Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kehancuran Nuswantoro VII


__ADS_3

Jaya Setra tersentak kaget saat melihat ratusan pendekar aneh tiba tiba keluar dari lubang dimensi yang ada di udara bersamaan dengan berputarnya kembali waktu. Bagai sekawanan semut yang sedang mengincar makanan, mereka langsung bergerak menyerang Jaya Setra dan semua pendekar yang ada di Hutan Kematian.


Tidak hanya di Hutan Kematian, ratusan pendekar aneh itu juga keluar dari belasan lubang dimensi yang tersebar di seluruh penjuru langit Nuswantoro.


Kekacauan langsung terjadi di seluruh penjuru Nuswantoro. Para pendekar Iblis Loji menyebar dengan merasakan hawa kehidupan dan membunuh semua yang bernyawa tanpa ampun.


Ratusan bahkan ribuan orang langsung tewas tanpa bisa melawan dan menyelamatkan diri. Sebagian orang yang memiliki ilmu kanuragan sedikit beruntung, dengan sisa sisa tenaga dalamnya mereka melawan sampai mati. Belasan sekte baik aliran Putih, Netral dan Hitam yang selama ini selalu bersinggungan pada akhirnya saling melupakan permusuhan diantara mereka demi melawan Iblis Loji.


Hari ini, Alam seolah sedang mengajarkan pada mereka dengan caranya sendiri untuk melupakan permusuhan yang tak pernah berkahir baik.


Mereka bersatu dengan beberapa sekte terdekat, membentuk pertahanan dengan satu tujuan yang sama, melawan dan bertahan dari serangan para pendekar Cakra Loji seperti yang dilakukan sekte Naga Api dan Taring Serigala yang ada di sisi selatan gunung Merapi.


Sadar tak bisa menghadapi musuh sendirian, Taring Serigala memutuskan naik ke gunung Merapi dan meminta bantuan. Jika dalam situasi normal Sekte Pedang Naga Api jelas tidak akan menerima mereka dengan tangan terbuka, kekejaman Taring Serigala setelah hancurnya Iblis Hitam menjadi alasan utamanya.


Namun kali ini berbeda, ki Ageng justru menyambut dengan tangan terbuka dan bersatu untuk membentuk pertahan di lereng gunung.


Pertarungan terbuka pun terjadi di lereng Merapi, ratusan pendekar Pedang Naga Api dan Taring Serigala bersatu untuk mencegah para pendekar Iblis Loji naik ke puncak gunung.


"Satria, bawa semua yang terluka ke ruang perawatan, tutup akses gerbang utama sekte," teriak ki Ageng cepat saat melihat ratusan pendekar lainnya bergerak dari kaki gunung.


"Tetua, mereka seolah tak ada habisnya. Jika terus seperti ini kita semua akan tewas kehabisan tenaga dalam," ucap Cokro, ketua sekte Taring Serigala yang bertarung didekat Ageng.


"Bertahanlah, hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini, jika mereka berhasil masuk kedalam sekte maka habislah kita " balas ki Ageng cepat.


Ketua sekte Taring Serigala tampak menatap sekitarnya ngeri, dengan sisa tenaganya yang sudah terhisap oleh lubang dimensi yang ada di udara dia ragu bisa bertahan lama.


Cokro kemudian membuang sebuah kitab pusaka kebanggan sekte nya yang terselip di pinggang karena sedikit mengganggu gerakannya.


"Terlepas dari permusuhan diantara aliran hitam dan putih, aku berterimakasih anda mau menerima kami tetua, sedang bertarung dengan pendekar hebat sepertimu!" Cokro bergerak ke depan, dia ingin memberi kesempatan Ageng untuk mengambil napas.


"Aku pun demikian tuan, sepertinya bukan hal buruk mati di lereng gunung Merapi menjadi saksi dua sekte yang saling bertentangan bisa bersatu demi sebuah harapan," balas Ageng cepat.


Ratusan pusaka, kitab pedang dan ilmu kanuragan lainnya yang selama ini menjadi rebutan para pendekar itu seolah tak berharga lagi. pada akhirnya semua sadar jika nyawa jauh lebih berharga dan tidak bisa dibandingkan dengan ilmu pedang apapun yang selama ini menjadi sumber permusuhan.


Saat situasi semakin mencekam karena ratusan pendekar Iblis Loji sudah mengepung gunung Merapi dari berbagai arah, Empat orang pendekar tiba tiba muncul dari udara.


"Jurus Pedang Kabut," Arung bergerak turun dengan kecepatan tinggi dan menyerang belasan pendekar Iblis Loji.


"Jurus Pedang Kalang tingkat dua : Angin kehancuran!"


"Tarian Rajawali,"


Tungga Dewi muncul bersama Hanggareksa dan Ciha.


"Gusti Ratu? anda selamat?" ucap Ageng Lega saat melihat Tungga Dewi melompat dari udara.


"Ciha Sekarang!" teriak Tungga Dewi sambil melepaskan aura besar dari tubuhnya dan bergerak kearah ki Ageng.


"Baik, Gusti Ratu," Ciha terlihat merapal sebuah jurus segel sebelum aura kuning muncul di udara dan menutup hampir seluruh area gunung.


"Ini?" Ageng terlihat terkejut saat tenaga dalamnya tidak lagi terhisap oleh lubang dimensi.


"Segel Langit dan Bumi milik Ciha akan melindungi tubuh kita dari lubang dimensi aneh itu. Selama berada di bawah lindungan segel ini tenaga kalian tidak akan terhisap tapi sayangnya segel Langit dan Bumi tak akan bertahan lama. Gunakan waktu sebaik baiknya untuk melumpuhkan mereka, guru," ucap Tungga Dewi cepat.


"Begitu ya... lalu Yang mulia..." suara Ageng tertahan seolah ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Saat ini Yang mulia sedang berada di dimensi ruang waktu untuk menghentikan Cakra Loji. Guru, aku tidak bisa terlalu lama di tempat ini dan harus kembali ke keraton secepatnya bersama Ciha. Bertahanlah sekuat tenaga karena aku yakin Yang Mulia akan menghentikan semua kekacauan ini, terima kasih sudah menjaga kedua pangeran," tubuh Tungga Dewi tiba tiba menghilang bersama Ciha.


"Terima kasih Gusti ratu...sepertinya aku harus melanggar sumpah pada guruku untuk tidak menggunakan jurus pedang Api abadi tingkat keenam," aura panas tiba tiba meluap dari tubuh Ageng seiring dengan kecepatannya yang terus meningkat.


"Lindungi tempat ini apapun caranya, nyawa dua pangeran ada di tangan kita!" teriak Ageng sambil bergerak menyerang.


***

__ADS_1


"Hujan Darah Lembayung Hitam," belasan bola petir menghujam tanah dan membuat ledakan ledakan besar yang menghancurkan semua yang ada di sekitar ledakan.


Tubuh Jaya Setra dan Wijaya terlempar beberapa langkah akibat ledakan tiba tiba itu, Jurus Hujan Darah Lembayung Hitam yang dilakukan oleh Ratih bahkan membuat Lingga merasakan punggungnya seolah terbakar saat bertarung dengan ratusan pendekar Iblis Loji.


"Ratih, aku hanya memintamu membunuh para pendekar aneh itu sebanyak mungkin bukan membunuh kita semua," umpat Jaya Setra kesal.


"Maaf ketua, sepertinya aku terlalu senang," balas Ratih sambil memegang dadanya yang mulai terasa sakit.


"Sial, tenaga dalam milikku hampir habis terhisap lubang dimensi itu," ucap Ratih dalam hati sambil bergerak menghindari serangan para pendekar Iblis Loji.


Wulan yang juga sedang bertarung dengan puluhan pendekar Iblis Loji terlihat mulai khawatir. Walau mereka semua adalah pendekar tingkat tinggi namun bertarung sambil menahan tenaga dalam yang terus dihisap oleh lubang dimensi bukan perkara mudah.


"Jika terus seperti ini, cepat atau lambat kami semua akan mati kehabisan tenaga," ucap Wulan sebelum tubuhnya oleng saat mendarat setelah melakukan serangan karena kehabisan tenaga.


"Gawat!" Wulan berusaha menyeimbangkan kembali tubuhnya saat melihat dua serangan cepat bergerak kearahnya.


Wulan menarik pedangnya cepat dan memutar kesamping untuk menghindari serangan namun serangan lainnya sudah mengincar tubuhnya. Saat tusukan pedang itu hampir menghujam tubuhnya, Candrakurama muncul dan membunuh pendekar itu.


"Sepertinya kalian butuh bantuan," ucap Candrakurama yang sudah beradu punggung dengan Wulan.


"Kau datang tepat waktu tapi harus aku katakan tidak banyak membantu karena mereka seolah tak ada habisnya," Wulan menggunakan ajian Inti Lebur Saketi untuk menarik paksa sisa sisa tenaga dalamnya.


Candrakurama tersenyum kecut sambil menunjuk ke udara, "Apa mereka cukup membantu?"


"Tapak Dewa Es Abadi," Mentari muncul dari udara bersama Layang Seta dan yang lainnya.


Mentari membentuk perisai es sambil melempar ratusan pisau es untuk menahan gerakan para pendekar Iblis Loji, sementara Layang Yudha langsung bergerak kearah Jaya Setra bersama dua buah tongkat kembar yang berputar melindungi tubuhnya.


"Emmy sekarang!" teriak Mentari sambil menggerakkan puluhan pisau es di udara.


Emmy muncul dari lubang dimensi, dia menggunakan salah satu dinding es yang dibuat Mentari untuk mendorong tubuhnya ke udara.


"Saatnya meledakan mereka," dia memutar pedangnya di udara sebelum tubuhnya menukik kebawah.


"Jangan pikirkan sekitarmu tuan, aku akan berusaha melindungi mu!" Winara menangkap tongkat kembarnya sebelum berteriak pada pendekar Hibata lainnya.


"Bentuk Formasi Hibata, lindungi tuan Layang Yuda apapun caranya!" teriak Winara.


Teriakan Winara membuat Elang, Gendis dan Tantri bergerak bersamaan mendekati Winara.


"Formasi ciptaan Elang tidak akan bisa berfungsi tanpa Minak Jinggo dan Wicaksana, kita kekurangan orang Nara," ucap Gendis cepat.


"Paman Wijaya, bantu aku!" teriak Emmy yang sudah muncul didekat mereka.


"Apa aku dan paman Wijaya bisa menutup celah yang ditinggalkan mereka?" tanya Emmy.


"Semoga saja, ayo kita bentuk formasinya!" Winara memberi tanda yang lainnya untuk bergerak. Emmy dan Wijaya mengikuti dari belakang sambil menyamakan gerakan mereka.


"Yang mulia saat ini sedang berusaha menghentikan Iblis Waktu, pastikan Hibata tidak mengecewakannya. Serang!"


Puluhan Pendekar Iblis Loji langsung mengepung, mereka menyerang dari berbagai arah seolah tau jika Layang Yuda akan melakukan sesuatu.


"Segel Langit dan Bumi," Layang Yuda langsung mengaktifkan segel yang sempat dipelajarinya dari Ciha untuk membentuk perisai kuning yang menyelimuti hutan Kematian.


"Akhirnya bantuan datang..." ucap Ratih Lega.


"Ledakan tenaga dalam Iblis," serangan Rubah Putih dari udara menghantam puluhan pendekar Iblis Loji yang ada di dekatnya.


"Segel ini tidak akan bisa bertahan lama, bunuh sebanyak mungkin untuk mengurangi jumlah musuh. Bertahanlah, Yang mulia sedang berusaha menghentikan semua.... Uwaaaaaa" teriak Wardhana cepat saat tubuhnya tiba tiba terjatuh dan membentur tanah.


"Sial, bagaimana mereka bisa melayang di udara," umpatnya kesal.


"Dia bahkan tidak menguasai ilmu meringankan tubuh, bagaimana mungkin orang seperti itu bisa merubah alur dunia persilatan," Rubah Putih menggelengkan kepalanya bingung.

__ADS_1


Setelah mengaktifkan segel Langit, Layang Yuda bergerak kearah adiknya yang mulai kewalahan.


"Maaf aku terlambat Setra, kami harus menyiapkan sesuatu di bukit Cetho," ucap Layang Yudha.


"Bukit Cetho?" Setra mengernyitkan dahinya.


"Tuan Sabrang sedang merencanakan sesuatu untuk menghentikan Cakra Loji di Bukit Cetho. Tugas kita sekarang adalah bertahan selama mungkin sampai dia berhasil dengan rencananya," balas Layang Yuda.


"Bertahan selama mungkin? mereka seperti tak ada habisnya, jika kita tidak melakukan sesuatu maka aku tidak yakin kita akan bertahan sampai malam tiba."


"Apa kau lupa tuan Sabrang memiliki senjata rahasia? Dia akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan selir kesayangan tuannya," Layang Yuda terus melepaskan jurus pedangnya kearah para pendekar Iblis Loji yang seperti tak ada habisnya.


Puluhan pendekar Iblis Loji yang haus darah itu terus keluar dari lubang dimensi, bagai sebuah ombak yang menyapu batu karang, mereka bergerak dari berbagai arah mengepung hutan Kematian dan di saat bersamaan segel Langit dan Bumi perlahan menipis.


***


"Satu satunya cara untuk menarik keluar Moris dari dimensi ini adalah dengan menghancurkan pelindung dimensi yang di buat Cakra Loji, selama pelindung itu masih menyelimuti tubuhnya, mata bulan anak itu tak akan mampu menarik tubuh adikmu keluar dari tempat ini," ucap Eyang Wesi cepat.


"Merusak aliran energi ke Cakra mahkotanya bukan? kau sudah mengatakannya berkali kali kek tapi mendekati Moris yang mampu mengendalikan dimensi waktu bukan perkara mudah, aku sedang berusaha mencari celahnya!" Sabrang kembali menangkis serangan Moris, dia memutar tubuhnya dengan cepat sambil berusaha mendekap tubuh adiknya dari belakang. Dan di saat bersamaan, Minak Jinggo bergerak cepat dari sisi kirinya.


Moris tidak tinggal diam, dia kembali menggabungkan jurusnya dengan ajian mengendalikan waktu. Tangannya dengan cepat menarik pedangnya dan menghantamkan gagangnya kearah belakang.


"Tapak Dewa Mencengkeram Langit," gerakan cepat itu memaksa Sabrang menghindar, dia menahan serangan itu dengan kedua tangannya dan memanfaatkan efek serangan untuk melempar tubuhnya menjauh.


"Tusukan Iblis Loji," serangan Minak Jinggo mengejutkan Moris, matanya hampir tidak melihat serangan itu sebelum pedang Minak Jinggo hanya berjarak sejengkal dari jantungnya.


Dia tersenyum kecil saat pedang Minak Jinggo menembus dadanya.


"Kalian benar benar merepotkan," tubuh Moris menghilang sebelum muncul kembali tepat di sisi kanan Minak Jinggo.


"Jurus Pedang Pemusnah Raga," tikaman pedang Moris tembus hingga ke dada Minak Jinggo tanpa bisa dihindari. Gerakannya yang halus dan menyatu dengan ruang dimensi membuat mata bulan Minak Jinggo tidak bisa bereaksi tepat waktu.


Setelah membunuhmu aku akan..." Moris menghentikan ucapannya setelah merasakan hawa dingin menyentuh tengkuknya.


"Tidak mungkin, bagaimana aku tidak bisa merasakan lubang waktu terbuka di dekatku, bukankah seharusnya kau bisa merasakannya, Cakra Loji?" Moris melepaskan pedang yang tertancap di tubuh Minak Jinggo, dia memutar tubuhnya cepat dan mencengkeram lengan Sabrang yang diselimuti hawa dingin.


"Tapak Dewa Mencengkeram Langit."


Satu pukulan, dua pukulan cepat dan penuh tenaga dalam menghantam tubuh Sabrang, namun saat pukulan ketiga hampir mengenai tubuhnya, waktu tiba tiba terhenti.


"Sudah aku katakan jika mata bulan milikku jauh lebih kuat darimu andai aku memiliki tubuh seperti kalian," Minak Jinggo mulai membuka lubang dimensi untuk menghisap mereka berdua.


"Gawat, energi pelindung waktuku menghilang," belum sempat Moris bereaksi, pukulan Sabrang menghantam tubuhnya saat waktu sudah berputar kembali.


Moris tidak berusaha menghindari serangan itu, yang dipikirkannya saat ini adalah membentuk kembali perisai pelindung waktu miliknya.


Ketika perisai pelindung waktu hampir terbentuk, pukulan Sabrang sudah berjarak sejengkal dari wajah Moris.


"Apa pukulan Iblis Api selemah ini kakang?" ejek Moris sambil tersenyum.


"Kau salah, aku tidak berniat memukulmu lagi," Sabrang mencengkram pakaian Moris dan menariknya mendekat.


"Sekarang!" teriak Sabrang cepat.


"Untuk sekarang, sepertinya hanya ini yang bisa kulakukan untuk anda ketua, aku harus mengobati luka ini terlebih dahulu. Kita akan bertemu kembali suatu saat. Sampaikan hormatku pada guru Ageng dan teman teman Hibata," Minak Jinggo menghisap tubuh keduanya dan melemparkan ke dunia persilatan.


"Aku bersumpah akan membunuhmu berkali kali!" Moris berusaha mencengkram tenggorokan Sabrang namun tiba tiba tubuh mereka muncul di udara sebelum jatuh dengan keras di atas Bukit Cetho.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari ini banyak yang bertanya tentang pemilihan nama Moris, adik dari Sabrang Damar yang terkesan tidak Nusantara.


Nama Moris di ambil dr bahasa Yunani Kuno yang berarti Sang Putra Kegelapan. Nama ini bukan diberikan Oleh Arya Dwipa tetapi oleh yang mengasuh Moris.

__ADS_1


Siapa pengasuh Moris? yah jawabannya ada di chapter chapter terakhir Pedang Naga Api.


__ADS_2