
Setelah sampai di atas bukit, Arina langsung memasuki bangunan megah itu. Wajahnya tampak bersinar saat menatap sisa sisa peradaban Masalembo itu.
"Mereka memiliki ilmu pengetahuan yang sangat tinggi," ucapnya dalam hati sambil melangkah masuk kedalam bangunan itu.
"Benar dugaanku, mereka menyembunyikan catatan peradabannya di sini," ucap Arina saat melihat tumpukan gulungan berjajar rapi di rak rak penyimpanan.
Arina melangkah mendekati tumpukan gulungan itu dan membacanya sekilas, dia kemudian mengambil beberapa catatan yang dianggap berhubungan dengan yang di carinya dan duduk di sebuah meja tak jauh dari rak itu.
Cukup lama Arina membaca gulungan itu sebelum menggeleng pelan. Dia kembali mengambil gulungan lain dan membacanya tapi sebanyak apapun gulungan yang diambil tak ada sedikitpun catatan mengenai kitab Sabdo Loji dan sejenisnya.
"Aneh sekali, mereka begitu detail mencatat semua yang berhubungan dengan peradaban Masalembo termasuk para pengkhianat tapi tidak sedikitpun menyebut tentang Sabdo Loji," ucapnya bingung.
"Apa mungkin kitab itu dirahasiakan oleh Lakeswara dari mereka semua? ucap Arina sambil memijat keningnya.
Saat Arina sedang berfikir, dia tak sengaja membaca sebuah catatan diantara tumpukkan gulungan dihadapannya.
"Pengkhianat Masalembo?" Arina menyambar gulungan itu dan membaca ulang, dia ingin memeriksa kembali alasan pengkhianat dan berharap menemukan kaitan para pengkhianat dengan kitab Sabdo Loji.
Arina membaca riwayat pengkhianatan Naraya Dwipa termasuk kesalahan terbesarnya menyegel para pemimpin dunia dan membakar sebagian hasil penelitian Masalembo tentang keabadian namun tidak ada yang berhubungan dengan sebuah Kitab apapun.
Wajah Arina mulai berubah saat membaca catatan pengkhianatan Arjuna dari trah Tumerah yang sedikit menyinggung tentang pencurian yang dilakukannya di ruang pribadi Lakeswara.
"Arjuna Tumerah, pendekar berbakat yang dipersiapkan untuk memimpin dewa penjaga Masalembo telah melakukan pengkhianatan dengan mencuri Kitab pusaka Yang mulia. Hari ini nama Arjuna akan dicoret dari Masalembo dengan mencabut semua hak yang dimilikinya."
"Kitab pusaka Yang mulia?" Arina kembali bersemangat, kini konsentrasinya hanya mencari semua catatan mengenai Arjuna.
Setelah membaca semua catatan yang berhubungan dengan Arjuna termasuk alasan Masalembo mempersiapkan Arjuna sebagai pemimpin dewa penjaga masalembo, Arina akhirnya mengerti satu hal, Arjuna adalah orang yang sangat pintar.
Dia kembali memeriksa semua gulungan di ruangan itu, dia yakin dengan kepintaran yang dimilikinya, Arjuna tidak mungkin hanya melarikan diri tanpa meninggalkan petunjuk apapun.
Dan setelah cukup lama mencari, apa yang dicari Arina akhirnya ditemukan. Sebuah catatan yang ditemukan terselip diantara tumpukkan gulungan dan sepertinya sengaja di letakkan di salah satu rak penyimpanan oleh Arjuna sebagai peringatan sebelum dia melarikan diri.
"Tak ada yang tau dari mana Yang mulia Lakeswara mendapatkan ilmu kanuragan dan Ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban Masalembo. Naraya pernah mengatakan jika semua didapatkan dari gunung Damalung dan mungkin tidak sepenuhnya salah.
Mereka begitu memuja Yang mulia hingga melupakan dari mana semua itu berasal. Saat aku mulai menyelidiki kebenaran ucapan sahabatku dan alasan pengkhianatan nya, sebuah kebenaran perlahan terungkap. Dia mendapatkan semua ilmu pengetahuan dan segel segel Masalembo dari sebuah kitab.
Aku mencurinya karena merasa kitab itu terlalu berbahasa, saat itu yang ada di pikiranku adalah bagaimana menjauhkan dari Lakeswara. Akhirnya aku mengerti apa yang dikatakan Naraya sahabatku, jika kemunculan Masalembo terlalu aneh. Semua seolah di telah direncanakan oleh seseorang dengan memanfaatkan ambisi besar Lakeswara.
Sesuatu yang besar sedang dipersiapkan dengan Lakeswara sebagai pijakannya. Aku sangat mencintai keluargaku tapi seseorang harus berkorban untuk menghentikan semua ini dan aku mengikuti langkah sahabatku. Jika aku gagal, kuharap suatu saat ada yang menemukan catatan ini dan menghentikan Lakeswara dengan segala ambisinya untuk mencegah sesuatu yang masih belum kuketahui bangkit."
"Dugaan tuan Wardhana sepertinya tepat dan aku yakin kitab itu adalah Sabdo Loji. Masalembo tidak sadar jika sedang dimanfaatkan oleh seseorang dan sepertinya itu pasukan kuil suci," Arina menggulung catatan Arjuna itu dan memasukkannya kedalam pakaian.
Saat dia akan melangkah keluar, matanya berhenti pada tumpukan gulungan yang berceceran dilantai.
"Pengobatan luka dalam?" Arina menyambar gulungan itu dan membawanya, dia merasa itu mungkin bisa membantu masalah yang sedang dihadapi Wardhana.
***
"Lalu apa tujuan anda di sini nona? jika melihat dari pakaian yang gunakan, sepertinya anda adalah seorang pendekar," tanya Darin saat dia selesai makan.
"Ah, maaf aku belum memperkenalkan diri, namaku adalah Lasmini, aku adalah ketua sekte Rajawali emas. Gusti ratu memintaku datang karena sesuatu hal," balas Lasmini sopan.
__ADS_1
"Sekte Rajawali Emas? orang yang sedang kucari juga menguasai jurus milik kalian," jawab Darin pelan.
"Pemuda yang anda sebutkan tadi menguasai jurus milik kami? tapi seingatku tidak ada yang bernama Damar di sekte Rajawali emas kek."
"Begitu ya...aku cukup yakin saat bertarung dengan muridku dia menggunakan jurus tarian rajawali," ucap Darin bingung.
"Tarian rajawali? jangan jangan..." Lasmini kemudian bertanya ciri ciri pemuda yang dicarinya.
"Yang mulia..." ucapnya dalam hati, dia merasa semua ciri yang disebutkan Darin dimiliki oleh Sabrang.
Saat Lasmini hendak menjelaskan sesuatu pada Darin, seorang prajurit Malwageni menghampirinya.
"Anda nona Lasmini?" tanya Candrakurama setengah berbisik.
Lasmini menatap prajurit itu sambil mengangguk pelan.
"Bisa bicara sebentar, ada pesan dari Gusti ratu dan ini sangat mendesak," balas Candrakurama cepat.
Lasmini tampak terkejut karena tidak biasanya Tungga Dewi mengirim orang untuk menemuinya.
"Mohon maaf kek, aku tinggal sebentar," Lasmini bangkit dari duduknya dan mengikuti Candrakurama menjauh.
"Aku di minta oleh Gusti ratu untuk mengantarkan anda ke suatu tempat," Candrakurama kemudian menjelaskan tentang kondisi kesehatan Wardhana pada Lasmini. Juga tentang permintaan Tungga Dewi pada Lasmini untuk membawa ramuan obat terbaik milik sekte Rajawali emas.
"Jadi itu sebabnya Gusti ratu meminta aku membawa semua obat terbaik milik Rajawali emas. Jika memang seperti itu, sebaiknya kita pergi sekarang tuan," balas Lasmini cepat.
"Ikuti aku," jawab Candrakurama.
Setelah memerintahkan murid muridnya untuk membantu Tungga Dewi di keraton dan membayar semua makanan yang dipesan, Lasmini melangkah mengikuti Candrakurama.
"Maaf kek tapi..." belum sempat menyelesaikan ucapannya Darin sudah memotong kembali.
"Maaf jika aku sedikit mencuri dengar tapi aku sedikit mengerti tentang ilmu pengobatan luka dalam. Aku akan membantu teman anda dan anggap ini sebagai rasa terima kasih atas semua makanan ini," balas Darin.
Lasmini tampak berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan, dia merasa dengan kondisi Wardhana saat ini akan jauh lebih baik jika banyak yang membantu.
Mereka bergerak cepat keluar ibukota dan menuju hutan larangan.
Lasmini cukup terkejut dengan kemampuan Darin, pergerakan dan kelincahannya mengikuti Candrakurama selama dalam perjalanan menuju Air terjun Lembah pelangi menandakan dia memiliki ilmu kanuragan tinggi.
Setelah berlari cukup lama, mereka akhirnya sampai di hutan larangan. Tampak Arung sudah menunggu kedatangan mereka.
"Nona Lasmini, silahkan ikut aku, kondisi tuan patih terus menurun," sapa Arung pelan, dia kemudian mengantarkan mereka ke dalam gua yang berada di samping air terjun.
"Tempat ini benar benar tersembunyi," ucap Lasmini dalam hati saat sebuah kabut menyelimuti hutan larangan beberapa saat dan menemukan pemandangan berbeda setelah kabut menghilang.
Tampak Wulan sedang mengalirkan energi murninya ke tubuh Wardhana.
"Apa yang terjadi dengan tuan patih?" Lasmini sangat terkejut melihat tubuh Wardhana yang semakin kurus.
"Maaf jika aku ikut campur, tapi mengalirkan energi murni ke dalam tubuh seseorang yang tidak memiliki tenaga dalam justru akan membuat kondisi tubuhnya memburuk," ucap Darin tiba tiba.
__ADS_1
Semua yang berada di ruangan itu termasuk Wulan menoleh bersamaan dan menatap Darin.
"Siapa kau?" tanya Wulan dingin.
"Aku hanya pengembara kelaparan yang kebetulan lewat dan nona ini sudi memberiku makan. Jika diizinkan, bolehkah aku memeriksa tuan itu? aku sedikit mengerti tentang pengobatan luka dalam," jawab Darin sopan.
Wulan terlihat ragu untuk sesaat karena bagaimanapun dia belum mengenal pria tua itu tapi kondisi Wardhana yang semakin menurun memaksa Wulan mengangguk.
Setelah mendapat persetujuan, Darin melangkah mendekati Wardhana dan memeriksa lengannya.
"Lukanya semakin memburuk, bisa bantu aku mencarikan tumbuhan ini," Darin menyebutkan tiga nama tumbuhan sebelum menyentuh tubuh Wardhana.
"Aku akan mencarinya, sepertinya tumbuhan ini hidup disekitar air terjun," Arung bergegas pergi keluar gua.
"Apakah gua ini kuat?" tanya Darin.
Wulan hanya mengangguk bingung, dia tidak mengerti maksud pertanyaan Darin.
Darin mulai mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Wardhana perlahan, tak lama luapan tenaga dalam yang sangat besar keluar dari tubuh Darin dan menggetarkan gua itu.
"Dia? tenaga dalamnya sangat besar, siapa dia sebenarnya?" ucap Wulan terkejut saat merasakan tekanan besar di tubuhnya.
Mereka semakin terkejut karena perlahan, terjadi perubahan pada Wardhana. Wajah yang awalnya pucat berangsur membaik, darah berwarna hitam terlihat keluar dari hidung dan telinganya.
Setelah dirasa cukup, Darin menarik kembali tenaga dalamnya, dia mengatur nafasnya sesaat sebelum bicara.
"Luka dalamnya tidak dapat disembuhkan karena sudah bertahun tahun menggerogoti tubuhnya tapi dia bisa bertahan hidup untuk beberapa lama asalkan terus minum ramuan yang tadi kusebutkan," ucap Darin pelan.
"Terima kasih tetua," balas Wulan sambil terisak, untuk beberapa saat lalu dia benar benar sudah pasrah dengan kondisi Wardhana.
"Tak perlu sungkan nona, aku hanya berusaha membantu. Dia akan sadar beberapa hari lagi, berikan saja obat yang kuberikan. Ramuan itu mungkin tidak akan menyembuhkan lukanya tapi bisa memperpanjang umurnya sedikit," ucap Darin pelan sambil berpamitan.
"Anda akan pergi?" tanya Lasmini.
"Aku masih harus mencari seseorang secepatnya, terima kasih atas makanannya dan semoga kita bisa bertemu lagi," jawab Darin sopan sebelum berpamitan dan melangkah pergi.
"Sepertinya aku tau siapa yang anda cari, dan jika perkiraanku benar sebaiknya anda tinggal di sini sementara waktu karena beliau pasti akan datang kesini," ucap Lasmini.
Darin menghentikan langkahnya dan menoleh cepat.
"Anda tau dimana tuan Damar berada?"
"Yang mulia Sabrang Damar, raja dari Malwageni. Hanya dia satu satunya pendekar di luar anggota sekte Rajawali emas yang bisa menguasai jurus tarian Rajawali," balas Lasmini.
"Jadi dia bukan murid Rajawali emas?" tanya Darin semakin bingung.
"Dia memiliki bakat alami yang mampu meniru semua jurus lawan dalam satu kali lihat, bahkan jurusku mampu di kuasainya dengan cepat," timpal Wulan.
"Tunggu, menguasai jurus dalam satu kali liat? tidak mungkin," tanya Darin kembali.
"Apa ada yang salah?" tanya Wulan penasaran saat melihat reaksi Darin yang terkejut.
__ADS_1
"Tidak aku hanya terkejut karena aku pernah bertemu dengan orang seperti dia yang bisa meniru semua jurus dengan sempurna yang akhirnya menjadi guruku," jawab Darin bingung.
"Anak itu benar benar sangat mirip dengan guru, sepertinya kitab Sabdo Palon memang berjodoh dengannya," ucap Darin dalam hati.