
(Sekte Iblis Hitam)
Lingga maheswara menarik nafas panjang, matanya menatap langit langit Aula pertemuan Sekte Iblis Hitam.
"Pendekar bertopeng itu muncul kembali di Sekte Kencana ungu. Terlepas dari gerakan Lembah tengkorak yang mencurigakan namun Pendekar bertopeng itu jelas mengincar kita".
Ki Dongkel mengangguk setuju dengan pendapat Lingga.
"Ku dengar kejadian di sekte Rajawali Emas dia pun muncul membantu Sudarta, kita harus bertindak sebelum ketua mengetahuinya".
Lingga mengerti ketakutan yang dirasakan ki Dongkel, beberapa bulan belakangan ini Aliran putih bergeliat di tengah tekanan yang dilakukan Majasari. Entah kenapa akhir akhir ini seakan muncul kekuatan kekuatan baru yang membawa angin segar bagi kelompok aliran putih. Di tambah kemunculan tak terduga Tapak Es Utara di Sekte Kencana Ungu jelas akan sangat merepotkan mereka.
"Yang membuatku sedikit khawatir bukan Pendekar Bertopeng kakang namun kemunculan Tapak Es Utara. Kita semua tau Mantili adalah orang yang paling tidak perduli dengan dunia persilatan. Namun tiba tiba dia muncul di Sekte Kencana Ungu. Entah apa yang membuatnya memutuskan ikut campur. Itu bukan sifatnya".
"Kakang paling memahami kekuatannya akan sangat merepotkan jika kita menghadapinya" Raut wajah Lingga terlihat masam. Dia benar benar tidak memahami situasi saat ini.
"Lalu apa tindakan kita adik?" Ki Dongkel memandang Lingga penasaran.
"Setelah Ketua Teratai merah kini Tapak Es Utara, apakah kakang melihat benang merah antara keduanya?".
Ki dongkel terlihat berfikir sejenak namun dia tidak bisa membaca keterkaitan keduanya.
"Pedang Naga Api kakang, Semua kekacauan ini bertepatan dengan kemunculan Pedang itu. Mereka seakan punya semangat baru dengan kemunculan Pedang Naga Api".
"Siapa sebenarnya anak yang membawa Pedang Naga api itu? Dia bagaikan magnet yang menarik semua kekuatan kekuatan baru yang dulu selalu memutuskan Netral di Dunia Persilatan".
Ki Dongkel mengangguk pelan, setelah dia pikirkan ternyata apa yang dikatakan Lingga benar. Sejak munculnya Pedang Naga Api rencana mereka sedikit berantakan.
"Aku ingin mengirim Iblis pencabut nyawa menyelidiki siapa anak itu. Sementara untuk kakang aku ingin meminta bantuan sedikit" Lingga menatap seniornya tersebut.
"Aku ingin kakang mencari tau maksud Lembah tengkorak menyerang Kencana Ungu, aku merasa gerakan mereka sedikit mencurigakan".
"Baik akan kulakukan" Ki Dongkel menyanggupi permintaan Lingga. Dia sadar walaupun Lingga juniornya namun kekuatan dan kepintarannya berada di atas dirinya. Selain itu Lingga tidak pernah bertindak kurang ajar dan membuatnya tersinggung. Hal itulah yang membuat Ki Dongkel menghormatinya.
__ADS_1
.............................
"Jadi Pedang ini dan Jurus Api Abadi tak bisa digunakan bersama?" Mantili memandang Sabrang tak percaya.
Sabrang mengangguk pelan "Menggunakan Pedang Naga Api dan api abadi bersamaan akan mengakibatkan tabrakan tenaga dalam di tubuh penggunanya dan akan mengakibatkan luka dalam. Itu yang dikatakan kakek".
"Aku sudah menduganya saat melihat gerakan aneh Suliwa bertarung. Namun aku sungguh tak menyangka Pusaka yang diciptakan untuk digunakan berpasangan tetapi memiliki sifat yang bertolak belakang".
Tak lama pintu kamar Sabrang diketuk terdengar suara Nilam sari dari luar.
"Tetua tempat yang anda minta telah kami sediakan".
Sabrang membuka pintu dan mengernyitkan dahinya.
"Tempat apa nona?" Sabrang merasa tidak meminta sesuatu pada Nilam sari.
"Aku yang memintanya, ikutlah denganku akan kuajari hal menarik padamu".
Mantili melangkah mengikuti Nilam sari, Sabrang mengikuti dibelakangnya dengan wajah bingung.
.............................
"Bukankah ini hal yang menarik nona jika benar kabar yang anda dengar bahwa Ketua Tapak Es Utara mulai turun gunung. Aku sudah menyadari saat pertama bertemu Sabrang ada sesuatu yang menarik dalam diri anak itu terlepas dari dia adalah Keturunan Yang mulia Raja". Suliwa tersenyum bangga menatap Wulan sari.
Wulan sari mengangguk setuju, dia bahkan hampir tidak percaya kabar yang didengarnya dari para mata matanya jika Mantili ketua Tapak Es utara datang jauh jauh ke Sekte Kencana ungu hanya untuk menyelamatkan Sabrang.
Semua tau sifat Mantili yang cenderung tidak peduli dengan yang terjadi di dunia persilatan, bahkan cenderung kejam. Jika dia mau datang jauh hanya untuk menyelamatkan Sabrang sepertinya adalah hal yang mustahil kecuali ada sesuatu yang membuatnya tertarik.
"Mulai hari ini akan sangat menarik melihat perkembangan anak itu di dunia persilatan, kuharap dia segera menemukan solusi untuk menggunakan Ilmu pedang api abadi secepatnya".
..............................
"Inti dari ilmu Tapak Es adalah menciptakan suhu dingin dari tenaga dalam. Sedikit berbeda dengan jurus lainnya Tapak es utara menitikberatkan menekan suhu di tubuh pengguna maupun di sekitar dengan tenaga dalam. Semakin tinggi tenaga dalam mu, semakin dingin suhu yang bisa kau ciptakan".
__ADS_1
Mantili membuat bongkahan es di tangannya kemudian membuat perisai Es di tubuhnya. Sabrang memperhatikan dengan antusias.
"Jurus Tapak Es abadi pun bekerja dengan sistem yang sama. Kau bisa mengubah jurus lainnya sesuai dengan kebutuhanmu".
"Jika kau mau ikut denganku akan kuajari seluruh Ilmu Sekte Tapak Es utara. Namun aku menghormati keputusanmu, maka aku hanya mengajarimu Inti sari Ilmu Tapak Es Utara dan beberapa jurus saja. Kau bisa mengembangkan jurus sendiri sesuai dengan kebutuhanmu. Keunggulan Sekte Tapak Es Utara adalah mampu berevolusi sesuai dengan kebutuhan pengguna".
Sabrang mengangguk pelan dia masih tidak mengerti mengapa Mantili mau mengajarinya ilmu Tapak Es Utara.
"Kenapa nenek mengajarkan ilmu ini padaku? Bukankah nenek tadi mengatakan jika Ibu ku egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri".
Mantili memandang Sabrang lembut, ada kesedihan terpancar dari matanya.
"Ibumu memang orang yang egois, bahkan aku berlatih sangat keras saat ibumu memutuskan pergi untuk menunjukan bahwa aku bisa lebih hebat darinya dan membuatnya menyesal suatu saat dengan keputusannya".
"Namun dia tetaplah adik ku, satu satunya keluarga yang kumiliki dan aku yakin diapun merasakan apa yang kurasakan. Kini aku hanya memilikimu sebagai keluargaku". Terlihat air mata menetes dari wanita yang oleh sebagian orang dianggap sebagai Wanita paling kejam di dunia persilatan.
"Jika kau ingin mencari Tanah Para Dewa mungkin aku bisa sedikit membantumu. Ada seorang pertapa di Bukit Cetho bernama Rakiti. Ku dengar dia pernah sampai di Tanah Para Dewa, kau bisa meminta petunjuknya. Walaupun dia sedikit aneh namun kurasa dia lebih bersahabat dibanding Singa Emas dari gunung cermai".
"Terima kasih nek atas segala bantuan nenek, aku yakin ibu sangat menyayangi nenek". Sabrang menunduk memberi hormat pada bibinya.
"Kau benar benar mirip Sekar Pitaloka nak" Mantili meraih tubuh Sabrang dan memeluknya.
"Berhati hatilah nak, kau tidak tau apa yang menunggumu di Tanah Para Dewa".
..............................
"Anda sudah mau pergi pangeran?" Wijaya dan Lasmini memberi hormat pada Sabrang saat bertemu di Aula Pertemuan Kencana Ungu.
"Benar paman aku harus melanjutkan perjalananku kembali, Kuharap paman dan bibi sehat selalu".
"Tolong jaga pangeran untuk ku nona" Wijaya memandang Mentari dan dibalas anggukan pelan oleh Mentari.
"Sampaikan salamku untuk Nona Nilam paman, aku tak sempat mengunjunginya dan sepertinya dia pun sedang sibuk merawat ayahnya".
__ADS_1
"Jaga diri kalian" Sabrang menundukkan kepalanya pada Gundala dan Lasmini diikuti Mentari di belakangnya.
"Ayo pergi nona" Sabrang melangkah melanjutkan perjalanannya.