Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ancaman Sabrang


__ADS_3

Saat Matahari masih belum menampakan sinarnya, ratusan Parajurit Angin selatan sudah berlutut di halaman Kadipaten. Mereka seolah ingin melepas orang yang paling penting dalam hidup mereka.


Tak lama terdengar teriakan "Hidup Yang Mulia" berkali kali saat Sabrang melangkah keluar didampingi Mentari disampingnya.


Dibelakangnya Wardhana dan Pancaka tampak mengukuti bersama beberapa prajurit lainnya.


"Paman tak harus melakukan hal seperti ini". Sabrang menggaruk kepalanya.


"Maaf Yang mulia, anda akan pergi cukup lama. Hamba tak mungkin tidak ikut mengantar anda". Ucap Wardhana pelan.


"Pancaka, selama aku pergi kau harus ikuti semua perintah Paman Wardhana. Semua yang berkaitan dengan Malwageni harus melalui persetujuanku terlebih dulu, dan paman Wardhana yang akan bertanggung jawab selama aku pergi". Sabrang menoleh kearah Pancaka.


"Baik kakang". Ucap Pancaka pelan sambil menatap tajam Wardhana yang berada disebelahnya. "Apa hebatnya dia, aku bisa melakukan yang jauh lebih baik dari dia". Gumam Pancaka dalam hati.


"Ayo kita pergi". Ajak Sabrang pada Mentari.


"Selamat jalan Yang mulia". Teriakan teriakan prajurit Angin selatan menggema diseluruh area Kadipaten Rogo geni.


Sabrang menghentikan langkahnya didepan gerbang utama Rogo geni saat melihat Mandaka yang mendundukan kepalanya sambil tersenyum.


"Tunggulah disini". Ucap Sabrang pada Mentari sesaat sebelum dia tiba tiba menghilang dari pandangan dan muncul dihadapan Mandaka dengan keris terhunus ditangannya. Sabrang dengan cepat menghujam perut Mandaka dengan keris itu. Serangan tiba tiba Sabrang membuat Madaka tidak dapat bereaksi apapun, dia hanya mematung sambil menatap mata biru milik Sabrang yang tampak bersinar.


Ketika Mandaka sudah yakin dia akan mati tiba tiba keris ditangan Sabrang berubah menjadi aura hitam, hanya lengan Sabrang yang menyetuh perut Mandaka.


Mentari yang melihat Sabrang menyerang tiba tiba hampir menjerit saking kagetnya.


"Yang mulia". Raut Wajah Madaka benar benar ketakutan. Dia bisa melihat kekuatan Sabrang sangat jauh diatasnya.


"Aku bisa membunuhmu dalam satu kedipan mata namun aku tidak melakukannya karena Pancaka. Aku bisa menjadi orang yang paling kejam, kuharap kau mengingat itu". Sabrang tersenyum dingin.


"Se... sebenarnya apa yang ingin anda katakan Yang mulia". Mandaka memberanikan diri bertanya.


"Aku tau ada yang sedang kalian rencanakan saat datang kesini namun jangan pernah berfikir untuk mengacaukan semua yang telah kudapat sampai hari ini. Aku akan mengampuni kalian jika mau berjuang bersama merebut Malwageni namun jika kalian ingin mengacaukannya, Kerisku akan melubangi tubuhmu. Aku pastikan itu!".


"Hamba tidak berani Yang mulia". Mandaka berlutut dihadapan Sabrang.


"Tolong ingatkan adikku tentang hal ini". Ucap Sabrang sambil melangkah pergi.


"Baik Yang mulia". Mandaka terus menunduk bahkan ketika Sabramg sudah menghilang dikejauhan.


"Yang mulia benar benar mengerikan". Madaka menelan ludahnya.


"Tuan muda, apa anda sudah gila? aku hampir berhenti bernafas tadi". Ucap Mentari kesal.


"Aku hanya ingin memastikan semua berjalan pada tempatnya". Ucap Sabrang sambil tersenyum.


***


Setelah berjalan beberapa hari melewati hutan, Sabrang akhirnya melihat sebuah desa didepannya. Perjalanan menuju Sekte Tapak es utara sebenernya tidak terlalu jauh jika ditempuh dari Kadipaten rogo geni namun Sabrang memutuskan melakukan perjalanan dengan santai dan menikmati perjalanannya.


Penyembuhan luka dalamnya yang sedikit lambat membuat Sabang harus mengurung diri di kamar selama satu purnama lebih. Dia memanfaatkan perjalanan kali ini untuk mengobati rasa bosannya.


"Apa ada yang pernah mengatakan jika kau semakin terlihat cantik nona?". Sabrang terus memperhatikan Mentari yang selalu berusaha menjauhkan wajahnya saat Sabrang berusaha melihat wajahnya lebih dekat.

__ADS_1


Mentari tidak menjawab pertanyaan Sabrang, dia terus mempercepat langkahnya menuju gerbang batas desa dihadapannya. Dia tidak ingin Sabrang melihat wajahnya yang mulai memerah.


"Berhenti nona". Beberapa orang berpakaian pendekar menghadang langkah Mentari saat melewati gerbang.


"Apa ada masalah?". Mentari terlihat bingung mendapat hadangan tiba tiba itu.


"Kau harus melapor di post penjagaan itu nona". Salah satu pendekar menunjuk pos penjagaan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Mentari sempat mengernyitkan dahinya bingung namun dia memutuskan mengikuti kemauan para penjaga itu.


"Apa terjadi sesuatu?". Sabrang tampak mengamati para pendekar yang ada dihadapannya.


"Ah tidak tuan muda, aku hanya perlu melapor terlebih dulu. Mohon anda tunggu disitu". Mentari melangkah menuju pos penjagaan.


Sabrang terus memperhatikan para pendekar itu, dia merasa tak pernah melihat pakaian yang digunakan oleh para pendekar itu.


"Apa yang kau liat anak muda?". Salah satu pendekar yang merasa terganggu menghardik Sabrang.


"Ah tidak, aku hanya merasa tidak pernah melihat seragam yang kalian gunakan". Ucap Sabrang pelan.


"Bukan urusanmu! pergilah, sepertinya temanmu telah selesai melapor".


Sabrang hanya tersenyum kecil melihat tingkah para pendekar itu. Mata bulannya bisa merasakan jika mereka hanya pendekar tingkat menengah yang baru menguasai ilmu kanuragan.


Jika Mentari tidak memberinya tanda untuk menahan sikapnya mungkin saat ini para pendekar itu sudah membeku.


"Apakah mereka para penjaga desa ini?". Tanya Sabrang pada Mentari saat mereka sudah jauh dari pos penjagaan.


"Sekte Matahari kembar?". Sabrang berusaha mengingat ingat nama itu namun dia yakin belum pernah mendengar nama itu.


"Sepertinya mereka Sekte baru tuan muda. Setelah Racun selatan hancur, sisa sisa pendekarnya membentuk sekte Matahari kembar. Aku menyadarinya saat melihat salah satu penjaga itu".


"Racun selatan ya, pantas aku bisa merasakan aura racun ditubuh mereka".


"Sebaiknya kita istirahat sebentar tuan muda, masih butuh beberapa hari untuk sampai di Sekte Tapak es utara". Mentari menunjuk satu satunya penginapan yang ada didesa itu.


Beberapa pelayan terlihat menyambut kedatangan sepasang pendekar muda itu.


"Nona ada yang bisa dibantu?". Salah satu pelayan mendekati Mentari.


"Aku ingin kamar untuk menginap malam ini namun tolong berikan makanan hangat terlebih dahulu pada kami". Mentari memberikan beberapa keping perak pada pelayan itu.


Pelayan itu terlihat bersemangat menerima kepingan uang perak yang diberikan Mentari.


"Kau sepertinya memiliki banyak uang?". Tanya Sabrang saat melihat kantung uang yang masih penuh didalam pakaiannya.


"Paman Wardhana yang memberikannya untuk bekal perjalanan kita". Ucap Mentari singkat sambik duduk di salah satu meja kosong disudut penginapan.


"Aku selalu merepotkan paman". Sabrang tersenyum kecut. Wardhana selalu memikirkan hal hal detail jika Sabrang hendak bepergian apalagi dalam waktu yang agak lama.


"Sepertinya tempat ini benar benar dikuasai Matahari kembar". Sabrang menggeleng pelan saat melihat beberapa pendekar berseragam Sekte Matahari kembar meminta upeti di kasir penginapan.


"Makanannya tuan". Pelayan itu mempersilahan Sabrang dan Mentari untuk menikmati hidangan yang sudah dia sajikan.

__ADS_1


"Terima kasih". Mentari menundukan kepalanya.


"Ah sebentar nona". Suara Sabrang membuat pelayan perempuan itu menghentikan langkahnya.


"Ada lagi yang bisa saya bantu tuan?". Ucap pelayan itu ramah.


"Aku ingin bertanya tentang dua orang pendekar yang tadi meminta uang pada kalian, apakah mereka pendekar?". Tanya Sabrang pelan namun mampu membuat raut wajah pelayan itu berubah ketakutan.


Pelayan itu terlihat menoleh kesegala arah sebelum menjawab pertanyaan Sabrang. Dia seolah takut untuk membicarakan Sekte Matahari kembar.


"Sebaiknya tuan jangan cari masalah dengan mereka atau tuan akan mendapat celaka. Berhati hatilah terutama nona ini, mereka sangat menyukai wanita cantik seperti nona". Pelayan itu menunjuk Mentari.


"Aku permisi tuan". pelayan itu terlihat pergi tergesa gesa.


"Mereka telah berhasik menanamkan rasa takut pada penduduk desa ini". Sabrang menggeleng pelan, dia tidak bisa membayangkan betapa menderitanya penduduk desa ini hidup dibawah tekanan.


Tak lama kemudian puluhan pendekar terlihat masuk penginapan dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Sebaiknya kalian pergi, Ketua Matahari kembar ingin makan di penginapan ini dan tidak mau diganggu oleh siapapun". Salah satu pendekar itu berteriak keras.


Mendengar teriakan pendekar Matahari kembar membuat ruangan menjadi riuh. Mereka berlomba lomba meninggalkan penginapan itu. Bahkan beberapa orang yang baru memesan makanan ikut berlari menyelamatkan diri.


Dalam sekejab ruangan itu kosong, hanya menyisakan Sabrang dan Mentari.


"Apa kita tidak sebaiknya pergi juga?". Tanya Mentari pelan. Dia sudah membayangkan mandi air hangat setelah beberapa hari menginap dialam terbuka. Dia tidak ingin rencananya hancur karena penginapan ini terbakar Naga api.


Sabrang hanya menggeleng pelan tanpa menjawab pertanyaan Mentari. Mulutnya terlalu penuh makanan untuk menjawab.


"Baiklah, sepertinya kali ini akan ada penginapan yang hancur lagi". Mentari tersenyum kecut.


Mentari tau betul sifat Sabrang, dia tidak akan mau diganggu oleh siapapun jika sedang Makan.


"Apa kalian tidak mendengar ucapanku tadi? Ketuaku tidak ingin selera makannya hilang karena melihat kalian. Kuberi kesempatan untuk pergi sekarang sebelum terlambat".


Mentari membenamkan wajahnya kemeja "Kalian membuat kesalahan besar". Gumam Mentari dalam hati.


"Apa kalian tuli? hah?". Pendekar itu terus membentak Sabrang yang masih terlihat tidak terganggu dengan kehadiran mereka.


Mentari yang masih membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya sempat melihat lengan kiri Sabrang menyentuh kaki meja. Tak lama kaki meja itu diselimuti bongkahan es kecil.


"Kurang ajar! kalian meremehkanku". Pendekar itu berusaha mengangkat meja makan dihadapannya namun satu incipun tak bergerak.


Pendekar itu tampak bingung sambil menatap Sabrang.


"Es itu mengunci meja ini agar tidak bisa bergerak". Gumam pendekar itu saat melihat bongkahan es kecil menyelimuti kaki meja.


"Kau benar benar kurang ajar". Pendekar itu melepaskan pukulan cepat kearah Sabrang.


Ketika Mentari hendak bereaksi, tiba tiba lengan Sabrang tanpa kesulitan menangkap pukulan mendekar itu.


"Dingin?". Gumam pendekar itu tepat sebelum seluruh tubuhnya membeku dan diselimuti bongkahan es yang muncul dari tangan Sabrang.


Puluhan pendekar lainnya menjadi Waspada setelah melihat Sabrang mampu melumpuhkan temannya dengan mudah.

__ADS_1


__ADS_2