
Ruangan rahasia yang ditemukan Wardhana dalam gua Emas memang jauh lebih besar namun sedikit lebih pengap.
Wardhana berhenti ditengah ruangan dan memandang kesekelilingnya, ruangan sebesar itu tak ada satupun benda atau apapun.
"Kosong?" gumamnya.
Wardhana memejamkan matanya sesaat, dia sedang membuat simulasi jika dia menjadi pemuda misterius itu maka dimana dia harus meletakkan benda diruangan kosong itu.
"Sepertinya kosong, apa sudah dicuri orang?" Emmy mengernyitkan dahinya. Sepanjang pandangannya hanya ruangan kosong tanpa ada satupun benda.
"Sudut ruangan dengan celah yang bisa menutup pandangan" Wardhana melangkah kesalah satu sudut yang dindingnya terlihat sedikit berbeda dari sudut lainnya.
Sebuah lubang kecil yang dilindungi teralis besi terlihat disudut ruangan. Mata Wardhana sedikit terbelalak kala melihat sebuah kalung indah dengan hiasan seperti bunga mawar hitam sebagai bandulnya.
Wardhana berusaha menarik teralis besi yang melindungi kalung itu namun tak berhasil. Teralis besi itu seolah tertanam rapih pada batu.
"Biar kucoba paman" suara Sabrang mengagetkan Wardhana.
"Baik Yang mulia" ucap Wardhana sambil melangkah mundur.
Suhu udara diruangan itu seketika naik dengan cepat ketika Sabrang memegang besi itu. Dia memejamkan mata sesaat sebelum tubuhnya mulai diselimuti kobaran api dan tidak sampai beberapa detik, teralis besi itu sudah meleleh.
Sabrang mengambil kalung itu dan menyerahkannya pada Wardhana.
"Apa maksud kalung ini paman?" tanya Sabrang heran.
Wardhana menggeleng pelan "Hamba belum mengetahuinya Yang mulia namun hamba yakin kalung ini sama pentingnya dengan gulungan yang kita temukan di Wentira. Apa yang sebenarnya disembunyikan pemuda misterius itu".
Setelah memastikan tidak ada lagi yang tertinggal diruangan rahasia itu mereka semua kembali ke pemukiman suku Hutan dalam dengan seribu tanda tanya dikepala mereka. Wardhana jelas yang paling pusing dengan semua teka teki ini, tak ada satupun petunjuk mengenai kalung mawar hitam maupun gulungan bergambar daratan yang dia temukan di Wentira.
Semua ruangan rahasia itu sama persis, kosong dan tak ada tulisan ataupun gambar yang menjelaskan kenapa dan untuk apa dua benda itu disimpan.
***
Raut wajah Wardhana tampak kusut, berapa kalipun dia mencoba memecahkan hubungan antara gulungan dengan kalung itu tetap tidak menemukannya.
Ciha yang duduk didepannya tampak diam seolah mengerti jika sang Naga dari Malwageni itu sedang menghadapi dinding tinggi dan kokoh yang menyembunyikan misteri terbesar dunia.
Ciha berusaha mengingat pertemuannya dengan Wardhana beberapa saat lalu di Dieng dan dia merasa baru kali ini melihat wajah Wardhana yang begitu putus asa.
"Sebaiknya anda istirahat sejenak tuan, hari sudah sangat larut dan besok pagi kita akan kembali berlayar" ucap Ciha pelan.
Wardhana meletakkan kalung yang dari tadi digenggamnya, dia kemudian memijat dahinya sesaat sebelum menarik nafas panjang.
"Tak ada petunjuk apapun baik di ruang rahasia Wentira maupun di gua emas. Pemuda misterius itu tampaknya begitu berhati hati, apa sebenarnya yang sedang dia rencanakan".
Ciha terdiam setelah mendengar ucapan Wardhana, dia tidak tau harus berkata apa. Jika Wardhana saja tidak bisa memecahkan misteri itu, apalagi dirinya.
"Masih ada 2 rumah para dewa dan satu ruang rahasia di Tapak es utara yang belum kita buka, semoga kita segera menemukan petunjuk itu tuan".
__ADS_1
Wardhana mengangguk pelan, walaupun begitu banyak pertanyaan dikepalanya namun dia memutuskan melupakannya sejenak. Wardhana berharap apa yang dikatakan Ciha benar, akan ada petunjuk mengenai gulungan bergambar daratan dan kalung mawar hitam itu.
"Lalu apa anda sudah menemukan tempat rumah para dewa selanjutnya?" tanya Ciha kembali.
Wardhana mengangguk pelan sambil menunjuk sebuah daratan yang berjajar dengan Jawata.
"Setiap rumah para dewa sepertinya saling berkaitan. Jika di Wentira kita menemukan petunjuk mengenai Swarnadwipa di langit langit ruangan, gua emas tidak ada petunjuk apapun mengenai daratan selanjutnya.
Namun aku menyadari sesuatu saat membuka gerbang di danau embun. Kunci untuk membuka danau embun adalah tiga batu yang bentuknya mirip dengan tiga daratan ini. Aku yakin kunci ini selain sebagai pembuka gerbang juga petunjuk mengenai daratan selanjutnya. Dua daratan ini telah kita temukan jadi yang tersisa hanya daratan ini" tunjuk Wardhana pada gulungannya.
"Walidwipa?" Ciha mengernyitkan dahinya.
Wardhana mengangguk "Namun jika kita berlayar memutar sepertinya akan memakan waktu yang sedikit lebih lama. Aku berencana singgah terlebih dahulu di Jawata dan memeriksa ruang rahasia di Tapak es utara baru melanjutkan perjalanan melalui sisi utara".
Ciha mengangguk setuju, jika mereka memutar dari atas selain jaraknya yang cukup jauh kondisi lautan disana sangat terkenal ganas.
Percakapan mereka tiba tiba terhenti saat ada yang mengetuk pintu kamar Wardhana.
"Masuklah" ucap Wardhana sambil menggulung kembali gulungannya dan menyimpan kalung mawat hitam.
Lenny tampak masuk dengan hati hati sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf tuan, bolehkah aku bicara sebentar?"
"Bicara padaku?" Wardhana mengernyitkan dahinya sambil menoleh kearah Ciha.
"Ini mengenai sekte Tengkorak merah tuan" ucap Lenny pelan.
"Aku ingin meminta bantuan kalian untuk menghancurkan sekte Tengkorak merah tuan, ada yang aneh tentang pergerakan mereka beberapa hari ini tuan. Kalajaya, yang merupakan ketua dari tengkorak merah sangat berambisi menguasai gua emas itu namun sampai detik ini mereka tidak menampakkan diri bahkan saat sekutunya Gunung batu hancur. Aku takut mereka merencanakan sesuatu saat anda sudah pergi.
Kami tak memiliki kemampuan untuk menghadapi mereka, jika anda berkenan aku ingin meminta bantuan anda semua untuk menghancurkan mereka sebelum pergi. Anggap saja sebagai balasan karena suku Hutan dalam telah membantu kalian menemukan Gua emas".
Wardhana tampak berfikir sejenak sebelum mengangguk setuju, bagaimanapun tak akan mudah menemukan gua emas dengan petunjuk yang sangat sedikit dihutan belantara yang tidak mereka kenali. Dia juga berfikir Sabrang tak akan keberatan membantu seseorang.
"Besok pagi, siapkan seluruh pasukanmu. Aku akan bicara dengan Yang mulia terlebih dulu".
"Baik, terima kasih tuan" ucap Lenny sambil menundukan kepalanya.
***
(Hutan tengkorak, markas Tengkorak merah. Satu hari sebelum penyerangan Gunung batu ke lereng gunung Kerinci)
"Apa semua pasukan sudah siap? kita akan bertemu dengan seket Gunung Batu didekat lereng gunung Kerinci. Pastikan semua berjalan sesuai rencana, aku ingin gua emas itu menjadi milik kita" ucap Kalajaya pada beberapa orang kepercayaannya.
"Semua sudah sesuai perintah anda tuan". jawab Joyo, salah satu tetua Tengkorak merah sekaligus orang terkuat kedua di sekte itu.
"Baik, ayo pergi". Kalajaya melangkah keluar ruangan diikuti para tetuanya.
Langkah Kalajaya terhenti saat berada dihalaman depan sektenya. Seorang pemuda berambut panjang dan berpakaian seperti seorang pedagang berdiri tegap ditengah halamannya sambil menghunuskan pedang.
__ADS_1
Dia tersenyum kecil sebelum melangkah mendekati Kalajaya.
"Siapa kau? berani sekali menginjakkan kaki di sekteku sambil menghunuskan pedang?".
"Aku ingin membuat tawaran padamu" pemuda itu melempar beberapa kitab kearah Kalajaya.
"Tawaran?" Kalajaya mengernyitkan dahinya sambil mengambil kitab dihadapannya.
"Ketua, berhati hatilah" bisik Joyo.
Kalajaya mengangguk pelan sambil membaca kitab itu. Raut wajahnya berubah setelah membaca kitab yang ada ditangannya.
"Ini...?" Kalajaya seolah tak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Kitab ilmu pengetahuan dan ilmu kanuragan tanpa tanding. Kau bisa menguasai dunia dengan dua kitab itu".
"Apa yang kau inginkan dariku?" Kalajaya mulai tertarik.
"Saat ini aku merasakan energi Banaspati didekat sini, kalian bukan lawannya. Kalian hanya akan mengantarkan nyawa jika pergi kesana. Tawaranku sangat mudah, ikut denganku ke ruang hampa keabadian dan aku akan menjelaskan tugas yang akan kuberikan pada kalian atau mati ditempat ini" ucap Pemuda itu dengan nada mengancam.
Kalajaya tersentak kaget setelah mendengar ucapan Pemuda itu.
"Tuan, sebaiknya anda tak usah mendengarkan...." belum selesai Joyo bicara tiba tiba tubuhnya roboh ketanah dengan kepala yang sudah terpisah.
"Kuanggap dia memilih pilihan kedua" ucap Pemuda itu sambil menjilat pedangnya yang penuh darah.
"Bagaimana dia bisa menyerang dari jarak sejauh itu?" Raut wajah Kalajaya dan para pengikutnya pucat pasi.
"Jadi apa yang kau pilih?" tanya pemuda itu.
***
Saat matahari mulai terbit dan menampakan sinarnya, Sabrang dan semua pasukan suku Hutan dalam bergerak menuju hutan tengkorak. Tampak Wardhana dan Lingga memisahkan diri saat mereka berada diperbatasan hutan tengkorak.
Wardhana membagi dua pasukan untuk menyergap sekte Tengkorak merah dari dua sisi. Pasukan pertama dipimpin Sabrang dan Lingga menjadi ujung tombak pasukan kedua.
Saat mereka bergerak bersamaan dari.dua sisi, semua terdiam dan tersentak kaget karena tidak menemukan satu orangpun disekte itu. Hanya mayat seorang pendekar yang sudah tewas beberapa hari lalu.
"Apa kau yakin ini tempatnya?" Wardhana mengernyitkan dahinya dan menatap sekitarnya.
"Aku yakin tuan, beberapa orang suku Hutan dalam pernah ditawan oleh mereka disini" jawab Lenny bingung.
"Lalu kemana mereka semua pergi?" ucap Sabrang sambil menarik kembali semua auranya.
"Ini aneh, tidak ada bekas pertarungan apapun disini. Barang mereka pun semua masih lengkap, mereka seperti pergi dengan terburu buru dan tak sempat membawa barang apapun namun yang menjadi aneh adalah jika mereka pergi dengan jumlah banyak, tidak mungkin kita tak menyadarinya karena jarak antara hutan tengkorak dan gunung kerinci tidak terlalu jauh" ucap Wardhana bingung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bagi yang sudah mengikuti dan membaca Api di Bumi Majapahit tentu sudah pernah mendengar Perguruan Tengkorak merah yang akan menjadi musuh utama Arya Wijaya.
__ADS_1
Apakah sama antara Sekte Tengkorak merah di PNA dan Perguruan Tengkorak merah versi ABM?
Pantengin terus PNA dan tentu saja ABM....