Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perjalanan Panjang Emmy


__ADS_3

Emmy tampak menaiki sebuah kapal besar seorang diri, dari atas kapal beberapa awak menyambutnya dengan sopan.


"Selamat datang nona, kami sudah menunggu kedatangan anda," ucap salah satu awak kapal menyapa.


Emmy hanya mengangguk pelan sambil memperhatikan kapal itu, dia tidak menyangka Wardhana akan menyewakan kapal yang menurutnya terlalu besar untuk dirinya sendiri.


Emmy memang memutuskan untuk memeriksa lereng gunung Indrapura sendiri karena itu akan memudahkan pergerakannya. Bepergian bersama Leny Darrow yang sudah menjadi incaran para pasukan kuil suci jelas akan menghambat gerakannya bahkan mengundang bahaya yang jauh lebih besar.


Selain itu, Leny yang menguasai ilmu pengobatan Swarna Dwipa diminta mengobati Lingga yang sampai saat ini belum sadarkan diri.


"Paman terlalu berlebihan," ucapnya dalam hati.


"Nona, mari aku antar ke kamar anda," ucap awak kapal itu sambil menunjukkan jalan buat Emmy.


Emmy mengangguk pelan, dia melangkah sambil mengamati kapal mewah itu.


"Kapal ini sebenarnya terdapat belasan kamar namun sebagian sudah terisi oleh beberapa pendekar yang juga hendak menuju daratan Swarna Dwipa nona," ucap awak kapal itu menjelaskan.


"Beberapa pendekar?" tanya Emmy bingung, dia berfikir hanya dirinyalah penumpang di kapal itu.


"Ada empat pendekar yang menyewa dua kamar paling kiri itu nona, kemudian empat pedagang dari Malwageni di kamar sebelahnya dan seorang pemuda tampan tepat di kamar paling ujung. Kamar anda ada disebelah pemuda itu," jawab Awak kapal itu sambil menunjukkan sebuah kamar yang akan menjadi tempat Emmy beristirahat selama perjalanan.


"Setidaknya aku tidak sendirian di kapal ini," gumam Emmy dalam hati sambil membuka pintu kamarnya.


Sebuah ruangan yang cukup besar menyambutnya saat pintu terbuka, Emmy tampak takjub saat melihat tempat tidur dan jendela yang menghadap laut.


Dia kembali teringat perjalanan panjangnya bersama Sabrang dan yang lainnya saat mencari Rumah para dewa.


"Yang mulia selalu berdiam diri dikamar saat kapal mulai bergerak, mabuk laut membuatnya seperti orang lemah, bagaimana mungkin seorang pendekar terkuat tak berdaya saat berada di atas kapal," senyum mulai merekah di bibir Emmy tapi tidak bertahan lama, wajahnya berubah sedih setiap kali teringat Sabrang.


"Ada di mana anda saat ini Yang mulia?" ucap Emmy lirih, air mata kembali menetes dari mata indahnya.


Emmy meletakkan pedang di dekat tempat tidur sebelum melangkah ke jendela kamarnya.


"Semoga anda baik baik saja Yang mulia." Hembusan angin laut menerbangkan rambut indahnya, dia terus menatap jauh ke depan seolah ingin melepaskan beban berat di pundaknya.


"Nona, aku mohon diri untuk mempersiapkan makan malam, nanti akan ada yang memanggil anda jika makan malam sudah siap, semoga perjalanan anda menyenangkan," awak kapal itu undur diri dan menutup pintu kamar Emmy.


"Terima kasih tuan," jawab Emmy pelan.


***


"Nona...nona," sebuah suara membangunkan Emmy dari tidurnya, cukup lama dia diam sebelum menjawab panggilan dari luar.


"Tunggu sebentar," Emmy menyambar pedang dan menyelipkan di pinggangnya sebelum membuka pintu kamarnya.


"Makan malam sudah siap nona," sapa pemuda itu sopan sambil menunjuk dek kapal di dekat ruangan masak.


Emmy berjalan mengikuti pemuda itu, beberapa orang yang keluar dari kamar lainnya mengikuti mereka menuju dek kapal.


Emmy sempat melirik kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya, dari awal dia tidak melihat ada tanda tanda kehidupan dari kamar itu.


"Dia sudah berpesan untuk tidak diganggu selama perjalanan, sepertinya pemuda itu mabuk laut," ucap awak kapal seolah mengerti pertanyaan yang ada di kepala Emmy.

__ADS_1


"Mabuk laut?" Emmy terkekeh, dia kembali teringat pada Sabrang yang selalu tidak ingin di ganggu selama berada di atas kapal.


"Aku tidak menyangka ada seorang gadis cantik di atas kapal ini, sepertinya perjalanan kali ini tidak akan membuatku bosan," seorang pendekar yang telah lebih dulu sampai menyapa Emmy sambil tersenyum.


"Kau jangan macam macam, ingat tugas kita," bentak temannya.


"Jadi mereka empat pendekar yang tadi diceritakan pemuda itu," Emmy menatap mereka sinis, dia sudah bisa menebak jika mereka hanya pendekar rendahan yang merasa paling kuat dan biasanya suka menindas yang jauh lebih lemah.


Selama makan malam, Emmy selalu berusaha menjaga jarak dari para pendekar itu, dia lebih tertarik berbicara dengan seorang pedagang yang tubuhnya cukup besar.


"Jadi nona berasal dari ibukota? aku cukup sering berdagang di ibukota Malwageni tapi sepertinya aku tidak pernah melihat nona," pria besar yang bernama Dewanto itu berkata lembut.


"Aku seorang pendekar yang selalu mengembara tuan, tapi ayah ibuku tinggal di ibukota," jawab Emmy terbata bata, dia tidak mungkin mengatakan jika dirinya adalah selir raja.


Dewanto mengangguk sambil tertawa, dia menyodorkan kembali beberapa makanan enak, malam itu Emmy di jamu oleh para pedagang itu.


Wajah mereka terlihat sedikit lega saat mengetahui Emmy adalah seorang pendekar. Kehadirannya seolah menjadi harapan diantara empat pendekar lain yang sepertinya memiliki niat buruk.


"Nona harus mengunjungi kami saat kembali ke Malwageni," ucap pedagang lainnya.


"Aku tidak bisa menjanjikannya tuan tapi jika ada waktu aku akan datang," balas Emmy.


"Apa kita akan menghabisi gadis itu juga?" bisik salah satu pendekar yang dari tadi terus memperhatikan para pedangan itu.


"Jangan tergesa gesa, kita belum tau kemampuan nona itu. Masih ada waktu beberapa hari sebelum tiba di Swarna Dwipa untuk melihat kemampuan nona itu dan jika tidak memungkinkan kita akan merampok mereka saat di daratan," balas temannya sambil pergi meninggalkan dek kapal.


"Apa nona pernah mendengar perampok Elang hitam?" tanya Dewanto saat para pendekar itu sudah meninggalkan mereka.


"Perampok Elang hitam?" Emmy menggeleng pelan.


"Di kapal ini, selain para awak kapal hanya ada kita dan seorang pemuda yang tidak pernah keluar dari kamarnya, ku harap kita bisa saling menjaga nona," timpal pedagang lainnya.


"Anda tenang saja tuan, jika terjadi sesuatu aku pasti akan membantu kalian," jawab Emmy seolah mengerti kekhawatiran mereka.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Emmy memutuskan kembali ke kamarnya, tubuhnya masih terasa lelah karena perjalanan dari ibukota menuju dermaga kapal cukup jauh.


Emmy kembali menghentikan langkahnya di depan pintu kamar pemuda misterius itu, entah kenapa dia begitu penasaran pada pemuda yang diceritakan oleh para pedagang tadi.


"Kenapa aku begitu tertarik pada pemuda ini? seolah ada sesuatu yang menarik perhatianku," ucap Emmy dalam hati.


Cukup lama Emmy berdiri di depan pintu kamar itu sebelum melangkah masuk kamarnya.


"Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya sambil merebahkan kembali tubuhnya di tempat tidur. Bayangan wajah Sabrang kembali muncul dalam pikirannya, tidak ada yang tau jika selama Sabrang menghilang Emmy menyiksa tubuhnya dengan berlatih ilmu kanuragan dengan sangat keras.


Walau mungkin dia adalah selir kedua tapi Emmy selalu yakin cintanya pada Sabrang tidak lebih kecil dari Mentari dan Tungga Dewi.


Sabrang lah pria pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta, pemuda itu juga yang membuat Emmy memutuskan meninggalkan daratan Celebes hanya untuk mengikuti orang yang dicintainya.


"Yang mulia..."


***


"Kitab Sabdo Loji ada dua?" Wardhana tampak terkejut saat mendengar ucapan Wulan.

__ADS_1


"Itu yang kami temukan di sebuah makam kuno di bukit Punthuk Setumbu. Aku sangat terkejut saat menemukan kitab itu karena gusti ratu juga memiliki kitab Sabdo Loji," jawab Rubah Putih.


"Jadi selama ini, kitab itu memang berada di Malwageni, pantas saja para pendekar itu bicara seperti itu."


"Para pendekar itu?" tanya Wulan cepat.


"Beberapa hari yang lalu, seorang gadis yang merupakan ketua dari suku Hutan Dalam di Swarna Dwipa datang kesini untuk meminta bantuan. Dia mengatakan jika seluruh anggotanya tewas di bantai oleh para pendekar yang menamakan diri pasukan kuil suci. Dia juga mendengar jika pendekar itu menyebut sebuah kitab menurut mereka kini berada di Malwageni," jawab Wardhana.


"Pasukan Kuil Suci?" Wulan dan Rubah Putih saling berpandangan sebelum mengeluarkan catatan dari balik pakaiannya.


"Aksara Brahmi? dari mana kau mendapatkannya?" tanya Wardhana terkejut.


"Kami menemukan tulisan itu di makam kuno, apa kau bisa membacanya?" Wulan tampak penasaran.


Wardhana menggeleng pelan, "Aksara Brahmi jauh lebih tua dari Palawa, aku belum pernah mempelajarinya tapi sepertinya Ciha mampu membacanya."


Wardhana kemudian memanggil prajurit yang berjaga di luar dan memintanya untuk memanggil Ciha segera.


"Sepertinya memang ada yang tidak beres, kitab ini sengaja di taruh di makam kuno itu," ucap Wardhana pelan.


"Apa mungkin musuh trah Dwipa?" tanya Rubah Putih cepat.


"Sepertinya bukan tuan, sulit memperkirakan jika gusti ratu atau Yang mulia akan datang ke gua itu. Yang paling mungkin adalah, kitab ini memang sengaja di taruh di makam itu agar ditemukan oleh seseorang dengan tujuan tertentu dan kebetulan Gusti ratu yang menemukannya."


"Jadi mereka tidak perduli siapa yang akan menemukan kitab itu?" tanya Wulan.


"Itu yang paling mungkin saat ini dan sepertinya memang berhubungan dengan kerajaan Arkantara."


"Aku akan pergi ke Swarna Dwipa untuk menyelidiki masalah ini," balas Rubah Putih.


"Tidak tuan, sebaiknya kita tunggu dulu Ciha, aku yakin tulisan ini adalah pesan yang berhubungan dengan kitab Sabdo Loji," jawab Wardhana menenangkan.


Wardhana terlihat berfikir sejenak sebelum menyadari sesuatu.


"Gawat, jika benar ini berhubungan dengan kitab Sabdo Loji, nyonya selir dalam bahaya," ucap Wardhana panik.


"Nyonya selir?" Rubah Putih terlihat bingung.


"Beliau pergi ke lereng gunung Indrapura untuk menyelidiki pembantaian suku hutan dalam, aku tidak menyangka semua masalah ini berhubungan dengan kitab Sabdo Loji."


Wajah Wardhana terlihat lesu, terbayang dalam pikiran bagaimana rumitnya jika harus berurusan dengan Arkantara.


Beberapa tahun terakhir ini, terutama setelah para pendekar misterius yang menamakan diri sebagai Pasukan pelindung Kuil suci muncul dan menjadi pelindung Arlantara, kerajaan itu mulai maju pesat.


Kekuatan militer maupun ilmu pengetahuan mereka menjadi maju pesat, mereka bahkan mulai memperluas daerah kekuasaan dengan menyerang kerajaan kecil di sekitarnya.


Satu yang paling ditakuti dari Arkantara adalah ratusan prajurit misterius yang memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi. Mereka tak pernah kalah dalam berperang dan membunuh lawan tanpa menyisakan satupun.


"Aku harus cepat membuat situasi keraton kembali tenang dan meningkatkan kemampuan tempur pasukan angin selatan," ucapnya dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bonus pertama sudah saya penuhi, mudah mudahan akan ada bonus lagi besok atau lusa. Terima kasih yang sudah memberikan Vote pada Sabrang....

__ADS_1


Gunung Sinabung mendapat giliran untuk masuk sebagai latar di PNA dan seperti kita semua tau saat ini Sinabung kembali Erupsi. Saya doakan semua masyarakat yang berada di dekat gunung itu diberikan keselamatan dan dilindungi dari segala musibah amin....


sekali lagi terima kasih.....


__ADS_2