Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perubahan Rencana Tiba Tiba


__ADS_3

"Pintu Dimensi?" Paksi tampak terkejut saat mendengar penjelasan Rubah Putih mengenai jurus ruang dan waktu.


"Ribuan tahun aku berada ditempat itu setelah Lakeswara mengurungku, dan entah berapa kali aku mencoba keluar dari tempat itu. Saat mencoba melarikan diri itulah aku menyadari jika sebenarnya tempat dimensi ruang dan waktu para pengguna jurus itu sama.


Sebuah tempat yang sangat luas seperti tak memiliki tepi itu seolah dipisahkan oleh lorong dimensi. Aku menyadari saat menggunakan ledakan tenaga dalam iblis untuk mendeteksi ujung dari tempat itu.


Ledakan tenaga dalam iblis bisa juga digunakan sebagai alat mendeteksi seperti segel udara milik Wardhana, saat jurus ku menyentuh sesuatu, aku sempat berfikir itu ujung dari ruang dimensi namun aku salah. Tempat itu masih sangat luas tapi terhalang oleh lorong dimensi.


Jika kalian ingin memberikan tanda pada Wardhana maka kesempatan itu hanya satu detik setelah melewati Pintu utama dimensi sebelum terhisap menuju ruang dan waktu milik Sabrang," ucap Rubah Rubah putih.


"Satu detik ya? lalu ada berapa lorong dimensi di pintu utama?" tanya Paksi penasaran.


"Tak terhingga, karena kita tidak tau berapa orang yang menguasai jurus itu. Setiap pengguna jurus ruang dan waktu akan memiliki satu lorong dimensi menuju dimensinya, itulah mengapa aku mengatakan sangat mustahil untuk berkomunikasi dengan Wardhana karena kita tidak tau lorong mana milik Lakeswara," balas Rubah Putih.


Semua terdiam setelah mendengar ucapan Rubah Putih. Memasukkan energi Naga api kesemua lorong dimensi adalah hal mustahil karena akan memakan waktu yang sangat lama.


"Lalu bagaimana anda bisa lolos dari tempat itu?" Paksi kembali bertanya.


"Seperti yang kukatakan tadi, aku bisa merasakan lorong dimensi menggunakan jurus ledakan tenaga dalam iblisku. Ketika salah satu pengguna jurus ruang dan waktu menggunakannya maka lorong dimensinya akan terbuka untuk beberapa detik, itulah kesempatan kita untuk keluar dari tempat itu.


Tapi bukan berarti akan mudah keluar dari tempat itu walau sudah menemukan sekat lorong dimensi, karena kita tidak tau lorong milik siapa itu dan kapan dia akan menggunakannya. Aku membutuhkan ribuan tahun sampai Umbara menggunakannya," jawab Rubah Putih.


"Umbara?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Ruang dimensi milik Lakeswara ternyata berbatasan dengan lorong milik Umbara, aku muncul ditengah lautan bersama tumpukan kapal yang sepertinya disembunyikan Umbara di suatu tempat (Chapter di Hujung tanah sebelum pertarungan yang menewaskan Umbara)."


Sabrang mengangguk pelan, kini dia mulai mengerti konsep dari dimensi ruang dan waktu. Lorong dimensi milik pengguna jurus itulah yang menyekat ruang waktu diantara mereka.


"Tak ada kesempatan bagi Wardhana untuk keluar dari sana walaupun dia bisa mendeteksi lorong itu dengan segel udaranya karena lorong itu telah terkunci selamanya dengan tewasnya Umbara.


Aku tak ingin mengatakan ini namun kalian harus mulai melupakan Wardhana, yang bisa kita lalukan saat ini hanya mencoba menyegel lorong dimensi milik Lakeswara sesuai rencana Wardhana," ucap Rubah Putih pelan.


"Menyegel lorong dimensi Lakeswara? bukankah kakek tadi mengatakan jika ada ribuan lorong dimensi di sana? bagaimana kita mengetahui jika itu lorong milik Lakeswara?" tanya Sabrang kesal.


"Tuan Wardhana sejak awal sudah memutuskan tidak ingin kembali, dia ingin memberi tanda pada kita mana lorong milik Lakeswara dari dalam. Rencana yang dia buat ini menandakan dia sudah bertekad terkurung di sana bersama para pemimpin dunia.

__ADS_1


Dengan tersegelnya lorong itu, tuan Wardhana berharap akan sedikit mengurangi musuh yang kita hadapi," jawab Ciha lirih.


"Mengurangi musuh?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Lakeswara pasti menyadari jika lorong dimensinya disegel, kita tak mungkin bisa menyegel mereka semua namun tuan Wardhana berharap separuhnya akan terkurung bersamanya. Itu akan membuka peluang kita memenangkan pertarungan menjadi lebih besar dari pada harus menghadapi mereka semua," jawab Ciha.


Sabrang menggeleng pelan, dia masih percaya jika ada cara untuk berkomunikasi dengan Wardhana.


"Lalu bagaimana paman akan memberi tanda pada kita?" tanya Sabrang kembali.


"Segel Kegelapan, tuan Wardhana sudah memintaku untuk merasakan segel kegelapan yang dia gunakan di dimensi ruang dan waktu jika dia tidak berhasil mencari cara keluar dari sana.


Energi segel kegelapan hanya bisa dirasakan oleh sesama pengguna segel, aku yakin jika tuan Wardhana menggunakan segel kegelapan di dalam ruang dimensi maka aku bisa tau dimana segel itu berada.


Dia meminta waktu padaku satu purnama sejak dia menghilang dan jika perhitunganku tepat, besok adalah bulan purnama, bisa atau tidak kita berkomunikasi dengan tuan Wardhana, tempat itu harus disegel,"


"Jika segel itu bisa mengetahui dimana paman Wardhana berada maka kita hanya perlu masuk dan menyelamatkannya sebelum menyegel kembali bukan?" tanya Sabrang cepat.


"Lorong segel hanya bisa di buka oleh penggunanya, walau kau mengetahui lorong yang mana tempat Wardhana berada, kita tidak akan bisa masuk ke sana, satu satunya cara hanya menyegelnya dari luar," jawab Rubah Putih.


"Masuk kedalam markas musuh dan mati bersama, itulah yang sepertinya direncanakan Wardhana Yang mulia, maafkan hamba," balas Paksi.


"Tidak! aku tidak akan membiarkan paman Wardhana tewas begitu saja, saat dia meminta izin padaku, dia tidak mengatakan hal ini, dia pasti memiliki cara keluar dari tempat itu," ucap Sabrang pelan.


"Kau harus cepat mengambil keputusan nak, seperti ksatria Malwageni itu yang telah memutuskan berkorban, jangan sia siakan pengorbanannya dengan sikap bodoh yang kekanak-kanakan itu.


Dalam pertempuran akan selalu memakan korban jiwa, kau harus ingat itu," balas Rubah Putih kesal.


"Ada satu cara yang bisa kita coba walau aku tidak yakin akan berhasil," Ken Panca yang dari tadi diam ikut bicara.


"Katakan kek, sekecil apapun peluangnya akan kulakukan untuk membawa paman Wardhana keluar," balas Sabrang cepat.


"Tak ada celah masuk ke sana kecuali Lakeswara dengan senang hati mengundang kita," balas Rubah Putih sinis.


"Kita tidak perlu masuk ke ruang waktu leluhurku, kita akan memancingnya keluar dan bertarung di dunia ini. Namun tugas Sabrang akan menjadi berat karena kau harus bisa menariknya ke lorong dimensi milikmu. Yang akan kita segel kali ini adalah lorong dimensi Sabrang," balas Ken Panca.

__ADS_1


"Bertarung dengannya? jika sejak awal rencananya seperti itu maka untuk apa Wardhana masuk ke sana? apa kau pikir mudah menarik Lakeswara dengan jurus Sabrang?


Wardhana membuat rencana ini karena pikirannya sama denganku, saat ini kita bukan lawan mereka. untuk itulah dia ingin mengurangi lawan," balas Rubah Putih.


"Lalu untuk apa kau mengundangku jika tak yakin menghadapinya? kau mengundangku karena berjaga jaga jika rencana gagal dan harus bertarung dengan mereka bukan? jadi anggap saja rencana gagal. Kita akan bertarung dengan mereka dan menyelamatkan Wardhana.


Aku memang tidak mengenal Wardana namun melihat pergerakannya aku memiliki sedikit rencana untuk mempersiapkan pertarungan besar kelak, aku yakin dia bisa membantuku," jawab Ken Panca.


"Hamba bisa membantu membuat jebakan agar mereka tidak menyadari jika kita sedang berusaha menariknya. Namun aku butuh dua orang pengguna jurus ruang dan waktu," ucap Paksi tiba tiba, kini dia mulai mengerti konsep jurus ruang dan waktu.


"Ratuku, dia bisa membantu kita," jawab Sabrang.


"Aku akan membantu membuat jebakan itu dengan memanfaatkan energi Naga Api, semoga kau sudah bisa merubah sikap iblis bodoh itu," jawab Ken Panca.


"Naga api?" tanya Sabrang dalam pikirannya.


"Aku tau, kau adalah tuanku, lakukan sesukamu," balas Naga Api sinis.


Sabrang memberi tanda jika tidak ada masalah dengan Naga Api.


Paksi lalu membuka gulungannya dan menunjukkan pada Sabrang.


"Ini adalah lokasi Trowulan, kita akan membuat jebakan di sisi kiri ini, jadi kita harus memancing mereka ke sini," ucap Paksi sambil memberi tanda pada gulungannya.


"Kita lakukan malam ini, besok pagi aku akan memancing mereka keluar. Arung kabarkan pada Dewi untuk menemui aku malam ini di Trowulan," pinta Sabrang.


"Baik Yang mulia," jawab Arung.


Ken Panca bangkit dari duduknya sambil menundukkan kepalanya.


"Aku harus menjemput guruku untuk meminta bantuan memasang jebakan itu, aku akan segera menyusul kalian," ucap Ken Panca sebelum melangkah pergi.


"Sudah lama aku tidak bertemu dengannya," balas Rubah Putih tiba tiba.


"Dia akan senang melihat anda tuan Samudra Aryasatya," balas Ken Panca.

__ADS_1


__ADS_2