Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Mandala


__ADS_3

"Kau adalah pendekar Kuil Suci yang diutus Agam untuk menyelamatkanku bukan? syukurlah kau datang tepat waktu, mereka hampir saja membunuhku," Saragi melesat cepat mendekati Mandala dengan wajah lega.


Namun, betapa terkejutnya dia saat sebuah energi merah tiba tiba melesat kearahnya dan membentuk sebuah pedang sebelum menghujam tubuhnya.


"Kau?" Saragi menatap Mandala bingung sebelum tubuhnya roboh ketanah.


"Manusia lemah yang berharap perlindungan dari orang lain memang pantas mati," ucap Mandala dingin.


Semua orang menjadi siaga setelah melihat kekejaman Mandala termasuk sisa sisa pasukan Arkantara, harapan yang sempat muncul sirna seketika setelah melihat rajanya mati dengan cara mengenaskan.


Ribuan orang yang melihat langsung bagaimana Mandala membunuh Saragi tak ada yang bersuara satu pun, sebagian bahkan sampai menahan nafas.


"Kau benar benar kejam Mandala, begitu mudahnya kau membunuh seseorang yang bahkan berada di pihakmu," ucap Darin sinis, dia mencabut pedang yang sudah lama tidak digunakannya dan bersiap menyerang.


"Jika kau merasa iba maka kau boleh menemani dia," Mandala tiba tiba bergerak menyerang.


Darin tampak terkejut melihat kecepatan Mandala, dia berusaha menghindar dengan gerakan yang tidak kalah cepat namun sebuah tebasan lainnya muncul dari dari sisi sisi bersamaan dengan aura besar yang menekan tubuhnya.


"Sejak Kapan?" Darin terpaksa menangkis serangan itu, yang membuat tubuhnya terdorong beberapa langkah.


"Kau benar benar menarik," ucap Mandala sambil menyeringai.


"Tetua!" teriak Arsenio khawatir.


"Mundur, dia bukan lawan kalian," jawab Darin cepat, dia merubah arah pedangnya sambil tersenyum sinis.


"Cukup lama aku berlatih ilmu pedang hanya demi hari ini walau jika boleh memilih, aku berharap tidak pernah menggunakannya. Kau sudah terlalu jauh tersesat Mandala dan harus segera dihentikan," Darin bergerak menyerang.


"Ilmu pedang? tau apa kalian tentang ilmu pedang," Mandala menyambut serangan yang terarah padanya.


"Arung! bawa pasukan mundur ke ibukota bersama Gusti ratu dan yang lainnya," ucap Wardhana cepat saat bebatuan di sekitar medan perang terangkat ke udara akibat gesekan aura Darin dan Mandala.


"Baik tuan," Arung kemudian memerintahkan pasukannya mundur perlahan. Tungga Dewi dan Mentari awalnya menolak namun setelah diberi penjelasan oleh Rubah Putih mereka dengan terpaksa mengikuti Arung.


Wardhana juga meminta Wahyu Tama mengawal Gusti ratu untuk berjaga jaga jika pendekar Kuil Suci masih tersisa.


Hanya Lingga, Wardhana, Arsenio dan Hanggareksa yang tersisa dan menyaksikan jalannya pertarungan dari jarak aman.


"Inikah kekuatan Mustika Merah Delima?" ucap Rubah putih Takjub.


"Kali ini kita benar benar dalam kesulitan, energinya hampir setara dengan Iblis Api," balas Suanggi pelan.


"Jadi kau mulai mengakui jika kekuatan Naga api berada di atasmu? ejek Rubah Putih.


"Kau!" jawab Suanggi kesal.


"Jika kau merasa tidak berada di bawah Naga Api maka buktikan padaku, kita hanya perlu menunggu tubuhnya hancur dan menyerang di saat yang tepat," jawab Rubah Putih pelan, dia terus memperhatikan pertarungan dengan wajah serius.


Dalam waktu singkat, mereka sudah bertukar belasan jurus di udara, ledakan demi ledakan terus terdengar di udara memaksa Wardhana dan yang lainnya kembali menjauh.


Perlahan, Darin mulai kesulitan menahan serangan serangan Mandala yang semakin cepat dan bervariasi.

__ADS_1


Darin sebenarnya sudah terbiasa menghadapi serangan cepat dari para pendekar yang pernah dia hadapi dimasa lalu tapi apa yang ditunjukkan Mandala kali ini jauh lebih mematikan dan mengandung tenaga dalam yang besar.


"Mau sampai kapan kau terus menghindar?" Mandala merubah arah pedangnya tiba tiba dan mengincar tubuh Darin yang sedikit kehilangan keseimbangannya.


"Gerakan pedangnya tidak beraturan tapi sangat mematikan, jurus apa sebenarnya yang dia gunakan," Darin menangkis serangan Mandala sekaligus memanfaatkan efek benturan tenaga dalam untuk melompat tinggi.


Darin memutar tubuhnya di udara sebelum melesat turun kembali.


"Selesai," Wahyu Tama menggeleng pelan saat mengenali kuda kuda yang di gunakan Darin.


"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat dua : Cahaya penghancur Iblis," aura besar meluap dari tubuh Darin bersamaan dengan kecepatannya yang terus meningkat.


"Tak kusangka pertarungan ini akan berakhir begitu cepat," ucap Rubah Putih sambil menyarungkan kembali golok pusaka nya.


"Jurus pedang menggetarkan langit tingkat dua : Amarah api neraka," semua tersentak kaget saat melihat Mandala tidak berusaha menghindar, dia bergerak sangat lincah diantara lesatan energi pedang Sabdo palon seolah seluruh tubuhnya memiliki mata dan mengayunkan pedangnya saat sudah berada di dekat Darin.


"Gawat," Darin yang dalam posisi menyerang tidak dapat menutup celah pertahannya tepat waktu, dia menarik pedangnya dan menangkis serangan Mandala.


Gerakan Mandala yang begitu cepat membuat Darin langsung tersudut. Saat dia berusaha menjaga jarak, sebuah sabetan pedang menghantam tubuhnya.


Darin memang berhasil menggunakan perisai tenaga dalam tepat waktu untuk melindungi tubuhnya tapi efek serangan Mandala membuat tubuhnya terlempar dan membentur sebuah pohon.


"Tidak mungkin, bagaimana dia bisa menghindari serangan pedang Sabdo Palon," umpat Darin sambil menahan rasa sakit.


Wahyu Tama yang paling mengerti seberapa hebat jurus pedang Sabdo Palon belum bereaksi sama sekali, dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Dia sangat kuat," hanya itu kata kata yang keluar dari mulut seorang pendekar yang dulu sempat dijuluki Dewa pedang timur.


"Tetua," Arsenio langsung bergerak mendekati Darin dan memeriksa lukanya.


Wajah Arsenio berubah seketika saat menyadari luka yang diderita Darin cukup dalam.


"Aku baik baik saja..." Darin menghentikan ucapannya sesaat sebelum batuk darah.


"Anda tidak bisa bertarung lagi tetua, biar aku yang menghadapinya," Arsenio bangkit dan memegang empat pisau tumbuk lada di kedua tangannya.


"Kau ingin bertarung denganku? jangan membuatku tertawa," balas Mandala mengejek.


"Mundur Arsenio!" teriak Darin cepat.


"Tapi tetua..."


"Kau pikir aku begitu lemah?" tekanan energi besar memaksa Arsenio menoleh cepat dan betapa terkejutnya dia saat melihat aura di tubuh Darin berubah menjadi merah darah.


"Tetua jurus itu..."


"Tak ada cara lain, aku harus menghentikannya sebelum terlambat," Darin kembali bergerak menyerang tapi kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi.


"Tetua..." Arsenio tampak khawatir karena jika aura Darin sudah bercampur darah segar itu artinya dia sedang menggunakan ajian pembakar Jiwa untuk memaksa tubuhnya melewati batas.


"Aku cukup terkejut kau mempunya ilmu pedang yang begitu mengerikan, sudah lama sekali tubuhku tidak berdarah seperti ini," Mandala mengusap darah yang keluar dari goresan pedang di pipinya dan bergerak menyambut serangan.

__ADS_1


***


Sabrang bergerak cepat kearah Trowulan setelah pendekar misterius itu menghilang bersama Agam.


Sabrang awalnya bersikeras akan melawan dan membunuh mereka namun saat segel kabut Ciha menghilang, sosok pendekar misterius itu juga ikut menghilang.


"Kita harus secepatnya sampai di medan perang, aku merasakan dua kekuatan besar sedang bertarung dan salah satunya perlahan melemah," ucap Naga Api sedikit khawatir.


"Kakek? semoga kalian baik baik saja," Sabrang mempercepat gerakannya dengan menarik energi Naga Api.


"Aku tidak menyangka kejadian itu akan berbuntut panjang bahkan setelah ribuan tahun terjadi, ini semua karena kitab Sabdo Loji yang diciptakan oleh Jaka Wanara," balas Naga Api.


"Jaka Wanara? pencipta kitab Sabdo Loji?" tanya Sabrang terkejut saat Naga Api menceritakan kejadian kelam dimasa lalu yang melibatkan dua peradaban besar yang awalnya bersahabat, Lemuria dan Atlantis.


"Jaka Wanara adalah pemimpin tertinggi Lemuria yang juga pencipta kitab Sabdo Loji. Awalnya, dia adalah orang yang paling tidak suka kekerasan namun semua berubah saat Atlantis mulai menunjukkan gelagat ingin menguasai batu Satam yang merupakan simbol Lemuria.


"Peradaban Atlantis diam diam menciptakan suatu ajian yang bisa mengendalikan energi alam yang sudah diserap oleh batu Satam selama ribuan tahun dan berusaha menguasai Lemuria. Untuk menghadapi serangan Atlantis itulah Jaka Wanara menciptakan Sabdo Loji atau Sabda sang waktu.


"Dengan pusaka pedang Kilat Hitam yang dia ciptakan dari batu Satam, aku membantunya mengalahkan semua suku atlantis, namun saat itu aku belum menyadari jika pusaka itu adalah awal dari semua malapetaka yang akan terjadi di dunia persilatan.


"Batu Satam bukan batu biasa, dia mampu menyerap energi alam hingga pada akhirnya memiliki ruh sendiri. Pusaka itulah yang kemudian merubah sifat Jaka perlahan, dia menjadi kejam dan sangat menyukai pertarungan. Aku berusaha menekan energi Satam yang menguasai tubuh Jaka namun tak berhasil karena energinya sudah terlalu kuat, hingga akhirnya dengan sisa sisa kesadarannya dan bantuan para penduduk Lemuria yang tersisa, dia mengorbankan diri untuk menyegel semuanya di tempat yang paling dicintainya," jawab Naga Api.


"Kekuatan Pedang Kilat hitam berada di atas mu?" tanya Sabrang terkejut.


"Aku, Kemamang, Suanggi dan semua ruh pedang yang ada di dunia persilatan tercipta dari batu Satam, itulah sebabnya pusaka itu memiliki semua kekuatan kami," balas Naga Api.


"Apa pedang itu masih berasa di Lemuria?"


"Aku tidak yakin karena seharusnya Kitab Sabdo Loji juga terkurung di tempat itu bersama pedang Kilat Hitam," jawab Naga Api bingung.


"Maksudmu ada kemungkinan pusaka itu juga sudah keluar dari Lemuria?"


"Jaka Wanara mengubur pusaka itu bersama kitab Sabdo Loji di lubang yang sama, jika kitab itu bisa muncul kembali ada kemungkinan pusaka itu juga sudah keluar dari tempat itu."


"Sabda Sang Waktu... aku lebih tertarik dengan nama kitab itu, pasti ada alasan Jaka Wanara memberi nama itu," Anom yang sejak awal diam tiba tiba ikut bicara.


"Hanya Jaka Wanara dan mungkin pemegang kitab itu yang tau," balas Sabrang pelan.


"Lupakan dulu masalah itu, bersiaplah, kita sudah dekat," ucap Naga Api mengingatkan.


"Aku tau," Sabrang memunculkan pedang Naga Api saat tubuhnya mulai merasakan tekanan yang cukup besar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Akibat pertanyaan saya kemarin, banyak yang bertanya PNA akan mengangkat alam semesta pararel.


Sejujurnya saya tidak menyukai cerita seperti itu dan konsep PNA sejak awal tidak akan mengangkat hal itu. Akan ada yang jauh lebih keren dari sekedar semesta Pararel yang akan diungkap oleh Wardhana.


Terakhir, hari ini PNA agak sedikit singkat, saya harus lembur kerjaan karena besok sudah cuti bersama.... semoga mengerti....


Besok sampai tahun baru saya sudah libur, semoga bisa memberikan chapter bonus akhir tahun. Sehat selalu buat kita semua....

__ADS_1


__ADS_2