
"Kau kira dengan Energi bumi yang telah kau kuasai bisa menghadapiku?" Kertasura menatap tajam Sabrang.
"Aku tidak pernah takut untuk memperjuangkan yang ku anggap benar".
Suasana ruangan menjadi memanas bahkan Lingga memilih mundur beberapa langkah karena tekanan aura dari tubuh kedua orang itu benar benar mengintimidasinya. Lingga mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menguragi tekanan di tubuhnya.
"Anak ini memiliki ilmu setinggi ini?" Lingga menarik nafas panjang, dia terus mengalirkan tenaga dalam keseluruh tubuhnya.
"Ku harap anda sedikit menahan diri Kertasura, bukankah anda mengatakan kedatangan anda kemari hanya untuk bicara?" Suliwa mencoba menengahi situasi yang semakin memanas.
"Aku mengatakan hanya ingin berbicara dengan kalian bukan dengan orang yang telah mengusik Iblis Hitam".
"Kau berani membunuh orang di tempatku?" Mantili bersiap menyerang Kertasura, tubuhnya mulai mengeluarkan aura dingin. Terlihat bongkahan es bermunculan di udara membuat suhu udara menjadi dingin.
Gandana dan lainnya sudah bersiap dengan kemungkinan yang terjadi, suasana panas ini sepertinya tidak dapat di redam, di lain pihak Lingga pun sudah bersiap jika harus bertarung mati matian membela ketuanya.
"Sepertinya semua akan berakhir sia sia" Wardhana tertawa sambil menggelengkan kepala. Wardhana terpaksa ikut campur urusan dunia persilatan karena keberadaan Sabrang.
"Apa maksudmu?" Kertasura menoleh kearah Wardhana begitu juga lainnya.
"Semua sudah jelas bukan, jika kejadian ini didalangi oleh pendekar dari Lembah siluman dan mungkin mereka sedang mengamati kita dari tempat tersembunyi. Jika kalian bertarung disini bukankah itu yang mereka inginkan, lalu untuk apa aku dan Lingga bersusah payah mencari pemuda ini. Akan lebih menghemat waktu jika kalian bertarung sejak awal".
Semua terdiam mendengar Wardhana bicara, apa yang dikatakannya semua benar. Siapapun pemenangnya dipastikan akan berhadapan dengan Lembah siluman.
Kertasura menggeleng pelan kemudian menarik semua aura di tubuhnya. Melihat Kertasura sudah menarik tenaga dalamnya Sabrang pun membatalkan jurus Segel bayangannya.
"Ayo kita pergi" Kertasura melangkah keluar diikuti Lingga di belakangnya.
Suliwa menarik nafas panjang, di bersyukur semua berakhir dengan baik.
"Nak, apa yang kau lakukan tadi adalah hal yang berbahaya" Suliwa menatap Sabrang yang tersenyum canggung.
***
Setelah kepergian Kertasura beberapa ketua aliran putih memutuskan untuk kembali ke sektenya masing masing lebih awal. Kebangkitan Lembah siluman yang semakin nyata merupakan berita buruk bagi dunia persilatan.
Mereka memutuskan untuk memperkuat sektenya demi menghadapi kemungkinan berhadapan dengan Lembah siluman.
"Kau sudah akan pergi?" Mantili berbicara setelah melatih Sabrang ilmu milik Tapak es utara.
"Iya bi, besok sebelum matahari terbit aku harus pergi bersama paman Wardhana".
Mantili menarik nafas panjang sambil menatap Sabrang. Melihat wajah Sabrang dia teringat dengan Sekar Pitaloka adiknya.
"Aku sebenarnya tidak menyetujui mu terjun dalam politik kerajaan yang penuh dengan tipu muslihat dan ambisi. Namun takdir mu sebagai pewaris Malwageni menuntunmu masuk kesana".
"Aku harus melakukannya bi, bukankah bibi yang mengajariku untuk merebut hak yang seharusnya menjadi milikku".
__ADS_1
Mantili tersenyum mendengar jawaban Sabrang.
"Dengar, mungkin kau sudah mendengar tentang kebangkitan sekte Lembah siluman, aku ingin memberimu sesuatu sebelum kau pergi. Ikuti aku". Mantili melangkah menuju hutan yang tepat berada dibelakang sektenya diikuti Sabrang dibelakangnya.
Terlihat dinding es tinggi terhampar luas di dalam hutan tersebut. Mantili mendekati salah satu sudut dinding dan menempelkan tangannya.
"Segel Dewa es".
Beberapa saat kemudian dinding es tersebut perlahan mencair dan setelah mencair terlihat sebuah mulut gua dibalik dinding es yang mencair.
"Ayo masuk" Mantili mengajak Sabrang memasuki gua tersebut.
Setelah masuk cukup dalam sampailah mereka di sebuah ruangan kecil didalam gua. Sebuah kitab terbungkus bongkahan es terlihat di sudut ruangan. Mantili mengambil kitab tersebut dan menyerahkannya pada Sabrang.
"Kitab dewa es ini adalah ilmu tertinggi di sekte tapak es utara walaupun tidak sehebat kitab api abadi kurasa akan sangat berguna jika kau menggunakan jurus ini dengan Energi bumi.
Keunggulan jurus ini adalah selama disekitarmu ada udara maka kau bisa menciptakan es sesuka hatimu. Sudah lama aku mencoba mempelajarinya namun tidak berhasil, sepertinya cara kerja kitab ini sama dengan Energi bumi karena memanfaatkan efek benturan tenaga dalam".
"Tapi bi...." Sabrang merasa tidak enak menerima kitab itu sedangkan dia bukan anggota sekte Tapak es utara.
"Ibumu adalah murid Tapak es utara jadi kau memiliki hak mempelajari ilmu ini".
Mantili memejamkan mata sesaat sebelum melanjutkan perkataannya, "Kau tadi melihatnya bukan, semua ketua sekte memutuskan pulang lebih awal setelah mendengar nama Lembah siluman.
Lembah siluman adalah sebuah sekte yang sangat berbahaya, kekuatannya diluar akal sehat kita. Mereka memiliki ilmu yang membuat mereka hampir abadi. Kau dianugerahi bakat yang sangat besar, gunakanlah bakat yang kau miliki untuk menjaga dunia persilatan ini. Hanya itu permintaanku padamu".
"Terima kasih bi, ibu pasti senang melihat kebaikan bibi".
Mantili hanya tersenyum mendengar perkataan Sabrang.
***
Mentari perlahan membuka matanya, kepalanya terasa sakit.
"Tuan muda" Mentari menatap sekitarnya namun tidak menemukan Sabrang.
Tak lama Bahadur dan Kumbara memasuki ruangannya.
"Ah kau sudah sadar nona" Bahadur mengambil pil obat dan minuman yang ada dimeja.
"Minumlah, pil ini akan sedikit menekan racun yang ada ditubuhmu".
"Di mana tuan muda?"
"Temanmu sedang berada di keraton Saung galah, dia menitipkan mu padaku dan dia berpesan akan segera menjemputmu ketika urusannya telah selesai".
Mentari hanya mengangguk pelan, dia masih merasakan tubuhnya terasa sakit akibat efek racun Kelelawar hijau.
__ADS_1
***
"Jadi mereka sudah menyadari kebangkitan Lembah siluman?" Seorang kakek tua berjanggut panjang tersenyum mendengar berita yang disampaikan Maruta padanya.
"Benar ketua, kudengar mereka berkumpul di sekte tapak es utara untuk membahas kebangkitan kita"
"Tapak es utara ya?, sudah lama aku tidak merasakan kehebatan jurus Dewa es milik Jenggala". Kakek tua itu tersenyum dingin.
"Lalu apa langkah kita selanjutnya ketua?" Maruta bertanya pelan.
"Apakah Langgeng telah kembali?"
"Belum ketua, kudengar dia kembali berulah dengan menghancurkan sekte Elang putih".
Kakek tua itu tertawa keras mendengar perkataan Maruta.
"Dia masih belum berubah sejak dulu....". Belum selesai kakek itu berbicara tiba tiba dia berteriak kesakitan. Matanya berubah menjadi merah darah dan sekujur tubuhnya mengeluarkan aura hitam pekat.
"Ketua" Maruta mencoba mendekat namun kakek itu menahannya.
"Jangan mendekat, kau bisa mati jika mendekatiku". Kakek itu berusaha menekan sesuatu dalam dirinya yang mencoba merebut tubuhnya.
Aura biru terlihat muncul dan menekan aura hitam dalam tubuhnya, teriakan kesakitan kakek itu membuat bulu kuduk Maruta berdiri.
"Ketua....." Maruta terlihat khawatir.
Beberapa saat kemudian aura hitam dalam tubuh kakek itu mulai menghilang dan perlahan matanya kembali normal. Dia menarik nafas panjang perlahan.
"Efek air kehidupan sangat mengerikan, bahkan aku tidak pernah tidur sejak ratusan tahun lalu. Sungguh ironis kala manusia mencoba melawan takdir untuk hidup abadi" Kakek itu tertawa lantang.
Maruta hanya terdiam mendengar perkataan kakek tua tersebut.
"Cepat temukan kitab segel kehidupan atau tubuhku akan diambil alih oleh roh air kehidupan".
"Baik ketua".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas dukungan teman teman semua selama ini, dan saya berharap teman teman tetap mendukung novel Pedang Naga Api baik dalam bentuk like, share maupun Vote sampai cerita ini selesai.
Untuk beberapa pertimbangan nama Patih Malwageni saya ganti menjadi Wijaya, semoga tidak mengurangi keseruan cerita ini.
Sekali lagi saya ucapkan ribuan terima kasih buat temen temen pembaca semua 🙏🙏
Tetap jaga kesehatan dalam kondisi saat ini
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1