Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kadipaten Wanajaya


__ADS_3

(Keraton Majasari)


"Hamba menghadap Tuan Patih" Seorang prajurit berjongkok di hadapan Tunggul Umbara.


"Bangunlah, apa yang hendak kau sampaikan?".


Prajurit tersebut bangun dan duduk dihadapan Tunggul umbara.


"Pasukan Tangan Besi telah sampai di Wilayah aliran hitam, paling lambat besok mereka telah tiba di Kadipaten Wanajaya".


Tunggul umbara tersenyum kecil "Bagus, sampaikan pada Wikarta untuk tidak bertindak gegabah. Perang adalah pilihan terakhir kita, aku tidak ingin Saung Galah menyadari rencana penyerangan kita sebelum persiapan selesai. Tawarkan imbalan yang besar pada Adipati Gardika untuk bekerja sama dengan kita".


"Baik tuan patih".


"Bagaimana dengan Pergerakan Pendekar bertopeng? Apakah dia mengarah ke Wanajaya?". Tunggul umbara sudah menyadari pergerakan Gundala selama ini, dia yakin sasaran utaman Gundala adalah Majasari namun Tunggul umbara masih belum mengetahui identitas asli Wijaya.


"Dia belum melakukan gerakan apa pun tuan, beberapa teliksandi yang kita sebar belum mencium gerakan mencurigakan".


"Baiklah tetap waspada terhadapnya, aku merasa dia perlahan mulai mengumpulkan kekuatan untuk melawan Majasari. Cari tau terus identitasnya".


"Baik tuan patih, hamba mohon diri" Prajurit tersebut mundur perlahan dari hadapan Tunggul Umbara.


"Siapa kau sebenarnya? Melihat pergerakanmu aku yakin kau menguasai Taktik berperang dan itu tidak bisa dipelajari jika tidak memiliki pengalam berperang" Tunggul umbara menarik nafas panjang. Dia harus berhati hati dalam bertindak kali ini.


.............................


Sabrang terlihat mengambil kayu dengan cekatan membuat Mentari sedikit kagum. "Sebagai seorang pangeran apa yang dilakukannya benar benar membuatku kaget"


Sabrang dan Mentari memutuskan membantu Segara bayu mengambil kayu bakar untuk membalas kebaikan mereka. Sedangkan Mentari terlihat memetik sayuran untuk lauk makan malam.


"Hamba menghadap Pangeran" tiba tiba Wardana muncul di hadapan mereka. Mentari hampir berteriak kaget.


"Tidak apa apa nona, dia temanku" Sabrang memberi penjelasan untuk menghindari Mentari salah paham.


"Ada apa paman?" Sabrang bertanya pelan.


"Hamba mendapat perintah dari Tuan patih untuk membawa Pangeran menjauh dari sini. Pasukan Tangan besi mulai bergerak ke Kadipaten Wanajaya".

__ADS_1


Sabrang menggeleng pelan "Aku tidak akan menghindar paman, jika benar mereka ingin menekan Wanajaya bukankah mereka butuh bantuan dan ku rasa ini saatnya kita menawarkan kerjasama?".


"Tuan patih telah meminta bantuan pada beberapa pendekar yang masih setia pada Malwageni, selain itu beberapa Sekte aliran putih akan mengirimkan pendekarnya termasuk Rajawali emas. Hamba harap Pangeran mengerti ini demi kebaikan Malwageni".


Sabrang sedikit kagum melihat pergerakan Wijaya yang telah memperhitungkan semuanya dengan matang namun dia telah memutuskan untuk membantu Wanajaya.


"Jika memang Paman Wijaya memberi perintah pada paman untuk menjauhkanku dari sini maka tolong sampaikan pada paman Wijaya bahwa aku memerintahkannya untuk membantuku menunjukan jalan ke Wanajaya".


Tubuh Wardhana sedikit bergetar mendengar ucapan Sabrang, bagaimana pun Sabrang adalah keturunan Arya Dwipa pewaris Kerajaan Malwageni. Siapa yang berani menolak perintahnya bahkan Wijaya sekalipun akan tunduk pada perintahnya.


"Tapi.... pangeran.....".


"Apa paman mau membantah perintahku?" Gundala berkata pelan.


"Hamba tidak berani, hamba menerima perintah Pangeran". Wardhana menundukan kepalanya.


Sabrang tersenyum melihat tingkah Wardana "Maaf paman telah menyusahkanmu tapi ini adalah tanggung jawabku dan aku tidak akan lari" Sabrang berkata dalam hati.


...................................


Seseorang berjalan cepat ke ruangan Adipati Gardika dia terlihat membawa sepucuk surat dari daun lontar di tangannya.


"Ada apa?" Gardika memandang prajuritnya.


"Ada utusan dari Majasari ingin menghadap tuan Gardika, dia juga menitipkan surat ini" Prajutir tersebut menyerahkan surat yang ada di tangannya.


"Utusan Majasari ingin bertemu?ada urusan apa mereka dengaku?" Dahi Gardika berkerut, sebagai wilayah yang ada dibawah kekuasaan Kerajaan Saung galah seharusnya mereka menghadap di Keraton Saung galah jika ada keperluan.


"Maaf tuan ada sesuatu yang ingin hamba sampaikan pada anda, namun hamba belum bisa memastikan kebenarannya" prajurit tersebut berkata pelan.


"Katakanlah"


"Hamba mendapat kabar dari teliksandi kita bahwa utusan yang dikirim kemari adalah Pasukan tangan besi".


"Pasukan tempur elit dikirim sebagai utusan?" Alis Gardika terangkat satu.


"Benar tuan, bukankah ini hal yang aneh?".

__ADS_1


"Apa kabar yang kau dengar ini benar?" Gardika kembali bertanya.


"Benar tuan, mereka bahkan sempat terlibat keributan di Penginapan tak jauh dari perbatasan. Hamba bisa pastikan kebenaran informasi ini".


Gardika berpikir sejenak, firasatnya mengatakan akan terjadi hal besar di Kadipaten Wanajaya.


"Siagakan Pasukan tempur yang kita miliki di Pendopo utama, katakan pada mereka untuk bersiap tempur kapanpun dibutuhkan. Kirimkan utusan ke Keraton Saung Galah dan katakan pada tuan Patih keadaan di Wanajaya".


"Baik tuan segera hamba Laksanakan!".


"Dan tolong katakan pada utusan Majasari bahwa hari ini aku belum bisa ditemui, aku akan menemuinya besok di pendopo tamu".


"Baik tuan".


Saat prajurit tersebut hendak pergi tiba tiba seorang prajurit lainnya menghadap.


"Hamba ijin menghadap, ada seorang utusan ingin menghadap tuan adipati".


Gardika memandang prajuritnya "bukankah tadi sudah kukatakan aku akan menemuinya besok di pendopo tamu".


"Tapi tuan dia bukan utusan Majasari, dia mengaku sebagai utusan Malwageni".


"Malwageni? Bukankah kerajaan Malwageni sudah takluk oleh Majasari puluhan tahun silam?" Gardika tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.


"Benar tuan, dia mengatakan ingin menghadap tuan karena membawa informasi penting yang dibutuhkan Wanajaya".


"Informasi penting? kau yakin dia mengatakan utusan Malwageni?" Gardika masih tak percaya ada utusan Malwageni ingin bertemu dengannya.


"Dia mengatakan berkali kali jika dia adalah utusan Malwageni tuan".


"Baiklah katakan padanya aku akan menemuinya di Pendopo Tamu Wanajaya beberapa saat lagi, antarkan utusan tersebut ke sana".


"Baik tuan, hamba mohon diri " prajurit tersebut bangkit dan meninggalkan ruangan dengan sedikit tergesa gesa.


"Jika benar utusan itu adalah sisa sisa pengikut Setia Malwageni, lalu ada keperluan apa denganku?". Gardika memejamkan matanya, hari ini banyak hal yang mengejutkan dirinya.


"Apakah anda tidak merasa ada yang aneh tuan?" salah satu penasehatnya bertanya.

__ADS_1


"Aku tau kekhawatiran yang kakang rasakan, namun kita harus memastikan apa yang direncanakannya dengan mengaku sebagai utusan Malwageni".


__ADS_2