
Tubuh Sabrang dan Moris meluncur deras dan menghantam tanah hingga meninggalkan dua buah lubang yang cukup besar di bukit Cetho, sepertinya Minak Jinggo benar benar melempar tubuh mereka dengan keras dari dalam lubang dimensi.
Keduanya perlahan bangkit sambil mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh untuk menekan rasa sakit yang dirasakan.
"Kalian pikir bisa menahan aku di tempat ini, dengan kekuatan Cakra Loji dan mata bulan, aku bisa kembali ke ruang dimensi kapanpun," Moris mengaktifkan mata bulannya dan bersiap menarik tubuh Sabrang kembali ke gerbang sembilan ruang dimensi.
Namun betapa terkejutnya dia saat mata bulan miliknya tidak bisa aktif, ada kekuatan aneh yang seolah menekan dan mengacaukan aliran darah ke matanya.
"Ciha menyebutnya sebagai segel Empat Unsur Kehidupan, gabungan dari semua ilmu segel milik sekte Bintang Langit. Selama kita berdua terkurung di tempat ini, mata bulan dan jurus ruang waktu tidak akan berfungsi," ucap Sabrang pelan.
"Segel Empat Unsur Kehidupan? Apa kau bercanda, tak akan ada yang bisa mengurung kekuatan Cakra Loji," Moris tiba tiba mengayunkan pedangnya ke udara dan melepaskan belasan energi pedang yang menghantam aura segel Empat Unsur Kehidupan yang mengurung bukit Cetho.
Suara ledakan besar terdengar saat energi pedang Moris menghantam segel pelindung itu. Wajahnya berubah seketika saat serangannya tak mampu menembus segel Empat Unsur Kehidupan.
"Tidak mungkin... kekuatan Cakra Loji..." Moris tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Segel Empat Unsur Kehidupan tak akan bisa ditembus oleh kekuatan apapun karena prinsip segel itu adalah menyerap energi yang mencoba menghancurkannya. Semakin kau bernafsu menghancurkan dinding pelindung itu maka segel Empat Unsur Kehidupan akan semakin kuat. Saat ini hanya kau dan aku tanpa mata bulan dan jurus ruang dan waktu," balas Sabrang sambil menarik pedang Naga Api masuk kedalam tubuhnya..
Moris terdiam sesaat sebelum tertawa terbahak bahak, pandangan matanya tajam menatap Sabrang seolah ingin membunuhnya berkali kali.
"Jadi kau sudah merencanakan ini semua? apa kakang pikir tanpa mata bulan dan ruang dimensi bisa mengalahkan aku? Kau lupa jika aku mewarisi semua kelebihan ayah termasuk tubuh sembilan naga sempurna," balas Moris sambil melepaskan aura Cakra Loji untuk menekan Sabrang.
"Kita tidak harus melakukan pertarungan ini Moris dan aku yakin Ayah juga tidak menginginkannya. Kembalilah, masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Mahluk yang ada di dalam tubuhmu akan menghancurkan dunia persilatan yang selama ini ayah lindungi," ucap Sabrang lirih.
"Melindungi dunia yang sudah rusak ini dengan membuang anaknya, apa itu sebanding? Apa kalian tau penderitaan yang selama ini aku rasakan? Aku tumbuh tanpa sosok ayah dan hidup dengan menanggung dendam, setiap hari aku berlatih siang dan malam hanya untuk menjadi kuat dan membuktikan pada ayah jika aku bisa jauh lebih kuat darimu. Apa kau tau rasa sakit itu? Jika ayah memang tidak menginginkanku kenapa dia tidak membunuhku saat kita lahir?" teriak Moris kesal.
"Jadi kau pikir ayah selalu ada di sampingku? Kau salah Moris, aku sama sepertimu yang tidak mengenal sosoknya. Ayah terbunuh saat aku masih bayi dan ibu menitipkan aku di sekte Pedang Naga Api. Namun aku tidak menyalahkan ayah karena terkadang kita harus mengorbankan hal kecil untuk sesuatu yang besar.
"Seseorang pernah mengatakan padaku jika dalam kekuatan besar terdapat tanggung jawab yang juga besar karena alam menitipkan bakat istimewa pada trah Dwipa pasti bukan tanpa alasan. Itulah kenapa ayah memutuskan melindungi dunia persilatan dengan kemampuan yang dimilikinya dan kita sebagai keturunannya harus melanjutkan perjuangan ayah," jawab Sabrang pelan.
"Keturunannya? sejak dia membuang aku, saat itulah hubungan kami sebagai ayah dan anak berakhir, jangan pernah bicara seolah kau tau apa yang aku rasakan," Moris tiba tiba bergerak menyerang dan dalam hitungan detik dua serangan tusukan yang sangat cepat sudah mengincar tubuh Sabrang.
Sabrang tidak tinggal diam, tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri, dia mengeluarkan kedua pedangnya dan menangkis serangan itu.
Ujung mata pedang mereka berbenturan dan menghasilkan energi kejut yang luar biasa besar. Cukup lama keduanya terdiam dalam posisi itu dan saling menatap seolah berusaha mencari kelemahan masing masing.
Tanpa Mata Bulan, tanpa jurus ruang dan waktu, hanya pengalaman bertarung dan kecepatan berpikir yang akan menjadi penentu pertarungan kali ini.
"Kau tau kenapa ayah tidak membunuhmu? kau seharusnya sadar jika dia sangat menyayangimu," ucap Sabrang cepat.
"Diam! tau apa kau tentang hidupku!" Moris bergerak lebih dulu, dia menarik pedangnya cepat dan merubah gerakan.
Menggunakan Lengan kanannya, Moris menghantam tangan Sabrang dan disaat yang sama lengan kirinya mendorong gagang pedang dan melepaskan Tapak Dewa Mencengkeram Langit kearah perut.
Gerakan Moris masih sangat cepat walau tidak lagi secepat saat berada di gerbang kesembilan dimensi waktu.
Melihat kecepatan serangan itu, Sabrang yakin tidak akan bisa menghindar tepat waktu. Dia kemudian menarik kaki kanannya sedikit kebelakang untuk menjaga keseimbangan tubuh sebelum tangannya bergerak tak kalah cepat dan menyambut serangan Tapak Dewa Mencengkeram Langit.
"Tapak Dewa Es Abadi."
Serangan keduanya kembali berbenturan membuat tekanan udara disekitar mereka meningkat.
"Hentikan semua ini Moris, kau bisa menghancurkan dunia persilatan dan seisinya. Aku akan membantumu lepas dari pengaruh Cakra Loji. Semua masih belum terlambat!" teriak Sabrang cepat.
"Tutup mulutmu!" Moris merubah gerakan tangannya saat pedang di kedua tangannya menghilang.
"Tinju Dewa Kegelapan," gerakan aneh itu kembali terlihat walau tidak secepat sebelumnya.
Beberapa serangannya berhasil menembus pertahanan lawannya, beruntung Sabrang lebih dulu membentuk perisai tenaga dalam untuk mengurangi efek serangan.
__ADS_1
Satu Pukulan... Dua pukulan datang bersamaan secepat kilat membuat Sabrang sedikit tersudut.
Sabrang terus meningkatkan kecepatannya untuk mengimbangi serangan Moris yang semakin mematikan.
"Gerakannya semakin cepat, jadi selama ini dia masih menahan kekuatannya," umpat Sabrang dalam hati.
"Mau sampai kapan kau berlari seperti tikus kakang? Apa hanya ini kemampuan anak pilihan ayah? Sangat menyedihkan," Moris mendekat dengan cepat. Tinju Dewa Kegelapan miliknya mengincar celah pertahan Sabrang yang sedikit terbuka.
Saat Sabrang berusaha menutup celah itu dan menangkis dengan Tapak Dewa Es Abadi, serangan Moris kembali berubah. Dia mengayunkan tangannya seolah sedang menggunakan jurus pedang.
"Jurus ini..."
"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat dua : Cahaya penghancur Iblis," sebuah pedang tiba tiba muncul di tangan Moris dan mengincar tenggorokan Sabrang.
"Jurus Pedang Sabdo Palon di tangannya benar benar mematikan. Dia tidak akan bisa menghindari serangan itu Naga Api! Kita telah melakukan kesalahan besar dengan membiarkan Moris meniru jurus itu." Untuk pertama kalinya, sang Pusaka penjaga waktu terlihat pasrah.
Satu detik! hanya satu detik sebelum serangan Moris memotong leher Sabrang, sesuatu yang aneh terjadi.
Sabrang tiba tiba bergerak menghindar, sangat cepat! Dia bergerak menghindar mengikuti hembusan angin yang dihasilkan oleh tebasan pedang Moris dengan bantuan telinganya.
Ya! Telinga Sabrang tiba tiba mampu mendengar hembusan angin yang dihasilkan oleh serangan Moris dan pikirannya langsung membuat simulasi gerakan untuk menghindari serangan yang tidak terlihat oleh matanya.
Satu tebasan...empat tebasan yang datang hampir disaat bersamaan secara mengejutkan semua mampu dihindari oleh Sabrang.
Pandangan mata Sabrang mulai berubah, walau dia belum tau apa yang sedang terjadi tapi kini matanya jauh lebih fokus berkat bantuan telinganya.
Indra pendengaran Sabrang menjadi sangat tajam, walau serangan serangan Moris semakin cepat dan tidak menimbulkan suara tapi hembusan angin diantara tebasan pedangnya mampu terdengar oleh Sabrang dan dia memanfaatkannya untuk membuat gerakan menghindar.
Wajah Moris mulai berubah saat tak ada satupun serangannya yang berhasil mendarat di tubuh Sabrang. Dia merasa ada yang salah, bagaimana mungkin serangan yang menurutnya hanya bisa dilihat oleh mata bulan mampu dihindari dengan begitu sempurna.
"Tidak mungkin! kau mempermainkan aku!" emosi Moris memuncak, harga dirinya mulai hancur. Dia terus menggunakan jurus pedang Sabdo Palon dan melupakan pertahanannya.
Satu tusukan, dua tebasan! Sabrang bergerak lincah menghindari serangan yang terus mengarah padanya.
Sabrang memusatkan energi Naga Api di kedua kakinya agar keseimbangannya tetap terjaga ketika merubah gerakannya tiba tiba.
"Anak ini... Bagaimana bisa menghindari serangan secepat itu, apa dia memiliki mata di seluruh tubuhnya," ucap Eyang Wesi kagum.
"Ajian tanpa wujud, tekanan Moris telah memaksa tubuh Sabrang meningkatkan semua panca inderanya. Dia telah menyatu dengan alam. Bersiaplah, kita akan melihat lahirnya pendekar terkuat sebentar lagi!" balas Naga Api bangga.
"Ajian tanpa wujud? tidak mungkin.. bukankah ajian itu hanya bisa..."
"Ajian tanpa wujud tidak bisa dipelajari, ilmu tertinggi yang ada di dalam kitab Sabdo Loji ini hanya bisa didapatkan setelah melewati tempaan pertarungan hidup dan mati. Anak ini telah melalui ratusan pertarungan berbahaya yang hampir merenggut nyawanya. Sepertinya itu yang memaksa seluruh panca inderanya berkembang," potong Naga Api.
"Begitu ya... Jadi pertarungan ini sudah selesai..."
"Aku belum bisa memastikannya tapi setidaknya kau mulai bisa memikirkan cara menyegel mahluk sialan itu kakek tua," balas Naga Api.
"Gerakannya sudah mulai hancur, walau dia bisa terus menggunakan jurus tiruan milikku dengan sangat baik tapi celah pertahanannya mulai terbuka tanpa disadarinya," Sabrang memperlambat gerakannya, kali ini dia berniat menyambut serangan Moris yang terarah padanya.
"Sepertinya kau sudah mulai lelah berlari seperti tikus, kakang? Bagus, saatnya membunuhmu!" Moris terus meningkatkan kecepatannya, dia merubah ayunan pedang menjadi sebuah serangan tusukkan yang mengincar jantung Sabrang.
Telinga Sabrang bisa merasakan angin yang menyertai serangan itu bahkan perubahan gerakan yang dilakukan oleh Moris bisa dirasakannya saat suara angin terdengar semakin cepat.
Serangan cepat itu berhasil ditangkis oleh Sabrang, dia kemudian menggunakan punggung tangannya untuk menjauhkan pedang Moris sambil mendekatkan tubuhnya. Menggunakan kaki kanannya, Sabrang melepaskan sebuah tendangan keras untuk menghancurkan kuda kuda adiknya itu.
Moris tidak tinggal diam, dia melompat sambil merubah gerakan pedangnya.
"Tapak Dewa Mencengkeram Langit," serangan Moris akhirnya mampu mengenai tubuh Sabrang. Empat serangan beruntun dari gagang pedangnya membuat tubuh Sabrang oleng dan itu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Moris.
__ADS_1
Masih di udara, Moris menyilang kan pedangnya, dia memutuskan menggunakan jurus pedang Jiwa dengan kedua pedangnya untuk menutup serangan.
"Jurus Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma," tubuh Moris meluncur deras.
"Mati kau!"
"Kau sudah kalah sejak memutuskan meniru jurus milikku," Sabrang menyambut serangan itu dengan jurus yang sama namun gerakannya kali ini jauh lebih kuat.
Hentakan kaki yang menyangga tubuhnya menyatu dengan ayunan pedangnya terlihat sangat halus. Gerakan sederhana, tanpa banyak melakukan gerakan tipuan namun sangat mematikan.
Dua serangan beruntun berhasil dihindari oleh Sabrang, semua dilakukan di detik terakhir untuk menghemat gerakannya sebelum menyerang balik dengan jurus yang sama.
"Jurus Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma."
Moris yang tidak menduga akan mendapat serangan itu berusaha menangkisnya namun semua sudah terlambat.
Belasan tebasan pedang jiwa menghantam tubuh Moris tanpa jeda, beruntung Sabrang hanya menggunakan punggung pedang untuk menyerangnya.
Serangan Pedang Jiwa membuat Moris terlempar ke belakang dan itu tidak di sia-siakan oleh Sabrang. Menggunakan ajian Inti Lebur Saketi tingkat akhir Sabrang bergerak dan bersiap dengan serangan terakhirnya.
"Aku bersumpah akan membawamu kembali ke keraton apapun caranya," ucap Sabrang sambil memutar sedikit genggaman pedangnya.
"Ayah, apakah ini alasanmu memilihnya?" Moris menatap pemuda yang bergerak dengan kecepatan tinggi kearahnya penuh arti.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, entah sebagai lawan ataupun adik, Moris mulai merasa kagum pada sosok Sabrang yang dianggap telah merampas kehidupannya itu.
Namun rasa kagum itu masih terlalu kecil dan tertutup oleh dendam yang telah lama bersemayam di dalam hatinya.
"Tidak! seharusnya dengan tubuh sembilan Naga sempurna, aku jauh lebih kuat darinya. Lihatlah ayah, akan aku buktikan jika kau salah telah memilihnya!"
Moris mengalirkan seluruh energi yang tersisa kedalam pedangnya, dia sadar mungkin ini adalah serangan terakhir yang sangat menentukan dan dia harus memastikan kemenangan berpihak padanya demi dendam pada Arya Dwipa.
"Jurus Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma."
"Gerakan Angin Merobohkan Sukma!"
Kedua pedang Moris mengembang di udara seperti sebuah sayap yang mengepak sebelum mengincar tubuh Sabrang.
"Kau sudah terlalu jauh tersesat Moris, saatnya membawamu kembali ke keraton dan memulai semuanya dari awal," Sabrang menarik serangannya tiba tiba dan membiarkan Moris mendekat.
Dengan bantuan angin, Sabrang menghindari serangan itu di detik terakhir dan menghantam lengan kiri Moris dengan ujung gagang pedangnya.
"Tapak Dewa Bumi!" Pedang Moris terlepas dari tangan kirinya, Sabrang kemudian memutar tubuhnya dengan sangat cepat dan kini mengincar lengan kanan adiknya itu.
Moris tersentak kaget, dia berusaha menjauhkan tangan kanannya namun tiba tiba waktu berhenti berputar.
"Jurus menghentikan waktu?" ucapnya terkejut sambil menatap energi segel Empat Unsur Kehidupan yang mulai menghilang.
"Jadi kau bisa merasakan kapan segel itu menghilang ya? walau aku enggan mengakuinya tapi sepertinya inilah yang membuat ayah memilihmu!" sebuah sabetan pedang menghantam tubuh Moris sangat keras dan melemparnya cukup jauh.
"Tertawa lah sepuasmu ayah, aku benar benar kalah dari anak kesayanganmu itu!" dengan sisa sisa tenaganya, Moris memusatkan energinya di tangan kanan membentuk sebuah pisau es.
"Pada akhirnya...yang terbuang akan tetap terbuang dan dilupakan!"
"Moris hentikan!" teriak Sabrang saat melihat adiknya ingin membunuh dirinya sendiri.
Sabrang langsung bergerak, dia berusaha mengentikan kegilaan adiknya itu walau dia tau mungkin tak akan sempat karena jarak mereka cukup jauh.
Saat Moris hampir menusuk jantungnya sendiri dengan pisau es ditangannya, sesosok tubuh muncul dari lubang dimensi dan mencengkeram tangannya.
__ADS_1
"Kau sudah sangat keterlaluan Moris, dendam benar benar telah merubah sikapmu. Satu satunya alasan Arya Dwipa menitipkan dirimu padaku adalah rasa sayangnya yang begitu besar pada kalian berdua!" pria itu memutar tubuh Moris sebelum membantingnya ketanah dengan keras.