
Saat Wardhana hampir kehilangan kesadarannya, dia merasakan seseorang menarik tubuhnya bersamaan dengan mengalirnya energi hangat kedalam tubuhnya dengan cepat.
"Apa ada yang menyelamatkanku? tidak mungkin.. Candrakurama tidak akan secepat itu datang dan membawa bantuan." Perlahan, telinga Wardhana kembali berfungsi ketika energi hangat itu sudah mengalir ke seluruh tubuhnya, sayup sayup dia mendengar suara seorang pemuda yang sangat dikenalnya.
"Si pembuat onar, Minak Jinggo? tidak..." Wardhana menghentikan ucapannya saat merasakan sesuatu menghantam tubuhnya.
"Cepat sekali...Mahluk apalagi ini, bukankah seharusnya tidak seperti ini?" sebuah serangan cepat yang tidak mampu dilihat mata bulannya membuat Minak Jinggo terlempar cukup jauh.
Beruntung Minak Jinggo berhasil menarik tubuh Wardhana saat muncul tiba tiba dari ruang dimensi, dia menatap ngeri mahluk besar dihadapannya itu sambil membuka ruang dimensi di belakang punggungnya.
"Untung saja aku datang tepat waktu," ucap Minak Jinggo lega, tubuhnya dan Wardhana yang masih melayang di udara mulai terhisap ruang dimensi.
Namun betapa terkejutnya Minak Jinggo ketika lubang dimensi miliknya hampir menutup sepenuhnya, sebuah energi melesat masuk dan menarik mereka kembali keluar.
"Apa-apaan... bagaimana bisa?" tubuh Minak Jinggo menjadi kaku dan terlempar ke udara sebelum sebuah energi lainnya menghantam tubuh mereka.
"Perisai Energi kegelapan," Minak Jinggo berusaha menahan serangan yang terarah padanya, namun dia kembali dibuat terkejut saat serangan energi mampu menembus perisainya dengan mudah.
Tubuh Minak Jinggo dan Wardhana terhempas ke tanah dengan sangat keras dan membentuk lubang besar.
"Tuan Patih," teriak Minak Jinggo.
"Tubuhku seperti hancur, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Wardhana yang mulai sadarkan diri.
"Kau pikir bisa bermain dimensi waktu denganku? Kalian tak akan pernah bisa lari dariku" ejek mahluk itu.
Minak Jinggo dan Wardhana langsung menoleh kearah mahluk yang terbentuk dari kepulan asap hitam itu.
"Gawat, dia jauh lebih kuat dari perkiraan tuan Layang Yuda, dan saat ini tubuhku kembali tak bisa di gerakkan," ucap Minaj Jinggo pelan.
"Layang Yudha? bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Wardhana cepat.
"Ceritanya panjang tuan tapi sepertinya waktu di seluruh Nuswantoro terhenti bersamaan dengan munculnya belasan lubang dimensi yang menghisap semua energi alam dan seisinya. Hanya ruang dimensi satu satunya tempat yang tidak terkena efek jurus mengerikan ini dan tuan Layang Yuda memintaku menjemput anda namun sayang dia berhasil menembus dimensi mataku sebelum tertutup rapat. Habislah kita," jawab Minak Jinggo.
"Menembus ruang dimensi? tunggu..." Wardhana tiba tiba teringat satu nama yang selalu di ditulis di setiap halaman Sabdo Loji seolah memperingatkan sesuatu.
"Cakra Loji... Jangan jangan dia adalah ruh yang selalu di sebut dalam kitab Sabdo Loji," ucap Wardhana tiba tiba.
"Cakra Loji?" tanya Minak Jinggo penasaran.
"Cakra Loji akan bangkit saat keseimbangan alam terganggu, hancurnya ruang dimensi akan melepas segel alami. Ini yang paling aku takutkan karena pencipta Sabdo Loji pun puluhan kali memperingatkan tentang mahluk terkuat yang terkurung di salah satu ruang dimensi. Sepertinya dimensi waktu benar benar rusak akibat jurus Mengendalikan Waktu," jawab Wardhana pelan.
"Dan sekarang mahluk itu semakin kuat," balas Minak Jinggo saat melihat tubuh Lembu Loji mulai terbentuk setelah perlahan menghisap energi alam.
Aura hitam Cakra Loji perlahan membentuk sesosok manusia dengan lilitan Naga merah di tubuhnya dan kedua pedang kembar berkepala Naga berputar di atas kepalanya.
"Saatnya menghisap energi kehidupan kalian," Cakra Loji kembali mengarahkan tangannya dan menarik tubuh Minak Jinggo dan Wardhana.
"Berpikir Minak Jinggo, bukankah tugasmu adalah membantu sang cahaya putih menghentikan kehancuran dunia. Kau akan ditertawakan jika mati di tempat ini," ucapnya dalam hati.
"Tunggu.. jurus itu?" wajah Minak Jinggo tiba tiba berubah saat jaraknya dengan Cakra Loji hanya tersisa beberapa langkah.
"Segel kabut, gunakan segel itu saat aku memberi tanda tuan."
Cakra Loji langsung mencengkram leher Minak Jinggo dan Wardhana saat sudah berada dihadapannya.
"Yasha Wirya akan menangis melihat dunianya hancur. Inilah balasannya jika kalian tidak tunduk kepadaku," ejek Cakra Loji sambil menyerap energi kehidupan keduanya.
Tubuh Minak Jinggo bergetar saat tenaga dalamnya keluar dengan cepat, dia terlihat menoleh kearah Wardhana sebelum kedua tangannya mencengkram lengan Cakra Loji.
"Masih berfikir melawanku? Cakra Waktuku sudah mulai menghisap seluruh energi kehidupan ditempat ini, apa yang kau lakukan hanya akan berakhir dengan kegagalan," ucap Cakra Loji sambil menggeleng pelan.
"Tersenyumlah sepuasnya karena itu tak akan bertahan lama, kau tidak tau seberapa kuat orang yang selama ini aku kagumi, hidupmu akan kembali berakhir di tempat yang semestinya," Minak Jinggo mengalirkan tenaga dalam di kedua tangannya dan mulai menggunakan jurusnya.
Cakra Loji tersentak kaget saat energi dingin meresap kedalam tubuhnya perlahan, dia langsung melempar Minak Jinggo dan Wardhana bersamaan.
__ADS_1
"Segel Cakra Es? Kau! siapa kau sebenarnya?" umpat Cakra Loji kesal, dia mengambil satu pedang berkepala naga yang berputar di udara dan bergerak menyerang Minak Jinggo.
"Simpan rasa terkejut itu sebelum kau melihat yang lainnya," Minak Jinggo memunculkan belasan lubang dimensi sebelum bergerak menyambut serangan Cakra Loji.
Sebuah Ledakan terdengar di udara saat kedua pusaka itu beradu, tubuh Minak Jinggo terlihat terlempar sebelum membentur batu persembahan.
"Kau... bisa bergerak didalam jurus waktuku?" ucap Cakra Loji terkejut, amarahnya semakin memuncak saat melihat senyum dingin Minak Jinggo.
"Sekarang tuan! Aku hanya bisa memaksakan tubuhku bergerak selama beberapa detik," teriak Minak Jinggo cepat.
"Kau! akan aku hancurkan tubuhmu sampai tak bersisa," Cakra Loji kembali bergerak dengan kecepatan tinggi, kedua pedang berkepala naga sudah berada di tangannya.
Cakra Loji semakin terkejut saat tubuh Minak Jinggo menghilang bersamaan dengan munculnya kabut tebal disekitar hutan sisi gelap alam semesta.
"Semoga tenaga masih sempat." Dengan sisa sisa tenaganya, Minak Jinggo bergerak dan menyambar tubuh Wardhana sebelum masuk ke salah satu lubang dimensi yang sudah dia persiapkan.
"Kau pikir segel ini mampu menahanku?" Ledakan aura dari dalam tubuh Cakra Loji menyerap kabut tebal itu sampai habis.
Dia tampak bingung saat melihat ada sebelas lubang dimensi dihadapannya.
"Keluar kau!" Cakra Loji mengalirkan energinya dengan cepat ke setiap lubang dimensi yang mulai menutup dihadapannya.
Dan ketika energinya berusaha menembus lubang terakhir semua sudah terlambat, lubang itu sudah menutup sepenuhnya.
Amarah Cakra Loji memuncak, aura yang meluap dari tubuhnya menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya.
Belasan lubang dimensi yang tersebar di seluruh langit Nuswantoro semakin membesar dan menghisap semua energi disekitarnya.
"Segel Cakra Es, bagaimana mungkin ajian yang harusnya sudah musnah itu bisa muncul kembali," umpat Cakra Loji kesal.
***
Minak Jinggo dan Wardhana tiba tiba terlempar di sebuah hutan yang dikelilingi oleh sungai yang cukup besar.
"Tugasku sudah selesai..." Minak Jinggo berusaha bangkit namun tiba tiba pandangannya kabur dan tak sadarkan diri.
"Jinggo, sadarlah!" teriak Wardhana sambil memeriksa denyut nadinya.
"Mereka berhasil tuan," teriak Winara saat melihat Wardhana dan Minak Jinggo, dia berlari mendekat diikuti Mentari dan Layang Yuda.
"Biar aku periksa tuan," ucap Layang Yudha sambil meminta Winara memeriksa tubuh Wardhana.
"Nyonya selir, Yang mulia...?" tanya Wardhana pelan sambil menatap sekitarnya.
"Yang mulia menghilang paman..." jawab Mentari pelan.
"Menghilang? bagaimana mungkin..."
"Kemungkinan berada di ruang gerbang kesembilan paman, itu menurut tuan Yuda," jawab Mentari sambil menjelaskan semuanya. "Tapi aku yakin Yang Mulia akan masih hidup dan akan aku selamatkan apapun caranya."
Layang Yuda terlihat terkejut saat merasakan tenaga dalam Minak Jinggo, dia bahkan sampai memeriksa berkali kali.
"Tenaga dalam unik ini bukankah milik... Siapa pemuda ini sebenarnya?" ucap Layang Yudha dalam hati.
"Apa dia akan baik baik saja?" tanya Wardhana cemas, walau dia sebenarnya masih curiga pada Minak Jinggo karena tak pernah berhasil menemukan masa lalu pemuda itu tapi apa yang dilakukan Minak Jinggo tadi sudah membuktikan mereka berada di pihak yang sama.
"Dia baik baik saja dan mungkin tak lama lagi akan sadarkan diri," Layang Yudha terlihat menotok beberapa titik di tubuh Minak Jinggo sebelum mengalirkan tenaga dalamnya untuk membantu memulihkan luka pemuda itu.
"Maaf tuan, aku harus menyembunyikan ini sampai semuanya jelas. Dia tidak dalam keadaan baik baik saja, tubuhnya terluka sangat parah dan beberapa sendinya hancur tapi sesuatu yang bersemayam di dalam tubuhnya menyembuhkan lukanya dengan sangat cepat. Dia lebih berbahaya dari yang aku pikirkan. Siapa kau sebenarnya nak?" ucap Layang Yuda dalam hati.
"Syukurlah... Dia berkali kali menyelamatkan nyawaku dari mahluk aneh tadi, apa yang sebenarnya terjadi tuan? aku yakin kau lebih tau dariku tentang kitab Sabdo Loji dan Cakra Loji," tanya Wardhana cepat.
"Cakra Loji? jadi kau sudah tau tentang ruh terkuat itu?"
"Aku sempat membaca kitab Sabdo Loji, bisa kau jelaskan situasinya padaku saat ini padaku? kita harus cepat menghentikan jurus Cakra Loji atau semua akan tewas," balas Wardhana.
__ADS_1
Layang Yuda terlihat menarik nafasnya sebelum mulai bercerita.
"Cakra Loji bagi peradaban kami hanyalah sebuah ruh legenda yang biasa diceritakan secara turun menurun pada anak anak yang baru akan mulai belajar Ilmu Kanuragan. Kami selalu diingatkan untuk tidak menggunakan ilmu kanuragan Sabdo Loji untuk kejahatan atau sang ruh kitab itu akan marah. Aku tidak menyangka jika cerita itu adalah sebuah peringatan betapa berbahayanya Sabdo Loji," Layang Yuda mengambil sebuah gulungan dari balik pakaiannya.
"Mahluk itu benar benar ada dan hampir membunuh kami, lalu bagaimana cara menghentikannya? jika kalian diberitahu tentang keberadaan mahluk itu berarti ada cara untuk menghentikannya bukan?"
Layang Yuda menggeleng pelan sambil membuka gulungan miliknya, terlihat tiga buah lingkaran yang terhubung dengan garis putus putus.
"Sayangnya tidak ada satupun catatan yang menyebutkan cara menghentikan Cakra Loji namun kita bisa memanfaatkan dimensi waktu untuk mengurungnya kembali," ucap Layang Yuda pelan sambil menunjuk gulungannya.
"Gulungan ini?" tanya Wardhana makin penasaran.
"Gulungan Suci Latimojong adalah sebuah gulungan yang menjadi simbol tertinggi peradaban kami setelah hancurnya Latimojong yang terbelah menjadi dua kelompok. Leluhurku berhasil merebutnya dari Atlantis dan menjadikanya sebagai simbol pemimpin tertinggi Lemuria. Gulungan ini menjelaskan tentang semua dimensi waktu yang ada di dunia ini dan pembagiannya."
"Dimensi waktu dan pembagiannya?"
"Sebelum kita membuat jebakan untuk mengurung Cakra Loji anda harus memahami konsep alam semesta. Menurut kepercayaan Latimojong Alam semesta terbagi menjadi tiga, Dimensi besar, kecil dan dimensi waktu. Dimensi kecil adalah apa yang ada didalam tubuh kita sedangkan dimensi besar adalah dunia kita dan seisinya. Dua dimensi ini diselimuti oleh dimensi terkahir yang yang paling luas dan tidak terbatas yaitu Dimensi Waktu.
"Ketiga dimensi ini sebenarnya saling terhubung oleh beberapa gerbang yang tersegel secara alami dan jurus ruang dan waktu yang diciptakan oleh Dewa waktu adalah "Kunci" untuk membuka segel penghalang antar dimensi.
"Dimensi waktu sendiri terbagi menjadi tiga ruang waktu yang disekat oleh segel alami. Kami menyebutnya ruang Air, Api dan udara. Ruang air adalah tempat kita saat ini, semua penguna jurus ruang dan waktu memiliki dimensi sendiri di ruang air. Kemudian ruang Udara adalah sebuah dimensi yang konon menyerap energi alam semesta yang terdiri dari sepuluh gerbang penghubung dan di ruang terakhir itulah Cakra Loji terkurung," ucap Layang Jaya sambil menunjuk tiga lingkaran kecil di gulungannya.
Wardhana terlihat takjub dengan penjelasan Layang Jaya, dia tidak menyangka alam semesta ini begitu luas.
"Lalu, ruang api ini?" tunjuk Wardhana penasaran.
"Tak ada yang tau jalan masuk dan apa yang ada didalam ruang api kecuali tuan Yasha Wirya sang dewa waktu. Semua catatan yang ditinggalkannya sama sekali tidak membahas ruangan terakhir itu, dia seolah ingin menutup rapat rahasia di dalamnya," Layang Yuda menggambar beberapa lingkaran kecil diantara dua ruang dimensi waktu itu.
"Cakra Loji selama ini terkurung di ruang Udara gerbang kesepuluh yang ada di tempat ini, Jika kita bisa mendesak mahluk itu dan menariknya ke gerbang kesembilan maka menurut catatan yang ditinggalkan tuan Yasha Wirya kita hanya perlu mengaktifkan kembali segel gerbang kesepuluh dan dia akan terhisap dengan sendirinya."
"Mendesaknya? Apa kau sudah gila? siapa yang bisa melawan ruh terkuat itu? lagi pula untuk menarik Cakra Loji yang memiliki kekuatan tanpa batas itu kedalam gerbang kesembilan pasti membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar," sambar Wardhana cepat.
"Yang mulia... Aku yakin Yang mulia mampu melakukannya," sahut Mentari.
"Benar, hanya tuan Sabrang yang bisa melakukannya karena didalam tubuhnya ada dua kekuatan besar, Dewa Api dan Megantara," jawab Layang Yuda.
"Yang mulia? lalu bagaimana kita masuk ke gerbang kesembilan? tanpa melalui gerbang batu persembahan di sisi Gelap Alam semesta kita tak akan bisa masuk ke dimensi ruang Udara bukan?" jawab Wardhana cepat.
"Ada satu cara, tapi aku membutuhkan bantuan Minak Jinggo, semoga dia segera sadar," balas Layang Yudha.
***
"Percuma kau mengumpat terus, itu tak akan bisa mengeluarkan kita dari tempat ini," ucap Naga Api saat melihat Sabrang gelisah.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? duduk santai dan menunggu bantuan? kita tidak tau apa yang sedang terjadi di luar sana..." Sabrang tiba tiba menghentikan ucapannya saat tubuhnya merasakan kekuatan besar sedang berusaha keluar dari dalam gunung yang ada dihadapannya.
"Perasaan aneh ini lagi? kakek apa kau merasakannya juga?" tanya Sabrang pelan.
"Kita dalam bahaya nak, sepertinya efek jurus mengendalikan waktu yang aku takutkan benar benar terjadi. Jika sesuatu dari dalam gunung itu berhasil lepas, aku tak yakin mampu menghadapinya," jawab Eyang Wesi.
"Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan kek? katakan padaku, apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jagat Universe dalam Pedang Naga Api dijelaskan di chapter ini, Dimensi Besar, Kecil dan Waktu.
Dimensi Waktu sendiri ada 3 ruang, Air, Api, udara dan hanya ruang dimensi api yang masih misterius keberadaannya. Di tahap akhir Pedang Naga Api ini ada baiknya teman teman memahami Jagat Universe PNA ini agar tidak terlalu bingung seperti komentar salah satu reader yang bilang alur PNA membingungkan.
Sebenernya gak membingungkan cuma kalian perlu sedikit berfikir karena PNA bukan cerita jagoan yang kuat terus menang dan nikah sama wanita cantik.. enak amat si Sabrang kalo alurnya gitu? wkwkwkwkw
Apa PNA akan ada dunia Paralel? saya jawab dengan tegas Tidak! Sabrang gak main begituan, ntar ketemu Thanos kan bingung wkwkwkwkwkw
Terakhir saya agak sedikit terkejut karena karakter Minak Jinggo mulai menguat akhir akhir ini, banyak yang bertanya siapa dia sebenarnya? sayangnya asal usul Minak Jinggo tidak akan terbuka di sini, Ikuti Api di Bumi Majapahit, mungkin akan ada beberapa clue tentang masa lalunya....
Khusus hari ini cerita saya buat lebih panjang untuk menutup libur kemarin.. Terima Gajih...
__ADS_1