
"Mandala bangkit kembali?" tanya Hanggareksa tak percaya.
"Benar tuan, aku merasakan energinya dari gunung Sinabung. Walau masih sangat lemah tapi aku yakin itu energi itu miliknya," jawab Darin pelan.
"Tapi bagaimana mungkin tuan, saat dia terbunuh oleh muridnya sendiri kudengar rohnya telah di hancurkan untuk mencegahnya bangkit kembali?" balas Hanggareksa bingung.
"Mustika Merah Delima, hanya pusaka kehidupan itu yang bisa menyatukan kembali roh yang telah hancur."
"Mustika merah delima? wajah Hanggareksa tampak berubah.
"Kekuatan mustika itu telah menyatu dengan tubuh barunya, itu artinya Mandala yang sekarang jauh lebih kuat dari saat dia terbunuh dulu dan anak yang kau lawan tadi adalah harapan satu satunya untuk menghentikannya," balas Darin.
"Anak itu? anda sepertinya terlalu yakin dengan pendekar muda itu. Dia mungkin seorang pendekar kuat karena energi Dewa api di dalam tubuhnya tapi bagiku tak lebih hanya seorang anak yang mendapatkan keberuntungan menemukan Dewa Api," jawab Hanggareksa pelan.
"Keberuntungan? seberapa yakin kau bisa memenangkan pertarungan dari anak beruntung itu?" tanya Darin cepat.
Hanggareksa terdiam, dia berusaha menutupi rasa gelisah dalam dirinya tapi Darin sudah menangkap rasa gugup itu.
"Sepertinya kali ini kita memiliki pendapat yang sama tuan, aku pun tak yakin bisa mengalahkannya. Anak itu masih sangat hijau untuk seorang pendekar, perkembangan ilmu kanuragannya akan terus meningkat seiring banyaknya pertarungan yang akan dia lewati.
Aku yakin sebagai pemimpin kelompok pendekar Kalang kau menyadari dia berkembang pesat saat pertarungan tadi. Anak itu tidak hanya memiliki tubuh yang istimewa dan keberuntungan, dia juga memiliki bakat besar yang unik. Kau boleh percaya pada padaku atau tidak, dia akan terus berkembang tanpa batas," ucap Darin.
"Jadi anda sudah tau siapa aku? berarti anda pun tau tugas dari pendekar Kalang bukan?" balas Hanggareksa cepat.
"Guruku pernah berkata jika ada sekelompok pendekar yang bertugas menjaga kuil suci dan aku yakin kalian orangnya tapi mencari kitab itu di tempat ini adalah kesalahan besar, anak itu tidak memilikinya," jawab Darin.
"Tidak kek, sebenarnya kami memiliki kedua kitab itu tapi menurut paman Wardhana kitab itu palsu," ucap Sabrang tiba tiba sambil melangkah masuk.
"Dua? tidak mungkin, kitab Sabdo Loji hanya ada satu," jawab Hanggareksa.
"Itulah mengapa paman Wardhana mengatakan jika kedua kitab itu palsu," balas Sabrang.
Hanggareksa tampak berfikir sejenak, dia merasa ada yang aneh dengan munculnya kitab palsu itu dan jika benar kitab yang ada di tangan Sabrang palsu, lalu di mana kitab aslinya.
"Ada yang tidak beres, Agam tadi menemui aku dan menawarkan bantuan untuk mengambil kembali kitab Sabdo Loji yang ada di tanganmu dan ternyata kitab itu palsu. Apa mungkin ada yang mengatur semua ini?"
"Agam lah yang sepertinya mengatur semua kekacauan ini. Guru pernah bercerita jika dia berada di bukit Menoreh saat Mandala terbunuh, dan kitab itu sudah hilang saat dia terbunuh.
Selain murid kesayangan Mandala, hanya Agam yang paling mungkin mengambil kitab Sabdo Loji beberapa hari sebelum peristiwa kelam itu terjadi. Sepertinya anda telah dimanfaatkan oleh Agam," jawab Darin.
"Kurang ajar kau Agam! aku bersumpah akan membunuhmu!" ucap Hanggareksa geram.
"Anda harus bersabar tuan, saat ini Agam sudah menjadi bagian dari Arkantara, membunuhnya sama saja mencari masalah dengan kerajaan itu. Kekacauan akan terjadi jika mereka bergerak dan pada akhirnya akan banyak korban tak berdosa yang menjadi korban. Lalu apa bedanya kita dengan mereka?
Agam sepertinya sengaja menarik Arkantara dalam masalah ini untuk membuat kekacauan besar sehingga memudahkan Mandala mencapai ambisinya. Kita harus berhati hati menyikapi masalah ini," ucap Darin cepat.
"Apa kita akan diam saja dan membiarkan dia dan Mandala bergerak bebas? saat menemuiku di Kuil Khayangan dia sempat menyinggung tentang peradaban terlarang yang terkubur di bawah kuil itu, jika aku tidak menghentikannya maka rahasia terkutuk itu akan terbongkar dan aku tidak bisa membayangkan efek dari penemuan itu," balas Hanggareksa pelan.
"Peradaban terlarang?" tanya Darin cepat.
Menyadari kesalahannya yang tanpa sengaja menyebut rahasia terbesar dunia itu, Hanggareksa berusaha mengalihkan perhatian Darin tapi dia sudah tidak tertarik dengan bahasan lain dan terus mengejar tentang peradaban terlarang.
Darin sangat yakin tidak pernah mendengar peradaban itu bahkan dari mulut gurunya.
"Bukankah situasinya sudah sangat genting untuk tetap menutupi akar masalah ini?" desak Darin.
"Apa maksud anda dengan situasi genting?" tanya Hanggareksa tak mengerti.
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya kalian jaga selama ini, apakah kuil khayangan atau sesuatu yang terkubur di dalamnya seperti yang kau sebut tadi tapi jika perkiraanku benar, Mandala di bangkitkan bukan hanya untuk membalas dendam tapi jauh lebih besar dari itu dan bisa saja peradaban terlarang itu.
Kau duduk di hadapanku saat ini akan ku anggap sebagai sebuah kepercayaan. Dengar, cepat atau lambat aku yakin Kuil khayangan akan menjadi sasaran Mandala selanjutnya dan saat itu terjadi kau membutuhkan bantuan. Bagaimana jika kita bertukar informasi dan saling membantu?" jawab Darin.
Hanggareksa terlihat berfikir, dia merasa yang dikatakan Darin benar, jika sampai Mandala benar benar bangkit dan menyerang bersama pasukan kuil suci maka sekuat apapun dia melawan hasilnya sudah bisa ditebak.
__ADS_1
"Bisakah anda memberiku waktu, aku mengerti niat baik anda tapi ini menyangkut sumpah dan jalan hidup kami sebagai pendekar Kalang untuk menutup rapat peradaban yang seharusnya tidak pernah ada itu," balas Hanggareksa.
"Berfikir lah, aku tidak akan memaksa siapapun untuk membuka sebuah rahasia karena semua orang memiliki rahasia masing masing namun terkadang ada sesuatu yang harus di buka demi kebaikan bersama," jawab Darin.
"Terima kasih tuan, jika kami tidak terikat sumpah maka sudah aku katakan dari awal karena aku sangat mempercayai anda. Aku akan kembali ke kuil khayangan untuk membicarakan masalah ini dengan pemimpin tertinggi kami, jika dia mengizinkan maka akan kukatakan semua apa yang terjadi jauh sebelum kemunculan Mandala," ucap Hanggareksa.
"Pemimpin tertinggi?" Darin mengernyitkan dahinya.
"Namaku adalah Hanggareksa, ketua dari pendekar Kalang tapi aku memiliki seorang guru yang sudah kami anggap sebagai pemimpin tertinggi. Dia adalah satu satunya saksi hidup bagaimana peradaban terlarang itu berdiri dan yang paling mengerti seberapa berbahasanya peninggalan itu jika di ketahui dunia persilatan," jawab Hanggareksa.
"Apakah kitab Sabdo Loji salah satu peninggalan peradaban itu?"
Hanggareksa mengangguk pelan, "Nuswantoro tercipta tidak sesederhana yang kita pikir, ada banyak misteri tentang daratan ini sesuai dengan arti kata Nuswantoro itu sendiri dan kitab Sabdo Loji hanya sebuah kepingan dari semua rahasia ini," jawab Hanggareksa.
"Arti kata Nuswantoro?"
Ketika Hanggareksa hendak menjelaskan sesuatu, Rubah Putih muncul dengan tergesa gesa.
"Tetua, Wardhana telah sadar," ucapnya cepat.
"Paman?" Sabrang bangkit dari duduknya dan berlari setelah memberi hormat pada Darin dan Hanggareksa.
"Wardhana?" Hanggareksa menoleh kearah Darin bingung.
"Dia adalah patih kerajaan Malwageni, maaf aku harus memeriksa lukanya terlebih dahulu. Silahkan beristirahat sebentar," Darin.bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
"Apa aku boleh melihatnya? kami pendekar Kalang memiliki obat luka dalam yang diajarkan oleh pemimpin tertinggi kami, kuharap bisa membantu, anggap saja sebagai ungkapan penyesalanku karena menyerang kalian tiba tiba," ucap Hanggareksa tiba tiba.
Darin tampak senang, dia pernah mendengar dari gurunya jika pendekar suku Kalang memiliki ilmu pengobatan yang terbaik.
Darin kemudian mengajak Hanggareksa untuk masuk keruangan tempat Wardhana di rawat.
"Lukanya sudah membusuk dan menggerogoti tubuhnya, aku bisa membuatnya bertahan selama beberapa tahun tapi luka itu tidak akan sembuh," ucap Darin menjelaskan.
"Adik?" Sabrang yang duduk didekat Wardhana menoleh bingung.
"Ah tidak, maaf, tuan ini sangat mirip dengan adikku yang sudah lama tewas," jawab Hanggareksa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Boleh aku memeriksanya?" tanya Hanggareksa kemudian.
"Silahkan tuan," Sabrang bangkit dari duduknya.
"Yang mulia?" tanya Wardhana pelan.
"Tenanglah paman, dia adalah temanku," jawab Sabrang menjelaskan.
Hanggareksa kemudian melangkah mendekati Wardhana dan memeriksa pergelangan tangannya.
"Maaf tuan patih," Hanggareksa memejamkan matanya dan berusaha merasakan denyut nadi Wardhana.
Wajah Hanggareksa berubah seketika, dia menatap Wardhana tak percaya.
"Kau adalah keturunan pendekar suku Kalang, dari mana kau mendapatkan darah itu?" ucap Hanggareksa terkejut.
"Suku Kalang?" tanya Wardhana bingung.
"Apa maksud anda dengan keturunan suku Kalang tuan?" tanya Darin penasaran.
"Pendekar Suku Kalang memiliki ciri tubuh yang unik, kami seolah ditakdirkan bukan untuk menjadi pendekar. Aliran darah dalam tubuh kami yang kacau akan sangat berbahaya jika mempelajari ilmu tenaga dalam. Itulah sebabnya dulu Pendekar Suku Kalang dikucilkan karena dianggap lemah sebelum pemimpin tertinggi mengajari kami cara memaksimalkan kelemahan ini menjadi kekuatan.
Luka yang di dapat tuan patih ini bukan murni karena pertarungan tetapi lebih kepada ilmu kanuragan yang dipelajarinya. Semua ciri khusus pendekar suku Kalang ada padanya," jawab Hanggareksa bingung.
"Sepertinya anda salah tuan, aku lahir dan besar di Trowulan bersama kedua orang tuaku yang seorang petani," ucap Wardhana.
__ADS_1
"Tidak aku yakin kau adalah keturunan pendekar Suku Kalang, apa orang tuamu pernah menyebut nama Arda Sukma?" tanya Hanggareksa kembali.
"Arda Sukma? dari mana anda mengetahui leluhur ibuku?" kali ini Wardhana yang dibuat terkejut.
"Jadi kau memang keturunan adikku, pantas saja wajah kalian begitu mirip, tapi bagaimana mungkin..."
"Apa Arda Sukma benar benar leluhur paman?" tanya Sabrang.
"Ibu pernah berkata seperti itu Yang mulia tapi seingat hamba dia hanya seorang petani dan bukan pendekar," jawab Wardhana makin bingung.
"Kau mampu bertahan dengan luka separah itu sudah menjelaskan siapa kau sebenarnya, jadi adik bodohku itu telah memiliki anak sebelum kematiannya."
"Lalu bagaimana dengan lukanya?" kejar Sabrang.
"Lukanya memang cukup parah tapi aku memiliki ramuan obat yang sepertinya bisa menyembuhkan luka itu. Aku akan meminta seseorang untuk mengambilkannya di Kuil suci," ucap Hanggareksa pelan.
"Maksud anda, paman Wardhana bisa sembuh?" tanya Sabrang cepat.
"Dia akan sembuh walau memakan waktu yang tidak sebentar," jawab Hanggareksa pelan.
***
Tungga Dewi bersama Arina dan Arung tampak menyambut kedatangan Agam dan beberapa orang utusan lainnya di gerbang aula utama Malwageni.
Mereka mengajak para utusan itu masuk kedalam bangunan megah yang menjadi kebanggaan Malwageni.
"Terimalah hormat hamba Gusti ratu," ucap Agam sebelum duduk di kursinya.
"Jangan sungkan tuan, semoga anda tidak kecewa setelah datang jauh dari Swarna Dwipa," balas Tungga Dewi.
"Bagaimana mungkin hamba kecewa setelah melihat keindahan daratan Jawata. Arkantara akan sangat beruntung jika bekerja sama dengan kerajaan sebesar Malwageni," jawab Agam pelan.
"Bekerja sama? kami sangat tersanjung tuan tapi sepertinya sedikit sulit ketika kalian datang dengan maksud yang berbeda," Arina tiba tiba ikut bicara, suasana menjadi sedikit menegang karena Agam terlihat tersinggung dengan ucapan gadis itu.
"Maksud berbeda? apakah Malwageni tidak bisa menyambut tamu dengan baik? hamba datang dengan tulus, sungguh menyakitkan saat niat baik kami dibalas kecurigaan," balas Agam dingin.
"Apakah datang diam diam ke Saung Galah dan menghasut mereka adalah sebuah itikad baik dari Arkantara?" sindir Arina.
"Gadis ini berani sekali menentangku," ucap Agam dalam hati.
"Apa maksud ucapan anda nona, setelah mencurigai kami, kau seolah berkata jika aku menyusupkan mata mata ke Saung Galah? aku memang datang dengan damai tapi kami tak akan pernah takut untuk berperang saat harga diri diinjak," suara Agam yang sedikit meninggi membuat Arung cukup khawatir.
"Jika anda ingin perang maka dengan senang hati akan kami berikan," ucapan yang keluar dari bibir kecil Arina membuat situasi semakin memanas, kini Agam benar benar dibuat marah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Cuma mau ingetin jangan lupa Vote
Kali ini gw mau ngajak maen tebak tebakan cerita PNA...
Di salah satu percakapan di atas, Hanggareksa berkata jika (Nuswantoro tercipta tidak sesederhana yang kita pikir, ada banyak misteri tentang daratan ini sesuai dengan arti kata Nuswantoro itu sendiri dan kitab Sabdo Palon hanya sebuah kepingan dari semua rahasia ini)
Arti kata Nuswantoro kata Hanggareksa adalah satu dari sekian misteri dari daratan indah yang menjadi panggung petualangan Sabrang
Sedangkan menurut mbah google Nuswantoro berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata Nuswa dan kata Antara. “Nuswa berarti tempat yang bisa dihuni” dan “Antara bermakna tetap antara”. Nuswantara sendiri berarti “Tempat yang bisa dihuni yang terletak di jagat gede”.
Jagat gede adalah jagat yang terletak diantara jagat kecil dan jagat langgeng.
Sumber: Turangga Seta, Lakubecik.org
Itu salah satu arti dari kata Nuswantoro, kalau ditarik kedalam novel Fiksi PNA yang cocoklogi, kebayang gak sih kemana alur PNA nantinya? hayooo... ini ada kaitannya dengan peradaban terlarang yang tersembunyi di Kuil Khayangan...
Spoiler? bukan... cuma pengen para pasukan berani mati Jomblo mulai berkhayal dan menebak kemana Sabrang nantinya....
__ADS_1