
Wajah Gentala tampak pucat, dia yang awalnya sangat yakin mampu mengalahkan Candrakurama kini terlihat tak berdaya.
Luka di sekujur tubuhnya tampak mengeluarkan darah segar, dia seolah tak bisa menerima hasil pertarungan itu.
Kalah dalam bertarung sebenarnya bukan hal baru bagi Gentala, dia bukan termasuk pendekar yang ditakuti seperti Mantili ataupun Sabrang namun kekalahan dalam waktu yang cukup singkat tak dapat diterima akal sehatnya.
Candrakurama bahkan hanya melepaskan beberapa jurusnya untuk melumpuhkan Gentala, hal yang cukup sulit dilakukan Mantili sekalipun.
"Apa kau terkejut? ah sebentar, kau tidak berpikir ilmu Kanuragan mu yang terbaik bukan?" Candrakurama tersenyum kecil sambil menatap Gentala yang sudah terluka cukup parah.
"Siapa kau sebenarnya? jurus yang kau gunakan jarang terlihat di dunia persilatan," tanya Gentala kesal.
"Seseorang menemuiku beberapa hari lalu dan memberikan sebuah kitab ilmu kanuragan. Kau memilih pihak yang salah, kami akan menghancurkan kalian," Candrakurama menyarungkan pedangnya sambil melangkah mendekati Gentala.
"Kau melakukan kesalahan besar, aku sudah melihat sendiri seberapa besar kekuatan mereka, kau mungkin bisa mengalahkanku dengan mudah namun kekuatannya jauh di atasmu. Kekuatan mereka bagai dewa yang tak akan pernah bisa kita jangkau, satu satunya cara untuk tetap bertahan adalah bekerja sama dengan mereka," ucap Gentala pelan.
"Hibata hanya tunduk pada satu orang dan sayangnya itu bukan Masalembo. Sangat menyedihkan melihat seorang pendekar muda berbakat sepertimu tunduk hanya karena takut mati, rasa kagumku padamu hilang seketika," ejek Candrakurama.
"Bukankah kita sama? kau seolah berkata tak takut mati. Kau mengatakan Hibata tunduk pada seseorang bukan? kau pun melakukan hal yang sama denganku," balas Gentala sambil tertawa.
"Kau pikir aku tunduk padanya karena takut mati? untuk pendekar rendahan sepertimu aku cukup memaklumi kau tidak memahami arti kesetiaan dan rela mati demi orang yang kau kagumi, detik ini juga jika dia menginginkan nyawaku maka akan kuberikan," ucap Candrakurama sambil menyentuh punggung Gentala yang sudah tidak bisa bergerak.
"Apa yang kau lakukan padaku?" ucap Gentala sambil menjerit kesakitan.
Dia mengalirkan tenaga dalamnya untuk merusak sebagian urat nadi Gentala.
"Aku telah memusnahkan seluruh ilmu kanuraganmu, sebaiknya kau ikut denganku baik baik atau kau akan terluka lebih parah," ucap Candrakurama sesaat sebelum memukul leher Gentala yang membuatnya tak sadarkan diri.
"Jurus cahaya pedang benar benar membuatku terkejut, kecepatanku meningkat pesat," gumam Candrakurama dalam hati.
Dia mengangkat tubuh Gentala dan melesat pergi meninggalkan hutan Lali jiwo.
***
Seorang pria tampak berdiri di atas puing puing bangunan Telaga khayangan api yang sudah hancur. Sesekali wajahnya tampak berubah sambil memejamkan matanya, dia seolah sedang mengenang sesuatu di Telaga khayangan api.
"Disinilah aku mengenal Masalembo dan membangun peradaban namun semua jerih payahku hancur oleh keturunan trah Tumerah itu. Aku bersumpah untuk membunuh semua keturunanmu," pria itu mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Maaf aku terlambat tuan Adyatama," seorang pemuda tiba tiba muncul dan menundukkan kepalanya.
"Apa ini cara Sorik Marapi? kau adalah komandan utama pelindung trah Dwipa, bagaimana kau mau melindungi para pemimpin dunia jika mengatur waktu saja kau tak bisa, Damar?" ucap Adyatama tajam.
Wajah Damar berubah seketika, dia terlihat tidak suka dengan ucapan Adyatama yang seolah mengaturnya.
Sorik Marapi sebenarnya berada dibawah perintah Lakeswara Dwipa, pemimpin tertinggi Masalembo sekaligus pemimpin trah Dwipa namun selama menunggu kebangkitan kembali para pemimpin dunia dan tewasnya Kuntala, Adyatama yang merupakan pemimpin dari dewa Kumari kandam mengambil alih pimpinan.
Adyatama jugalah yang membebaskan seluruh anggota Sorik marapi dari segel keabadian yang membelenggu mereka dan membangkitkan kembali.
Segel keabadian diciptakan Masalembo untuk keadaan genting atau saat hampir terbunuh. Mereka bisa menyegel jiwa mereka sesaat sebelum kematian sehingga bisa dibangkitkan kembali walau raga mereka hancur.
Segel itulah yang digunakan Damar dan seluruh pasukannya saat hampir terbunuh oleh Rubah putih.
"Kemunculan Rubah putih benar benar diluar dugaan tuan, aku harus membereskan semuanya karena sebagian rencana kita sedikit kacau, itulah yang membuatku sedikit terlambat," jawab Damar sambil menahan emosinya.
"Rubah putih?" Adyatama mengernyitkan dahinya, dia tidak mengenali nama yang disebutkan Damar.
"Rubah putih adalah musuh utama Masalembo, tak pernah ada yang tau siapa dibalik sosok itu namun kekuatannya jauh di atas Naraya dan Arjuna.
Aku tidak tau bagaimana dia masih hidup karena Yang mulia Lakeswara Dwipa mengurungnya di dimensi ruang dan waktu," jawab Damar.
"Dia masih hidup? menarik," jawab Adyatama sambil tersenyum.
"Mohon jangan gegabah tuan, Rubah putih jauh lebih kuat dari yang anda kira," ucap Damar memperingatkan.
"Kau meragukan kemampuanku? aku dulu memang kalah oleh Arjuna namun kali ini akan berbeda, ilmu baruku dan energi Mariaban tak akan terkalahkan walau ada seribu Rubah putih," jawab Adyatama.
Damar hanya terdiam dan tak menanggapi ucapan Adyatama, dia sadar walaupun belum pernah bertarung dengan dewa kumari kandam namun kekuatannya jauh dibawah mereka.
"Lalu ada apa anda memanggilku?"
"Selama kami memulihkan diri di dimensi ruang dan waktu aku membaca beberapa catatan sejarah Masalembo. Aku jadi paham jika kita butuh jamur emas sebagai campuran ramuan Amrita dan soma untuk membangkitkan Yang mulia.
__ADS_1
Naraya mungkin sudah membakar semua catatan ramuan dan membawa pergi jamur langka itu namun ada satu hal menarik yang kutemukan.
Naraya sempat dekat dengan seorang wanita bernama Wulan, yang mereka juluki Dewi kematian. Aku ingin kalian mencarinya, aku yakin dia mengetahui bagaimana membuat jamur emas," perintah Adyatama.
"Tapi tuan, jamur itu hanya bisa ditanam di lingkungan Masalembo, bukankah tempat itu telah hancur?"
"Tugas kalian hanya membawa wanita itu kehadapanku tidak ada yang lain, sisanya barkan aku dan dua adikku yang mengurusnya," jawab Adyatama.
"Jika dia masih hidup, dimana aku harus mencarinya?" tanya Damar lagi.
"Kita tak perlu mencarinya, kita hanya perlu menunggunya," jawab Adyatama sambil melempar sebuah gulungan kecil kearah Damar.
"Hutan lali jiwo? Maksud anda?"
"kau tau tempat itu?" Adyatama mengernyitkan dahinya.
"Beberapa sekte telah kuajak bergabung dengan Masalembo, hal yang selalu dilakukan tuan Kuntala dulu untuk memperkuat Masalembo.
Salah satu sekte yang bergabung dengan kita berada didalam hutan lali jiwo," jawab Damar.
"Bagus, siagakan pendekar di sana, salah satu catatan mengatakan jika dulunya hutan lali jiwo adalah tempat kuburan para pengkhianat.
Temukan kuburan para pengkhianat itu dan sebarkan di dunia persilatan jika Hutan lali jiwo akan dihancurkan, aku yakin dia akan muncul jika mendengar makam ayahnya akan dihancurkan. Saat dia muncul tangkap dan bawa kehadapanku. Saat ini aku belum bisa bertarung karena tubuhku belum pulih, segel Arjuna benar benar mengerikan."
"Baik tuan, namun untuk menghadapi dewi kematian aku membutuhkan pasukan, tak mudah menghadapinya jika dia masih hidup," jawab Damar.
"Kau akan mendapatkannya tak lama lagi, aku sedang membangkitkan jiwa jiwa pendekar Masalembo yang terkunci oleh segel abadi dan kau akan sangat terkejut dengan lima orang yang saat ini sedang kubangkitkan," ucap Adyatama sambil tersenyum penuh makna.
"Anda tidak sedang membangkitkan lima pendekar Tumerah hitam bukan? jika rencana anda memang itu sebaiknya lupakan tuan. Kekuatan mereka memang besar namun Yang mulia Lakeswara Dwipa pun kesulitan mengendalikan mereka."
"Aku yang memimpin Masalembo saat ini, kau hanya perlu mengikuti perintahku. Cari makan itu secepatnya dan temukan Dewi kematian," sergah Adyatama kesal.
"Baik tuan," jawab Damar pelan, dia menundukkan kepalanya sebelum pergi.
"Para pemimpin dunia? kalian pikir aku akan terus setia pada Masalembo? apa yang bisa dilakukan tubuh rapuh seperti mereka tanpa ramuan itu. Jika aku berhasil membuat dan meminum ramuan itu maka kalianpun akan kusingkirkan," gumam Adyatama sesaat sebelum tubuhnya menghilang.
Damar tampak melesat kearah keluar Telaga khayangan api, sesekali dia menoleh kebelakang untuk melihat Adyatama yang sudah menghilang.
"Sepertinya aku harus mulai menjalankan rencana itu untuk mengimbangi dewa Kumari kandan yang mulai agresif," Damar menghentikan tiba tiba langkahnya saat mulai memasuki hutan lali jiwo, dia mengernyitkan dahinya saat beberapa pohon terlihat tumbang akibat sabetan pedang.
"Ada yang habis bertarung?" gumamnya dalam hati.
Damar menatap sekelilingnya, sikapnya menjadi waspada dengan tangan menggenggam gagang pedang di pingganya.
"Siapa yang habis bertarung disini?" Damar tampak terdiam sesaat sebelum melesat masuk kedalam hutan.
***
Sabrang terus berlatih ajian Inti lebur saketi dibawah bimbingan keras Wulan.
Ajian inti Lebur saketi bisa dikatakan ilmu kanuragan tertinggi yang diciptakan wulan, kerumitan ajian itu yang memadukan energi murni trah Tumerah dengan energi lainnya memaksa Wulan menutup akses bagi Sabrang bertemu siapapun.
Wulan ingin Sabrang fokus pada inti dari Ajian yang konon jika dikuasai dengan sempurna akan menjadikannya pendekar terkuat.
Wulan pun hanya bisa menguasai setengah jurus dari ajian itu karena keterbatasan tubuhnya, dia belum tau apa efek dan kekuatan yang akan dihasilkan jika seluruh ajian dikuasai.
Wulan kali ini benar benar bertaruh dengan seluruh yang dimilikinya, dia bahkan siap mati jika terjadi sesuatu pada Sabrang. Dia sadar separuh jurus yang dia ciptakan belum pernah dikuasainya, dia menciptakan hanya melalui logika dan turunan dari separuh yang mampu dia kuasai.
Namun satu yang Wulan tau, semakin tinggi ilmu kanuragan maka efek yang merusak tubuh penggunanya pun akan sangat besar.
Beberapa kali dia sempat ragu untuk melanjutkan saat Sabrang telah menguasai separuh ajian Inti lebur saketi namun setelah melihat kondisi tubuh Sabrang dan memeriksanya dia memberanikan diri mengajari setahap demi setahap pada jurus berikutnya.
Hampir satu purnama Wulan tidak tidur hanya demi memeriksa tubuh Sabrang dan memperkirakan efek yang akan timbul.
Wajahnya tampak lesu dan menampakkan guratan lelah baik fisik maupun pikirannya.
Namun kali ini ada yang berbeda, tepat satu hari sebelum purnama datang, yang artinya besok adalah hari terakhir latihan keras yang dijalani Sabrang, Wulan tersungkur tak berdaya oleh serangan Sabrang dengan wajah bahagia.
Bukan karena Sabrang yang berhasil mengalahkannya yang membuat Wulan bahagia, bukan pula karena Sabrang mampu mengalahkannya hanya dalam dua jurus saja.
Wulan memang cukup terkejut dia dapat dipojokkan hanya dengan dua jurus saja, dan hal itu membuktikan jika Ajian yang dia ciptakan hampir seumur hidupnya itu telah dikuasai dengan sempurna oleh Sabrang.
__ADS_1
Yang membuat Wulan makin bahagia adalah tubuh Sabrang mampu menahan efek ajian Inti lebur saketi.
Hanya rambutnya yang memutih dan matanya yang berwarna merah menyala seluruhnya.
Tubuh tujuh Bintang seolah tak terpengaruh sama sekali dengan efek ajian Inti lebur saketi, hal yang selama ini menjadi kelemahan terbesar trah Tumerah.
"Aku pun tak yakin trah Dwipa mampu mempelajari ilmu ini, sekarang aku mengerti mengapa pernikahan silang antar tiga trah sangat dilarang," gumamnya dalam hati sambil menyambut uluran tangan Sabrang.
"Maaf guru," ucap Sabrang pelan.
"Tak perlu minta maaf, kau sudah menguasai semua jurusku dengan sempurna, tak heran aku kalah hanya dalan beberapa hari serangan," balas Wulan.
Wulan mengajak Sabrang duduk didekat air terjun sambil membasuh wajahnya, dia menatap Sabrang sesaat sebelum memulai bicara.
"Ajian ini kuciptakan karena rasa sakitku dibuang oleh trah Tumerah karena dianggap tidak berguna, bisa kukatakan ini ilmu kanuragan tertinggi yang pernah kau pelajari.
Aku ingin kau gunakan ilmu kanuraganku untuk kebaikan, kau ingat itu," ucap Wulan sambil memejamkan matanya sesaat.
"Manusia akan selalu dikuasai hawa nafsu dan ambisi saat memiliki kekuatan tak terbatas, itulah yang terjadi dengan leluhur kita, kuharap kau tidak mengulangi kesalahan mereka.
Waktumu berlatih sebenarnya masih menyisakan satu hari namun tak ada lagi yang bisa kuajarkan padamu. Kau hanya perlu mengasah kemampuanmu dan Rubah putih lah orang yang paling tepat.
Kita adalah satu garis keturunan trah Tumerah, besok aku ingin mengajakmu ke kuburan ayahku yang juga dicap sebagai pengkhianat.
Beberapa orang yang mereka anggap pengkhianat dan berhasil mereka bunuh dikuburkan di sebuah hutan bernama Lali jiwo, aku ingin kau ikut denganku dan memberikan penghormatan pada mereka. Mereka sama dengan kita, berjuang demi menghentikan Masalembo. Setelah itu kau akan ikut dengan Rubah putih ke suatu tempat, pesanku hanya satu padamu, berhati hatilah karena tempat yang akan kau kunjungi bersamanya bukan tempat sembarangan," ucap Wulan pelan.
"Apa Arjuna dan Naraya dikuburkan disana?"
Wulan menggeleng pelan, "Mereka berhasil melarikan diri dari Masalembo dan mati dalam pelarian, aku tidak tau dimana mayat mereka berada. Bersiaplah, besok pagi pagi sekali kita akan berangkat," jawab Wulan sambil berdiri dan melangkah pergi.
"Semua sudah kuajarkan padamu, kini semua tergantung padamu untuk mengembangkannya. Naraya, kau akan lihat seberapa kuatnya murid kesayanganku itu," gumam Wulan dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Mbang, saya mohon maaf kemarin PNA tidak Update karena saya sedang diluar kota menghadiri acara keluarga. Saya coba mengejar untuk update namun sampai jam 8 malam waktu masih belum memungkinkan.
Terima kasih yang sudah mau menunggu dan tetap mendukung PNA baik like Share maupun Vote.
Sabrang Damar akan berbagi sedikit give Away dalam rangka menyambut HUT RI kali ini. Jika berkenan mengikuti beberapa perlombaan ataupun ingin menjadi Donatur silahkan masuk grup Author dengan pesan "PNA Give away" agar bisa di acc oleh admin grup saya.
Pedang Naga Api dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia mengadakan berbagai macam perlombaan :
Lomba Karaoke
lomba Baca puisi
Lomba kreasi Poster / Baner ucapan Hut RI (Wajib Menempelkan logo Pedang Naga Api
Kuis seputar Pedang Naga api
Tabur kotak hadiah Poin dan Koin
Hadiah :
Pulsa ratusan ribu rupiah
Ribuan Poin dan Koin
Pendaftaran di grup PNA, bisa hubungi Enny, Nop nop
GRATIS
Waktu pelaksanaan :
__ADS_1
Minggu, 23 Agustus 2020 pukul 19.30 WIB