saat merasakan aura yang menekan mereka.


"Dia bukan pendekar..." salah satu pendekar Lembayung Merah yang menyadari kekuatan Wijaya berusaha menghindar namun belum dia selesai bicara, kepalanya sudah terpenggal.


"Bentuk formasi! bunuh dia secepatnya!" teriak temannya panik namun semua sudah terlambat, Wijaya yang sudah menguasai ledakan tenaga dalam Iblis mengamuk dan mengambil nyawa mereka satu persatu.


Wajah Wijaya sudah memerah akibat terkena semburan darah lawannya namun itu tidak menghentikan dia untuk terus membunuh.


Wijaya merasa tidak bisa menjaga kepercayaan yang diberikan Sabrang padanya dengan terbunuhnya Mentari. Dia sudah bertekad untuk membunuh semua musuh yang dilihatnya walau tubuhnya harus hancur berkali kali.


Para pendekar Medis Lembayung Hitam yang melihat kekejaman Wijaya hanya mampu menelan ludahnya, mereka sadar pria itu sudah dikendalikan oleh amarahnya.


Wijaya terus bergerak sambil memainkan goloknya dan menghabisi semua lawan yang berada dalam jangkauannya.


Aksi Wijaya menarik perhatian Wulan yang sedang memulihkan lukanya, walau tidak terlalu mengenalnya tapi baru kali ini dia melihat Wijaya mengamuk seperti itu.


"Apa sesuatu terjadi pada Tari?" ucapnya khawatir.


"Tak ada yang akan kubiarkan hidup," Wijaya melompat kearah salah satu pendekar yang berada di dekatnya, dia mengalungkan goloknya sebelum menggorok leher pendekar itu.


Darah segar kembali membasahi wajahnya, kini seluruh tubuhnya sudah memerah sepenuhnya.


"Hentikan orang gila itu!" teriak para pendekar Lembayung Merah yang sudah mengepung Wijaya.


Wijaya mengusap wajahnya sambil mengatur napas yang mulai tersengal.


"Majulah kalian semua," ucapnya dingin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Vote nya jangan lupa Mblo...


__ADS_2