Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kondisi Kesehatan Wardhana II


__ADS_3

Wardhana duduk di ruangannya dengan hati hati, rasa sakit di dadanya masih sedikit terasa walau Wulan tadi telah mengalirkan tenaga dalam murninya untuk membantu mengurangi rasa sakit itu.


Dia mengambil obat yang diberikan Wulan padanya dan meminumnya.


"Sepertinya luka ini semakin parah, aku tidak boleh mati sebelum menyelesaikan semua permasalahan Malwageni," Wardhana memejamkan matanya, dia mencoba untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.


"Tidak boleh terluka lagi ya...bagaimana mungkin seorang prajurit tidak boleh terluka," ucap Wardhana sambil tersenyum saat teringat pesan Wulan.


"Paman," sebuah suara membangunkan Wardhana, dia menoleh kearah suara dan menemukan Sabrang berdiri di sampingnya.


"Yang mulia?" Wardhana bangkit dari duduknya dan langsung memberi hormat.


"Paman baik baik saja? wajah paman terlihat sedikit pucat," tanya Sabrang khawatir.


"Mohon jangan terlalu khawatir Yang mulia, hamba hanya sedikit lelah karena baru saja kembali dari Saung Galah," jawab Wardhana sopan.


"Begitu ya... paman harus menyempatkan beristirahat dan jangan terlalu memikirkan semua masalah sendiri," balas Sabrang.


"Terima kasih Yang Mulia, hamba akan mengikuti semua petunjuk anda."


"Lalu bagaimana dengan Saung Galah?" tanya Sabrang kembali.


"Mereka sudah mulai bergerak Yang mulia, hamba mendapat kabar dari telik sandi yang kita sebar bahwa Arkantara juga mengirim utusan ke Saung Galah diam diam dan menemui pangeran Pancaka," jawab Wardhana.


Wardhana kemudian menjelaskan semua rencanannya termasuk menggunakan putri Andini dan Adiwangsa untuk menjebak mereka semua.


"Adikku memang tak pernah bisa berubah, entah apa sebenarnya yang dia pikirkan," ucap Sabrang lirih.


"Maaf jika hamba lancang Yang mulia, tapi pangeran tak akan bisa berubah karena itu sudah sifatnya. Anda pun tak akan mungkin membunuhnya, jadi satu satunya cara untuk mengendalikan pangeran dengan membiarkan orang lain menekan pergerakannya."


"Pancaka memang bodoh, dia seolah tidak perduli dimanfaatkan orang lain demi ambisinya. Maaf telah menempatkan paman dalam situasi seperti ini," jawab Sabrang pelan.


"Mohon jangan meminta maaf Yang mulia, hamba hanya melakukan apa yang menurut hamba benar, balas Wardhana.


Sabrang tampak lega, dia merasa beruntung memiliki patih seperti Wardhana yang setia padanya dan selalu bisa di andalkan dalam situasi apapun.


"Paman, sesuatu telah terjadi di Trowulan tadi malam dan sepertinya ini berhubungan dengan mustika Merah delima," ucap Sabrang sambil menceritakan yang dialaminya saat berada di Gua Cahaya Surga.


"Sepertinya mereka sudah bergerak Yang mulia, jika yang dicuri adalah benar mustika merah delima itu tandanya kebangkitan Mandala sudah dekat. Kita harus cepat menghentikan semuanya sebelum terlambat.


Saat hamba pulang dari Saung Galah, hamba bertemu dengan tetua Wulan dan tuan Rubah Putih. Ada satu hal yang akhirnya hamba mengerti dari semua rangkaian masalah di dunia persilatan ini Yang mulia. Pasukan Kuil suci sudah ada sejak dulu dan itu artinya rencana membangkitkan Mandala telah di susun lama," balas Wardhana pelan.


"Pasukan Kuil suci sudah ada sejak dulu?" Sabrang mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Saat kita menemukan Gropak Waton di puncak Kenteng Songo, hamba sudah merasa aneh karena secara kebetulan Lakeswara dan dua pemimpin Masalembo lainnya terluka di kaki gunung tersembunyi itu. Apa tujuan Lakeswara mendatangi Gunung yang sangat jarang didatangi oleh para pendekar itu dan siapa yang melukai mereka masih menjadi misteri.


Kemudian terusir nya tetua Wulan bersama keluarganya yang konon karena melihat sebuah kitab rahasia milik Lakeswara dan bagaimana ayahnya memiliki kitab Sabdo Loji saat itu sepertinya adalah kunci mengurai masalah ini. Jika tebakan hamba benar, Gropak Waton terlibat bersama pasukan Kuil suci dalam menggiring dan memanfaatkan Lakeswara untuk menyulut kekacauan sebagai langkah awal membangkitkan Mandala.


Mereka ingin membuat kekacauan seperti dulu sebagai peringatan jika mereka akan kembali membalas dendam dan itu rencana mereka sepertinya hampir berhasil dengan munculnya Guntur Api dan Suku Iblis petarung," jawab Wardhana.


"Tapi paman, jika semua adalah rencana mereka sejak dulu, mengapa sampai harus selama ini hanya untuk membangkitkan Mandala? bukankah Lakeswara sudah membuat kekacauan sejak dulu," balas Sabrang bingung.


"Bagaimana jika semua karena tuan Naraya?" ucap Wardhana.


"Maksud paman?"


"Hamba tidak terlalu mengerti mengenai ilmu kanuragan termasuk tubuh istimewa yang anda miliki, tapi ilmu kanuragan yang ada di dalam kitab Sabdo Loji konon merupakan ilmu tertinggi dan pasti membutuhkan tubuh istimewa juga untuk menguasainya.


Mungkin saat itu mereka sedang mempersiapkan Lakeswara sebagai tubuh baru untuk kebangkitan Mandala namun pengkhianatan yang dilakukan Naraya dengan menyegel tubuh para pemimpin dunia memaksa mereka menunda rencana itu.


Ini hanya perkiraan hamba Yang mulia, dan satu satunya cara untuk mengetahui semuanya adalah dengan memeriksa kembali daratan Masalembo," ucap Wardhana.


Sabrang terdiam, dia hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Wardhana tentang penyebab kekacauan dunia persilatan selama ini. Jika benar Lakeswara hanya dimanfaatkan oleh mereka, dia tidak bisa membayangkan seberapa kuat pasukan kuil suci.


"Aku akan ikut paman memeriksa kembali daratan Masalembo," ucap Sabrang pelan.


"Baik Yang mulia, besok pagi sebelum matahari terbit kita pergi," jawab Wardhana sopan.


"Aku akan menunggu paman di hutan itu, beristirahatlah malam ini, aku merasa wajah paman berbeda dari biasanya," ucap Sabrang sebelum pergi.


"Maaf Yang mulia, hamba terpaksa merahasiakan semua ini, jika hamba tidak bisa bertahan dalam pertempuran kali ini, hamba harap anda menemukan orang yang lebih baik dari seorang Wardhana," tubuh Wardhana tiba tiba seperti melayang sebelum roboh di lantai.


"Aku harus bertahan, aku harus bertahan," Wardhana mencoba meraih ramuan obat obatan yang di berikan Wulan padanya.


Setelah bersusah payah meminum ramuan itu, dia tak sadarkan diri dengan sisa sisa obat yang tumpah di pakaiannya.


Wardhana sengaja tidak meminta bantuan para prajurit penjaga di luar karena dia takut semangat tempur mereka turun ketika mengetahui kondisinya terlebih saat situasi sedang genting seperti ini.


Tubuh sang Naga dari Malwageni itu terlihat sudah tak mampu lagi menanggung beban berat yang selama ini dibawanya. Luka akibat pertarungan dan pertempuran selama ini yang kadang hampir merenggut nyawanya mulai menggerogoti tubuhnya perlahan.


***


Wulan menatap sebuah gulungan ditangannya dengan serius, sebuah gulungan yang berisi catatan ilmu kanuragan yang dia curi dari Masalembo itu tiba tiba dibakarnya.


Air matanya kembali menetes di pipinya saat mengingat kembali pertengkaran dengan Wardhana kemarin sebelum Rubah Putih muncul.


"Aku hanya ingin membantumu! aku bisa menggunakan segel keabadian dan kita akan mencari tubuh baru untukmu!" teriak Wulan kesal.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku mau melakukan hal itu? lalu apa bedanya aku dengan Mandala?" balas Wardhana.


Wulan terdiam, dia bisa memahami prinsip Wardhana tapi di sisi lain, dia juga takut kehilangan pria itu.


"Aku...aku hanya tidak ingin kehilanganmu," sebuah pengakuan tulus keluar dari mulut kecil Wulan.


Wajah Wardhana sedikit berubah setelah mendengar ucapan Wulan, ada rasa penyesalan karena membentak wanita itu.


"Aku minta maaf jika ucapanku tadi keterlaluan dan menyinggungmu, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Segel keabadian mungkin bisa membuat umurku panjang tapi apa gunanya jika aku harus menggunakan tubuh orang lain. Wardhana adalah orang yang duduk di hadapanmu saat ini, jika tubuhku berganti, itu bukan diriku lagi.


Aku selalu bangga dengan semua yang kumiliki walau tidak memiliki bakat seperti Yang mulia dan akan selalu seperti itu. Yang mulia Arya Dwipa mengajariku bagaimana setiap manusia memiliki peran masing masing di dunia ini dengan kelebihannya dan aku akan memegang teguh nasehat dari orang yang paling kuhormati.


Mungkin aku akan mati dalam waktu dekat tapi kebanggaan terhadap prinsip hidup yang kujalani akan terus hidup dan suatu saat akan muncul Wardhana lainnya. Ku harap kau dapat mengerti keputusanku untuk tidak akan menggunakan segel keabadian," ucap Wardhana pelan.


"Kau tidak memikirkan aku?" suasana sudah sepenuhnya mencair, Wulan pun tidak ragu lagi untuk menunjukkan rasa sukanya pada Wardhana karena dia yakin setiap waktu Wardhana bisa tewas dengan luka seperti itu.


"Apa yang bisa kulakukan dengan seorang wanita yang hampir abadi? dengan tubuh tidak terluka pun akan sulit hidup dalam waktu lama sepertimu," ucap Wardhana menggoda.


"Kau!" amarah Wulan tersulut, dia tidak mengerti bagaimana Wardhana masih bisa bercanda dengan kondisi tubuhnya saat ini.


"Dengarkan aku," Wardhana tiba tiba memeluk tubuh Wulan.


"Setelah kejadian di Gunung Padang, kita selalu bertemu secara diam diam untuk mengobati lukaku dan itu sudah cukup membuatku bahagia. Jika masalah dengan Arkantara dan Pasukan kuil suci telah selesai dan aku masih hidup,aku berjanji akan menikahi mu.


Walau aku hanya diberikan waktu satu hari setelah menikah, itu sudah cukup karena aku bisa mati dalam pelukan orang yang ku sayangi," ucap Wardhana lirih.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Wulan.


"Kau adalah hal yang paling berharga bagiku setelah Malwageni."


"Mundur lah dari posisi patih dan tinggallah di sini bersamaku, jika kau tidak ingin menggunakan segel keabadian aku akan mencoba menggunakan energi murni untuk mengobati lukamu," ucap Wulan tiba tiba.


"Aku tidak bisa, aku benar benar tidak bisa melakukan itu," balas Wardhana.


Wulan menarik tubuhnya dari pelukan Wardhana dengan wajah kesal.


"Apa Malwageni begitu berarti untukmu? bukankah ada tuan Paksi yang bisa menggantikan dirimu dan kau masih bisa membantu Yang mulia dari Air terjun lembah pelangi," ucap Wulan.


"Ini bukan hanya tentang tanah kelahiran tapi juga kesetiaan dan prinsip hidup. Aku memang bukan berasal dari Malwageni karena Trowulan dulu adalah wilayah kekuasaan Majasari namun Yang mulia Arya Dwipa mengajariku arti kesetiaan dan menjadi seorang pria sejati. Sejak saat itu, aku sudah menyerahkan hidupku untuk Malwageni. Mati untuk tanah ini adalah sebuah kebanggaan tertinggi," jawab Wardhana.


"Kau benar benar bodoh, Jika kau mati untuk apa aku hidup abadi? aku akan mengikuti kemana kau pergi,“ ucap Wulan sambil menatap catatan jurus yang dibakarnya.


"Aku pernah menyukai orang lain tapi perasanku berbeda terhadapmu, entah sejak kapan kau membuatku tertarik," Wulan menyambar pedangnya sebelum melangkah keluar. Dia sudah membulatkan tekad untuk selalu berada di sisi Wardhana di saat terakhirnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Deal ya? sudah saya luncurkan sesuai janji....


__ADS_2