
"Pergi ke Nagari Siang Padang?" tanya Emmy terkejut saat mendengar permintaan Sabrang.
"Paman Wardhana sedang menyelidiki sesuatu yang mungkin berhubungan dengan kitab Sabdo Loji di Kuil Khayangan dan dia meminta kita untuk mencari tau kemungkinan ada ruang bawah tanah di sungai yang mengelilingi Gunung Padang.
Saat ini kakek Rubah sedang berada di sisi Gelap alam semesta dan Guru Wulan masih belum pulih dari lukanya sedangkan aku harus kembali ke Kuil Khayangan secepatnya, entah mengapa aku merasa akan terjadi sesuatu yang besar malam ini di sana," jawab Sabrang pelan.
"Ruang bawah tanah di bawah sungai?" tanya Emmy bingung.
"Paman Wardhana dan kakek Panca mengatakan jika Kenteng Songo, Nagari Siang Padang dan Kuil khayangan di bangun oleh peradaban yang sama. Selain letaknya sama sama menghadap arah matahari terbit, sepertinya ketiga bangunan itu memiliki ciri khas yang sama, Air.
Paman Wardhana merasa masih ada yang disembunyikan oleh Gunung padang selain lima gerbang rahasia di dalam gunung itu dan jika mengikuti ciri khas peradaban itu, seharusnya salah satu sungai yang mengelilingi Nagari Siang Padang menyimpan ruang rahasia," jawab Sabrang pelan.
Emmy mengangguk mengerti, "Apakah ada petunjuk kecil atau apapun yang menandakan ruang rahasia itu Yang mulia?"
"Pertemuan lima sumber air akan menyegel Bilah Gelombang selamanya. hanya itu yang dikatakan paman Wardhana padaku," jawab Sabrang pelan.
"Pusaka Bilah Gelombang?" ucap Emmy terkejut.
"Benar, pusaka terkuat itu konon di kubur oleh pendekar penjaga arah mata angin di sana. Sepertinya dia lebih dulu menemukan ruangan rahasia itu tanpa menyadari jika ruangan itu adalah peninggalan peradaban terlarang.
Jika kau berhasil menemukan tempat itu dan melihat pusaka Bilah gelombang, simpan baik baik dan jangan sekalipun menggenggam gagang pedangnya," balas Sabrang.
"Baik Yang mulia, hamba akan mengingat pesan anda dan berhati hati."
"Kembalilah ke keraton terlebih dahulu dan temui Candrakurama untuk menemanimu, aku takut pasukan Kuil Suci sudah mulai bergerak," ucap Sabrang.
"Tidak perlu Yang mulia, hamba akan pergi sendirian agar lebih mudah bergerak. Anda tidak perlu khawatir, aku akan baik baik saja," jawab Emmy cepat.
"Tidak, aku tidak mau mengambil resiko jika kau bertemu dengan pasukan kuil suci di gunung padang. Harus ada yang menemanimu agar aku lebih tenang," sahut Sabrang.
"Pasukan kuil suci? sepertinya aku tertinggal banyak sekali informasi saat tak sadarkan diri," ucap Lingga sambil melangkah masuk gua Air terjun Lembah pelangi dan mendekati Sabrang.
"Hormat pada Yang mulia," Lingga menundukkan kepalanya.
"Kau sudah sadar? syukurlah," balas Sabrang pelan.
"Yang mulia, mohon izinkan aku menemani nyonya selir," ucap Lingga tiba tiba.
"Kau yakin akan kembali ke tempat dimana kau hampir mati?" tanya Sabrang.
"Mohon percaya padaku Yang mulia, aku ingin membuktikan sesuatu pada Ruh pedang sialan ini," balas Lingga pelan.
"Ruh Pedang Langit? jangan jangan kau..." ucap Sabrang terkejut.
"Mungkin aku tidak akan bisa menaklukkan Kemamang seperti anda menaklukkan Naga Api tapi setidaknya dia harus mengakui kemampuannya."
"Jadi kau sudah bertemu dengan ruh pedang langit ya? baik, ku percayakan keselamatan Emmy padamu," balas Sabrang sambil tersenyum lega.
"Terima kasih Yang mulia, aku akan menjaga nyonya dengan nyawaku," jawab Lingga.
"Yang mulia, hamba mohon diri," Emmy menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
__ADS_1
"Berhati hatilah, hindari pertarungan jika bertemu dengan mereka," balas Sabrang pelan.
"Dia akan menjadi pendekar hebat suatu saat, Kemamang bukan ruh yang mau menemui semua orang, jika dia telah memutuskan bicara dengan Lingga itu artinya roh pusaka itu mengakuinya," ucap Naga Api dalam pikiran Sabrang.
"Aku tau, sejak pertama kali bertarung dengannya, aku sudah merasa dia akan menjadi lawan yang kuat," Sabrang kembali mengingat pertarungannya dengan Lingga beberapa tahun lalu.
***
Kuil Khayangan yang tepat berada di tengah danau purba sedikit berbeda malam itu, bangunan megah yang entah di bangun oleh siapa dan untuk apa terlihat jauh lebih indah dari biasanya.
Sinar bulan purnama yang malam itu mencapai puncaknya, seolah menunjukkan jika Kuil Khayangan adalah sebuah bunga teratai yang bersinar dan menjadi hiasan danau misterius itu.
Wardhana yang sedang duduk terlihat gelisah saat mendengar suara langkah kaki di dekat pintu kamarnya. Dia melangkah mendekati pintu dan mencoba menajamkan pendengarannya.
Suara perintah Hanggareksa pada para pendekar Kalang untuk berjaga di puncak kuil menandakan Ajidarma sudah naik ke atas.
"Sepertinya dia sudah naik ke puncak kuil," ucap Wardhana dalam hati.
Cukup lama Wardhana mematung di depan pintu kamarnya seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk naik ke teras ke empat dan menyusup ke kamar Ajidarma.
Angin malam yang berhembus cukup kencang sedikit menciutkan nyalinya, ada perasaan aneh yang selama ini tak pernah dirasakannya.
Perasaan takut akan sesuatu yang belum diketahuinya terus menekan rasa penasaran Wardhana. Suara lolongan serigala hutan yang saling bersautan seperti sedang memperingatkan dia untuk tidak membuka sesuatu yang mungkin terkubur di dasar danau purba.
Wardhana hampir saja membatalkan niatnya untuk masuk kedalam kamar Ajidarma andai wajah Sabrang tidak muncul dalam pikirannya.
"Aku harus membongkar semua misteri ini walau nyawa ini menjadi taruhannya, kekacauan dan pertumpahan darah di dunia persilatan seolah bersumber dari tempat ini," Wardhana membuka pintu kamarnya perlahan setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya.
Baru beberapa langkah Wardhana berjalan, seorang pria berdiri di dekat tangga penghubung teras ke ketiga dan menatapnya tajam.
"Sial, penjaga itu melihatku," Wardhana mencoba mencari alasan saat pendekar itu berjalan mendekat.
"Tuan Hanggareksa?" wajah Wardhana sedikit lega tapi dia tetap mencari alasan agar tidak gugup jika ketua pendekar Kalang bertanya apa yang dilakukannya tengah malam seperti ini.
Ketika Wardhana ingin menyapanya, Hanggareksa tiba tiba bicara lebih dulu.
"Lakukan apapun yang kau rencanakan tapi kembalilah sebelum pagi datang, ada empat titik penjagaan di dekat kamar tuan agung dan tangga penghubung menuju teras puncak. Berhati hatilah," Hanggareksa melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Wardhana.
Wardhana menarik nafas lega, dia menoleh sesaat kearah Hanggareksa sebelum melangkah pergi.
Wardhana melangkah menyusuri lorong gelap menuju tangga penghubung teras keempat. Suasana malam itu terasa sedikit berbeda karena semua pendekar Kalang sedang berjaga termasuk Cokro.
Setelah berjalan cukup lama, Wardhana sampai di sebuah celah yang dikatakan Cokro.
Celah kecil diantara dua bangunan itu cukup sempit dan hanya bisa dilalui dengan berjalan jongkok. Wardhana menoleh kearah kiri dan berusaha mengingat letak kamar Ajidarma sebelum masuk kedalam celah itu.
Danau purba dan hembusan angin malam langsung menyambutnya ketika berada di ujung celah.
"Sial! tinggi sekali," umpat Wardhana saat melihat kebawah. Dia kemudian meraba pijakan kecil di sisi kirinya yang hanya selebar jengkal tangannya. Tidak ada tempat untuk berpegangan pada dinding bangunan, dia benar benar harus mengandalkan kekuatan kaki dan keseimbangan tubuh atau akan terjatuh kedalam danau.
Wardhana menatap keatas dan kearah air danau yang mengeluarkan gelembung udara bergantian untuk memperkirakan dimana Ajidarma duduk.
__ADS_1
Setelah yakin dimana Ajidarma berada, dia mulai memegang dinding celah dan berdiri di pijakan kecil yang mengelilingi teras keempat.
Ketika Wardhana sudah berdiri sepenuhnya, tiba tiba tubuhnya hampir terjatuh ketika salah menjaga keseimbangan, beruntung lengannya dengan cepat mencengkram batu yang menonjol di dekat celah tempat dia keluar tadi.
Hembusan angin malam yang semakin besar dan pijakan kaki yang lembab dan licin akibat tetesan embun menjadi penghalang terbesarnya.
"Sial! apa yang kulakukan? kau benar benar gila Wardhana," umpatnya dalam hati, lengan kanannya masih memegang erat batu di dinding bangunan.
Wardhana membenturkan kepalanya pelan beberapa kali ke dinding bangunan sambil mengumpulkan semua keberaniannya.
Cengkraman tangannya perlahan mengendur sebelum benar benar dilepaskan oleh Wardhana, dia diam sesaat untuk mengatur nafasnya yang mulai memburu.
(Ilustrasi dinding bangunan di teras ke empat yang harus dilewati Wardhana untuk masuk ke kamar Ajidarma melalui jendela luar. Bentuk dindingnya kira kira seperti itu)
Wardhana mulai menggeser tubuhnya perlahan, dia harus menyeimbangkan tubuh dan langkah kakinya karena saat ini tak ada lagi celah atau batu yang bisa digunakan untuk berpegangan. Sedikit saja dia salah melangkah, maka tubuhnya akan jatuh ke danau purba dan membeku seketika.
"Keturunanku kelak harus tau jika leluhurnya pernah melakukan hal bodoh demi mengungkap sebuah kebenaran." Wardhana terus bicara sendiri untuk menghilangkan rasa takutnya.
Dia berhenti sesaat ketika hembusan angin malam lagi lagi merusak keseimbangan tubuhnya.
"Aku akan menikahimu Wulan jika malam ini selamat, sudah saatnya Wardhana kecil lahir dan tumbuh untuk menggantikan aku menjaga Malwageni kelak."
Wardhana terus berjalan pelan dan tidak terasa sudah menempuh setengah perjalanan.
"Sedikit lagi," ucap Wardhana pelan, dia mempercepat gerakannya agar cepat sampai namun rasa tidak sabarnya itu membuatnya celaka, pijakan kaki kanannya terpeleset dan tubuhnya terjatuh kebelakang.
"Celaka!" Wardhana berusaha meraih apapun yang ada disekitarnya namun tak berhasil.
***
"Tidak lama lagi, tanpa kitab Sabdo Loji pun aku bisa menemukan gerbang itu," ucap Ajidarma sambil menatap kesatu titik.
"Kau memang bodoh Sukma, aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri tapi kau tidak mempercayaiku. Apa kau pikir aku tidak tau jika Ekawira berusaha menguasai kitab Sabdo loji? aku diam karena ingin dia menuntun kita ke gerbang itu. Andai kau bicara padaku sebelum menghilang bersama Sabdo Loji, kita akan menguasai peradaban terlarang bersama sama."
Wajah Ajidarma sedikit berubah saat mendengar sesuatu, dia menoleh kearah Cokro yang berjaga di dekatnya dan meminta pendekar itu untuk mengangkat tubuhnya.
"Bawa aku ke pinggir bangunan, aku mendengar sesuatu dari arah bawah," pinta Ajidarma pelan.
"Baik tuan," ucap Cokro bergetar.
"Tuan Wardhana?" ucapnya dalam hati.
Cokro mengangkat tubuh Ajidarma dan melangkah ke bibir bangunan dengan perasaan takut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Chapter bonus malam berdarah sudah meluncur, dan besok PNA akan update sore atau agak malam karena saya dalam perjalanan pulang tapi saya pastikan Update...
Gantung? enak yang gantung gantung mblo, kayak perasaan kalian yang di gantung sama mahluk bernama Wanita...
__ADS_1
Selamat sore dan selamat Vote...