
Lakeswara mengernyitkan dahinya saat merasakan tubuhnya bergetar, ini untuk pertama kalinya dia bereaksi terhadap kekuatan seseorang, hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Sebuah ledakan disekitar Sabrang mengagetkan semuanya termasuk Lakeswara. Serpihan bebatuan dan debu tampak menyelimuti hutan bersamaan dengan bangkitnya kembali Sabrang.
"Dia? bagaimana bisa dia masih memiliki kekuatan sebesar ini?" ucap Lakeswara bingung.
Ken Panca langsung menyambar tubuh Mentari yang sedang terluka dan membawanya menjauh.
"Anak itu masih memiliki tenaga dalam sebesar ini?" ucap Ken Panca kagum.
Sabrang terlihat memejamkan matanya saat tubuhnya merasakan sakit akibat aliran tenaga dalam yang sangat besar.
Matanya memerah dengan lingkar kecil di sudut atas, dia berteriak saat merasakan tubuhnya hampir meledak.
Ledakan besar kembali terjadi disekitar tubuhnya membuat Lakeswara sedikit mengambil jarak, dia ingin memastikan terlebih dahulu apa yang terjadi sebelum menyerang kembali.
"Apakah ini Ajian inti lebur saketi tingkat akhir? dari mana asalnya tenaga dalam sebesar ini?" ucap Sabrang dalam hati.
"Sepertinya tubuhmu tidak memiliki batas nak, kau benar benar dianugerahi tubuh istimewa," ucap Eyang Wesi kagum.
Eyang Wesi benar benar tidak habis pikir bagaimana tubuh Sabrang mampu menahan kekuatan sebesar itu.
Sabrang terdiam, dia tidak tahu harus senang atau justru sebaliknya karena rasa sakit yang dia rasakan benar benar membuatnya tersiksa. dia kembali teringat ucapan Wulan yang selalu didengarnya selama latihan.
"Jangan pernah gunakan ajian inti lebur saketi tingkat akhir jika tidak terdesak, membayangkan tubuh dialiri tenaga dalam yang sangat besar akan membuatmu menderita, bahkan tubuhmu bisa hancur.
Kau lihat sungai itu? terlihat indah bukan? itu karena air yang mengalir sesuai dengan kapasitas sungainya. Bisa kau bayangkan jika air yang mengalir jauh lebih besar dari sungai itu? air akan meluap dan menghancurkan apa yang ada disekitar tempat ini. Begitu juga dengan tenaga dalam di tubuhmu.
Ajian inti lebur saketi tingkat akhir akan meningkatkan tenaga dalam dengan sangat cepat, tubuhmu akan seperti sungai itu jika "Air" yang mengalir terlalu besar," ucap Wulan serius.
"Jika guru melarang ku menggunakan ajian itu mengapa diciptakan?" tanya Sabrang heran.
"Setiap jurus ilmu kanuragan apapun memiliki jurus terakhir yang sering disebut jurus kematian. Jurus terakhir itu digunakan hanya dalam keadaan terdesak dan tidak memiliki kesempatan menang. Kau tau artinya? jurus bunuh diri," balas Wulan.
"Aku tak menyangka jika akan sesakit ini saat menggunakannya. Maafkan aku menggunakan jurus ini guru, aku tidak ingin mengecewakan ibuku," ucap Sabrang dalam hati.
Sementara itu ditempat lain, tanpa Sabrang sadari gua yang berada di sisi gelap alam semesta bergetar hebat sebelum meledak dan mengguncang tempat itu.
Suasana sisi gelap alam semesta menjadi sangat mencekam ketika langit menghitam, sambaran petir dari segala arah meluluhlantakkan tempat itu.
Sebuah gunung yang biasa digunakan Guntoro berlatih juga bergetar sebelum meledak dan menyemburkan lahar panas berwarna merah.
Meledaknya gunung api yang berada di sisi gelap alam semesta menjadi awal dari rentetan gunung api lainnya yang tiba tiba meledak tanpa memberikan tanda alam seperti biasanya.
Lahar lahar panas berwarna merah itu seolah dipaksa keluar oleh sesuatu yang menakutkan yang sudah sangat lama terkubur.
Perlahan namun pasti lubang magma di semua gunung api yang meletus melepaskan aura merah darah dan melesat kearah sisi gelap alam semesta.
Aura merah bercampur api yang berasal dari seluruh penjuru itu menyatu dengan kobaran api yang muncul dari reruntuhan gua sisi gelap alam semesta.
Energi itu berputar cepat sebelum membentuk sesosok tubuh dengan memegang pedang kembar bercorak yang terbuat dari api.
Makhluk itu memejamkan matanya sebelum berteriak sekuat tenaga, dia seolah melepaskan apa yang selama ini mengekangnya.
Teriakkan mahluk itu menghancurkan hampir separuh hutan di sisi gelap alam semesta.
"Apa yang sebenarnya terjadi? aku tidak merasakan ada perjanjian darah, mengapa aku dapat dibangkitkan?"
Belum selesai rasa penasarannya, sesuatu menarik kobaran api itu dengan cepat. Dia menancapkan kedua pedang kembarnya di tanah untuk menahan tubuhnya namun tak berhasil.
Energi yang menariknya dengan paksa itu lebih kuat, tanah di sisi gelap alam semesta itu sedikit terbelah akibat tak mampu menahan pedang kembar yang tertancap.
***
Melihat situasi semakin mencekam, Lakeswara memilih menyerang lebih dulu, dia tidak tau apa yang sedang terjadi pada Sabrang namun apapun itu jelas bukan hal baik untuknya.
Ilmu kanuragan yang dia pelajari dari Rakin Aryasatya membuatnya menjadi pendekar terkuat saat ini, tak mudah bagi siapapun untuk membuatnya khawatir.
Namun kali ini rasa khawatir itu muncul setelah melihat kekuatan Sabrang yang terus meningkat.
__ADS_1
Ajian inti lebur saketi tingkat akhir memang mampu menarik semua energi murni yang selama ini masih terpendam dalam diri Sabrang.
Bahkan tanpa Sabrang sadari, kekuatan ajian ciptaan Wulan ini berhasil menarik Dewa Api tanpa perjanjian darah.
Lakeswara bergerak dengan kekuatan penuh, ajian Anti Raga mati kembali meluap dari tubuh Lakeswara dan berusaha menekan aura Sabrang.
"Kau benar benar tidak bisa kubiarkan hidup, entah mengapa aku merasa ada sesuatu di dalam tubuhmu yang akan membahayakan aku kelak," Lakeswara mengalirkan tenaga dalamnya ke pedang pusaka miliknya.
Aura Sabrang dan Lakeswara kembali berbenturan menimbulkan ledakan besar, Lakeswara tampak tak terlalu sulit menembus aura Sabrang.
"Dia benar benar kuat," ucap Eyang Wesi kagum.
"Gawat, dia berhasil menembus dinding auramu, bergeraklah nak!" teriak Anom saat melihat Sabrang hanya diam.
"Aku sedang berusaha," balas Sabrang.
Sabrang bukan tidak ingin menghindar saat melihat serangan penuh dengan tenaga dalam itu, tapi dia belum bisa menggerakkan tubuhnya karena proses Ajian inti lebur saketi masih terus berlangsung. Di tambah aura hitam Lakeswara membuatnya semakin sulit bergerak.
Lakeswara menarik pedangnya ke depan sambil merapal jurus andalannya.
"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo."
Puluhan energi pedang melesat cepat kearah Sabrang. Melihat Sabrang belum mampu bergerak, Anom mengalirkan energinya membentuk perisai tenaga dalam.
"Tidak akan bisa, kekuatanku tak mampu menahan semua energi pedangnya," umpat Anom khawatir.
Saat energi pedang milik Lakeswara hampir menembus tubuh Sabrang, dua kobaran api dari arah berbeda melesat cepat membentur tubuh Sabrang dan membuat ledakan yang sangat besar dan menghancurkan seluruh serangan Lakeswara.
Tubuh Lakeswara terdorong mundur bersamaan dengan serpihan batu yang terlempar kesegala arah.
Tak lama terlihat tiga sosok tubuh terlempar dari dalam kobaran api.
Rubah Putih mengamati sekelilingnya karena merasakan udara menjadi sangat panas, wajahnya berubah saat melihat tubuh Wardhana terlempar arah jurang.
Rubah Putih memutar tubuhnya di udara dengan cepat, dia bergerak kearah jurang diantara bebatuan yang terlempar di udara.
"Syukurlah aku tidak terlambat menangkap mu," ucap Rubah Putih sambil melihat kobaran api yang semakin membesar.
"Apa yang terjadi dengannya? apakah kobaran api itu yang menarik Naga Api dari dimensi ruang dan waktu?"
Tubuh Rubah Putih bergetar hebat, pandangan matanya tidak pernah lepas dari kobaran api yang masih membesar. Saat terlempar dari kobaran api itu, dia yakin melihat Sabrang berada ditengah kobaran api menjerit kesakitan.
Namun yang membuat Rubah Putih bingung, Sabrang seolah tak terbakar api itu.
"Apa mungkin Dewa Api? tapi bagaimana mungkin, dia belum membuat perjanjian darah dengan Naga Api," ucap Rubah Putih pelan.
Rubah Putih kemudian menoleh kearah Lakeswara yang juga mematung dengan wajah terkejut.
"Jadi dia memang tidak bisa bisa dikalahkan ya," ucapnya dalam hati.
Rubah Putih mulai membaca situasi, tak ada perubahan setelah dia terserap di dimensi ruang dan waktu, mereka masih belum bisa mengalahkan Lakeswara.
"Sebaiknya kau berfikir dan cari kelemahannya, aku akan mencoba mengalihkan perhatiannya," ucap Rubah Putih pada Wardhana.
Wardhana masih terdiam dan tidak menjawab ucapan Rubah Putih, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Hei! bukan waktunya untuk melamun, kau harus fokus pada pertarungan," ucap Rubah Putih saat melihat Wardhana masih mematung.
"Ah maaf tuan, apa anda merasa bukan hanya kita yang tadi terlempar dari ruang dan waktu? aku yakin kita tadi bertiga," balas Wardhana pelan.
"Jadi kau juga merasakannya ya? aku tidak tau siapa dia namun yang pasti ilmu kanuragannya sangat tinggi, dia bisa menghilang seketika dan lepas dari pengamatan ku.
Untuk saat ini lupakan dia terlebih dahulu, yang paling penting adalah memastikan Rajamu selamat dari kobaran api itu dan menyegel Lakeswara," jawab Rubah Putih.
Wajah Wardhana berubah seketika, dia baru sadar Sabrang tak ada disekitarnya karena terlalu fokus pada sosok misterius yang ikut keluar dari dimensi ruang dan waktu.
"Yang Mulia."
***
__ADS_1
"Kau? bagaimana kau bisa bangkit?" tanya Naga Api saat melihat sisi gelapnya sudah berada di tubuh Sabrang.
"Naga api, lama tidak bertemu! bukankah aku yang seharusnya bertanya padamu," balas sisi gelap Naga Api.
"Tidak mungkin, jika bukan kau yang menarikku keluar maka...?" Naga api terlihat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Untuk membangkitkan kekuatan Naga api seluruhnya diperlukan perjanjian darah di gua kabut, tanpa itu harusnya Sabrang tak bisa menarik kekuatannya.
"Anak itu selalu membuatku terkejut," ucap Naga Api.
Naga api masih terlihat tak percaya dengan apa yang dialaminya, saat dia ingin memastikan sesuatu tiba tiba energi Dewa Api menekannya.
"Bukankah sudah saatnya kita bersatu kembali?" Sisi gelap Naga Api tiba tiba mencekik Naga Api dan menariknya masuk ke tubuhnya.
"Gawat, energiku belum pulih akibat masuk dimensi ruang dan waktu," Naga Api terlihat meronta dan berusaha melepaskan diri.
"Percuma kau melawan, kekuatanmu sudah melemah, ikuti saja perintahku," energi Dewa Api terus menekan.
"Kau yang harus ikuti perintahku!" Kobaran Naga api berusaha lepas dari cengkraman sisi gelapnya.
Perlahan namun pasti, Naga Api mulai bisa menekan balik. Benturan dua kekuatan itu membuat ledakan ledakan besar yang membuat semua mundur beberapa langkah termasuk Lakeswara.
"Akulah yang akan menguasai mu!" Kobaran api merah kembali menekan Naga Api yang membuat tubuhnya seperti meledak.
"Sial! apa aku akan berakhir seperti ini?" Naga Api mulai terlihat panik, kekuatannya yang banyak terserap saat berada di ruang dan waktu membuatnya tak berdaya dihadapan Dewa Api.
Ketika Naga api hampir menghilang sepenuhnya dan bersatu dengan sisi gelapnya, tiba tiba sesuatu kembali menghidap mereka dengan cepat.
"Anak sialan ini?" Dewa api mencoba melawan namun Naga Api tak membiarkannya, dia kembali melepaskan aura naga untuk membuat Dewa Api semakin tertekan.
"Namanya adalah Sabrang Damar, anak bodoh yang selalu membuatku terkejut. Mungkin kau lebih kuat dariku tapi kau lupa satu hal, kita adalah satu. Tanpa diriku kau tak mungkin ada maka tunduk lah padaku karena aku yang lebih pantas menjadi dewa Api!" Energi Naga Api kembali menguat saat bercampur dengan tenaga dalam murni khas Tumerah yang ada di tubuh Sabrang.
Naga Api kembali menekan sisi gelapnya hingga menghilang sepenuhnya.
"Kau selalu membuatku terkejut nak," ucap Naga Api.
"Selamat datang kembali, kau terlambat Naga Api," kobaran api disekitar Sabrang mulai menghilang.
"Dasar bodoh! aku hampir menghilang selamanya karena kau menarik energi Dewa api terlalu cepat," balas Naga api.
"Dewa api?" Sabrang tampak bingung.
"Kau bahkan tidak menyadarinya, dasar bodoh!" ucap Naga Api kesal.
Dilain pihak Lakeswara tampak geram, wajahnya makin buruk ketika kobaran api mulai menghilang dan masuk ke tubuh Sabrang seluruhnya.
"Aku harus menghentikannya sekarang," Lakeswara menggunakan jurus ruang dan waktunya untuk mendekati Sabrang.
"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo."
Tebasan Lakeswara hanya membelah udara saat Sabrang menghilang.
"Bagaimana dia masih bisa bergerak?" Lakswara tampak terkejut saat melihat Sabrang masih bisa bergerak.
Belum hilang rasa terkejutnya, sebuah sabetan pedang menghantam tubuhnya.
Lakeswara melompat mundur untuk mengatur kembali kuda kudanya, namun serangan demi serangan terus menghantam tubuhnya tanpa bisa dihindari.
Gerakan Sabrang semakin cepat seiring dengan semakin besar kobaran api yang menyelimuti tubuhnya.
Menyadari mulai terdesak, Lakeswara membuka kembali lorong dimensinya untuk berpindah tempat namun puluhan energi keris muncul tepat sebelum tubuhnya terhisap ruang dan waktu.
"Energi keris penghancur!" puluhan energi keris melesat dari atas dan menghantam tubuh Lakeswara.
Ledakan besar kembali terjadi dan mengakibatkan lubang yang cukup besar di tanah.
"Sepertinya kekuatan anak itu kini berada di atasku, Dewa Api benar benar kuat," ucap Rubah Putih kagum.
"Apakah sudah berakhir tuan?" tanya Wardhana pelan.
__ADS_1