
Mantili terus menekan Dehan dengan sisa sisa tenaga dalamnya, suara suara ledakan tenaga dalam yang terdengar tadi sedikit mengubah peta pertempuran. Dehan yang sejak awal begitu yakin mampu menghancurkan Tapak es utara mulai ragu karena tekanan tenaga dalam yang berasal dari tubuh Sabrang dan Mantili memanfaatkan kesempatan ini untuk menekan balik.
"Sial, formasi mereka sangat merepotkan. Siapa mereka sebenarnya?". Mantili mengumpat dalam hati karena selalu kesulitan menyentuh Dehen walaupun sudah menggunakan seluruh kemampuannya.
Ilmu kanuragan Mantili sebenarnya hanya setingkat dibawah Dehen yang merupakan salah satu pendekar terbaik sekte kuntau timur namun pengalaman Mantili mampu sedikit mendesak Dehan. Yang membuat Mantili sulit mendekat adalah sebelas pendekar yang selalu mengelilingi Dehan membentuk formasi angin penghancur untuk menyerang sekaligus melindungi Dehan.
"Percuma kau berusaha sekuat apapun menghancurkan formasi terbaik sekte kuntau timur. Orang orang Hujung tanah menjuluki nama formasi ini sebagai formasi penghancur mutlak karena tak ada satupun yang bisa lepas dari formasi ini kecuali sudah menjadi mayat". Ucap Dehen bangga.
Mantili hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Dehen. Walau dia merasa sangat kesal namun apa yang dikatakan Dehen bukan bualan. Beberapa kali dia berusaha menghancuran formasi itu namun selalu gagal.
Raut wajah Mantili kembali buruk saat melihat lengan Dehen memberi tanda pada pendekar disekitarnya.
Belasan pendekar bergerak menyebar mengelilingi Mantili setelah mendapat tanda dari Dehen.
"Sepertinya akan sedikit sulit kali ini". Mantili mengeluarkan pedang es dengan sisa tenaga dalamnya.
Ketika para pendekar itu menyerang, Mantili memutar pedangnya menyambut serangan serangan cepat yang terarah padanya. Beberapa dinding es terbentuk dititik butanya ketika beberapa pendekar mencoba menyerang dari belakang. Dinding es itu berputar mengikuti serangan yang terarah padanya seolah es itu memiliki mata.
"Pengendalian es nya luar biasa". Dehen berdecak kagum melihat Mantili. Dia mengalirkan tenaga dalamnya kepusakanya sebelum menghilang dari pandangan.
Mantili berhasil memanfaatkan celah yang terlihat dari formasi itu, dia mencengram leher salah satu pendekar yang mendekat.
"Kau akan mengerti mengapa aku dijuluki Iblis es". Lengan kiri Mantili terlihat diselimuti bongkahan es dengan cepat. Saat Mantili berusaha menghantamkan es ketubuh pendekar itu, Dehen tiba tiba muncul didekatnya dan langsung menyerang.
Mantili terpaksa melepas cengkramannya dan membentuk perisai es untuk mengangkis serangan Dehen. Serangan tiba tiba itu membuat konsentrasi Mantili buyar, dia meninggalkan celah yang cukup besar. Dua pendekar dibelakangnya menyerang celah itu dengan cepat.
"Gawat, aku terlambat bereaksi". Ketika Mantili sudah yakin kali ini dia akan terluka cukup parah, sebuah percikan api tiba tiba muncul didekat Mantili dan membentuk Keris penguasa kegelapan.
Dua pendekar itu tersentak kaget ketika melihat sebuah keris tiba tiba muncul disekitar Mantili, mereka berusaha menarik serangannya karena yakin keris itu siap menyerang mereka.
Namun gerakan mereka terhenti seketika saat merasakan sakit yang luar biasa ditubuhnya.
Anom menembus tubuh kedua pendekar itu, tubuh mereka roboh ketanah dan meregang nyawa.
Mantili tersentak kaget ketika melihat sebuah keris muncul tepat dihadapannya. Dia mengernyitkan dahinya karena merasa mengenali keris itu.
"Penguasa kegelapan? milik Arya dwipa? Bagaimana...". Mantili menghentikan ucapannya ketika keris itu menyerang Dehen tiba tiba.
"Pusaka apalagi itu?". Umpat Dehen. Dia mencoba melompat mundur namun punggungnya tiba tiba merasakan aura dingin. Dia menatap Mantili yang masih berada dihadapannya.
"Apa tanah Jawata memiliki dua pengguna es terbaik?". Dehen mengernyitkan dahinya sesaat sebelum sebuah tapak es menghantam punggungnya.
__ADS_1
Dehen tidak menyerah begitu saja, dia memutar tubuhnya kebelakang untuk menyerang balik sebelum tubuhnya terpental akibat tapak es utara.
Dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga saat melihat Sabrang tersenyum dingin.
"Aku bisa melukaimu dari mana saja". Ucap Sabrang sesaat sebelum tangannya bergerak seolah menarik sesuatu dari belakang Dehan.
"Keris itu". Dehan menundukan tubuhnya sambil bergerak mundur. Sebuah keris hampir mengenainya jika dia terlambat sedikit saja menundukan kepalanya.
Dehan terpental mundur dengan bongkahan es dipunggungnya.
"Kau cepat juga ternyata". Sabrang menangkap keris yang melesat kearahnya.
"Kau semakin hebat nak, sepertinya saat ini kemampuanmu jauh diatasku. Kau benar benar mewarisi bakat sekar pitaloka". Ucap Mantili bangga.
"Semua berkat bimbingan bibi". Sabrang tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya.
"Siapa sebenarnya pendekar itu? kekuatannya sangat mengerikan". Behen mulai merasa cemas setelah melihat formasi kebanggannya bisa dihancurkan dengan cepat. Dia memberi tanda pada pendekar tersisa untuk tidak menyerang terlebih dahulu.
"Jadi mereka yang mencoba menghancurkan tempat ini bi?". Tanya Sabrang pelan.
Mantili mengangguk pelan. "Berhati hatilah, sepertinya mereka bukan pendekar dari daratan Jawata.
"Aku sudah tau bi, mereka adalah para pendekar dari Hujung tanah". Sabrang terlihat memutar keris ditangannya.
"Kita akan menanyakannya setelah aku melumpukannya". Kobaran Naga api menyelimuti tubuh Sabrang tiba tiba.
"Jadi dia adalah pengguna Naga api?". Gumam Dehen dalam hati.
"Tuan apakah kita memiliki masalah?". Dehen mencoba bersikap sopan pada Sabrang.
Dehen melakukan itu bukan tanpa alasan, dia jelas melihat kemampuan Sabrang berada diatasnya. Ditambah dia bisa menggunakan pusaka yang paling dicari diseluruh daratan Nuswantoro, bukan perkara mudah melawan pendekar sepertinya.
"Akan menjadi sebuah masalah saat kau menyerang sekte Ibuku". Jawab Sabrang dingin.
Dehen menggeleng pelan, ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di daratan Jawata dan langsung berhadapan dengan pengguna pusaka terkuat didunia. Dia sering mendengar kehebatan pusaka ciptaan Ken Panca itu dan kali ini dia benar benar merasakannya.
"Sebaiknya buang pikiranmu untuk melarikan diri karena banyak yang harus kutanyakan". Sabrang melempar keris penguasa kegelapan kearah Dehen sesaat sebelum tubuhnya menghilang.
"Sial mata itu sepertinya yang selama ini membaca gerakan ku". Dehen menyambut serangan Sabrang sekuat tenaga.
Sabrang dan Dehen akhirnya berukar jurus diudara, Ledakan tenaga dalam menggema disekitarnya saat dua pusaka kebanggan mereka saling berbenturan. Walaupun pedang Nyabur hitam kekuatannya setingkat dibawah Naga api namun Dehen tak gentar sama sekali meladeni serangan serangan Sabrang.
__ADS_1
Sebenernya yang paling ditakutkan Dehen bukan Naga api namun Mata bulan milik Sabrang. Mata yang lebih sering disebut sebagai mata kutukan itu mampu melihat satu detik lebih cepat dari mata biasa. Jurus sekuat apapun tak akan berguna jika mata itu dapat membaca gerakanya.
Kekhawatiran Dehen menjadi kenyataan ketika jurus jurus andalannya mampu dipatahkan oleh Sabrang.
Sabrang memutar tubuhnya diudara untuk menarik Dehen menyerangnya.
"Kau memancingku menyerang? satu yang diluar perhitunganmu, kecepatanku hanya setingkat dibawahmu. Akan sangat mudah pedangku menjangkau tubuhmu". Dehen menyerang cepat kearah Sabrang yang masih melayang diudara namun raut wajahnya berubah ketika sadar dia melakukan kesalahan besar. Keris itu tidak berada digenggaman Sabrang.
Dehen memutuskan melompat mundur sambil menajamkan matanya, dia terus memperkirakan dari mana keris itu akan menyerangnya. Saat sebuah percikan api terlihat disampingnya dia mengarahkan pedangnya untuk menangkis serangan keris itu namun tiba tiba sesuatu menghujam punggungnya sampai tembus kedepan.
"Bagaimana keris itu muncul dibelakangku? sedangkan percikan itu". Dia menoleh kearah percikan api yang dilihatnya.
"Aku benar benar dipermainkannya". Dehen tersenyum kecut saat percikan api yang tadi dilihatnya membentuk sebuah pedang. "Dia menggunakan percikan pedang itu agar perhatianku terfokus kesana".
Tubuh Dehen ambruk ketanah bersamaan dengan ambruknya kebanggaannya sebagai salah satu pendekar terbaik sekte Kuntau timur. Dia hanya diam tanpa bisa melawan saat Sabrang mendekat dan membekukan tubuhnya.
"Api dan es? kau benar benar pendekar gila". Dehen menggeleng pelan.
Mantili melangkah mendekat ketika mulai bisa menguasai dirinya. Dia benar benar merasakan kekuatan Sabrang kini jauh diatasnya. Butuh waktu lama bagi Mantili untuk percaya jika anak yang dia selamatkan saat hampir mati disekte Kencana ungu kini berubah menjadi pendekar terkuat ditanah Jawata.
"Kau sudah menguasai kitab dewa es nak". Ucap Mantili memuji.
"Sabrang seperti salah tingkah saat mendengar Mantili memujinya. "Maaf bi, sebenarnya aku belum sempat membacanya karena kesibukanku mencari Dieng. Aku janji akan membacanya setelah ini".
"Kau?". Mantili tersentak kaget saat mendengar Sabrang belum mempelajari kitab itu namun sudah mampu mengendalikan elemen esnya.
"Apakah itu mungkin?". Dehen yang ikut mendengar, tak kalah terkejutnya dari Mantili. Bagaimana seseorang mampu mengendalikan elemen esnya secara sempurna jika dia tidak pernah berlatih selama ini.
"Ternyata banyak pendekar yang lebih kuat diluar daratan Hujung tanah". Dehen tersenyum kecut saat menyadari kesalahannya.
Ditempat lain tim Arung pun sudah berhasil menguasai keadaan dan melumpuhkan para pendekar pilar langit namun sebenarnya bukan mereka yang menjadi momok mengerikan para pendekar pilar langit itu.
Dua sosok pendekar wanita yang terlihat saling membenci itu bergerak bagai iblis pencabut nyawa. Mereka seolah ingin saling menunjukan siapa yang terbaik. Beberapa pendekar pilar langit yang tersisa hanya bisa pasrah saat mereka dijadikan sasaran kemarahan dua pendekar wanita itu.
"Apakah 40 Pendekar pilar langit pernah melakukan kesalahan besar pada dua pendekar wanita itu? Sepertinya mereka sangat marah pada kami". Ucap salah satu pendekar itu pasrah saat pukulan telak Mentari dan Tungga dewi menghantam tubuhnya.
"Dia bagianku! kenapa kau selalu ikut campur". Bentak Tungga dewi.
"Apa diwajahnya tertulis namamu?". Mentari tersenyum sinis.
Kedua gadis itu benar benar memutuskan untuk bersaing dalam bidang apapun.
__ADS_1
Pendekar yang terkena serangan mereka berdua hanya mampu menatap takut.
"Mereka bahkan menyerangku bersamaan, sepertinya leluhurku melakukan kesalahan yang paling besar pada mereka". Ucap pendekar itu polos sesaat sebelum tak sadarkan diri.