Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kabut Abadi


__ADS_3

Sabrang menggendong bayi itu hati hati, terlihat kebahagiaan terpancar di wajahnya. Dia mencium lembut pangeran Sutawijaya berkali kali sambil memainkan mimik wajah untuk menggodanya.


"Wajah pangeran sangat mirip dengan anda Yang mulia," ucap Tungga Dewi sambil tersenyum bahagia.


"Benarkah?" tanya Sabrang bangga, dia terus menatap pangeran Sutawijaya dengan pandangan bahagia.


Tungga Dewi mengangguk pelan, "Ibu ratu juga mengatakan hal yang sama."


"Ibu? apa dia baik baik saja?" Sabrang menoleh kearah Tungga Dewi.


"Anda tak perlu khawatir Yang mulia, beliau baik baik saja. Sama sepertiku, beliau selalu percaya anda masih hidup," jawab Tungga Dewi pelan.


Sabrang terdiam sesaat, dia kemudian meletakkan pangeran Sutawijaya yang sudah tertidur di tempat tidur.


"Apa kau tidak ingin bertanya kemana aku selama ini?" tanya Sabrang lembut.


"Tidak Yang mulia, hamba percaya anda pasti memiliki alasan untuk tidak kembali ke keraton terlebih dahulu, yang terpenting bagi hamba adalah anda baik baik saja," balas Tungga Dewi.


"Kau adalah ratu terbaik yang dimiliki Malwageni," Sabrang memegang kedua tangan Tungga Dewi perlahan.


"Dengarkan aku Dewi, saat ini kondisi keraton sedang tidak menentu. Kehadiran utusan Arkantara sepertinya akan menjadi pemicu perang besar di masa depan. Kau mungkin sudah mendengar jika mereka sedang berambisi menguasai Nuswantoro dan aku pastikan Malwageni akan melawan jik diminta tunduk.


"Namun situasi kali ini sedikit lebih rumit karena kelahiran Pangeran dan aku tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian. Aku sudah meminta paman Wardhana untuk menghindari perang tapi jika terjadi sesuatu, aku ingin kau dan pangeran pergi sementara waktu ke sekte Pedang Naga Api," ucap Sabrang pelan.


"Tapi Yang mulia..."


"Tidak ada bantahan, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan anakku seperti ayah dulu menyelamatkanku dan ibu. Kau harus merawat dia karena kelak dia akan jadi raja yang hebat," potong Sabrang.


"Maaf Yang mulia, hamba belum pernah meminta sesuatu dari anda selama ini, bolehkan kali ini hamba memohon sesuatu?"


"Katakan Dewi, apa yang kau inginkan dariku?" jawab Sabrang cepat.


Tungga Dewi merubah posisi duduknya tiba tiba, dia kemudian berlutut dihadapan Sabrang.


"Ampun beribu ribu ampun Yang mulia, jika diizinkan hamba tidak ingin pangeran naik tahta," ucap Tungga Dewi pelan.


"Tidak ingin naik tahta? bagaimana bisa kau bicara seperti itu, kau adalah ratu Malwageni dan secara aturan keraton pangeran adalah penerusku kelak," balas Sabrang terkejut.


"Hamba mohon maaf Yang mulia, itu hanya permintaan hamba, jika Yang mulia tidak mengizinkan hamba akan mengikuti semua aturan," jawab Tungga Dewi terbata bata.


Sabrang menatap Tungga Dewi bingung, dia sangat mengenal sifat ratunya itu. Jika Tungga Dewi sudah meminta sesuatu, itu pasti dengan pertimbangan panjang.


"Katakan padaku, apa alasanmu tidak ingin pangeran naik tahta? tanya Sabrang.


Tungga Dewi terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Sabrang, namun setelah mengumpulkan keberanian, dia akhirnya bicara.


"Hamba sangat berterima kasih anda telah mengangkat hamba menjadi ratu, namun kejadian saat anda menghilang membuat hamba sangat takut. Berada di lingkaran kekuasaan yang penuh kepentingan dan intrik politik benar benar menakutkan, hamba hanya ingin pangeran menjadi pendekar kuat seperti anda," jawab Tungga Dewi sedikit takut.


"Jadi karena itu kau ingin pangeran menjauh dari tahta kerajaan?" Sabrang menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku minta maaf jika tidak berada di sampingmu saat itu, paman Wardhana sudah menceritakan semuanya padaku mengenai kejahatan Adiwilaga.


"Dewi, sudah menjadi hak pangeran Sutawijaya untuk naik tahta kelak dan aku pastikan kejadian itu tak akan terulang lagi. Aku sudah memiliki orang yang tepat untuk melindungimu dan pangeran jika kejadian ini kembali terulang dan aku sedang tidak berada di keraton."


"Orang yang tepat?" Tungga Dewi mengernyitkan dahinya.


"Jika saatnya tiba, dia akan kubawa masuk ke keraton dan aku pastikan dia akan melindungi kalian dengan nyawanya," jawab Sabrang menenangkan.


Tungga Dewi sebenarnya masih ingin membantah namun dia tidak ingin suasana hati Sabrang buruk disaat hari bahagia mereka.


"Terima kasih Yang mulia," balas Tungga Dewi.


"Aku harus pergi dulu, ada hal yang harus kulakukan bersama paman Wardhana. Tolong rahasiakan kemunculanku sementara waktu sampai para utusan Arkantara pergi. Aku akan sering mengunjungi kalian saat malam hari," Sabrang mengusap lembut rambut Tungga Dewi sebelum mengecup keningnya.


Tungga Dewi mengangguk lega, kini kebahagiaannya menjadi lengkap setelah melihat Sabrang baik baik saja.

__ADS_1


"Aku yakin Malwageni akan menjadi kerajaan besar di bawah pimpinan ratu hebat sepertimu dan tolong sampaikan pada ibu bahwa aku baik baik saja," ucap Sabrang sebelum melangkah keluar.


"Baik Yang mulia," jawab Tungga Dewi cepat.


***


Saat matahari mulai tenggelam menandakan malam mulai datang, sepuluh pendekar misterius yang berpakaian serba hitam dan mengenakan penutup wajah bergerak dengan kearah Trowulan.


Seolah tidak terganggu dengan suasana yang semakin gelap, mereka bergerak lincah diantara pepohonan dan berhenti di dekat gubuk yang dibangun Sabrang untuk Mentari.


"Jadi ini tempatnya? kau sudah memeriksa semuanya?" tanya salah satu pendekar pada seorang utusan Arkantara.


"Be..benar tuan, aku sudah memeriksa semuanya sebelum seorang pendekar muda misterius dengan sebuah keris pusaka muncul," jawab utusan itu.


"Kau kalah oleh seorang pendekar muda? percuma ketua memberikanmu ilmu pedang bunga beracun padamu, Limba," ejek pendekar itu.


Utusan itu tampak geram mendengar ejekan itu namun dia tidak bisa berbuat apa apa karena yang ada dihadapannya adalah kelompok kuil suci utara, salah satu dari empat kelompok besar yang berada di bawah perintah langsung Agam.


Agam Argani memang membentuk empat kelompok besar sebagai pelindung sekte kuil suci yang terdiri dari para pendekar pilihan. Empat kelompok ini memiliki tugas masing masing untuk mewujudkan ambisi Agam membangkitkan Mandala.


"Aku mohon maaf tuan Dwipangga, tapi kekuatannya sangat besar," ucap Limba sambil menahan amarahnya.


"Sampah tetap saja sampah walau diberi jurus hebat sekalipun," Dwipangga mengambil gulungan kecil dari balik pakaiannya dan membukanya di tanah.


Dia kemudian membuat perapian kecil dan mulai membaca tulisan di gambar itu. Dwipangga menatap langit dan melihat sinar bulan mulai menyinari tempat itu.


"Pergilah ke tujuh titik ini dan cari batu besar dengan ciri khusus berbentuk lingkaran sempurna. Siram batu itu dengan air, dan biarkan terkena sinar bulan. Tunggu sesaat dan akan muncul petunjuk untuk membuka Cahaya Surga," ucap Dwipangga pelan sambil menunjuk tujuh titik yang ada di gulungan itu.


Tujuh orang pendekar kuil suci utara langsung bergerak kearah yang ditunjukkan Dwipangga sambil membawa wadah air.


Setelah cukup lama para pendekar itu pergi, suara keras seperti batu terjatuh dalam jumlah banyak terdengar dari sisi jurang yang berada tak jauh di pinggir Trowulan.


"Cahaya Surga sudah terbuka," Dwipangga berlari kearah asal suara bersama tiga pendekar lainnya.


Sebuah lubang besar yang memancarkan cahaya indah berwarna merah terlihat di sisi jurang.


"Gua Cahaya surga, tempat di mana pusaka ketujuh atau terakhir mustika delima merah yang paling kuat berada," Dwipangga terus menatap cahaya merah itu takjub sambil menunggu pendekar lainnya kembali.


Tak lama, para pendekar yang tadi mencari tujuh buah batu kembali.


"Tuan, itukah Gua cahaya surga?" tanya salah satu pendekar.


Dwipangga mengangguk pelan, dia tampak bersiap turun sambil mengeluarkan pedang pusaka nya.


"Dua orang ikut denganku, sisanya berjaga di sini. Berhati hatilah dengan setiap langkah kalian di dalam gua cahaya surga karena kabarnya, jika pusaka terakhir mustika merah delima di ambil, Kabut Abadi akan terlepas dari tempat itu.


Gunakan tenaga dalam untuk mencegah efek kabut menguasai pikiran atau kalian akan berubah menjadi Iblis," ucap Dwipangga pelan.


"Kabut Abadi?" tanya pendekar itu bingung.


"Kabut abadi adalah sebuah segel terkuat yang diciptakan oleh seseorang untuk mencegah Mustika terakhir merah delima di curi. Jika Mustika itu bergeser sedikit saja dari tempatnya maka kabut abadi akan mengurung kita di gua itu sampai menjadi gila dan mati.


Keanehan dari segel itu adalah kabutnya yang seolah hidup, kabut itu tidak akan keluar dari gua cahaya surga walau terkena angin sekalipun. Kabut itu seolah menjadi menjaga tempat itu," ucap Dwipangga sebelum melompat turun diikuti dua orang pendekar kuil suci utara.


***


Sabrang baru saja sampai di penginapan dan hendak memejamkan matanya saat Naga Api tiba tiba bereaksi aneh.


"Naga Api, apa yang kau lakukan? umpat Sabrang saat kobaran api tiba tiba meluap dari tubuhnya dan hampir membakar Emmy yang tertidur disebelahnya.


"Yang mulia, apa yang terjadi?" tanya Emmy terkejut ketika merasakan hawa panas.


"Tenanglah, aku sedang mencari tau," ucap Sabrang pelan, dia kemudian bangkit dan duduk bersila.


"Naga api?" tanya Sabrang kembali, dia merasa reaksi Naga Api kali ini tidak biasa.

__ADS_1


"Sesuatu sedang terjadi di tempat pertarungan kita dengan Lakeswara, aku merasakan ada kekuatan besar yang lama terkubur berusaha keluar dari tempat itu," jawab Naga Api cepat.


"Trowulan? apa mungkin pendekar misterius kemarin?" tanya Naga Api kembali.


"Aku tidak tau, kita harus segera memeriksanya karena aku merasa kekuatan ini bisa menghancurkan dunia persilatan," ucap Naga Api cepat.


Sabrang mengangguk sebelum menyambar penutup wajah yang biasa dia gunakan.


"Emmy, aku harus memeriksa sesuatu, tetap tinggal di penginapan dan jaga Arina. Aku akan segera kembali," Sabrang melesat pergi tanpa menunggu jawaban Emmy.


"Yang mulia," Emmy tampak khawatir, dia merasa sesuatu yang besar sedang terjadi.


"Cepat, tingkatkan lagi kecepatanmu," ucap Naga Api kesal.


"Apa kau pikir aku sedang bersantai?" balas Sabrang, dia terus menggunakan ajian inti lebur saketi agar sampai lebih cepat di Trowulan.


Setelah melesat beberapa saat, Sabrang akhirnya sampai di Trowulan, dia menatap sekelilingnya dan tidak menemukan apapun.


"Kau yakin merasakan sesuatu Naga Api?" tanya Sabrang bingung, sejauh mata memandang hanya kesunyian yang dilihatnya.


"Aku tidak mungkin salah, aku benar benar merasakan energi besar dari arah sini."


Sabrang melompat keatas gubuk untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas, dia menggunakan mata bulannya untuk melihat lebih jelas.


Tak lama, mata bulannya menangkap sisa energi yang melayang di udara dipinggir jurang, dia langsung bergerak mendekat.


Sebuah gua besar terlihat di dinding jurang, dia kembali menajamkan mata bulannya untuk melihat lebih jelas kabut yang seolah menutupi gua itu.


"Kabut di malam terang seperti ini?" ucapnya bingung.


"Berhati hatilah, sepertinya itu bukan kabut biasa. Kau lihat bukan kabut itu tidak tertiup angin sama sekali?" balas Naga Api.


"Aku harus turun untuk memastikannya, ada yang tidak beres disini karena seingatku tidak ada gua di jurang ini," Sabrang tiba tiba melompat masuk menembus kabut itu.


Gerakan Sabrang langsung terhenti saat sesuatu masuk ke tubuhnya dengan cepat tanpa bisa dilawan.


"Naga api sesuatu sedang berusaha merebut kesadaran Sabrang!" teriak Anom tiba tiba, dia melepaskan aura hitam untuk mencegah kabut abadi menguasai tubuh Sabrang.


"Aku tau, kau pikir aku hanya diam? energi aneh ini sebenarnya tidak terlalu besar tapi cukup sulit bagiku untuk menekannya," Kobaran api mulai menyelimuti tubuh Sabrang namun tak berlangsung lama, kabut tebal di dalam gua seolah menekan kobaran api itu.


"Sial, jika aku menggunakan seluruh kekuatanku maka kita akan terkubur di gua ini," umpat Naga api kesal.


Perlahan namun pasti, mata kiri Sabrang mulai berubah, dan diantara kesadarannya yang mulai menipis, seorang pria tua yang mengenakan pakaian aneh muncul dalam pikirannya.


"Tak kusangka kau datang lebih cepat anak muda, sepertinya sudah saatnya kita menghancurkan dunia ini dan mencegah peradaban Maja dalam ramalan muncul," pria itu mencengkram leher Sabrang tiba tiba dan menghisap kekuatannya perlahan.


"Siapa kau dan bagaimana kau bisa ada dalam pikiranku?" Sabrang mencoba berontak, dia menggunakan Ajian Inti lebur saketi untuk melawan namun tak berhasil. Kekuatan Naga api seolah terkunci oleh sesuatu dan tidak bisa digunakan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada para pendekar Jomblo.


Pertama mengenai Kabut Abadi Trowulan


Berbicara mengenai Trowulan yang konon dulu menjadi pusat pemerintahan Majapahit memang tidak pernah ada habisnya karena tempat itu diselimuti Legenda dan mitos yang berkembang di masyarakat. Selain kolam segaran ada mitos lain yang menurut saya unik dan sangat membuat penasaran.


Kabut Abadi Trowulan adalah salah satu mitos yang berkembang di masyarakat daerah Mojokerto konon katanya kabut ini adalah salah satu strategi yang dilakukan oleh Patih Gajah mada dan prajurit Majapahit untuk menyembunyikan Kerajaan Majapahit dalam kabut agar tidak dapat diserang.


Kabut abadi ini biasanya terlihat pada pagi, sore, dan malam hari. kenapa disebut kabut abadi karena pada umumnya kabut akan menghilang ketika matahari terbit, namun kabut yang ada di Trowulan ini terkadang malah bertambah tebal. Hal ini menarik karena Desa Trowulan terkenal dengan suhu yang cukup panas.


Percaya atau tidak pada malam atau hari yang dianggap keramat seperti malam senin suasana yang diciptakan oleh kabut ini akan membuat setiap penikmatnya merasa sensasi mistis yang lebih menegangkan.


(Saya kutip dari berbagai sumber benar atau tidaknya saya tidak tau tapi bukan itu intinya. PNA mengangkat mitos itu untuk menyembunyikan Mustika merah delima terakhir di gua Cahaya Surga).


Yang kedua, tentang Kitab Tuna Asmara, yang sudah terbit satu chapter dan akan ada chapter baru saat malam minggu.

__ADS_1


Ketiga, ABM akan mulai update setiap minggu mulai minggu depan sesuai janji saya, bisa dua chapter atau lebih, jadi di tunggu....


Terakhir jelas Vote, masih ditunggu votenya di PNA agar bisa stay di sepuluh besar.


__ADS_2