
"Rumahnya ada di depan sana tuan, maaf aku hanya bisa mengantar sampai sini". Wijaya mengagguk pelan, dia memahami ketakutan perempuan itu. "Mereka menanamkan ketakutan pada rakyat Malwageni untuk menekan pemberontakan yang masih setia pada Yang mulia raja".
Wijaya melangkah menuju rumah yang ditunjukan pelayan tadi padanya. Sebuah rumah yang agak kecil dengan hiasan beberapa bunga di halamannya. Kesan tidak terawat terlihat dari beberapa kayu yang mulai keropos. Tak lama seorang pria berusia sekitar 40 tahun keluar dari dalam rumah. Dia menatap Wijaya curiga.
"Ada yang bisa ku bantu tuan?" Pria tersebut menyapa seadanya. Wijaya memperhatikan pria tersebut dengan perasaan bimbang. Walaupun wajahnya bertambah tua dia masih sangat mengingat wajah orang yang ada dihadapannya.
"Sepertinya kau bertambah tua sangat cepat kakang" Wijaya membuka topeng yang menutup wajahnya. Pria tersebut tertegun sejenak menatap Wijaya. Tak lama dia memberi hormat kepada Wijaya "Hormat pada Tuan Patih".
Disebuah ruangan kecil Lembu sora mematung tak percaya. Matanya menatap Wijaya tanpa berkedip. "Bagaimana tuan patih bisa selamat? Aku mendengar kabar seluruh pasukan pengawal yang mulia ratu habis dibantai tanpa sisa".
Wijaya terdiam sejenak dia mengingat bagaimana rombingannya dikepung dan di bunuh tanpa sisa. Ilmu nya tak mampu menandingi pendekar dari sekte Iblis Hitam.
"Ceritanya panjang kakang, untungnya yang Mulia ratu berhasil melarikan diri. Setelah itu aku tak sadarkan diri" Wijaya menarik nafas panjang.
"Jadi yang mulia ratu belum diketahui keberadaanya tuan?" Raut wajah Lembu sora terlihat cemas.
Wijaya mengangguk, matanya terpejam sesaat. Rasa bersalah kembali muncul dalam hatinya.
"Aku membutuhkan bantuanmu kakang, Lusa aku akan menuju Sekte Pedang Naga Api, ku harap Yang mulia ratu berada disana. Aku ingin kakang mengumpulkan secara diam diam orang yang masih setia pada Yang mulia Raja. Kita harus mulai menghimpun kekuatan kembali untuk merebut kembali Malwageni".
__ADS_1
"Baik tuan patih, akan ku laksanakan perintah tuan patih. Sudah lama aku menunggu saat ini tuan. Walaupun nyawaku taruhannya apapun akan kulakukan demi Malwageni". Mata Lembu sora berkaca kaca menatap Wijaya. Secercah harapan muncul dihadapannya saat ini.
...................................................
Sabrang menatap sebuah pintu yang tersamarkan oleh batu batu besar. Dia menggelengkan kepala melihat pintu rahasia menuju Padepokan Teratai merah. Dia yakin jika tak ada orang yang akan menyadari bahwa dibalik batu besar terdapat sebuah pintu rahasia menuju dunia lain.
"Ayo anak muda, apalagi yang kau tunggu" Wulan sari melesat masuk ke dalam diikuti oleh Sabrang dibelakangnya. Ketika matanya melihat cahaya terang didepannya dia yakin jika di tempat tersebut letak padepokan Teratai merah.
Beberapa gadis muda menyambut kedatangan Wulan sari. Mereka menunduk memberi hormat "Selamat datang kembali guru". Wajah mereka nampak kaget saat mengetahui Wulan sari tidak datang sendirian. Salah satu gadis tersebut mengenali wajah Sabrang, dia menyambut Sabrang dengan senyuman.
"Terima kasih tuan muda atas bantuannya dulu" Sabrang bingung dan mencoba mengingat wajah gadis dihadapannya. Dia mengangguk pelan.
"Tuan muda yang telah menyelamatkanku saat terluka di Hutan Kematian guru".
"Ah ternyata demikian, tak kusangka kau telah menjadi penyelamat muridku. Sepertinya keputusan ku tepat kali ini". Wulan sari tersenyum menatap Sabrang.
***
Sudah beberapa hari Sabrang berlatih di Padepokan Teratai Merah. Wulan sari dibuat kagum dengan perkembangan Sabrang mempelajari ilmu pedang milik Teratai Merah.
__ADS_1
"Gunakan Pedang Naga Api mu nak, aku cukup penasaran melihat jurus Pedang peremuk tulang menggunakan pedangmu". Wulan sari mengangkat pedangnya siap dengan kuda kuda. Sabrang membuka bungkusan kain putih yang membungkus pedangnya. Dia mulai merapal jurus dan menyerang Wulan sari dengan cepat.
Wulan sari mundur beberapa langkah, dia menangkis serangan pedang Sabrang dengan jurus yang sama. Hanya dalam beberapa menit saja mereka sudah bertukar puluhan jurus. "Kemampuan anak ini sangat mengagumkan, ditambah menggunakan Pedang Naga Api kekuatan jurus ini menjadi lebih kuat beberapa kali lipat" gumam Wulan sari. Tiba tiba Sabrang menghilang dari pandangan Wulan sari.
Wulan sari cukup terkejut dengan kemampuan Sabrang, dia mundur beberapa langkah kemudian merapal kuda kuda "Kemampuan anak ini meningkat pesat hanya dalam beberapa detik, dari mana dia mendapatkan tenaga sebesar ini"
"TRANGGGG" Sabrang muncul tiba tiba di belakang Wulan sari, kedua pedang beradu cukup kuat. Tiba tiba suhu ruangan menjadi naik, Wulan sari meningkatkan kewaspasaannya. Dia kemudian menyerang Sabrang dengan cepat membuat Sabrang sedikit kewalahan.
Ketika Wulan sari melihat celah di pertahanan Sabrang dia tidak menyia nyiakan kesempatan dan menyerang dengan meningkatkan kecepatannya. Saat beberapa detik lagi pedang Wulan sari mengenai gagang Pedang Naga Api dia tiba tiba menarik pedangnya dan mundur cukup jauh. Dia terkejut melihat kobaran api di tubuh Sabrang.
" Anak ini? Naga api melindunginya" Wulan sari tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Tangan Wulan sari gemetar melihat kobaran api di tubuh Sabrang.
"Kemampuan nenek memang sangat tinggi, aku bahkan tidak dapat mengikuti gerakan nenek". Sabrang menggaruk kepalanya. Perlahan kobaran api ditubuhnya menghilang.
Wulan sari masih mematung tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bukankah ini menarik? Aku pun cukup terkejut dengan keputusan "nya" hahahahaha" Suliwa muncul sambil tersenyum kecil. Dia memandang Wulan sari yang dari tadi mematung.
"Kau selalu menyeretku dalam masalah tetua" Wulan sari menyarungkan pedangnya kemudian memberi hormat pada Suliwa.
__ADS_1