Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Minak Jinggo vs Wicaksana I


__ADS_3

Serangan serangan Minak Jinggo terus menekan Wicaksana dan membuat beberapa goresan di dinding gua, namun sampai beberapa jurus berlalu belum satupun yang berhasil mengenai sasaran.


Wicaksana yang memiliki kemampuan membaca arah pertarungan tampak bergerak lincah menghindari setiap serangan sambil sesekali berusaha menyerang balik.


"Ternyata selama ini kau menyembunyikan kemampuanmu yang sebenarnya," umpat Minak Jinggo sedikit kesal, dia terus berusaha menakan lawannya dengan jurus jurus andalannya.


"Tidak sesuai dengan rencana?" ejek Wicaksana.


"Mungkin tapi kali ini aku harus berterima kasih padamu karena aku juga sudah bosan harus menahan kekuatanku," Minak Jinggo merubah gerakannya, dia terlihat memperlambat gerakannya sebelum melepaskan jurus pedang Api abadi tingkat lima.


"Jadi Wicaksana benar benar seorang pengkhianat dan kita akan diam saja? Minak Jinggo mungkin lebih unggul tapi gua ini benar benar membatasi gerakannya dan yang paling membuatku khawatir, Wicaksana mampu memanfaatkan ruang sempit ini untuk menutupi kelemahannya," ucap Elang pelan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Walau sebentar tapi mereka telah menghabiskan waktu bersama, bahkan bertarung hidup mati dengan para pendekar Lembayung di Trowulan. Dia masih belum percaya sepenuhnya jika Wicaksana adalah seorang mata mata.


Dan yang membuat Elang dan semua pendekar Hibata semakin terkejut adalah kenyataan bahwa pertarungan Sabrang dan Wulan yang mengakibatkan terlukanya Sabrang oleh racun paling mematikan di dunia persilatan adalah bagian dari rencana besar Wardhana.


Elang benar benar tak habis pikir bagaimana mereka bisa melakukan hal gila seperti itu untuk memancing keluar semua musuh yang sudah ribuan tahun dicari Jaya Setra tapi tak berhasil.


"Dia tidak akan suka kita ikut campur, kau sudah mendengarkan sendiri ucapannya tadi. Selain itu...." Winara menggantung ucapannya, dia kembali teringat saat di suatu malam Kirana tiba tiba mengajaknya keluar diam diam dari Air terjun Lembah Pelangi tepat sehari sebelum Wardhana menghilang.


Winara menyusuri gelapnya hutan Larangan dan masuk kesebuah celah batu yang disebut kirana sebagai Telaga Khayangan api.


Didalam telaga khayangan api itulah Winara bertemu dengan seorang pria yang mengaku bernama Wijaya.


"Kirana, apa maksud semua ini?" tanya Winara pelan, dia menatap pria yang berdiri tak jauh darinya waspada.


"Aku hanya diminta Naga Api membawamu datang ketempat ini, pendekar itu akan menjelaskan semuanya," jawab Kirana pelan.


"Naga Api? bukankah Yang mulia berada di Air terjun Lembah pelangi, mengapa dia memintaku..."


"Aku tau banyak pertanyaan di kepalamu dan aku akan menjelaskan semuanya tapi bisakah kau tarik semua aura pusakamu? aku takut ada seseorang yang menyadari kita berada di tempat ini. Andai kau masih belum percaya padaku, bisakah kau percaya pada Naga Api? karena jika dia ingin membunuhmu, saat ini kau sudah mati tanpa harus melakukan hal sulit dengan mengundangmu ketempat ini," ucap Wijaya sambil melempar pedangnya sebagai tanda dia tidak berniat menyerang.

__ADS_1


"Apa yang dikatakannya benar, walau Iblis itu sangat menjengkelkan tapi dia tak akan melakukan hal pengecut seperti ini jika ingin membunuh seseorang," ucap Kirana pelan.


Winara tampak berfikir sejenak sebelum menarik semua auranya.


"Baik, bisa anda jelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi?" tanya Winara kemudian.


"Akan ada sedikit keributan dalam beberapa hari ke depan yang berujung pada pengusiran kalian dari Air Terjun Lembah pelangi tapi kau tak perlu khawatir karena itu adalah bagian dari rencana besar tuan Wardhana untuk memancing musuh keluar. Tugasmu hanya memastikan Hibata mengikuti semua rencana ini dan mengawasi pergerakan Wicaksana," jawab Wijaya pelan.


"Wicaksana?" balas Winara terkejut.


"Untuk saat ini hanya itu tugas yang diberikan Yang mulia padamu, aku akan menemui mu lagi saat kalian sudah bergerak ke gua Surupan untuk menjelaskan tugas lainnya," jawab Wijaya sambil melempar sebuah lempengan emas bertuliskan Hibata.


"Itu adalah simbol tertinggi Hibata, untuk sementara waktu, kau yang akan memimpin organisasi rahasia ini. Pastikan Yang mulia tidak kecewa," sambung Wijaya sebelum melangkah pergi.


"Kenapa aku yang dipilih? bukankah..."


"Kita tak akan pernah mengerti apa yang ada dipikiran tuan Patih, tapi dia selalu memilih seseorang yang memiliki kelebihan sesuai dengan rencananya dan kau sepertinya memiliki itu. Ah.. aku lupa menyampaikan sesuatu padamu, saat Naga Api berkomunikasi dengan ruh pusaka milikmu, dia diam diam menanamkan energinya di tubuhmu. Jangan pernah sedikitpun berfikir untuk membuatnya marah karena tubuhmu akan hangus menjadi debu dalam seketika," balas Wijaya sebelum menghilang di kegelapan malam.


"Apapun rencananya pasti bukan hal kecil jika harus dirahasiakan seperti ini, dia bahkan tidak memberi tahu tugas lanjutan yang akan diberikan padamu sebelum keributan yang katanya akan terjadi beberapa waktu ke depan. Aku tidak suka mengatakan ini tapi sepertinya kita sudah terlibat dengan sebuah rencana besar patih itu," jawab Kirana dalam pikirannya.


"Begitu ya... mengawasi Wicaksana tanpa tau apa yang sedang terjadi memang cukup merepotkan tapi aku jadi penasaran apa yang sebenarnya dia rencanakan," balas Winara pelan.


Dan akhirnya rasa penasaran Winara terjawab saat berada di hutan menuju gua Surupan, Wijaya menemuinya kembali diam diam dan memberikan gulungan yang merinci semua tugas Hibata selanjutnya.


"Saat ini kita sedang menghadapi musuh yang sudah sangat mengenal tuan Patih, mereka bahkan mampu membaca semua pergerakan tuan Wardhana dan berhasil menyusupkan beberapa orang mata mata termasuk Wicaksana untuk memastikan rencana mereka berhasil. Itulah sebabnya tuan Patih merubah semua rencananya tiba tiba.


"Wicaksana adalah salah satu pendekar muda paling berbakat yang dimiliki oleh sekte Angin biru namun sayangnya saat ini dia sudah mati, tuan Wardhana sudah memastikan jika tubuh anak itu telah diambil alih menggunakan ajian Ulat Sutra Abadi dan tugas kalian adalah membunuhnya. Setelah itu kembalilah secepatnya dan gunakan topeng wajah kalian, kita akan bertemu di tempat itu untuk melakukan serangan balik bersama Yang mulia."


"Jadi racun yang hampir menewaskan Yang mulia adalah bagian dari rencana mereka untuk meringkus Wicaksana sekaligus membawa penawar racun itu secepatnya? aku tidak tau lagi apa harus menyebut mereka gila karena berani bermain dengan nyawa seorang raja hanya untuk menjalankan rencana ini, bagaimana jika kami dan penawar racunnya datang terlambat?" Winara menggeleng pelan sambil terus memperhatikan pertarungan sengit yang ada dihadapannya.


Wicaksana yang awalanya sedikit kewalahan terlihat mulai bisa mengimbangi kecepatan Minak Jinggo, perlahan namun pasti dia mulai menekan balik.

__ADS_1


"Lebih tepatnya mengerikan, orang gila tak mungkin membuat rencana yang penuh perhitungan ini terlebih menyangkut nyawa seorang raja. Dia sudah memperhitungkan semuanya termasuk memilihmu sebagai pemimpin Hibata sementara waktu, tanpa kalian sadari dia sedang memanfaatkan semua kelebihan yang kita untuk menjalankan rencananya," jawab Sumbi pelan.


"Memanfaatkan kita?" tanya Winara bingung.


"Beberapa hari sebelum kalian datang, orang yang bernama Arung datang dan membawa surat dari murid bodohku meminta penawar racun Kalajengking Neraka. Jika mereka sudah memiliki penawar itu lalu mengapa kalian tetap diminta datang kemari dengan alasan mengambil penawar racun? sejak awal tugas kalian adalah meringkus pengkhianat ini karena mungkin disekitar Teratai merah sudah banyak mata mata musuh menyebar," jawab Sumbi sambil menyerahkan sebuah gulungan pada Winara.


"Arung memintaku menyerahkan gulungan ini padamu, sebaiknya kita cepat karena sepertinya rencana Wardhana akan dimulai malam ini dan itu artinya musuh juga sudah bergerak."


Winara menyambar gulungan itu dan membukanya, namun belum sempat dia membaca pesan itu sebuah ledakan tenaga dalam mengejutkan mereka bersamaan dengan terlemparnya tubuh Minak Jinggo sebelum membentur dinding gua.


"Minak Jinggo, kau pikir bisa mengalahkan aku?" ejek Wicaksana sambil melepaskan aura yang jauh lebih besar dari sebelumnya.


"Sial, selama ini dia menyembunyikan kekuatannya, kita harus membantu Minak Jinggo," Winara bersiap mencabut tongkatnya dan menggunakan segel tanah namun tiba tiba Minak Jinggo memberi tanda untuk berhenti.


"Mundur! jangan pernah sekalipun kalian berani mengganggu pertarungan ini atau aku juga akan membunuhmu," ucap Minak Jinggo sambil memusatkan tenaga dalam di kedua matanya.


"Kau masih ingin melawanku dengan kemampuanmu itu? seharusnya kau menerima bantuan mereka karena mungkin kalian memiliki sedikit kesempatan untuk menang," ucap Wicaksana sinis.


"Awalnya aku tidak pernah perduli dengan apa yang kalian rencanakan selama tidak mengusikku, tapi merasuki tubuh milik orang lain seenaknya benar benar tidak bisa dimaafkan. Apa kau tidak pernah berfikir jika tubuh yang kau rebut itu mungkin memiliki keluarga?" Minak Jinggo kembali bergerak menyerang, kini dia mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalamnya.


"Tubuh tujuh bintang? bagaimana mungkin anak ini...?" Sumbi tampak terkejut setelah merasakan energi yang meluap dari tubuh Minak Jinggo.


"Kau masih bisa melepaskan aura sebesar ini? menarik..." Wicaksana menyambut serangan Minak Jinggo.


Dua kekuatan besar yang saling berbenturan membuat dinding gua bergetar hebat. Keduanya saling bertukar jurus andalah dan dalam waktu singkat, retakan retakan besar mulai menghiasi dinding gua akibat efek serangan mereka.


"Gawat, mereka bisa meruntuhkan gua ini." Melihat situasi semakin genting, Winara langsung membaca pesan yang diberikan Arung padanya. Wajahnya tampak terkejut sebelum memasukkan gulungan itu ke balik pakaiannya.


"Dengarkan aku, perintah tuan Patih sudah turun tapi kali misi kita kali ini akan sangat berbahaya..." Winara mulai menjelaskan isi pesan yang ada di gulungan itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Saya mohon maaf malam ini PNA update sedikit terlambat dan sepertinya setiap hari jumat PNA akan update pukul 20.00 WIB karena di akhir pekan pekerjaan saya menumpuk...


__ADS_2