
"Kau benar benar mengerikan, sebuah keberuntungan bagiku berhadapan denganmu walau harus mati". Langgeng tersenyum puas.
Langgeng kembali mengingat saat Mahendra menemukannya terluka parah di sebuah hutan setelah diserang oleh pendekar Lembah tengkorak. Bakat besar yang dimiliki Langgeng membuat Mahendra tertarik dan menjadikannya murid.
Sejak saat itu dia terus menjadi kuat dan hampir tak terkalahkan. Kebosanan itu yang membuatnya menjadi gila dan terobsesi dengan para pendekar yang kuat.
Langgeng kembali melepaskan aura yang besar untuk menekan Sabrang.
"Kau membuang tenaga dalammu percuma". Sabrang menggeleng pelan.
"Tidak ada yang percuma menghadapi pengguna Naga api". Langgeng bergerak cepat menyerang Sabrang, serangannya kali ini mengandung tenaga dalam yang besar.
"Kekuatannya meningkat pesat". Sabrang terus mengamati gerakan Langgeng yang semakin cepat sambil terus menghindari serangannya dengan sempurna.
Hanya dalam beberapa tarikan nafas mereka sudah bertukar puluhan jurus.
"Kena kau". Langgeng menghilang dari pandangan ketika berhasil memancing Sabrang bergerak kesamping.
"Pedang Siluman penghancur". Langgeng melepaskan jurus terkuatnya.
Sabrang terlihat tidak berusaha menghindar, dia melempar keris penguasa kegelapan ke udara dan merapal jurus pemusnah raga.
Kedua pedang beradu diudara membuat ledakan yang besar. Tubuh Langgeng terhempas mundur terkena efek ledakan.
Saat Langgeng berusaha memperbaiki kuda kudanya dia merasakan sakit yang sangat diperutnya. Dia melihat keris telah menembus tubuhnya dari belakang.
"Aku benar benar tak ingin membunuhmu namun kau memaksaku". Ucap Sabrang pelan.
Langgeng menoleh kebelakang dan menemukan Sabrang menggelengkan kepalanya.
Dalam keadaan terluka parah Langgeng tersenyum puas "Kau benar benar lawan yang sangat kuat, sudah lama aku tidak merasakan putus asa seperti ini". Tubuh Langgeng jatuh ketanah seiring dengan berubahnya keris penguasa kegelapan menjadi aura hitam yang meluap diudara.
Sabrang menatap Langgeng yang masih berusaha bangkit.
"Kenapa kau tidak membunuhku? cepat lakukan!". Langgeng berteriak sambil batuk darah.
"Aku tidak membunuh lawan yang bahkan sudah tidak bisa menggerakkan tubuhnya". Sabrang melangkah meninggalkan Langgeng yang sedang terluka. Perlahan kobaran api hitam menghilang diikuti pedang yang ada digenggaman nya.
"Berhati hatilah pada 3 pendekar petir terutama pada pedang kembarnya". Langgeng tertawa puas setelah memperingatkan Sabrang.
"Sepertinya pagi mulai datang, aku harus cepat". Sabrang melesat cepat diantara pepohonan mengejar Lingga dan yang lainnya.
***
"Apakah dia akan baik baik saja?". Ciha terlihat cemas karena meninggalkan Sabrang sendirian. Walaupun dia bukan seorang pendekar namun dia bisa mengetahui jika yang menyerangnya adalah pendekar hebat.
"Kusarankan kau khawatir pada musuh yang menyerangnya". Ucap Lingga singkat.
Ciha terlihat bingung namun tak melanjutkan pertanyaannya. Dia melihat sinar matahari mulai tampak dan berniat beristirahat sejenak.
"Kita istirahat sejenak, akan sangat berbahaya jika musuh kembali menyerang dan kalian kurang istirahat. Sungai itu adalah batas wilayah Karang sari". Ciha menunjuk sungai besar yang tak jauh daei tempat mereka berhenti.
__ADS_1
"Aku akan memeriksa sekitar sini untuk berjaga jaga, gunakan waktu sebaik mungkin untuk beristirahat kita tidak tau kapan musuh akan kembali menyerang". Lingga berjalan kearah sungai.
"Jadi besok malam gerbang itu akan terbuka?". Ucap Mentari pelan.
Ciha mengangguk pelan "Aku selalu berharap gerbang itu tak pernah terbuka lagi. Banyak hal aneh dan tidak masuk akal didalam sana". Ciha menarik nafasnya panjang.
"Apa semenakutkan itu?". Mentari mengernyitkan dahinya.
"Aku pernah merasakannya sendiri". Ucap Ciha singkat sambil menunjukan salah satu jarinya yang putus.
"Itu". Mentari bergidik melihat salah satu jari Ciha hilang.
"Jangan sentuh apapun yang ada disana, semua benda disana seolah memiliki roh yang siap merasuki kita kapanpun. Aku terpaksa menggigit jariku sampai putus agar tersadar dan tidak membunuh tuan Birawa. Berhati hatilah saat memasuki Dieng, 4 hari yang akan kita lalui disana akan terasa sangat panjang".
"Apakah air kehidupan benar benar ada?". Mentari bertanya pelan.
"Lebih tepat jika menyebutnya air kutukan, ada sebuah danau di pintu ke dua. Segel 4 unsur menyegel gua menuju danau tersebut. Jika anda berfikir untuk meminumnya tuan Birawa bisa membantu menghilangkan efek air itu namun aku menyarankan untuk menjauhi air itu. Sangat menyakitkan jika kau berusaha melawan takdir, hidup ratusan tahun sangat menyiksa". Ucap Ciha lirih.
"Apa kau tau cerita mengenai suku iblis petarung?".
Ciha mengernyitkan dahinya "Kau masih memikirkan ucapan tuan Birawa?".
Mentari mengangguk cemas.
"Aku yakin tuan Birawa salah, Suku iblis petarung telah lama musnah oleh para dewa". Ciha meyakinkan Mentari.
"Begitu ya.....". Ucap Mentari masih dengan nada khawatir.
"Tak usah dipikirkan, lebih baik kita membuat rencana untuk masuk ke Dieng". Ciha mengeluarkan gulungan dari dalam pakaiannya.
"Pilihannya cuma 2, berjalan menyusuri laut yang sedang surut membutuhkan waktu agak lama atau menyewa kapal siang ini dan menunggu di sana. Karena air laut mulai surut saat malam hari".
"Apa ada celah atau apa yang bisa dipijak di dinding bukit?". Lingga yang baru muncul bertanya pelan.
Ciha menggeleng pelan "Aku tidak menyarankan kalian melewati tebing, walaupun kalian pendekar yang berilmu tinggi namun aku merasa ada sesuatu di dinding ini".
"Maksudmu?". Lingga mendekat karena penasaran.
"Dinding bukit kelam terbentuk secara alami dari struktur batuan keras, namun ada beberapa bebatuan yang seperti disusun oleh seseorang untuk tujuan tertentu. Beberapa kali aku masuk ke Dieng bersama tuan Birawa dan mencoba memecahkan kode itu namun sampai saat ini aku belum berhasil. Aku bukan pendekar seperti kalian jadi sampai saat ini aku belum bisa menyentuh batu itu. Kurasa jika aku bisa menyentuh batu itu aku bisa mencoba memecahkan misteri batu yang tersusun secara tidak alami itu".
"Sayangnya satu satunya jalan kita untuk masuk Dieng melewati tebing itu". Lingga tersenyum kecut.
"Maksudmu?". Ciha tersentak kaget mendengar ucapan Lingga. Tebing tinggi itu mempunyai kemiringan hampir tegak lurus, tanpa tali mustahil mereka melewatinya.
"Melihat situasi saat ini aku yakin dermaga ini dijaga ketat oleh Lembah siluman. Akan memakan waktu jika harus berhadapan dengan mereka disini sedangkan kita hanya mempunyai waktu 4 hari sebelum gerbang kembali tertutup. Satu satunya cara kita masuk kesana adalah turun dari tebing ini". Lingga menunjuk gambar tebing di gulungan Ciha.
"Apa kau sudah gila? Bagaimana kita melewati tebing curam ini?". Ciha protes dengan rencana Lingga.
"Mengenai itu akan kupikirkan sambil jalan namun ini satu satunya jalan terbaik untuk kita saat ini. Ketua bersama tuan Suliwa sepertinya akan melewati dermaga ini. Mereka akan tertahan sementara disini, saat itulah kita bisa masuk lebih dulu".
"Kau bahkan tidak memikirkan ketuamu sendiri, apa kau benar benar manusia?". Ciha menatap tajam Lingga.
__ADS_1
"Percayalah hanya sedikit orang yang mampu mengimbangi ilmu kanuragan ketua iblis hitam, lagipula akan lebih baik jika kita masuk lebih dulu dari ketuaku". Ucap Lingga pelan.
"Maksudmu?". Mentari menimpali.
"Aku orang yang paling dekat dengannya, aku tau ambisinya begitu besar. Yang kupercaya saat ini hanya kalian, kita akan masuk dan bergerak cepat. Setelah mendapatkan apa yang kita cari kita keluar secepatnya".
"Jadi Lingga maheswara sekarang mengkhianati sektenya sendiri?". Sabrang muncul tiba tiba.
"Aku hanya ingin dunia persilatan berjalan seperti seharusnya". Lingga terlihat membuang muka.
"Jadi bagaimana rencananya? maaf aku sedikit terlambat". Sabrang duduk di samping Mentari sambil mengacak acak rambut gadis itu.
"Batu tulis ada di gerbang pertama, setelah kita sampai aku akan menggunakan segel kabut untuk menyembunyikan keberadaan kita. Itu akan memberi waktu aku menterjemahkan aksara palawa. Semua informasi mengenai Lembah siluman dan tuan panca konon ada di batu ini. Setelah itu kita bergerak ke gerbang kedua untuk mengambil air kehidupan untuk mengobati nona Mentari, aku akan memperbaharui segel gerbang.
Jika kau ingin membuat perjanjian dengan Naga api disini letak gua kabut". Ciha menunjuk gambar sebuah gua. "Tapi kau harus cepat kita tidak tau kapan lembah siluman akan muncul. Setelah semua selesai kita kumpul di titik ini dan keluar secepatnya dari Dieng".
"Gerbang ini?". Sabrang menunjuk gerbang ketiga.
"Itu gerbang ketiga, kami tidak diizinkan masuk kesana. Sebaiknya kalian juga tidak masuk kesana karena gerbang kegelepan ada didalam sana". Ucap Ciha sedikit takut.
"Apa pintu ini juga bersegel?".
"Pintu ketiga agak sedikit berbeda, sepertinya segel api yang menguncinya".
Sabrang terlihat mengangguk angguk sambil memperhatikan gambar yang ada di gulungan Ciha.
"Kita akan masuk ke gerbang ketiga, Lembah merah terletak tak jauh dari gerbang itu". Naga api tiba tiba bicara.
"Lalu segel itu?" Tanya Sabrang.
"Jika itu segel api aku yang akan mengurusnya".
"Bagaimana jika batu ini adalah gerbang Dieng juga?". Sabrang menunjuk dinding tebing bukit kelam.
"Maksudmu beberapa batuan yang terlihat tersusun secara tidak alami?".
Sabrang mengangguk pelan "Kita pernah menemukan sebuah pintu di lembah tanpa dasar? Kau mengatakan jika Lembah tanpa dasar dan Dieng seperti mempunyai keterkaitan satu sama lain bukan? Bukankah patut dicoba untuk memeriksanya?".
Raut wajah Ciha berubah cerah setelah mendengar ucapan Sabrang.
"Kau benar, jika ini memang pintu masuk lain ke Dieng kita tak perlu menunggu air laut surut. Kita bisa masuk lebih cepat dari mereka".
"Lalu apa yang kalian tunggu? ayo kita pergi". Lingga melangkah cepat melewati sungai.
"Tuan muda". Mentari tiba tiba menggenggam tangan Sabrang.
"Aku tidak ingin meminum air itu". Ucap Mentari pelan.
"Apa yang kau pikirkan? kau tidak mungkin hidup dengan racun itu selamanya". Sabrang mengernyitkan dahinya.
Mentari terus menggelengkan kepalanya, membuat Sabrang serba salah.
__ADS_1
"Aku tidak ingin hidup abadi tuan, sepertinya terlalu menyusahkan".
"Jika kau takut meminumnya, aku akan meminumnya terlebih dahulu. Jika kau takut hidup sendiri selama ratusan tahun aku akan menemanimu". Setelah Sabrang berkata demikian dia berjalan sambil terus menggenggam tangan Mentari.