
"Ibu ratu, anda baik baik saja?" Wardhana berlari kearah Sekar Pitaloka saat melihatnya sedang mengobati luka dalam sambil sesekali menoleh kearah pertarungan antara Rubah Putih dan Ajidarma yang semakin sengit.
"Tuan Rubah Putih semakin kuat," ucap Wardhana dalam hati, wajahnya tampak lega setelah melihat pendekar rambut putih itu karena setelah kepergian Sabrang mungkin hanya dia yang mampu mengimbangi Ajidarma.
Walau Rubah Putih terlihat sedikit lebih unggul dengan Ledakan tenaga dalam Iblis namun pertahan es sempurna Ajidarma masih belum mampu di tembusnya.
"Wardhana, dimana yang mulia?" balas Sekar Pitaloka cepat.
"Maaf ibu ratu, saat ini Yang mulia sedang dalam perjalanan kembali ke keraton bersama nyonya selir," balas Wardhana pelan sambil menunduk, rasa bersalah kembali masuk dalam pikirannya.
"Kembali ke keraton? apa maksudmu?" kejar Sekar Pitaloka.
"Saat ini pangeran Pancaka dan pasukannya sedang bergerak ke ibukota," Wardhana kemudian menjelaskan situasinya pada Sekar termasuk kemungkinan keraton di kepung dari berbagai arah oleh pasukan Arkantara dan Saung Galah yang saat ini sedang dalam perjalanan.
Wajah Sekar Pitaloka langsung berubah, kenangan buruk saat Malwageni hancur langsung masuk dalam pikirannya.
"Anak itu! aku mengulurkan tangan untuk membantunya tapi dia justru menggigitku!" ucap Sekar Pitaloka geram.
"Semua adalah kesalahan hamba Ibu ratu, hamba berniat mengekang pergerakan Pangeran dengan menempatkannya di Saung galah tapi kemunculan utusan Arkantara di luar perkiraan. Izinkan hamba memperbaiki semua kesalahan ini Ibu ratu," ucap Wardhana.
"Tidak, kau tidak sepenuhnya salah, andai saat itu aku tidak terlalu lunak dan meminta Yang mulia membebaskannya mungkin kejadiannya tidak seperti ini," Sekar Pitaloka menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Sekar kemudian.
"Hamba yakin masih banyak para menteri dan pasukan Saung galah yang masih setia pada putri mahkota dan seharusnya dia menolak penyerangan ini. Sepertinya sesuatu terjadi pada putri dan menterinya, jika kita bisa membawanya ke medan perang aku yakin pasukan Saung galah akan berbalik menentang Pangeran.
Hamba ingin Candrakurama pergi ke keraton Saung Galah dan cari tau apa yang terjadi dengan putri mahkota dan membawanya ke medan perang," jawab Wardhana cepat.
"Hamba akan pergi sekarang tuan," jawab Candrakurama cepat.
"Sampaikan pesan pada tuan Putri jika Malwageni masih bersedia mengulurkan tangan untuk melindungi mereka" balas Wardhana.
"Baik tuan," Candrakurama menundukkan kepalanya pada Sekar Pitaloka sebelum melesat pergi.
"Berhati hatilah," ucap Wardhana.
"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Sekar Pitaloka.
"Hamba yakin Ibu ratu, saat ini semua bisa melihat seberapa besar ambisi Pangeran sampai berani menyerang Yang mulia dan Putri Saung Galah pasti lebih memilih berada di bawah Malwageni dari pada harus berurusan dengan Pangeran," jawab Wardhana.
"Begitu ya... Dia memang tidak akan berubah, ambisi telah menguasainya," Sekar Pitaloka menggeleng pelan.
"Sekarang saatnya memecahkan misteri peradaban Lemuria sebelum pergi ke medan perang," ucap Wardhana pelan sambil menatap puncak kuil Khayangan.
"Kau sudah bisa memecahkan misterinya?" tanya Sekar Penasaran.
Wardhana mengangguk pelan, "Jika perkiraan hamba benar, kita harus menguburnya agar tidak akan ada yang bisa menemukan tempat itu kelak."
Wardhana mulai memikirkan cara mencapai puncak kuil karena jalan satu satunya melewati bebatuan di tengah danau sedang terjadi pertarungan yang sengit.
Dia tidak mungkin menerobos pertarungan dengan tenaga dalam besar itu.
"Jika kau sedang memikirkan cara menuju kuil itu aku mungkin bisa membantumu. Ikut denganku, kita akan memutar dan melalui sisi lainnya," kedua tangan Sekar mengeluarkan hawa dingin sebelum bongkahan es muncul.
"Kuserahkan sisanya padamu tuan Rubah Putih," ucap Sekar sambil melesat kearah lain diikuti Wardhana.
Suara ledakan tiba tiba terdengar ketika jurus golok Rubah Putih membentur dinding es yang bergerak mengelilingi tubuh Ajidarma.
"Sial, es itu benar benar kuat," umpat Rubah Putih sambil menghindari serangan balik Ajidarma yang tak kalah cepat, dia bergerak lincah dan keluar dari danau saat bongkahan es mengejarnya bersamaan dengan energi pedang yang berputar cepat mengincar tubuhnya.
"Kau pikir bisa lolos dariku?" Hawa dingin terus meluap dari tubuh Ajidarma, kini separuh bangunan kuil sudah membeku akibat jurus es dewa abadinya.
Melihat kekuatan besar lawannya, Rubah Putih bukannya takut tapi justru semakin bersemangat, dia tidak sabar menggunakan jurus tertinggi Ledakan tenaga dalam Iblis yang sudah disempurnakannya.
"Teruslah bertambah kuat, dengan jurus baruku mungkin aku bisa mendekati Lakeswara," Rubah Putih kembali bergerak mendekat, dia menghindari serangan es dengan sempurna sebelum menyerang balik.
"Dia tersenyum? kau meremehkan aku!" ucap Ajidarma geram.
"Akan aku tunjukkan apa itu rasa putus asa!" mata Ajidarma memerah seiring dengan kecepatannya yang terus meningkat.
"Bagus, jika hari ini aku kalah maka aku tak akan pernah bisa menang melawan Lakeswara," aura besar juga meluap dari tubuh Rubah Putih. Mereka terus bertukar serangan di udara yang menimbulkan ledakan ledakan besar.
***
Sabrang melesat cepat diantara pepohonan, dia menggunakan ajian Ajian Inti lebur untuk mempercepat gerakannya.
Dia mengaktifkan mata bulannya saat melihat sepuluh orang bergerak kearahnya dengan kecepatan tinggi. Sabrang langsung mengeluarkan pedang Naga Apinya dan bersiap menyambut serangan.
__ADS_1
Saat mereka sudah berhadapan, sepuluh pendekar itu langsung menarik auranya setelah mengetahui orang yang berada dihadapannya adalah Sabrang.
"Yang mulia?" ucap salah satu pendekar terkejut, mereka langsung berlutut di hadapan Sabrang. "Hibata memberi hormat pada Yang mulia," ucap mereka bersamaan.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Sabrang bingung.
"Saat ini kita telah terkepung Yang mulia, Saung Galah memecah pasukannya menjadi tiga dan kami diperintah Gusti ratu untuk mengacaukan pergerakan mereka untuk mengulur waktu," balas pendekar itu.
"Bagaimana keadaan keraton?" tanya Sabrang cepat.
"Gusti ratu telah memperketat penjagaan di seluruh akses masuk ibukota termasuk gerbang utama, nona Arina juga memerintahkan sebagian pasukan untuk membuat parit perlindungan di beberapa titik untuk mengulur waktu sampai nona Tantri selesai mengungsikan penduduk di sekitar Ibukota ke dalam keraton.
Sekte Api dan angin, Teratai merah dan Rajawali emas sudah bergabung dengan pasukan kita di Ibukota dan hamba dengar Naga langit juga dalam perjalanan dari Celebes dan siap bergabung," jawab pendekar itu cepat, dia menjelaskan semuanya untuk memberikan gambaran pada Sabrang.
"Lalu di mana anakku saat ini?"
"Pangeran sudah aman di sekte Pedang Naga Api bersama tetua Ageng, hamba juga sudah mengutus dua pendekar Hibata untuk ikut melindungi pangeran."
Wajah Sabrang tampak lega setelah mendengar Tungga Dewi dan Arina sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.
"Syukurlah... lalu siapa namamu?"
"Nama hamba Kara, Yang mulia," jawab Pendekar itu.
"Kara?" Sabrang tampak berfikir sejenak sebelum meminta topeng salah satu pendekar Hibata.
"Aku akan mengambil alih pimpinan, tunjukkan padaku di mana pasukan Saung Galah berada," ucap Sabrang sambil memakai topeng Hibata di wajahnya.
"Yang mulia? apa tidak sebaiknya anda kembali ke keraton dan memimpin dari tempat yang aman," ucap Kara terkejut.
"Tidak, aku yakin Dewi dan yang lainnya aman untuk sementara waktu karena dikeliling para tetua sekte besar dan paman Wardhana akan bergabung secepatnya. Namun sebaik apapun strategi paman tidak akan berkutik jika kita di serang dari segala arah dan harus ada yang menghancurkan mereka sebelum bergerak," jawab Sabrang pelan.
Kara mengangguk pelan setelah mendengar ucapan Sabrang, dia kemudian menunjukkan titik perkemahan pasukan Saung Galah yang didapatkan dari para Telik sandi.
"Tidak terlalu jauh dari sini ya? ayo kita hancurkan mereka," ucap Sabrang sambil bergerak kearah yang ditunjukkan kara.
"Yang mulia," Emmy tiba tiba muncul dan mengejar Sabrang.
"Pergilah ke keraton dan katakan pada Dewi aku akan segera kembali setelah menghancurkan pegerakan Saung Galah, sampai Paman Wardhana kembali dia yang akan memimpin perang kali ini," ucap Sabrang pelan sebelum kembali bergerak.
"Berhati hatilah Yang mulia," balas Emmy cepat.
***
Pancaka memang memecah pasukan Saung Galah menjadi tiga kelompok atas saran Agam untuk mengepung Malwageni sambil menunggu pasukan Arkantara sampai di tanah Jawata.
Agam sadar, walau sudah menjauhkan Wardhana dari keraton tapi tidak ada yang bisa menjamin patih Malwageni itu kembali dengan rencana rencana berbahayanya.
Dia harus memastikan rencananya berjalan sempurna karena lawan yang kali ini dihadapi bukan sembarangan, seorang pria yang dijuluki Naga tidur dari Malwageni.
Hal itulah yang sebenarnya masih membuat Pancaka takut sampai saat ini, dia tidak bisa membayangkan jika sampai Wardhana tiba tiba muncul dalam peperangan dan membalikkan keadaan.
Butuh Waktu lama baginya menerima tawaran Agam untuk merebut Malwageni sebelum dia mendengar rencana menjauhkan Wardhana dari keraton.
"Yang mulia," ucap Gardika pelan saat melihat Pancaka melamun di dalam tendanya.
"Bagaimana situasinya?" tanya Pancaka pelan.
"Telik Sandi yang kita sebar di sekitar kaki bukit menoreh mengatakan jika belum ada melihat Wardhana, sepertinya dia di sibukkan oleh sesuatu di tempat itu," jawab Gardika cepat.
"Begitu ya... lalu bagaimana dengan kakakku?"
"Dia juga tidak terlihat Yang mulia, ada kemungkinan mereka belum mengetahui situasi Malwageni," balas Gardika.
"Terus awasi tempat itu dan siapkan pasukan pemanah di sana, aku ingin kalian menghentikan mereka apapun caranya jika mereka mulai bergerak," ucap Pancaka.
"Masih belum terlambat untuk mundur Yang mulia, saat ini anda sedang bermain main dengan kematian. Raja Malwageni itu gak akan bisa dihentikan walau ratusan pasukan pemanah menghadangnya, sebaiknya anda memikirkan kembali selagi sempat karena jika sampai mereka berdua bergerak bersama aku tak yakin ada yang bisa menghentikannya," sahut Gardika sedikit khawatir.
Gardika pantas khawatir, dia sudah melihat sendiri bagaimana mengerikannya kepintaran Wardhana dan kekuatan Sabrang menyatu saat menghancurkan pasukan elit Tangan besi Majasari beberapa tahun lalu di Kadipaten Wanajaya.
"Kau boleh mundur dari posisimu sebagai Adipati Wanajaya jika kau takut, saat ini aku mempertaruhkan semuanya termasuk nyawaku jadi tidak asa tempat bagi pengecut sepertimu!" bentak Pancaka kesal.
Wajah Gardika mengeras menahan amarah, ingin sekali dia membunuh Pancaka andai tidak dilindungi oleh Arkantara.
"Maafkan jika sikap hamba menyinggung anda Yang mulia, hamba akan mempersiapkan pasukan untuk keberangkatan malam ini," Gardika menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
Namun belum sampai Gadrika keluar tenda beberapa prajurit berlari masuk dan melaporkan jika ada yang menyerang perkemahan mereka.
__ADS_1
"Menyerang kita? apa mereka prajurit Malwageni?" rasa takut mulai terlihat di wajah Gardika.
"Sepertinya bukan tuan, mereka hanya berjumlah sepuluh orang dan mengenakan topeng aneh berwarna emas," balas prajurit itu panik.
"Hanya sepuluh orang dan kalian tidak bisa mengatasi mereka?" umpat Pancaka kesal, dia menyambar pedangnya dan melangkah keluar.
Mandaka tampak sudah berdiri di depan tenda dengan wajah gusar.
"Apa paman tidak bisa mengatasi mereka?" bentak Pancaka.
"Mereka organisasi Hibata dan tampaknya bukan Candrakurama yang memimpin mereka," ucap Mandaka pelan.
"Hibata?" sahut Pancaka terkejut.
***
Sabrang dan sepuluh pendekar Hibata tampak di kelilingi puluhan pasukan Saung Galah yang siap menyerang.
"Siapapun kalian sebaiknya pergi atau kami akan bertindak kasar," ucap salah satu prajurit sambil memberi tanda pada pasukan pemanah yang berada di atas pepohonan untuk bersiap menyerang.
Sabrang mengeluarkan dua pisau Tumbuk Lada di kedua tangannya sambil tersenyum dari balik topeng.
"Pergi dan cari siapa pemimpin mereka dan bawa kehadapan ku secepatnya, biar aku yang mengurus mereka dan usahakan jangan membunuh jika tidak terpaksa karena bagaimanapun mereka masih bagian dari Malwageni," Sabrang melepaskan aura hitam dari tubuhnya sebelum melempar pisau tumbuk lada ke para prajurit dihadapannya untuk memberi jalan pada pendekar Hibata pergi.
"Serang!" teriak salah satu prajurit.
"Kalian pikir panah panah itu bisa menghentikan aku?" Sabrang membentuk dinding es disekitarnya sebelum memunculkan puluhan energi keris di udara dan bergerak menyerang.
Sepuluh pendekar Hibata langsung bergerak maju saat serangan Sabrang membuka celah pertahanan pasukan Saung Galah, mereka melesat cepat diantara lesatan anak panah yang sebagian tidak berhasil di hentikan oleh dinding es Sabrang.
"Energi keris penghancur," para prajurit Saung Galah tersentak kaget saat energi keris yang melayang di udara tiba tiba bergerak kearah mereka.
Formasi tempur Saung Galah langsung hancur seketika, mereka bergerak ke segala arah untuk menghindari serangan Anom namun di sisi lain Sabrang terus menyerang dengan pisau tumbuk ladanya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa anak panah yang berhasil menembus perisai es hancur menjadi debu sebelum sampai ke tubuh Sabrang.
Energi Anom menjadi sangat kuat bersamaan dengan kekuatan Sabrang yang terus meningkat.
Yang terlihat berikutnya adalah puluhan prajurit tumbang dengan luka di kedua kakinya, Sabrang memang hanya berniat melumpuhkan mereka tanpa berniat membunuh.
"Aku hanya ingin bicara dengan pemimpin kalian, mundurlah," ucap Sabrang sambil melangkah pelan.
Para prajurit pemanah hanya mampu menatap Sabrang tanpa berani menyerang, mereka merasa menyerang Sabrang bukan pilihan bijak setelah melihat bagaimana anak panah mereka hancur oleh sesuatu yang berasal dari tubuh pemuda itu.
Para prajurit yang masih mengelilinginya hanya bisa mengikuti langkah Sabrang tanpa berani menyerang karena puluhan energi keris berputar di atas mereka.
Sabrang menatap kearah pertarungan pendekar Hibata yang berada tak jauh darinya, mereka terlihat dikepung oleh para prajurit Saung Galah.
Saat sedang melihat pertarungan itulah seorang pendekar melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi dan langsung menyerangnya.
Sabrang tidak bergerak sama sekali seolah memancing pendekar itu mendekat.
"Mandaka? jadi Pancaka ada di sini ya," Dinding es kembali terbentuk dihadapan Sabrang saat serangan Mandaka hampir mengenainya, dia menyentuh dinding es itu dan menghancurkannya sebelum melepaskan tapak peregang sukma yang membuat tubuh Mandaka terpental beberapa langkah.
"Jurus es? jangan jangan?" wajah Mandaka menjadi pucat saat menyadari sesuatu.
"Itu pasti dia, hanya dia yang menguasai jurus es itu," Gardika yang melihat dari jauh mulai panik, apa yang ditakutkannya benar benar terjadi.
"Kalian benar benar tidak tau di untung, aku sudah mengampuni kalian tapi ini balasannya?" Tubuh Sabrang menghilang tiba tiba dan muncul tepat dihadapan Mandaka.
Mandaka tak mampu bereaksi apapun ketika lengan Sabrang mencekik lehernya cepat. Tubuhnya menjadi kaku setelah energi Sabrang masuk ke tubuhnya dengan cepat.
"Bagaimana dia bisa bergerak begitu cepat," ucap Mandaka dalam hati sebelum menjerit saat merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
"Yang mulia... ini semua salahku dan tidak ada hubungannya dengan pangeran," ucap Mandaka terbata bata.
"Kau masih melindunginya? kalian akan mendapatkan hukuman yang sangat berat kali ini, aku pastikan itu!" Sabrang melempar tubuh Mandaka yang sudah tidak berdaya saat seorang pendekar Hibata mendekatinya.
"Yang mulia, pangeran berada di sini tapi dia berhasil melarikan diri," ucap Kara pelan.
"Melarikan diri? aku akan mengurusnya setelah membereskan dia," pandangan Sabrang beralih ke arah Gardika yang masih bertarung dengan salah satu pendekar Hibata.
"Aku harus memberi mereka pelajaran untuk tidak main main dengan Malwageni," ucap Sabrang dingin.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan Lupa mampir ke PNA versi Audio ya Mblo....
__ADS_1
Besok PNA akan tetap update walau mungkin agak malam...