Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Firasat Buruk Wardhana


__ADS_3

Wardhana mematung didepan lubang besar yang dulu digunakan warga desa Trowulan untuk mengambil air, dia memejamkan matanya seolah sedang mengenang masa kecilnya sebelum Majasari menghancurkan desa kecil itu karena menjadi tempat pelarian Arya Wijaya yang terkepung.


Desa Trowulan dulu masuk dalam wilayah kadipaten Karang sari yang berada dibawah kekuasaan Majasari. Para penduduknya hidup damai dengan sebagian besar pekerjaannya bercocok tanam.


Walaupun Desa Trowulan tidak terlalu jauh dengan keraton namun Majasari seolah tak menganggap desa kecil itu. Jalannya yang cukup sulit dan dikelilingi tebing curam membuat Majasari enggan mengirimkan pasukan penjaganya.


Namun semua berubah saat Arya Dwipa dan pasukannya terjebak oleh siasat licik Tunggul Umbara, raja Malwageni itu diburu hingga melarikan diri ke desa Trowulan.


Tunggul Umbara yang mengetahui jika hanya ada satu jalur menuju desa Trowulan tak menyianyikan kesempatan, dia mengepung Arya Dwipa dan pasukannya didalam desa kecil itu.


Wardhana menggeleng pelan, dia kembali teringat saat pertama kali bertemu Arya Dwipa tepat di pinggir danau itu.


"Anda telah dijebak tuan, mereka telah mengepung desa ini. Melawan secara terbuka hanya akan membuat pasukan anda hancur, kalaupun anda selamat namun tak akan sebanding dengan kerugian yang anda dapatkan," ucapan Wardhana yang saat itu masih tampak kurus mengagetkan Arya Dwipa.


Arya Dwipa menoleh kearah suara dan menemukan seorang pemuda sedang memeluk mayat ibunya.


"Dia ibumu?" tanya Arya Dwipa pelan.


Wardhana hanya mengangguk pelan, dia menatap pria yang berpakaian perang lengkap itu cukup lama, entah mengapa dia merasa tertarik pada sosok dihadapannya.


"Aku turut berduka, namun kau harus pergi sebelum terlambat. Mereka hanya mengincarku, pergilah sejauh mungkin," ucap Arya Dwipa pelan.


"Mereka telah membantai seluruh rakyat Trowulan dengan panah api yang membakar habis bangunan milik kami, aku tak akan pergi sebelum memberi mereka pelajaran," jawab Wardhana tegas.


"Membalas dendang dengan membantu kami pergi?" tanya Raja Malwageni itu tertarik.


Wardhana mengangguk pelan, "Desa Trowulan berada di wilayah kadipaten Karang Sari, desa kami terisolasi oleh alam, jurang yang mengelilingi Karang Sari menjadikan tempat ini sangat cocok untuk memojokkan musuh.


Namun karena sulitnya medan menuju Trowulan inilah yang membuat Majasari seperti membuang kami. Desa ini tak pernah mereka kunjungi satukali pun. Anda boleh saja meragukan kemampuanku, namun saat ini hanya aku yang mengenal wilayah ini.


Hanya ada dua pilihan bagi anda saat ini, bertahan di sini dan mati kelaparan atau memaksa melewati satu satunya jalan keluar yang dijaga oleh mereka namun dengan resiko yang tak kalah besar dari kelaparan."


Arya Dwipa tampak terkejut setelah mendengar penjelasan Wardhana, dia seolah melihat Paksi dalam diri pemuda itu.


"Lalu menurutmu aku harus memilih apa?" pancing Arya Dwipa.


"Tidak keduanya tuan," jawab Wardhana cepat.


"Tidak keduanya?" Arya Dwipa mengernyitkan dahinya.


"Para prajurit Majasari itupun sama seperti anda, mereka tidak mengenal lokasi desa kami. Aku sepertinya bisa mengacaukan formasi mereka dan membawa anda keluar dari sini dengan memanfaatkan keunikan desa Trowulan, namun aku membutuhkan bantuan anda," balas Wardhana.


Arya Dwipa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala, dia tentu tidak percaya pemuda dihadapannya mampu mengacaukan siasat Majasari namun dia sangat tertarik dengan rasa percaya diri pemuda itu.


"Jaga ucapanmu, kau tidak tau sedang berhadapan dengan siapa?," sergah Wijaya yang berada didekat Arya Dwipa.


"Biarkan dia bicara kakang patih," Arya Dwipa memberi tanda pada Wijaya untuk diam.


"Aku tidak tau siapa yang anda panggil Yang mulia, namun semua gelar itu akan percuma jika dia tidak berhasil selamat dari tempat ini," jawab pemuda itu sinis.


"Katakan siapa namamu nak?" tanya Arya Dwipa pelan, dia benar benar sangat tertarik dengan keberanian pemuda dihadapannya.


"Wardhana tuan," balas pemuda itu sambil menggambar beberapa lingkaran di tanah sebelum menancapkan ranting tepat ditengah lingkaran.


"Ini rencana ku," ucap Wardhana penuh keyakinan.


Wajah Arya Dwipa berubah seketika saat melihat lingkaran yang digambar Wardhana.


Dan akhirnya, untuk pertama kali Pasukan kebanggaan Majasari yang dipimpin oleh Tunggul Umbara kalah telak oleh kecerdikan Wardhana.


Sejak saat itulah, Arya Dwipa membawa Wardhana masuk keraton berkat jasanya menyelamatkan Arya Dwipa dari kepungan musuh.


"Yang mulia, sudah lama sekali bukan sejak anda menyelamatkan hamba? tak pernah terpikir sedikitpun untuk kembali lagi ke tempat ini, namun sepertinya alam berkehendak lain, apa yang sebenarnya sedang direncanakan alam?"


Wardhana menyentuh dinding danau kering itu perlahan, dia terlihat mengernyitkan dahinya saat merasakan dinding danau itu basah.


"Air hujan? tidak mungkin, hujan tidak turun dalam beberapa hari kemarin," gumamnya dalam hati.


Wardhana kemudian melihat sekelilingnya, ada perasaan aneh yang mengganggunya. Belum sempat dia berfikir, sesosok tubuh muncul dan menyerangnya.


"Bagaimana bisa segel udara milikku tak merasakan kehadirannya?" Wardhana berusaha menghindar, dia mencabut pedang pusakanya dan menangkis serangan cepat lawannya.


"Kau terlalu lambat," Bima merubah jurusnya tiba tiba, dia mencengkram pedang Wardhana dan bergerak sedikit kesamping.

__ADS_1


Wardhana yang kalah dalam segala hal tak bisa berbuat banyak saat sebuah tebasan pedang tepat mengenai punggungnya.


Wardhana menarik kembali pedangnya, dia mencoba melompat mundur saat sebuah pukulan menghantam tubuhnya kembali, yang membuat dia terpental mundur.


"Kau pikir segel aneh ini bisa mengelabui ku?" Bima kembali bergerak menyerang, aura besar meluap seiring dengan kecepatannya yang terus meningkat.


Wardhana hanya bisa menghindar sekuat tenaga tanpa bisa menyerang balik, perbedaan kekuatan antara mereka membuat pertarungan tidak seimbang.


Tubuh Wardhana terus terkena serangan lawan, tangannya mulai bergetar menandakan dia bergerak sambil menahan rasa sakit.


"Aku tidak tau apa yang sebenarnya kau rencanakan ditempat ini tapi apapun itu akan kupastikan semua rencana kalian gagal!"


Bima terus melepaskan aura dari tubuhnya untuk memperlambat gerakan Wardhana, dia ingin menghabisi Wardhana dalam satu serangan.


Saat Wardhana sudah hampir kehabisan tenaga, dia tiba tiba bergerak maju dan menyerang, hal yang sangat jarang dilakukan sebelumnya.


Ayunan pedangnya hanya mengenai udara ketika Bima mempercepat gerakannya, Bima memutar pedangnya dan menghantam kedua kaki Wardhana dengan punggung pedang.


Wardhana roboh dengan posisi terduduk sebelum sebuah pedang menusuk punggungnya hingga tembus sampai ke dadanya.


"Masalembo akan merubah tatanan dunia yang sudah kacau ini, kalian tak akan pernah bisa menghentikan kami," Bima mencabut pedangnya.


Wardhana terdiam sesaat sebelum tubuhnya roboh ketanah tak sadarkan diri.


"Kematianmu akan menjadi awal kehancuran kalian, dengan begini satu persatu masalah mulai teratasi," Bima mengangkat tubuh Wardhana dan menggendongnya, dia tidak ingin bekas pertarungan mereka disadari oleh pihak Sabrang.


Bima melompat ke danau kering itu sebelum tubuhnya tiba tiba menghilang seolah terhisap sesuatu.


***


"Apa kalian sudah gila membiarkannya mengejar pendekar Bunga Darah Masalembo? Tuan Wardhana bisa mati jika bertarung dengan mereka," umpat Arung saat mendengar kabar yang disampaikan Candrakurama.


"Dia memintaku kembali, untuk menyampaikan berita ini pada Yang mulia, aku sudah memaksa menemaninya namun dia bersikeras memintaku pergi," jawab Candrakurama sedikit meninggi, dia seolah disalahkan kali ini.


"Kau adalah ketua Hibata, sudah tugasmu menjaga petinggi keraton dan kau meninggalkannya begitu saja?" bentak Arung.


Lembu Sora yang berada di ruangan itu bersama Rubah Putih hanya bisa diam menyaksikan pertengkaran dua pendekar itu.


"Kalian ingin saling bunuh di dalam keraton? lakukan, aku tak akan menghalangi, tapi siapapun yang memenangkan pertarungan ini aku akan langsung membunuhnya," ucap Rubah Putih dingin.


Arung dan Candrakurama terdiam seketika, mereka sadar Rubah Putih bukan orang yang sering mengumbar kata bunuh, jika dia mengatakan itu maka akan dilakukannya. Dengan kemampuan mereka saat ini, tak sulit bagi Rubah Putih membunuh mereka.


"Maaf aku terbawa emosi, apa kau sudah melaporkan pada Yang mulia?" suara Arung merendah.


"Yang mulia tidak ada ditempat, mungkin dia sedang mengunjungi nyonya selir yang berlatih bersama tetua Wulan," jawab Candrakurama.


Wajah Arung menjadi lesu, dia benar benar merasa khawatir pada keselamatan Wardhana.


Arung sadar, Masalembo tak bisa diatasi hanya dengan ilmu kanuragan, mereka sangat memerlukan bantuan Wardhana untuk melawan Masalembo dengan siasat siasat tak terduga nya.


"Aku memiliki firasat buruk sejak kemarin, entah mengapa aku ingin bertemu dengan tuan Patih, semoga dia baik baik saja," ucap Arung pelan.


"Kita tunggu sampai malam hari, jika dia tak kembali aku akan memeriksanya," ucap Rubah Putih menengahi.


Apa tidak terlalu lama tuan? anda bisa memintaku memeriksanya sekarang," jawab Arung cepat.


"Kau pikir dia akan mudah terbunuh? kau yang sudah lama mengikutinya harusnya lebih paham bukan? dia bukan orang yang mudah dibunuh," balas Rubah Putih.


"Aku mengerti tuan, namun lawan yang kita hadapi kali ini berbeda, mereka mempunyai ilmu kanuragan tinggi."


"Dia saat ini mungkin sedang merencanakan sesuatu, tunggulah sebentar, jangan sampai tindakan kita justru akan merusak rencananya.


Sekarang dinginkan kepala kalian, aku tidak ingin masalah ini semakin memanas dengan tingkah bodoh kalian berdua," ucap Rubah Putih sesaat sebelum melangkah keluar.


Candrakurama menundukkan kepalanya pada Arung sebelum mengikuti Rubah Putih pergi.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Lembu Sora pada Arung.


"Persiapkan saja pasukan Angin selatan untuk berjaga jaga, tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu Yang mulia kembali," balas Arung pelan.


"Tuan Patih, cepatlah kembali," gumam Arung dalam hati sambil melangkah keluar ruangan Wardhana.


***

__ADS_1


Hutan Larangan selalu menakutkan pada malam hari, tak seperti hutan kebanyakan yang terdengar suara lolongan serigala dan binatang malam lainnya, hutan larangan selalu sunyi tanpa ada suara binatang.


Binatang malam itu seolah takut dengan apa yang tersembunyi di hutan paling menakutkan itu.


Diantara gelapnya malam, Candrakurama terlihat bergerak lincah diantara pepohonan, dia tiba tiba menghentikan langkahnya saat merasakan sesuatu.


Candrakurama terdiam sejenak seperti sedang menunggu sesuatu.


"Kau menyadari pesanku tadi?" ucap Rubah Putih pelan dari pohon lainnya.


"Apa yang sebenarnya ingin anda bicarakan denganku?" tanya Candrakurama bingung.


"Terlalu banyak bertanya bisa membuatmu terbunuh, ikuti saja aku," Rubah putih bergerak cepat.


Candrakurama tersentak kaget saat Rubah Putih menghilang tiba tiba didekat salah satu pohon.


Candrakurama yang mendekati tempat Rubah Putih menghilang untuk memeriksanya tiba tiba merasakan tubuhnya seperti terhisap sesuatu.


Candrakurama semakin terkejut ketika pemandangan hutan gelap yang tadi dilihatnya berubah menjadi sebuah air terjun yang sangat indah.


"Selamat datang di Air terjun lembah pelangi," Wulan bersama Mentari dan Lingga tampak menyambut mereka berdua.


"Jadi Air terjun lembah pelangi benar benar tersembunyi di hutan ini?" tanya Candrakurama takjub.


"Sesuatu yang indah biasanya tersembunyi di tempat berbahaya, karena itulah salah satu keindahannya," jawab Wulan pelan.


"Lalu apa yang kalian lakukan disini?" tanya Candrakurama bingung.


"Ada yang ingin kuperlihatkan padamu, sudah saatnya kau mengetahuinya," jawab Rubah Putih pelan.


"Apa kondisinya sudah pulih?" tanya Rubah Putih.


"Lukanya sangat parah, sejak ditemukan dua minggu lalu dia masih belum sadarkan diri, namun perlahan kondisinya mulai stabil," Wulan memberi tanda pada mereka semua untuk mengikutinya.


"Tari, ambilkan obat yang sudah ku ajarkan padamu, bawa ke ruang latihanku," pinta Wulan pada Mentari.


"Baik Guru," jawab Mentari cepat.


Mereka semua melangkah masuk gua yang berada di sisi air terjun dan menuju sebuah ruangan yang biasa digunakan Wulan berlatih.


Candrakurama tampak tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat sesosok tubuh yang tergeletak di atas batu.


"Dia? bagaimana bisa?" Candrakurama tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Dia akan menjadi kunci rencana besar kita, kita hanya perlu menunggu kabar dari Wardhana," jawab Rubah Putih.


"Jadi selama ini...," Candrakurama tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Semua punya peran masing masing yang sudah dipersiapkan Wardhana secara matang. Sebelum kalian mengikuti pendekar Bunga Darah Masalembo, Wardhana berpesan padaku, jika sampai besok pagi dia belum kembali, kau akan memainkan peranmu.


Aku tau kita semua sedang khawatir dengan keselamatan Wardhana yang sampai saat ini belum ada kabar, namun rencana yang dia buat harus tetap jalan. Wardhana sudah mengetahui seberapa besar resiko yang akan dihadapinya, dan dia tetap maju demi menghentikan Masalembo.


Mulai hari ini, Air terjun lembah pelangi akan menjadi tempat pertemuan kita sementara waktu sambil menunggu dia sadar dan mendapat kabar dari Wardhana, berhati hatilah saat datang kemari, jangan sampai ada yang mengikuti kalian atau semua akan terbongkar," ucap Rubah Putih.


Semua mengangguk pelan, kali ini mereka baru sadar jika Wardhana memiliki rencana segila ini. Wardhana seperti mengirim pesan pada semua yang ada di gua air terjun lembah pelangi itu jika dia bisa menghancurkan siapapun walau ilmu kanuragannya jauh dibawah mereka semua.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Oke Chapter hari ini cukup, kita lanjutkan esok hari...


Sedikit menjelaskan jika orang yang terluka di gua itu bukan Wardhana, saya merasa perlu menjelaskan karena takut ada yang kurang paham...


Apakah Wardhana mati ditangan Bima? jawabannya nunggu VOTE dlu wkwkwkwkw


Novel Sabrang dan Mentari versi modern saya putuskan dilanjutkan walau nanti akan slow Update kerena banyak yang menagih.. yang belum baca silahkan klik profil saya dan cari karya dengan judul Sabrang dan Mentari..


Tapi saya gak menanggung resiko jika kalian akan tertawa sampai pagi....Novel ini dilarang bagi yang tidak bisa menahan tawa....


Btw, ABM pun akan tetap dilanjutkan walau ada yang memberi bintang satu di sana karena jarang update...


Saya cuma mau fokus saat PNA mulai masuk tahap Akhir.... tapu apapun itu ABM akan saya lanjutkan bertepatan dengan kejutan besar yang akan muncul....


Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2