Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ilusi Mata


__ADS_3

Rubah Putih dan Pradana saling bertukar jurus dengan cepat, tak ada satupun yang mau mengalah.


Suara benturan dua pusaka terus terdengar di udara, dalam hitungan detik mereka telah bertukar belasan jurus.


Rubah Putih tampak sedikit lebih unggul, beberapa serangannya tampak mampu mendesak Pradana, namun walaupun begitu Rubah Putih cukup terkejut dengan kemampuan lawannya.


"Kemampuannya cukup tinggi namun aku tak mengenalnya, apa dia pendekar baru Masalembo?" gumam Rubah Putih.


Pradana terlihat kembali terdesak saat gerakannya mulai melambat, rasa sakit di dadanya yang tiba tiba muncul membuatnya terpaksa bertahan.


"Luka yang dibuat Arjuna benar benar merepotkan, jika terus begini aku akan tewas ditangannya," gumam Pradana dalam hati.


Dia mencoba menjaga jarak dan mencari cara untuk melarikan diri, selain karena tubuhnya belum pulih, Pradana yakin kemampuan Rubah Putih berada di atasnya.


"Dia bergerak seolah melindungi tubuh bagian depannya, sepertinya dia sedang terluka," ucap Rubah Putih sambil meningkatkan kecepatannya.


Pradana terus menghindar sambil sesekali melihat sisi jurang, dia ingin memancing Rubah Putih agar memiliki kesempatan melarikan diri.


Pradana sadar, tak mudah melarikan diri dari pendekar setingkat Rubah Putih bahkan dengan kondisi tubuhnya saat ini bisa dikatakan mustahil.


"Dia sedang merencanakan sesuatu," ucap Rubah Putih pelan.


Rubah Putih melesat cepat saat melihat celah yang ditinggalkan Pradana, dia memutar tubuhnya sedikit sambil mengayunkan goloknya sekuat tenaga.


Pradana yang mencoba menangkis serangan itu dibuat panik saat Rubah Putih tiba tiba merubah gerakannya, dia menghantamkan gagang pedang ke tubuh Pradana sebelum melepaskan pukulan ke wajahnya.


Pradana terdorong mundur beberapa langkah, dia menoleh sesaat kebelakang dan mendapatkan dirinya sudah berada dipinggir jurang.


Rubah Putih yang melihat Pradana menoleh ke arah jurang tak menyianyiakan kesempatan, dia kembali meningkatkan kecepatannya dan dalam sekejap sudah berada didekat Pradana.


"Cepat sekali," Pradana mencoba menangkis serangan yang terarah padanya namun terlambat, kecepatan Rubah Putih benar benar meningkat drastis.


"Sial, hanya itu satu satunya cara agar aku bisa selamat," Pradana mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya.


Saat golok Rubah Putih hampir mengenai tubuhnya, Pradana tiba tiba menghilang di udara.


"Jurus ruang dan waktu, aku sudah menduga kau adalah pendekar Masalembo namun aku tak menyangka kau akan menggunakan jurus itu secepat ini, kau membuatku kecewa," ucap Rubah putih sambil menyarungkan goloknya.


"Sebaiknya kau mempunyai alasan yang tepat untuk meninggalkan latihanmu," ucap Rubah putih sambil menoleh kearah salah satu pohon besar.


"Setidaknya aku membantu kakek menangkapnya," balas Sabrang sambil melompat turun dari atas pohon.


"Menangkapnya?" Rubah Putih mengernyitkan dahinya.


Sabrang menutup salah satu matanya sambil tersenyum kecil, dia mengalirkan tenaga dalam sesaat sebelum membuka matanya.


Pradana muncul dengan wajah bingung, saat dia mencoba bergerak, Rubah Putih lebih dulu bereaksi.


Rubah Putih mencengkram lengan Pradana yang berusaha mencabut pedangnya, dia melepaskan beberapa totokan sebelum memukul keras bahu Pradana.


"Kau benar benar merepotkan," ucap Rubah Putih pelan.


"Apa ini sudah cukup untuk melepaskan aku dari hukuman? aku tak mungkin diam saja saat paman Wardhana menyelidiki sesuatu dengan mempertaruhkan nyawa," ucap Sabrang pelan.


"Lupakan masalah hukuman, aku sangat tertarik bagaimana kau bisa menangkapnya? bukankah dimensi ruang dan waktu setiap penggunanya berbeda?" tanya Rubah Putih.

__ADS_1


***


"Hukuman?" Wulan mengernyitkan dahinya.


"Sepertinya begitu tetua, jebakan ini digunakan untuk mencegah orang keluar. Aku tidak tau apa alasannya namun sepertinya mereka tidak ingin seseorang atau sesuatu keluar dari tempat ini.


Mungkin jawabannya ada dibawah sana namun saat ini yang terpenting adalah bagaimana kita turun kebawah, tangga kayu itu sudah sangat rapuh tak mungkin kita menggunakannya untuk turun," jawab Wardhana.


Ciha memungut sebuah batu kecil dan melemparkannya kebawah, dia terlihat menunggu sesuatu sebelum menggeleng pelan.


"Bahkan tak ada suara batu jatuh, sepertinya jurang ini sangat dalam," ucap Ciha.


"Pasti ada cara lain, mereka tidak mungkin membangun jembatan ini sambil melayang di udara, pasti ada suatu cara sehingga tangga kayu ini bisa tersusun rapih dari atas sampai kebawah. Sebaiknya kita beristirahat sebentar, aku akan mencoba mencari petunjuk. Berhati hatilah dalam melangkah, kita tidak tau apa masih ada jebakan lainnya," balas Wardhana.


"Jangan terlalu dipaksakan paman, masih banyak waktu untuk berfikir," Sabrang muncul bersama Rubah Putih.


Wardhana tampak bingung menatap Sabrang sesaat sebelum berlutut dihadapannya yang diikuti oleh Candrakurama dan Ciha.


"Hormat pada Yang mulia, maaf hamba terlambat mengenali," ucap Wardhana.


"Tak perlu sungkan seperti itu paman, wajar paman tidak mengenaliku dengan rambut putih ini," balas Sabrang sambil tersenyum.


"Hormat pada guru," Sabrang menundukkan kepalanya memberi hormat pada Wulan.


"Apa yang kalian lakukan disini? bukankah seharusnya kau melatihnya?" tanya Wulan pada Rubah Putih.


"Ceritanya panjang Wulan, bukankah sudah kukatakan untuk tidak mendekati gunung ini?" balas Rubah Putih.


"Kau tak mungkin terus lari Rubah Putih, bukankah sudah saatnya kita mencari tau apa yang tersembunyi di gunung ini?" ucap Wulan pelan.


"Jika kalian memaksa turun aku tak akan melarang namun tolong pikirkan cara untuk naik, sepertinya tempat ini sudah lama tidak dibuka, aku yakin tangga itu sudah tak bisa dilewati," ucap Rubah Putih.


"Aku akan menemukan caranya," jawab Wardhana yakin.


"Apa kau yang bernama Wardhana?," Rubah Putih mengernyitkan dahinya.


Wardhana mengangguk pelan, dia menatap Rubah putih sambil tersenyum.


"Sudah lama sejak pertemuan terakhir kita dalam pertempuran, izinkan aku berterima kasih pada anda tuan," jawab Wardhana sambil menundukkan kepalanya.


"Apa kau yang menemukan tempat ini?" tanya Rubah Putih kembali.


"Benar tuan," jawab Wardhana.


"Maaf jika aku bertanya seperti itu, aku hany terkejut kau tidak menyadari sesuatu dari tempat ini," ucap Rubah Putih.


"Maksud anda?"


"Aku pernah terkurung sangat lama di sebuah tempat tanpa cahaya sama sekali, berada ditempat seperti itu akan membuatmu gila, kau tidak akan tau kapan siang dan malam, kau bahkan tidak tau kapan harus tidur.


Manusia tidak akan bisa hidup tanpa cahaya, rasa takut dan panik akan menyelimutimu sepanjang waktu. Jika aku membuat tempat ini hal pertama yang aku pikirkan adalah cahaya. Jurang itu sepertinya sangat dalam dan sangat gelap, bukankah kita membutuhkan cahaya jika ingin membangun tangga itu?"


Wajah Wardhana berubah seketika, dia benar benar tak memikirkan masalah sepenting itu.


Wardhana kembali mendekati pinggir jurang dan menatap kebawah.

__ADS_1


"Jika melihat sistem pencahayaan didalam gua ini harusnya tak berbeda jauh dengan jurang ini," Wardhana menyentuh dinding jurang dengan telapak tangan dan menciumnya.


"Benar dugaanku," gumam Wardhana pelan, dia mengambil dua buah batu dan kembali membenturkan tepat didekat dinding jurang.


Tak lama, percikan api menyambar dinding jurang dan menyebar membentuk lingkaran bergambar naga.


Jurang yang tadi sangat gelap berubah terang seketika, wajah Wardhana tampak takjub menatap jurang dihadapannya.


"Bagaimana ada tempat seperti ini?" ucapnya Takjub.


Sebuah jurang yang awalnya mereka pikir sangat dalam ternyata separuhnya terisi air, tangga yang mereka pikir akan berakhir didasar jurang ternyata hanya sampai permukaan air.


"Tipuan mata, seperti yang kukatakan, manusia takut dengan kegelapan dan siapapun yang membuat tempat ini mereka memanfaatkan rasa takut manusia untuk menyembunyikan jalan menuju ke suatu tempat," ucap Rubah Putih.


"Tapi bagaimana mungkin? aku tadi melempar beberapa batu, harusnya dengan jarak air sedekat ini akan terdengar suara batu masuk kedalam air," tanya Ciha bingung.


"Segel Matahari, mereka menggunakan segel yang juga kugunakan untuk menyembunyikan air terjun Lembah Pelangi. Jadi segel itu berasal dari tempat ini," ucap Wulan tak percaya.


"Segel Matahari? tapi bukankah saat kita berada di hutan Lali Jiwo aku bisa merasakan auranya?" Sabrang menatap Wulan bingung.


"Kudengar segel Matahari ada beberapa tingkatan, dan yang diajarkan oleh Masalembo hanya sampai tingkat dua. Aku tidak tau mereka tidak ingin mengajarkan atau mereka juga tidak menguasainya namun aku yakin segel yang digunakan disini sudah dalam tahap sempurna.


Jika segel yang digunakan di hutan Lali Jiwo dan Air terjun Lembah pelangi masih belum mampu meredam suara dari dalam sepenuhnya, segel yang digunakan di jurang ini bahkan mampu meredam suara benturan. Sebaiknya kalian cepat ambil keputusan jika tidak ingin tertinggal," Wulan tiba tiba melompat kedalam air tanpa menunggu jawaban yang lainnya.


"Si bodoh itu," umpat Rubah Putih kesal sambil menoleh kebawah.


Dan apa yang dikatakan Wulan tepat, saat tubuhnya membentur air, tak ada suara benturan tubuhnya dengan air sama sekali.


"Ciha," ucap Wardhana.


"Baik tuan," ucap Ciha sesaat sebelum melompat diikuti Sabrang dibelakangnya.


"Sebaiknya kita juga cepat," Rubah Putih sudah bersiap melompat saat Wardhana menahannya tiba tiba.


"Saat ini hanya tinggal kita berdua, sebaiknya anda mengatakan yang sebenarnya," ucap Wardhana dingin.


"Mengatakan yang sebenarnya?" Rubah Putih mengernyitkan dahinya.


"Apa yang anda katakan tadi semua benar, cahaya adalah kunci utama dalam membuat tempat ini namun terlihat sangat aneh ketika anda bisa menyadarinya dengan sangat cepat.


Cahaya di dinding gua itu bukan hanya berfungsi sebagai penerangan namun juga sebagai pengalih perhatian. Ketika kita sudah mendapatkan sumber penerangan, kita tidak mungkin langsung berfikir jika kunci jurang ini adalah cahaya juga.


Kemudian jurang yang gelap ini menjadi kunci pelengkap semua ilusi. Ketika kita bicara jurang maka yang akan langsung terpikir adalah kedalaman, dan aku pun termakan oleh tipuan mata ini namun anda tidak. Anda bisa memperkirakan semuanya hanya dalam beberapa detik seolah tau jika jurang ini terisi air. Semua yang anda katakan sangat tepat, dan hanya ada dua jawabannya, pertama anda adalah orang yang benar benar pintar atau jawaban kedua anda pernah masuk kedalam jurang itu," ucap Wardhana.


Rubah Putih tersenyum kecil sebelum meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


"Waktu itu aku pernah mengatakan padamu, jangan mencari tau apa yang seharusnya tak boleh kau ketahui atau nyawamu dalam bahaya.


Dengarkan saran yang akan aku katakan padamu, kita berada di pihak yang sama dengan musuh yang juga sama, jangan buat aku menjadi lawanmu" balas Rubah Putih sambil tersenyum.


"Kuakui kau sangat pintar namun satu kesalahanmu, aku belum pernah masuk ketempat ini walau sangat ingin. Kali ini ku ampuni nyawamu karena berhasil menemukan tempat ini," ucap Rubah Putih sesaat sebelum melompat.


Wardhana menatap Rubah Putih dengan wajah bingung.


"Siapa kau sebenarnya? jika dia belum pernah masuk ketempat ini, bagaimana dia seolah tau misteri jurang ini," gumam Wardhana.

__ADS_1


__ADS_2