
"Dengarkan aku nak, tak mudah menyegel kembali gerbang kesepuluh, selain membutuhkan energi yang sangat besar, kau juga harus mempertahankan kesadaran dari pengaruh energi Cakra Loji selama berada di dalam gerbang itu atau kejadian Arya Dwipa akan terulang kembali," ucap Eyang Wesi khawatir.
"Selama berada di dalam gerbang? maksudmu aku harus masuk kedalam gerbang kesepuluh?" Sabrang mendarat di atas hamparan es yang menyelimuti bukit Cetho. Wajahnya terlihat sedih saat melihat tubuh adiknya terkurung didalam bongkahan es dengan mata melotot.
"Moris..." ucap Sabrang lirih, dia benar benar tak menyangka pertemuan pertamanya dengan Moris harus berakhir tragis seperti ini.
"Kita harus memisahkan energi Cakra Loji dari tubuh adikmu sebelum menyegelnya di gerbang kesepuluh atau dia akan terus bertambah kuat dengan tubuh sembilan naga sempurna milik Moris. Aku akan membuat gelembung energi untuk mengurung energinya sebelum kita membawanya ke gerbang kesepuluh. Jika terpaksa, suka tidak suka kita harus masuk ke gerbang kegelapan itu," jawab Eyang Wesi pelan.
"Begitu ya... Lalu bagaimana caranya aku bisa memindahkan energi Cakra Loji dari tubuh Moris ke gelembung energi milikmu?"
"Ajian memindahkan sukma melepas energi, tapi sayangnya cukup sulit untuk mempelajari jurus ciptaan Yasha Wirya itu. Kali ini kita akan mencoba menggunakan Inti Lebur Saketi milikmu karena proses menarik dan melepaskan energinya hampir sama..." Eyang Wesi menghentikan ucapannya, dia terlihat menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kembali.
"Namun kau harus ingat, proses pemindahan energi Cakra Loji akan sangat berbahaya karena energinya harus masuk terlebih dulu kedalam tubuhmu sebelum mengurungnya di gelembung energi milikku. Kau harus memastikan energi Cakra Loji tidak ada yang tersisa di dalam tubuhmu karena jika tidak, kau akan bernasib sama seperti ayahmu.
"Selama proses pemindahan itu aku tidak bisa membantumu karena hampir semua kekuatanku akan terpusat pada gelembung energi, jadi kali ini kau dan para ruh Batu Satam itu akan berjuang sendiri melawan Iblis waktu itu," lanjut Eyang Wesi.
"Kau tak perlu khawatir pak tua, aku akan memastikan mahluk sialan itu tidak merasuki tubuh anak ini," ucap Suanggi tiba tiba.
"Lihatlah siapa yang kali ini berlagak kuat? Ular kecil bertingkah seperti Naga," ucap Naga Api sambil terkekeh.
"Coba katakan sekali lagi, kepala batu!"
"Sepertinya kita tidak akan berhasil," ucap Siren sinis.
"Naga Api, apa sekarang waktunya bertengkar? kau masih ingat bukan seberapa kuat energi Cakra Loji saat kita bertarung? Bantu aku untuk menghentikannya agar tidak ada Moris lainnya yang menjadi korban," ucap Sabrang datar.
Naga Api terdiam seketika, walau suara Sabrang terdengar datar tapi dia merasakan ada amarah besar yang tertahan dari ucapannya. Amarah besar yang selama ini belum pernah dia rasakan dari tuannya itu entah mengapa membuatnya sedikit takut.
"Baik, ayo pisahkan energi sialan itu dari tubuh Moris, aku bersumpah akan membakar habis energinya jika berani menyusup kedalam tubuhmu walau harus hancur berkali kali!" balas Naga Api pelan.
Suanggi langsung menoleh kearah Naga Api, untuk pertama kalinya dia melihat Iblis terkuat batu Satam yang terkenal liar itu berikrar setia pada manusia.
"Kau sudah berubah kepala batu," ucap Suanggi dalam hati sambil menyentuh kobaran api yang menyerupai seekor Naga.
"Kau tak akan bisa melakukannya sendirian kepala batu, kau mungkin ruh terkuat Batu Satam tapi akulah yang terbaik untuk mendeteksi energi asing yang akan masuk ke tubuh anak ini. Ayo kita lakukan bersama sama," Suanggi mulai mengalirkan energinya kedalam tubuh Naga Api.
"Aku ikut!" ucap Kemamang cepat.
"Kalian..." Siren terlihat lega, dia kemudian mulai melepaskan energinya dan membetuk sebuah perisai untuk melindungi tubuh Sabrang. "Andai Iblis Air juga ada disini mungkin kita bisa menghajar Cakra Loji dengan mudah."
"Jangan sebut nama dia di hadapanku, energi kita sudah lebih dari cukup untuk menahan kekuatan Cakra Loji," balas Naga Api cepat.
"Apa kau masih membencinya, Naga api? Dia mungkin sedikit licik tapi..."
"Cukup! Konsentrasikan saja energi milikmu untuk melindungi tubuh Sabrang," potong Naga Api kesal.
"Sepertinya kita sudah bisa memulai pemisahan energi Cakra Loji kek, bersiaplah!" Lengan kanan Sabrang mulai diselimuti kobaran api sebelum menyentuh bongkahan es yang mengurung Moris.
"Berhati-hatilah nak, jika kau mendengar suara Moris atau dia muncul di hadapanmu dan memohon sesuatu selama proses pemisahan energi, itu bukan lagi adikmu. Cakra Loji akan melakukan apa saja termasuk menyerang kelemahan terbesarmu," ucap Eyang Wesi memperingatkan.
Sabrang mengangguk pelan, dia terus mengalirkan energi Naga Api untuk melelehkan es yang menyelimuti tubuh Moris.
Semua terdiam, tak ada yang berani bicara satu patah katapun selama Sabrang melelehkan bongkahan es itu. Mereka sadar, mahluk yang kali ini dihadapi bukan ruh pusaka sembarangan. Cakra Loji adalah ruh terkuat yang terbentuk dari kekuatan jahat di seluruh alam semesta dan ruang dimensi.
Andai Cakra Loji berhasil menarik semua energinya yang tersegel di gerbang kesepuluh, mereka mungkin tak akan mampu menghentikannya walau seluruh ruh batu Satam bersatu.
Tongkat Cahaya Putih tiba tiba muncul di udara dan berputar dengan kecepatan tinggi saat seluruh es yang menyelimuti tubuh Moris menghilang. Pusaka milik Mentari itu terus melepaskan energinya untuk melindungi tubuh Sabrang.
Sabrang mulai menyentuh tubuh Moris perlahan, mata bulannya bersinar saat ajian Inti Lebur Saketi aktif dan disaat bersamaan gelembung gelembung energi Eyang Wesi terbentuk disekitar Sabrang.
Energi Cakra Loji mulai terhisap kedalam tubuh Sabrang dan berkumpul di Cakra Tenggorokannya.
"Perisai Api tingkat dua : Api mengurung Iblis!" Naga Api mulai memusatkan energinya di tenggorokan Sabrang.
Tak lama kemudian, Sabrang mulai merasakan benturan energi didalam tubuhnya saat Cakra Loji berusaha keluar dari Cakra tenggorokannya.
"Kau ingin menguasai tubuh tuanku? jangan pernah berharap!" Naga Api terus menekan energi Cakra Loji yang berusaha menyebar di dalam tubuh Sabrang.
__ADS_1
Energi Naga Api yang menyatu dengan ruh Kemamang dan Suanggi membentuk perisai energi yang mengurung Cakra Loji.
Benturan dua kekuatan besar terjadi di dalam tubuh Sabrang dan di luar dugaan, energi Cakra Loji berhasil menekan mereka dengan cepat.
"Naga Api, bagaimana mungkin dia masih menyimpan kekuatan sebesar ini, bukankah sebagian kekuatannya masih tersegel di gerbang kesepuluh," tanya Suanggi panik saat energi Cakra Loji hampir menghancurkan perisai gabungan energi mereka.
"Aku tidak tau tapi satu yang pasti, dia menjadi sangat kuat hanya dalam hitungan detik, sepertinya gerbang kesepuluh sudah mulai terbuka. Sialan! tak akan kubiarkan kau menguasai tubuh anak ini," Naga Api terus menekan energi Cakra Loji sekuat tenaga bersama Kemamang dan Suanggi.
"Jadi ini energi terkuat Alam semesta? Naga Api bahkan terlihat terdesak kali ini," ucap ruh pusaka milik Rubah Putih itu.
"Hei Naga Api, apa yang sedang kau lakukan? tubuhku hampir..." Sabrang tersentak kaget saat Cakra Loji membuka matanya tiba tiba dan mencengkram lehernya.
"Apa kau pikir bisa mengalahkan aku dengan mudah? kemampuanmu memang sangat mengejutkan tapi kau lupa jika aku adalah penguasa dimensi waktu."
"Gawat, dia sadar lebih cepat dari perkiraan," Sabrang memunculkan bongkahan es di tangan kirinya namun Cakra Loji bergerak lebih cepat, dia mencengkram lengan Sabrang dan menggunakan jurus yang sama agar kedua lengan mereka terkunci.
Tubuh keduanya mulai melayang di udara dan Sabrang merasakan energi Cakra Loji masuk kedalam tubuhnya perlahan untuk menekan gabungan energi ruh batu Satam.
Sabrang berusaha melepaskan diri dengan menarik energi Naga Api untuk menghancurkan es yang mengunci lengannya namun tiba tiba teriakan Naga Api terdengar dalam pikirannya.
"Hentikan bodoh! Jika kau menarik kekuatanku maka perisai Api akan melemah dan energi Cakra Loji akan masuk ke seluruh tubuhmu!"
Sabrang langsung menghentikan jurusnya namun disaat bersamaan Energi Cakra Loji terus masuk kedalam tubuhnya.
"Naga Api, kita mulai terdesak!" teriak Suanggi cepat.
"Aki sedang berpikir bodoh!" bentak Naga Api kesal.
"Aku akan membantu anak ini, bersiaplah..."
"Tunggu Siren! Jangan lakukan apapun, jika perisai energi Tongkat Cahaya Putih melemah maka dia akan leluasa masuk," potong Naga Api cepat.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?"
"Aku sedang berpikir..." belum selesai Naga Api bicara tiba tiba sebuah pedang dengan aura yang sangat besar melesat kearah Bukit Cetho dan menancap di tanah.
Tepat setelah pedang Bilah Gelombang menancap di tanah, sebuah gelembung air muncul di udara.
"Gelembung air mengekang Iblis," Gelembung itu membesar dan berusaha mengurung Sabrang dan Cakra Loji bersamaan.
"Apa lagi ini!" Cakra Loji terpaksa melepaskan cengkeramannya untuk menghindari gelembung air itu. Namun baru saja kedua tangannya terlepas, Sabrang dengan cepat menggunakan jurus es dan mengunci gerakan Cakra Loji kembali.
Gelembung Air itu bergerak cepat dan mengurung mereka berdua. "Bekukan gelembung air ini dengan jurus es milikmu, aku tidak dapat menahannya terlalu lama," teriak Rabing sebelum masuk kedalam tubuh Sabrang.
Sabrang bergerak cepat, dia menggunakan hawa dingin di tubuhnya untuk membekukan gelembung air itu seketika.
"Hahaha..rasakan kau iblis sialan!" teriak Rabing sambil mengalirkan energinya ke tubuh Sabrang.
Mata Sabrang mulai berubah putih saat seluruh energi Rabing masuk kedalam Cakra Mahkotanya.
"Kau..." ucap Naga Api pelan.
"Jangan salah sangka bodoh, aku sama sekali tidak berniat membantumu. Aku hanya ingin Iblis itu terkurung kembali atau seluruh kekuatanku akan dihisapnya," balas Rabing cepat sebelum bicara dalam pikiran Sabrang.
"Cepat gunakan energi milikku untuk mengurung mahluk itu kedalam gelembung udara Megantara!"
Naga Api menatap musuh abadinya itu sambil bergumam dalam hati. "Terima kasih..."
Cakra Loji semakin panik, dia sadar dengan kekuatannya saat ini cukup sulit melawan gabungan ruh batu Satam, dia kemudian menarik paksa lengan kanannya dan berusaha memotong lengan kirinya.
"Apa kau merasa takut? apa kau merasa panik? itu juga yang dirasakan adikku tadi," Sabrang memaksa mata bulannya untuk menghentikan waktu dengan sisa sisa tenaganya dan disaat bersamaan menarik seluruh energi Cakra Loji dari tubuh adiknya.
"Tidak!!!!!!!" teriak Cakra Loji saat seluruh energinya terhisap kedalam Cakra Tenggorokan Sabrang.
"Aku tidak akan kalah oleh mahluk lemah seperti kalian!" Cakra Loji berusaha menghancurkan perisai api yang mengekangnya namun semua menjadi sia sia saat mustika air milik Rabing muncul dan menyerap semua energi Cakra Loji.
Gelembung air yang membeku dan mengurung mereka tiba tiba hancur bersamaan dengan munculnya mustika air di tangan Sabrang.
__ADS_1
"Lemparkan mustika itu ke gelembung energi Megantara!" teriak Naga Api.
"Aku tau..." Sabrang tersentak kaget saat tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali.
"Sial! tubuhku benar benar sudah mencapai batasnya."
"Mencapai batasnya? apa kau bercanda, kita sudah hampir mengurung mahluk itu," balas Rabing kesal.
"Apa kalian pikir mudah menahan efek kekuatan batu Satam di dalam tubuhku?"
"Hei tua bangka, apa kau tidak bisa menggerakkan gelembung energi milikmu sendiri?" tanya Naga Api.
"Dia tidak akan bisa menjawab, seluruh energinya sedang terpusat pada gelembung itu," jawan Suanggi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? kita sudah..."
"Kalian selalu melupakan aku karena menganggap paling lemah," Ruh tombak kembar milik Winara melesat cepat dan menghantam mustika air di tangan Sabrang.
"Kirana..." Ucap Naga Api.
Mustika air ditangan Sabrang terlepas dan jatuh kebawah sebelum masuk kedalam gelembung energi Eyang Wesi.
"Sekarang!" teriak Eyang Wesi.
Dengan sisa sisa tenaga dalamnya, Sabrang membuka lubang dimensi dan menghisap semua yang ada disekitarnya.
"Aku berhasil," Sabrang dan gelembung udara Megantara muncul tepat di atas gunung yang berada di gerbang kesembilan sekaligus menjadi gerbang terakhir menuju dunia kegelapan tempat Cakra Loji terkurung.
Eyang Wesi langsung menggunakan energi miliknya untuk membuat segel waktu dan mendorong gelembung energi kearah gerbang kesepuluh yang sudah terbuka separuhnya.
"Megantara, suatu saat aku akan membalas semua ini puluhan kali lipat!" teriak Cakra Loji yang terkurung dalam gelembung energi Eyang Wesi.
"Aku akan menunggu, dan jika saat itu tiba aku akan mengurung dirimu selamanya di ruang api," balas Eyang Wesi sebelum gelembung itu masuk kedalam gerbang kesepuluh.
"Hampir saja kita terlambat," namun saat Eyang Wesi hampir menutup kembali gerbang itu dengan seluruh kekuatannya, energi Tongkat Cahaya Putih yang melindungi tubuh Sabrang tiba tiba menghilang.
"Gawat, Siren kehabisan energi," ucap Kemamang panik saat tubuh Sabrang meluncur deras kearah gerbang kesepuluh.
"Anom, lakukan sesuatu!" teriak Naga Api.
"Aku sedang berusaha tapi energi milikku juga habis saat bertarung dengan Moris," balas Anom cepat.
"Kita semua sudah kehabisan tenaga dan tak ada lagi yang bisa dilakukan. Aku tak menyangka akan berakhir seperti ini tapi setidaknya kita semua bisa berkumpul setelah sekian lama," ucap Suanggi tiba tiba.
"Tidak! pasti ada yang bisa kita lakukan, berpikirlah Naga api!" ucap Naga Api tak mau menyerah.
"Anda benar benar keras kepala ketua, sudah aku katakan jika anda belum boleh mati sebelum masuk ke ruang dimensi api," Minak Jinggo yang masih berada di gerbang kesembilan dan sedang memulihkan lukanya menggunakan sisa sisa tenaga yang dimiliki untuk memunculkan lubang dimensi dan melempar kembali Sabrang ke bukit Cetho.
"Sepertinya kali ini tenaga dalam milikku benar benar habis," ucap Minak Jinggo sebelum kesadarannya menghilang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Walau masih menyisakan 2 Chapter terakhir sebagai penutup, sore ini saya ingin mengucapkan banyak terima kasih pada kalian semua yang telah memberikan Tips baik dalam bentuk koin maupun koin. Dukungan kalian semua luar biasa....
Lalu bagaimana nasib Sabrang? apakah bisa membawa Moris kembali ke keraton sesuai janjinya walau hanya mayatnya saja?
Atau bagaimana nasib Wardhana? apakah akan menikah dengan Wulan?
Bagaimana nasib Tungga Dewi? Emmy? dan semua tokoh Pedang Naga Api setelah melawan musuh besarnya? apakah Iblis Loji akan ikut menghilang? jawabannya ada di dua chapter terakhir besok dan lusa..
Oh iya, kalian bisa mulai membaca Api di Bumi Majapahit yang merupakan buku ke dua dari Trilogi Naga Api mulai hari ini, sudah ada 45 Chapter.
Apalagi ya... POKOKNYA DARI HATI YANG PALING DALAM, SAYA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA...
Bagi yang ingin memberikan tips pada Sabrang bisa melalui k a r y a k a r s a. com/ RickypakeC
tips mulai dari 5000 rupiah....
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa besok....