
"Apa katamu? Andaru melarikan diri dan bergabung dengan Lembah siluman?. Kau jangan mengada ngada Daniswara, aku tau benar sifatnya". Birawa menatap tajam Daniswara.
"Aku melihat sendiri saat kami mencari keberadaan Ciha, dia menyerangku dan melarikan diri. Apa yang dikatakannya saat menuduh kita mempelajari ilmu kanuragan hanya tipuan untuk mengadu domba kita, ternyata dia sendiri yang diam diam mempelajari ilmu kanuragan. Anda harus bertindak Ketua! Anda dipilih oleh tiga kelompok besar jadi aku harap anda tidak memihak salah satu kelompok". Ucap Daniswara tegas.
Birawa menoleh kearah Astaguna yang dari tadi hanya diam.
"Bagaimana menurudmu?".
Asraguna menggeleng pelan "Masalah ini bukan masalah kecil ketua, kita harus mencari tau dan memastikan terlebih dahulu apa tujuan Andaru jika dia memang keluar Sekte sebelum membuat keputusan namun sesuai dengan aturan sekte keluar dari sekte tanpa persetujuan adalah kesalahan besar. Kita harus membekukan sementara segala kegiatan Lintang wakulu sampai semuanya jelas".
Astaguna terlihat memejamkan matanya sesaat. Dia sebenarnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Daniswara namun bagaimanapun aturan harus ditegakkan sampai semua jelas. Sekte Bintang langit bisa bertahan sampai saat ini karena semua mengikuti aturan.
"Baiklah untuk sementara Lintang wakulu akan dibekukan dan semua hak mereka akan dicabut sampai kita mendapatkan kejelasan tentang masalah ini". Birawa berkata pelan sambil menatap tajam Daniswara.
Biwara merasa semua ini rencana Daniswara namun dia tidak mempunyai bukti apapun.
"Untuk sementara izinkan aku mengambil alih tanggung jawab Andaru Ketua, aku akan pastikan tidak ada yang bisa masuk sekte bintang langit".
Birawa cukup terkejut mendengar Dansiwara mengajukan diri untuk mengambil alih tugas Andaru sementara waktu.
Selama ini Daniswara cenderung tidak peduli dengan urusan Sekte bintang langit.
"Kau yakin dengan apa yang kau katakan? aku cukup terkejut kau peduli pada Bintang langit".
"Aku belajar sesuatu dari kejadian hari ini ketua, sikap tidak peduliku selama ini membuat Andaru melakukan kesalahan besar".
"Kita sudah sepakat untuk menyelidiki dulu apa yang terjadi dengan Andaru, jadi jangan berkata seolah olah dia bersalah". Birawa berkata tegas.
"Baik ketua". Daniswara tersenyum kecil kemudian pergi dengan wajah penuh kemenangan.
"Sebentar lagi aku akan membungkam keangkuhanmu". Daniswara bergumam dalam hati.
***
"Kekuatan mu terlalu besar dan tubuhmu belum siap untuk menerima kekuatan itu sehingga saat kau menggunakannya banyak energi tenaga dalammu yang meluap dan terbuang sia sia". Rakiti mendekati Sabrang yang sedang berlatih energi bumi di sebuah batu besar di pinggir sungai.
"Ah kakek, maaf aku menggunakan tempat latihanmu tanpa izin terlebih dahulu". Sabrang tersenyum canggung.
"Aku cukup terkejut didalam tubuhmu terdapat energi dari dua pusaka Dieng. Bagaimana kau mendapatkan keris itu?". Ucap Rakiti sambil duduk dihadapan Sabrang.
"Bagaimana kakek bisa tau aku memiliki keris penguasa kegelapan?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Sulit bagiku menjelaskannya padamu namun bagi orang yang pernah masuk ke Dieng dia bisa merasakan semua pusaka yang berasala dari sana".
"Keris ini milik ayahku kek". Sabrang menjawab pertanyaan Rakiti.
"Ayahmu? Jadi kau adalah keturunan Arya Dwipa?". Raut wajah Rakiti berubah tiba tiba.
Sabrang mengangguk pelan.
"Dengan jati dirimu yang merupakan keturunan trah Dwipa membuatku makin yakin untuk melarangmu masuk ke Dieng".
Sabrang mengernyitkan dahinya "Maksud kakek?".
"Ayahmu tewas saat kau masih bayi jadi mungkin kau tidak tau sejarah panjang trah Dwipa dengan Dieng".
"Kakek mengenal ayahku?".
"Secara langsung tidak namun aku mengetahui jika leluhurmu telah membuat perjanjian dengan keris itu".
Sabrang terlihat menghela nafasnya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini.
"Kek...". Sabrang terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Apakah suatu saat akupun secara tidak langsung akan memicu munculnya lembah siluman baru? atau justru aku yang akan seperti mereka?". Sabrang berkata pelan.
Sabrang masih mengingat dengan jelas ucapan Rakiti jika Lembah siluman tercipta karena sistem yang ada didunia persilatan.
"Mengapa kau bicara seperti itu?". Rakiti mengernyitkan dahinya.
"Seperti kata kakek kemarin, akupun kadang terpaksa membunuh untuk memperjuangkan yang menurutku benar. Aku ingin menjadi kuat untuk kepentinganku merebut kembali Malwageni".
Rakiti tersenyum lembut melihat pemuda dihadapannya itu.
"Kau menyukai peperangan?".
Sabrang menggeleng pelan "Akan ada dendam baru dalam setiap peperangan yang berujung aksi balas dendam baru seperti yang kulakukan".
"Untuk beberapa hal kadang kita harus memperjuangkan apa yang menjadi milik kita namun yang membedakan kita dengan mereka adalah bagaimana kau meredam ambisi dan nafsu dalam dirimu. Cukup sampai perjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikmu, tidak lebih".
"Walaupun dengan cara membunuh?".
Rakiti benar benar dibuat terdiam oleh pertanyaan Sabrang. Dia tidak pernah membenarkan untuk saling membunuh namun kadang dalam mempertahankan sesuatu apalagi di dunia persilatan ini diapun terpaksa membunuh.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kau cari di Dieng? kekuatan untuk mengalahkan Lembah siluman?".
"Aku tidak tau kek, dulu saat pertama aku belajar ilmu kanuragan aku ingin kuat untuk melindungi kakekku kemudian setelah aku mengetahui jika ayahku terbunuh aku ingin kuat untuk membalaskan dendam ayahku dan merebut kembali Malwageni namun sekarang aku malah bekerja sama dengan orang yang membunuh ayahku.
Setelah temanku terluka aku ingin mencari air kehidupan untuk mengobatinya. Sepertinya Lembah siluman hanya menjadi alasanku untuk masuk ke sana".
"Kau benar benar bodoh nak". Rakiti terkekeh mendengar perkataan Sabrang.
"Pergilah beristirahat, besok aku akan menunjukan sesuatu padamu". Rakiti melangkah pergi meninggalkan Sabrang sambil menggelengkan kepalanya.
***
"Apa kau baik baik saja tuan Lingga? Dari kemarin kau hanya mengurung diri tanpa bicara sepatah katapun". Mentari berkata saat melihat Lingga keluar dari sebuah ruangan.
"Aku hanya membutuhkan istirahat setelah pertarungan kita dengan Lembah tengkorak". Lingga berkata dingin sambil melangkah keluar.
Lingga melesat dengan lincah diantara pepohonan rimbun. Beberapa saat kemudian langkahnya terhenti saat melihat Sabrang duduk bersila di pinggir sungai.
"Apa yang kulakukan selama ini salah?". Lingga menatap Sabrang. Ucapan Rakiti masih terngiang ditelinganya.
Saat kedua orang tuanya dibunuh dan dia hampir mati Kertasura menyelamatkannya dan mengajarinya ilmu kanuragan. Sejak saat itu dia bertekad untuk menjadi kuat untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya.
Dia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari dalam pakaiannya. Dia kembali teringat bagaimana untuk pertama kalinya dia membunuh dengan pisau itu saat mencoba membantu kedua orang tuanya.
Ada perasaan puas saat dia melihat orang yang menyakiti kedua orang tuanya mati ditangannya. Sejak saat itu tak terhitung orang yang dia bunuh sampai saat ini termasuk Arya Dwipa.
Lingga membuang pisau itu sesaat sebelum kembali melompat diantara pepohonan.
***
"Kalian sudah siap?". Rakiti mengagetkan Sabrang dan lainnya saat mereka telah selesai makan.
"Siap?". Lingga mengeryitkan dahinya dan menoleh kearah Sabrang.
"Kita mau kemana kek?". Sabrang bertanya bingung.
"Aku akan mengantar kalian ke tempat Sekte Bintang langit namun aku hanya akan menujukan jalannya saja, selebihnya kalian sendiri yang berusaha".
"Tapi bagaimana...". Sabrang menghentikan ucapannya kemudian menundukkan kepalanya memberi hormat pada Rakiti.
"Terima kasih kek".
__ADS_1