
"Maaf nona, apa anda tau dimana letak sekte Cahaya Bulan Kegelapan?" tanya seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam dengan jubah hampir menutup seluruh tubuhnya saat pelayan wanita membawakan makanan kemejanya.
"Sekte Cahaya Bulan Kegelapan?" wajah wanita itu langsung berubah seketika, walau berusaha tetap tenang namun rasa takut akan sesuatu terpancar jelas diwajahnya.
Bukan hanya gadis pelayan itu, tapi hampir semua orang yang kebetulan sedang makan di penginapan itu juga langsung terkejut.
Mereka menatap aneh pendekar misterius itu sambil menggeleng pelan, tak ada yang berani bertanya tentang perguruan Cahaya Bulan Kegelapan sebelumnya apalagi mencari tau lokasinya.
Nama Cahaya Bulan Kegelapan seolah menjadi momok bagi dunia persilatan saat ini. Bahkan perguruan Pedang Naga Api yang merupakan perguruan tertua saat inipun terlihat enggan berurusan dengan mereka.
"Maaf tuan, anda pasti orang baru di tempat ini. Sebaiknya anda lupakan tentang perguruan itu dan tolong jaga ucapan anda selama berada di penginapan ini atau kami semua akan dalam masalah besar," ucap wanita itu sebelum melangkah pergi dengan wajah tidak suka.
Pendekar itu tampak bingung dengan perubahan sikap pelayan penginapan yang menjadi dingin. Dia menarik napasnya sebelum menggeleng pelan.
"Dunia persilatan tidak pernah berubah sama sekali walau Cakra Loji sudah tersegel kembali. Pertumpahan darah dan memelihara rasa takut demi ambisi pribadi masih saja terjadi setelah paman Wardhana memaksa perdamaian antar sekte ribuan tahun lalu. Sepertinya manusia memang jauh lebih mengerikan dari mahluk terkuat itu," ucap pendekar itu dalam hati.
"Maaf tuan, bolehkah aku duduk di sini?" tanya seorang pria setengah baya sopan.
Pendekar itu menghentikan makannya dan menatap pria setengah baya yang berdiri dihadapannya bersama seorang anak kecil berumur lima tahun sebelum mengangguk pelan.
"Perkenalkan tuan, namaku adalah Prana Dwipa, ketua perguruan Pedang Naga Api dan ini adalah anakku, Arya Wijaya. Aku tadi mendengar anda sedang mencari keberadaan sekte Cahaya Bulan Kegelapan dan mungkin aku bisa membantu," ucap pria itu ramah.
"Prana Dwipa?" wajah pendekar itu berubah seketika, dia tampak menatap keduanya bergantian sebelum memperkenalkan diri.
"Damar, anda boleh memanggilku dengan mana itu," jawab Sabrang pelan.
"Damar? aku tidak pernah mendengar nama itu di dunia persilatan, apa anda berasal dari daratan lain?" tanya Prana penasaran.
Sabrang menggeleng pelan, "Aku selama ini tinggal di kaki bukit Setumbu, wajar jika anda tidak mengenaliku," jawab Sabrang pelan.
"Bukit Setumbu?" Prana terlihat berpikir sejenak, dia seperti pernah membaca nama bukit itu di suatu tempat.
"Ayah, aku ingin makan itu," rengek Arya Wijaya tiba tiba sambil menunjuk beberapa makanan yang ada di meja Sabrang.
"Arya, ayah sudah katakan kalau..."
"Tidak apa apa tuan," potong Sabrang sambil menyerahkan makanan itu. "Siapa namamu tadi?"
Wajah Arya Wijaya langsung berubah, dia menyambar makanan yang diberikan Sabrang dan langsung memakannya.
Prana hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah anaknya, dia benar benar merasa tidak enak pada pendekar dihadapannya.
"Maaf jika aku boleh tau, ada keperluan apa anda mencari perguruan Sinar Bulan Kegelapan? aku bukan meremehkan kemampuan anda tapi sejak Cakra Buana menemukan sebuah kitab pedang kuno, ilmu kanuragan Sinar Bulan Kegelapan menjadi sangat menakutkan. Jika boleh memberi saran, sebaiknya..."
"Kitab Sabdo Loji?" potong Sabrang cepat.
"Bagaimana anda bisa tau tentang kitab itu?" tanya Prana Dwipa terkejut.
"Apa anda pernah mendengar tentang..." Sabrang menghentikan ucapannya saat terdengar suara ledakan disertai energi besar yang menekan seluruh tubuhnya.
"Naga Api?" ucap Sabrang dalam hati.
"Ledakan ini lagi, aku sudah dua kali mendengar suara ledakan hari ini, sepertinya akan ada gunung berapi yang melepaskan magmanya," ucap Prana pelan sebelum menatap Sabrang kembali.
"Silahkan dilanjut tuan..."
"Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang tapi bisakah anda tunjukkan dimana sekte Sinar Bulan Kegelapan berada?" jawab Sabrang.
"Anda benar benar akan pergi menemui mereka? kudengar mereka memiliki jurus..."
"Tolong katakan tuan, dimana mereka berada?" potong Sabrang kembali.
Prana Dwipa menatap Sabrang cukup lama, dia mencoba mengukur kemampuan pendekar dihadapannya itu namun tak berhasil. Selain tidak merasakan aura dari dalam tubuhnya, Prana juga tidak melihatnya memegang pedang atau pusaka apapun.
"Kenteng Songo, kudengar di gunung itu ada sebuah tempat rahasia yang digunakan mereka untuk membangun kekuatan tapi tak pernah ada yang tau apakah berita itu benar selama ini tak ada yang benar benar berani naik ke gunung itu," balas Prana.
"Gropak Waton, jadi mereka menggunakan tempat itu sebagai markas ya," ucap Sabrang dalam hati sebelum memanggil pelayan dan membayar makanan yang dipesannya.
"Maaf tuan, ini apa?" tanya pelayan wanita itu bingung saat Sabrang menyerahkan koin emas kuno.
"Itu bayaran untuk semua makanan yang aku pesan," jawab Sabrang.
"Tapi koin ini tidak berlaku tuan," jawab pelayan itu semakin bingung, dia benar benar baru melihat koin seperti itu.
__ADS_1
"Tidak berlaku?"
"Biar aku yang bayar nona, boleh aku simpan koin itu?" Prana Dwipa mengeluarkan beberapa koin perak dari sakunya dan menyerahkan pada gadis pelayan.
Sabrang terlihat sungkan, beberapa kali dia meminta maaf pada Prana Dwipa.
"Mohon maafkan aku tuan, suatu saat aku pasti akan membayar makanan ini," Sabrang menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
"Sebaiknya anda berpikir ribuan kali untuk mencari masalah dengan mereka tuan karena Cakra Buana menguasai Jurus Pedang Jiwa," ucapan tiba tiba Prana memaksa Sabrang menghentikan langkahnya.
"Banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan pada anda tapi harus ada yang melakukan ini untuk menjaga keseimbangan alam. Anak itu akan menjadi pendekar kuat suatu saat, maaf jika kalian harus menanggung beban ini," jawab Sabrang pelan
"Menanggung beban?" Prana hanya bisa menatap kepergian pendekar misterius itu dengan wajah bingung.
***
Sabrang muncul di puncak Suroloyo menggunakan jurus dimensi ruang dan waktu miliknya. Dia tampak terkejut melihat tempat yang selama ini ditinggalinya sudah hancur oleh kobaran api.
Hawa yang sangat panas langsung terasa di seluruh tubuhnya saat kedua kakinya mendarat di puncak itu.
"Energinya jauh lebih kuat dari sebelumnya, jadi ini kekuatan baru Naga Api setelah proses pemurnian?" Sabrang langsung mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya untuk menekan energi Naga Api.
"Selamat datang kembali di dunia, Naga Api," Sabrang menghentakkan kedua tangannya ke tanah dan menggunakan segel kegelapan abadi untuk menekan kobaran api yang membakar hampir semua bangunan yang ada di puncak Suroloyo.
Kenangan sebelumnya bersama Naga Api di bukit Cetho kembali muncul dalam ingatan Sabrang.
"Datanglah ke Suroloyo saat kobaran api mulai terlihat di puncak gunung itu dan taklukkan aku sekali lagi maka sebagian ingatan itu akan kembali padaku."
"Aku menepati janjiku Naga Api," ucap Sabrang sambil membentuk perisai tenaga dalam saat kobaran api berbentuk seekor Naga melesat cepat kearahnya.
"Saatnya menunjukkan kekuatanmu yang sudah berevolusi Anom!" Sabrang menarik energi Anom dengan ajian Inti Lebur Saketi. Aura hitam yang menyelimuti tubuh Sabrang perlahan berubah menjadi sepasang pedang kembar.
"Berkonsentrasi lah untuk menyegelnya, biar aku yang urus perisai energi pel..." Anom tersentak kaget saat energi pelindung miliknya dapat dihancurkan Naga Api dengan mudah.
"Tidak mungkin..." Anom tampak panik saat kobaran api itu melesat cepat kearah Sabrang dan berusaha membakarnya.
Namun, saat serangan Naga Api hampir menghantam tubuh Sabrang, waktu disekitar mereka tiba tiba terhenti bersamaan dengan aktifnya mata bulan.
"Kita bertemu lagi Naga..." Belum selesai Sabrang bicara, Naga Api menggerakkan ekornya dan menghantam tubuh Sabrang cukup keras yang membuatnya terlempar beberapa langkah.
Sabrang melompat ke udara saat sabetan ekor Naga Api kembali menyerangnya, dia menyilang kan kedua pedangnya sebelum bergerak mendekat.
"Jurus Pedang Sabdo Palon tingkat..."
"Tidak mungkin.. dari mana datangnya pisau pisau api itu," Sabrang terpaksa menarik serangannya dan bergerak menghindar saat puluhan energi pisau api bergerak kearahnya.
Kedua pedang ditangannya bergerak lincah dengan kecepatan tinggi dan menangkis semua serangan Naga Api.
Ledakan demi ledakan terus terdengar di puncak Suroloyo dan membakar semua yang ada di sekitarnya.
"Akan aku bunuh kau!" teriak Napa Api kesal saat Sabrang tiba tiba menghilang di udara.
Naga Api terus menghancurkan apapun disekitarnya untuk mencari keberadaan Sabrang dan dalam sekejap puncak Suroloyo sudah berubah menjadi lautan api.
"Dia jauh lebih kuat dari sebelumnya," Sabrang muncul di atas sebuah batu besar yang berada di sisi selatan jurang Suroloyo dan menatap kagum ruh pusaka nya itu dengan mata bulan.
"Aku akan mencoba membentuk perisai energi kembali, kau gunakan pedang penguasa kegelapan itu untuk..."
"Tidak Anom, kita berdua tidak akan bisa menang jika terus berhadapan secara langsung dengannya. Aku punya sebuah rencana untuk menjebak dan menyegelnya kedalam pedang Penguasa Kegelapan," balas Sabrang cepat.
"Jangan katakan kau akan menggunakan ajian ciptaanmu itu. Dengarkan aku nak, menggunakan ajian Pemantul Sukma saat ini resikonya terlalu besar bagi tubuhmu karena kita belum pernah menggunakannya di pertarungan sesungguhnya," ucap Anom pelan.
"Aku sudah hidup cukup lama demi menunggu kebangkitan kembali Naga Api, lalu apa sulitnya bertaruh sedikit saja?" Sabrang menggunakan kembali segel Kegelapan Abadi untuk memancing Naga Api.
Aura hitam pekat dari segel Kegelapan Abadi membuat Naga Api langsung mengetahui posisi Sabrang, dia menoleh kearah selatan jurang Suroloyo dan menemukan Sabrang berjongkok di atas sebuah batu besar.
"Bagus, mendekat lah Naga Api... sudah saatnya kita berkumpul kembali dan menyelesaikan semua yang sudah lama tertunda," Sabrang menarik kedua pedangnya di udara sebelum bergerak menyambut serangan Naga Api.
"Kau tidak akan bisa mendekatinya nak, tubuhmu akan terbakar habis karena saat ini kau bukan lagi tuannya," ucap Anom memperingatkan.
"Apa kau akan membunuhku suatu saat nanti Anom?" tanya Sabrang tiba tiba.
"Apa yang kau katakan, mana mungkin aku akan membunuh..."
__ADS_1
"Sama sepertimu, apapun bentuk Naga Api sekarang aku yakin dia tidak akan pernah menyakitiku setelah semua yang kita lewati dulu," Sabrang merubah gerakannya, melalui celah yang terlihat oleh mata bulannya, dia bergerak lincah menghindari sabetan ekor Naga Api dan Cengkraman tangannya sebelum menembus perisai api yang menyelimuti Naga Api.
"Kita tidak akan berhasil...." ucap Anom saat melihat tubuh Sabrang mulai terbakar.
Anom melepaskan seluruh energi miliknya untuk melindungi tubuh Sabrang namun tak berhasil, kekuatan baru Naga Api yang terlahir kembali terlalu besar untuk ditekan.
"Naga Api, sadarlah! bukankah kau yang memintaku untuk menjaganya? lalu kenapa kau sekarang ingin membunuhnya!" teriak Anom kesal.
Gagang Pedang Sabrang menghantam tubuh Naga Api keras, dia kemudian memutar tubuhnya di udara sebelum kedua lengannya menyentuh tubuh ruh pusaka nya itu.
"Ajian Pemantul Sukma!" tubuh Sabrang mulai menghisap energi Naga Api perlahan dan memusatkan di cakra Mahkotanya.
Merasakan energinya terhisap, Naga Api tidak tinggal diam, dia menggunakan hampir seluruh energi api untuk membakar tubuh Sabrang dan menyabetkan ekornya.
"Nak, lepaskan tanganmu, dia bukan lagi Naga Api yang dulu. Energi milikku sudah hampir habis, kau bisa hangus menjadi abu dalam sekejap," teriak Anom cepat.
"Lepaskan katamu? apa kau bercanda Anom, kita menciptakan Ajian Pemantul Sukma selama ribuan tahun untuk menaklukkan Naga Api dan sekarang kau ingin aku melepaskannya?" Sabetan ekor Naga Api menghantam tubuh Sabrang tiba tiba.
Tubuh Sabrang hampir terlempar andai dia tidak menancapkan keris penguasa kegelapan di tubuh Naga Api.
Kobaran api sudah mulai membakar jubah yang dikenakan Sabrang menandakan energi Anom yang melindungi tubuhnya sudah hampir habis.
Namun Sabrang bergeming, sambil menahan rasa sakit di tubuhnya dia terus berusaha agar tubuhnya tidak terlempar.
Mata bulan Sabrang mulai berubah setelah energi Naga Api yang dihisap mulai memenuhi cakra Mahkotanya.
"Siapa kau sebenarnya? Pergi dari hadapanku atau aku akan membakar habis kalian," Naga Api terus mengamuk, dia terus mengibaskan ekornya ke tubuh Sabrang.
"Apa hanya ini kemampuanmu setelah dimurnikan kembali Naga Api?" ejek Sabrang yang terus menghisap energi Naga Api dengan Ajian Pemantul Sukma.
"Tubuhmu tak akan mampu menahan kekuatan sebesar ini nak, setelah ribuan tahun Naga Api menghilang, kau memerlukan waktu untuk beradaptasi kembali, terlebih dirimu saat ini menggunakan Ajian Pemantul Sukma yang juga membebani tubuh itu," ucap Anom semakin khawatir saat energinya benar benar habis.
Anom pantas khawatir karena Ajian Pemantul Sukma yang diciptakan Sabrang sangat membebani tubuh penggunanya karena harus membuka seluruh pintu Cakra didalam tubuhnya untuk menghisap kekuatan besar Naga Api.
Cengkraman Sabrang akhirnya terlepas setelah ekor Naga Api kembali menghantam tubuhnya. Dengan sisa sisa tenaga, Sabrang kembali bergerak mendekat namun diluar perhitungannya belasan Pisau api muncul didekatnya dan melesat mengincar jantungnya.
"Naga Api!" teriak Anom.
Sabrang berusaha menggunakan jurus dimensi ruang dan waktu untuk menghindari serangan itu tapi lubang dimensi tak pernah terbuka karena energi Naga Api memadatkan udara disekitarnya.
"Kau benar benar kuat Naga Api..." Sabrang hanya bisa melihat lesatan pisau api bergerak cepat kearahnya tanpa bisa menghindar.
Saat pisau api itu menyentuh kulit Sabrang, sesuatu yang aneh terjadi.
Pisau itu memang menembus tubuh Sabrang namun sama sekali tidak melukainya.
"Siapa kau sebenarnya? kenapa kau begitu ingin menaklukkan aku," ucap Naga Api tiba tiba.
"Naga Api tidak menyakitinya?" ucap Anom terkejut.
"Aku adalah tuan...ah tidak, kita adalah teman! Maaf Naga Api, ini akan sedikit menyakitkan tapi aku harus melakukannya," Sabrang menarik energi Naga Api yang sudah tersimpan di Cakra Mahkota dan menggunakannya untuk membentuk segel kegelapan abadi.
"Aku sudah menyiapkan pedang baru untukmu, Pedang Naga Kembar. Masuklah dan kita akan kembali bersama!" Lengan Sabrang menyentuh sepasang pedang yang tertancap di tubuh Naga Api dan dalam sekejap seluruh Energi Iblis api itu masuk kedalam pedang berwarna hitam pekat itu.
"Kita berhasil Anom?" ucap Sabrang sebelum tubuhnya roboh ketanah.
Sepasang pedang masih berputar di udara seolah sedang terjadi pertarungan besar didalamnya.
Tak lama, putaran pedang itu perlahan melambat sebelum masuk kedalam tubuh Sabrang.
Puncak Suroloyo kembali hening saat kobaran api yang membakar semua yang ada di sana menghilang.
Padamnya kobaran api itu juga seolah menjadi simbol lahirnya kembali ruh terkuat batu Satam yang kelak akan momok bagi semua pendekar terkuat di dunia persilatan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ah... gua bener bener belum bisa move on dari Pedang Naga Api... Rencana buat ekstra Bab 2 Chapter malah jadi 4...
1 Ekstra Chapter terakhir besok ya Mblo bersamaan dengan updatenya Api di Bumi Majapahit... Sabrang vs Perguruan Cahaya Bulan Kegelapan.
Sekalian besok pengumuman pemenang komentar terbaik... bagi pemenang silahkan kirim nomor hp via DM instagram saya di (rickyferdianwicaksono)
si Arya Wijaya si jagoan ABM sudah muncul di sini dan masih berumur 5 tahun... apa yang sebenarnya terjadi dengan ingatan Arya Wijaya yang hilang di Api di Bumi Majapahit? jawabannya besok....
__ADS_1
Yang belum memasukkan novel Api di Bumi Majapahit kedalam rak boleh langsung masuk karena besok sudah update setiap hari... terima kasih