Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kenyataan Masa Lalu


__ADS_3

"Sepertinya aku harus membakar semua tempat ini". Sabrang sedikit ragu dengan pilihannya. Dia melangkah mendekati Wulan sari sambil membakar semua yang dilewatinya.


Wulan sari sedikit bernafas lega saat Sabrang mendekatinya. Bagaimanapun dia sudah hampir mencapai batasnya. Meraka selalu bangkit kembali setelah mendapat serangan walaupun tubuh mereka berlubang sekalipun.


"Nek? kita tidak bisa seperti ini terus atau tenaga kita akan habis". Ucap Sabrang sambil mengayunkan pedangnya. "Ada satu cara untuk bisa menghentikan mereka nek namun aku takut kalian akan ikut terbakar".


"Terbakar?". Wulan sari mengernyirkan dahinya.


"Aku tak sempat menjelaskannya, Masuklah ke celah dinding tempat Ciha berada, sisanya aku yang akan mengurus mereka". Sabrang melompat kembali sambil memberi jalan untuk Wulan sari dan Lingga.


"Tapi nak". Wulan sari sedikit ragu namun Lingga menariknya dengan cepat.


"Ikuti apa katanya, aku punya pengalaman buruk dengan api itu". Ucap Lingga pelan. Mereka berjalan diantara kobaran api yang membakar habis para pendekar itu. Lingga menyalurkan tenaga dalamnya keseluruh tubuh untuk menekan rasa panas kobaran api hitam.


Sabrang menyambar tubuh Madrim yang masih terkurung lapisan es dan memasukannya kedalam celah setelah Lingga dan Wulan sari masuk terlebih dahulu.


"Tunggulah sebentar". Sabrang menggunakan hembusan dewa es abadi untuk menutup celah tebing itu.


"Apa yang akan dilakukannya?". Wulan sari penasaran, dia menatap Sabrang dari dinding es yang transparan.


Sabrang membentuk tembok es dihadapannya untuk memberinya waktu bernafas. Tenaganya terkuras habis saat melawan Madrim.


"Mereka benar benar kesetanan". Sabrang menggeleng pelan saat melihat dinding es yang dibentuknya mulai retak akibat benturan pedang mereka yang terus menerus.


Kini Sabrang terlihat dikepung ratusan pendekar terbaik dimasanya. Hanya dinding es yang masih menahan mereka.


"Kau yakin akan melakukan ini?". Tanya Naga api.


"Apa aku punya pilihan lain? mereka akan menguras tenaga dalam kami".


"Baik, bersiaplah". Selesai Naga api bicara tiba tiba pedang di lengan Sabrang bergetar hebat. Bola mata Sabrang perlahan semakin bersinar.


Bersamaan dengan hancurnya dinding es dihadapannya, Sabrang bergerak maju dengan dua pedang yang muncul ditangannya.


"Kalian pikir bisa melawanku? Akan kubakara kalian semua". Suara Naga api keluar dari mulut Sabrang.


Naga api menancapkan kedua pedang ditanah sambil merapal sebuah jurus.


"Hawa api Banaspati". Tanah disekitar bergetar hebat ketika Naga api mencabut kedua pedangnya dan mengayunkannya kesegala arah sambil terus bergerak maju.


Setiap Naga api melangkah muncul kobaran api dari dalam tanah yang terus membesar dan membakar semua yang ada disekitarnya.


Tempat yang sangat indah itu kini berubah menjadi lautan api, semua pendekar yang menyerangnya hangus terbakar.


Naga api baru menghentikan serangannya setelah memastikan semua telah menjadi abu.


"Sudah lama aku tak merasakan sensasi ini". Ucap Naga api sambil memandang tumpukan abu dihadapannya.


Wulan sari bahkan tak mampu berkata apa apa setelah melihat kengerian dihadapannya. Dinding es yang menjaga celah itu kini mencair tak bersisa. Mereka semua mematung menatap seorang pendekar yang mungkin akan menjadi pendekar terkuat suatu saat.


"Kau terlalu berlebihan Naga api". Anom menggeleng pelan.


"Aku hanya memastikan tak satupun tersisa". Ucap Naga api.


***


"Kau yakin ini akan berhasil?". Tanya Sabrang pada Ciha.


"Seharusnya berhasil, karena segel kehidupan diciptakan khusus untuk air itu". Telapak tangan Ciha menempel di tubuh Madrim yang terus meronta, dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman es dikedua tangan dan kakinya.

__ADS_1


Aura hitam terlihat menyelimuti tubuh Madrim sesaat sebelum dia tersadar. Kedua bola matanya perlahan berubah normal, dia terlihat bingung melihat Sabrang dan Ciha yang menggunakan pakaian yang menurut Madrim aneh.


"Siapa kalian? kenapa kalian mengikatku". Madrim terus meronta namun cengraman es Sabrang terlalu kuat bagi Madrim yang baru tersadar dari mimpi panjangnya.


Mentari yang sudah tersadar ikut mendekat setelah mendengar Madrim berteriak.


"Kau mengenali ini?". Sabrang menunjukkan pedangnya.


"Naga api? kau pengguna naga api?". Ucap Madrim kebingungan.


Sabrang kemudian menceritakan semuanya mulai dari namanya yang dikenang sebagai pendekar dalam legenda, keberadaan Iblis petarung dan kondisinya saat Mandrim menyerangnya sampai tentang ambisi Mahendra yang akan menguasai dunia.


"Jadi Mahendra masih hidup sampai saat ini? aku yakin sekali saat itu membunuhnya". Madrim tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Bisakah kau melepaskan es ini? aku tidak akan mengamuk lagi". Madrim menatap Sabrang.


Sabrang sedikit ragu namun Ciha meyakinkan jika Madrim telah kembali seperti semula.


Sabrang akhirnya mencairkan es yang ada dikedua lengan dan kaki Madrim.


Setelah Madrim bisa menggerakan tubuhnya kembali, dia mengajak mereka masuk kedalam celah dinding tempat para pendekar tadi keluar.


"Ikuti aku, ada yang harus kutunjukan padamu". Madrim melangkah pergi diikuti Sabrang dan yang lainnya.


"Saat aku masih muda tak pernah terlintas dipikiranku untuk mejadi pendekar hingga mimpi itu datang". Ucap Madrim sambil berjalan masuk celah itu.


"Mimpi? mimpi mengenai suku bermata biru?". Tanya Ciha.


Madrim menganggukkan kepalanya "Sama seperti Tuan panca, mimpi itu membimbingku ke tempat ini. Disinilah aku mengetahui tentang suku Iblis petarung yang tersegel di gerbang kegelapan dan juga tentang sekte Lembah siluman yang ternyata Ketuanya adalah leluhurku".


"Leluhur anda? jadi anda keturunan Mahendra?". Ciha tersentak kaget, begitu juga yang lainnya.


"Namun setelah aku mengalahkannya aku baru menyadari jika semua keturunan Mahendra dibimbing untuk datang ke Dieng oleh mimpi yang sama. Kami seolah diundang untuk masuk untuk tujuan tertentu".


"Lalu kau memutuskan kembali lagi?". Tanya Ciha penasaran.


Madrim mengangguk pelan "Aku memutuskan untuk mencari tau hubungan leluhur kami dengan Dieng. Banyak hal menakutkan yang kuketahui mengenai tempat ini. Saat aku mencoba menggeser batu di Danau kehidupan tubuhku seperti dirasuki sesuatu dan aku tidak ingat lagi sampai kalian muncul dihadapanku".


Madrim menghentikan langkahnya diujung gua, terlihat 3 buah batu berjejer. Ciha mengernyitkan dahinya karena hanya 2 batu yang terdapat tulisan, batu ketiga tidak ada goresan sama sekali.


"Batu itu yang ingin aku tunjukan pada kalian, kau bisa membacanya?". Madrim menunjuk ketiga batu itu.


Ciha mendekati batu itu dan mulai membaca tulisan palawa itu perlahan.


"(Geser batu perlahan saat air mulai naik atau turun, tuas akan terbuka di ujung gua. Tarik tuas selamanya untuk menutup angkara murka dan jauhkan pusaka dari lembah ketiga). Ini penjelasan tentang sistem managemen air disini. Tuan panca mengetahui jika danau ini bisa menyegel Dieng selamanya dan dia meninggalkan petunjuk ini". Ucap Ciha pelan.


"Bagaimana kau tau panca yang menulisnya?". Tanya Wulan sari bingung.


"Tulisan ini sama persis dengan yang ada di gerbang pertama terutama huruf (A) selalu lebih miring dari huruf lainnya, aku yakin yang menulis satu orang". Ciha menunjuk tulisan di batu itu.


"Batu kedua ini sepertinya tuas yang dimaksud, pantas saja walaupun nona Mentari sudah menggeser batu di dasar danau namun tidak terjadi apa apa. Batu itu hanya pemicu munculnya tuas kedua". Ciha terus memperhatikan tulisan di ketiga batu tersebut.


"Namun batu ini yang sedikit aneh, selain tulisannya berbeda sepertinya ditulis di waktu yang berbeda dengan batu pertama itu". Ciha meraba tulisan itu berkali kali.


"(Pedang api berada di gua kabut, sebuah gua tempat pemujaan pusaka. Gunakan untuk menumpas angkara murka sebelum masuk membuka pusaka ke 5 Dieng, Seruling raja neraka)". Ciha terlihat mengernyitkan dahinya.


Perhatian Ciha kemudian teralihkan pada gambar gambar yang ada di dinding gua (Gambar pertempuran, gambar mata berwarna biru muda dan gambar bintang, bulan, garis garis penghubungnya dan gambar rumit lainnya). Dia mulai mengurutkan gambar itu dengan petunjuk petunjuk yang dia temukan selama ini.


Raut Wajah Ciha berubah setelah mengetahui sesuatu.

__ADS_1


"Kau belajar ilmu api abadi menggunakan pedang Naga api setelah kau menemukan pedang itu bersama kitab api abadi dengan petunjuk batu ini?". Tanya Ciha menunjuk batu ketiga.


"Bagaimana kau tau?". Kali ini Madrim yang tersentak kaget.


"Gambar gambar di dinding ini bukan petunjuk namun sebuah catatan kehidupan suku Iblis petarung. Mereka bukan lari ketempat ini untuk bersembunyi tapi sejak awal Dieng adalah tempat mereka". Ciha menelan ludahnya. Dia tidak menyangka jika tempat yang selama ini mereka jaga adalah rumah Iblis petarung.


"Kau yakin?". Mereka berbicara hampir bersamaan.


"Gambar ini menjelaskan semuanya namun yang membuatku takut saat ini bukan itu tapi tulisan di batu ketiga ini". Ciha berusaha menenangkan dirinya.


"Apa maksudmu?".


"Sudah kukatakan jika batu ketiga ini ditulis diwaktu yang berbeda. Siapapun yang menulis ini tau jika Iblis petarung ada di gerbang kegelapan. Dia memberi petunjuk tentang keberadaan Pedang naga api agar ditemukan dan mempersiapkan semuanya untuk membuka gerbang kegelapan".


"Apa Mahendra yang melakukannya?". Lingga yang dari tadi diam ikut bicara.


Madrim menggeleng pelan, "Aku yakin bukan, Saat bertarung dengannya dia yakin jika seruling itu benar benar ada".


"Ajisaka". Ucap Sabrang tiba tiba membuat semua menoleh kearahnya.


"Orang yang bertarung denganku di gerbang pertama mengatakan jik dia diperintah Ajisaka untuk mengatur semuanya termasuk mempersiapkan tubuh Mahendra untuk menjadi tubuhnya yang baru". Sabrang menjelaskan.


"Jadi dia menguasai ajian rogo sukmo. Kita harus cepat menghentikannya". Ucap Madrim khawatir.


Madrim kemudian menjelaskan tentang kemungkinan perpindahan roh ketubuh orang lain menggunakan ajian Rogo sukmo.


"Semua petunjuk rogo sukmo ada di Lembah merah, kita harus segera kesana sebelum menghancurkan tempat ini".


"Tunggu, waktu kita hanya dua hari sebelum air kembali pasang. Tidak akan sempat untuk masuk ke gerbang ketiga lalu kembali kesini untuk menghancurkannya". Ciha menggeleng pelan.


"Kita bagi tugas". Ucap Madrim tiba tiba. "Aku bersama anak ini dan tuan Lingga akan pergi ke Lembah merah, kalian tunggu disini. Jika sudah waktunya gerbang pertama tertutup hancurkan tempat ini walaupun kami belum muncul".


"Tapi tuan". Mentari berusaha memotong ucapan Madrim.


"Tenang saja, aku akan kembali dengan selamat". Sabrang menenangkan Mentari.


"Ayo kita harus cepat". Madrim melesat keluar gua diikuti Lingga dan Sabrang.


"Tempat ini benar benar mengerikan". Ciha berbicara pelan setelah Sabrang pergi.


"Apa yang kau temukan?". Wulan sari menatap Ciha.


"Anda lihat gambar pohon, buah dan api ini?". Ciha menunjuk gambar di dinding gua.


"Tulisan ini berbunyi (Banaspati akan menuntut balas sesuai perjanjian ketika negeri buah yang pahit berdiri. Janji harus dilaksanakan). Jika dilihat dari bentuk pohon dan buah yang pahit, aku yakin ini buah Maja. Sepertinya ada suatu perjanjian antara Iblis petarung dengan Banaspati. Jika aku tidak salah mengartikan tulisan ini (Banaspati akan bangkit saat Negeri Majapahit berdiri)".


"Majapahit? apakah ada kerajaan dengan nama itu?". Gumam Wulan sari dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hehehehe Author memutuskan sedikit memberi petunjuk tentang novel Cersil ke dua saya yang berjudul Api di Bumi Majapahit.


Novel ini akan terbit di awal atau pertengahan bulan Mei.


Apa Api di Bumi Majapahit ada hubungannya dengan Pedang Naga api? Jawabannya sedikit. Namun tokoh dan semua pusaka semua baru. Tidak akan ada Pedang naga api di novel Api di Bumi Majapahit. Hanya ada sedikit hubungan yang agak rumit antara Dieng dengan Majapahit.


Apa Pedang Naga api akan segera tamat?". Jawabannya tidak. Masih banyak ide ide liar Author yang belum tersampaikan di novel Pedang Naga Api yang lebih seru dan menegangkan.


Akhir kata tetap dukung Pedang Naga Api dan nantikan Api di Bumi Majapahit di bulan Mei 😁

__ADS_1


Salam kasih untuk kalian semua.. Kalian yang Terbaik!!!!


__ADS_2